Rinai Hujan

Rinai Hujan
Part 15: Bimbang


__ADS_3

Part 15: Bimbang


Alvia Darsya Putri


Hatiku bimbang untuk menananyakan hal tersebut padanya. Namun, rasa penasaranku jauh lebih besar daripada logikaku sendiri.


   Sore itu aku berkunjung ke rumahnya yang tidak terlalu jauh dari sekolahku. Cessa sendiri yang menunjukkan rumahnya padaku. Rumahnya tidak terlalu besar. Namun, terasa besar jika dihuni oleh tiga orang saja. Sore itu aku ingin menceritakan hal yang sebenarnya terjadi atas hukuman skors yang didapatkan oleh Farel.


Aku takut Farel akan kembali merasakan depresinya setelah mendapatkan hukuman itu. Emosi yang terlalu terkuras dapat menyebabkan pernyakit psikologis milik Farel itu kembali kambuh. Aku melihatnya dengan mataku sendiri bagaimana ia merasakan kesakitan yang luar biasa. Yang kutahu hanyalah hal\-hal buruk yang pernah terjadi padanya, kembali teringat dan menyiksa pikirannya pada saat itu.



Orang yang pertama kutemui adalah seorang wanita cantik yang sedang menyirami tanamannya sambil bernyanyi. Ia setinggi diriku, namun menurutku ia lebih manis dariku. Sekilas wajahnya amat mirip dengan Farel. Bibirnya yang tipis itu membentuk senyuman yang sama dengan senyuman Farel. Aku yakin ia adalah Adik Farel.



Sarah namanya. Nama yang indah untuk seorang wanita. Ia memperkenalkan dengan mamanya nan sedang sibuk denga alat\-alat dapur. Perkenalan kami sungguh menyenangkan. Keluarganya terlihat hangat, tidak seperti Farel yang sedikit pendiam. Mamanya mengajakku ke atas untuk melihat\-lihat kamar Farel.



Kamarnya tampak rapi tidak seperti kamar lelaki pada umumnya. Buku\-buku bacaannya cukup banyak. Ia pastinya menyukai buku\-buku bacaan. Cocok sekali dengan kepribadian pendiam sepertinya. Seprai sofa terlihat rapi tanpa sedikitpun kerimuk yang terlihat. Wangi harum parfum khas Farel memenuhi kamar ini.



Ada tiga foto yang menarik perhatianku di sana.


Pertama adalah foto seorang pria yang kutebak berumur lima puluhan. Itulah papa Farel yang ia ceritakan beberapa hari yang lalu. Alasan utama yang membuatnya menjadi seperti ini. Kematian yang membuatnya rapuh dan dirundung kesedihannya sendiri.


Foto kedua adalah foto Farel dan Azka pada masa jaya mereka. Mereka tersenyum manis bersama teman\-teman lama yang mereka tinggalkan di Jakarta sana.


   Tampak sekali aura persahabatan yang kuat di antara mereka. Tidak banyak berubah dari wajah mereka dari yang sekarang. Hanya saja mereka yang sekarang terlihat lebih dewasa dari yang ada di foto itu.


Aku bergeser sedikit ke sampingnya. Wanita itu sedang di sampingnya sambil bergaya dengan kedua jarinya yang membentuk huruf V. Ia terlihat manis dengan hijab yang ia kenakan.


    Terlihat seperti gadis muda Melayu nan ayu. Matanya sipit tak berkelopak tampak menyipit ketika tersenyum. Sedangkan Farel seperti biasa hanya berdiri tegap sambil mengeluarkan senyum tipisnya. Tidak terlalu banyak gaya, namun masih terlihat tampan.


"Cessa dan Farel?" tanyaku pada saat itu.


    Ibunya mengangguk menjawab pertanyaanku. "Cessa lah yang selalu menemani Farel selama ini. Tante nggak tahu hubungan pasti mereka. Namun, mereka terlihat dekat sekali. Ia juga sering ke sini untuk mengunjungi Farel," kata Mama Farel padaku. "Hanya kamu dan Cessa yang pernah ke sini sebagai temannya,"


Aku tidak bisa membayangkan betapa kesepiannya Farel selama ini. Hanya ditemani oleh seorang teman, bahkan hanya dua orang temannya yang pernah mengunjunginya ketika ia semakin terpuruk.

__ADS_1


    Itulah kenapa Farel terbiasa dengan kesendiriannya.


   "Aku suka sendiri," ucapnya saat ia kedapatan menunggu hujan sore itu. Kesendiriannya membuatnya terbiasa hingga ia begitu menikmati waktu sendirinya. Tanpa banyak teman dan sahabat.


Kudengar jawabannya sore itu. Aku tahu hatinya memilih Cessa daripada diriku. Itu bisa kumaklumi karena selama ini bukanlah aku, tetapi Cessa.


    Aku hanya orang baru yang tidak sengaja melintas dalam kehidupannya, tanpa kusadari ia sudah punya orang yang begitu berarti baginya. Jawabannya yang sedikit membuatku sesak, namun tetap berusaha tegar.


Bukanlah penjelasaan yang kudengar pada saat itu, ia malah menanyakan hal yang seperti yang kutanyakan padanya. Saat itu aku berpikir, mundur adalah jalan terbaik. Mengelakkan jawaban sebisa mungkin walau kutahu itu sakit rasanya. Ia telah memilih hatinya sendiri.


    Aku menyebutkan nama yang ia kenal, yaitu Azka.


    Kuharap setelah itu aku bisa menjalankan hariku dengan tenang tanpa tanda tanya yang selalu muncul di pikiranku.


Hari berganti hari. Tanpa kusadari sudah sebulan tepatnya aku berada di sekolah baruku ini. Aku menikmati setiap pergerakan jam yang memajukan waktu tanpa henti. Diriku mulai terbiasa dengan sekolahku ini.


     Aku adalah orang yang mudah untuk beradaptasi. Aku banyak dikenal mulai kalangan adik kelas maupun satu angkatan. Mungkin saja aku kecipratan popularitas Azka dan Farel.


    Popularitas mereka di sekolah tidak bisa dianggap enteng, terutama Azka yang pernah menjadi Ketua OSIS di sekolah. Sedangkan Farel begitu dikenal dengan kemisteriusannya. Kadang hal yang seperti itu begitu disukai oleh kalangan wanita. Banyak wanita yang mencoba mendekatinya, namun semua itu sia-sia. Farel begitu tertutup hingga sulit untuk didekati.


Tidak lupa jasa\-jasa Cessa yang juga membuatku dikenal oleh kalangan siswi SMA. Siapa lagi yang selalu menemaniku kalau bukan dia. Wanita itu mempunyai tutur kata yang lembut hingga membuat siapa saja nyaman dengannya.


    Ia juga termasuk siswi yang rajin. Ia selalu mengajakku untuk mengikuti aktivitas sekolah yang menjadikan diriku dikenal oleh murid sekolah.


   "Iya, loh. Itulah mengapa nggak ada yang berani duduk di sini selain dirinya sendiri. Wajahnya yang dingin itu sering ngebuat orang takut buat duduk di sini," kata Cessa.


   Aku kembali tertawa mendengarnya. Tenyata itulah alasan utamanya kenapa hanya Farel yang duduk di sini.


"Jadi, setiap orang yang duduk di sini sering takut sama tatapan Farel yang serem itu? Padahal nggak serem\-serem amat. Mungkin karena aura dinginnya itu kali," kataku sambil menepuk lengan Cessa.



Cessa menarik nafas lalu menghelanya perlahan. Ujung hijabnya bergerak\-gerak tatkala angin menerpa.


   "Dia butuh teman-teman kaya kita biar dia nggak kesepian," kata Cessa.


Terdengar suara pantulan bola basket yang begitu jelas. Aku dan Cessa melihat ke belakang tepat di mana Azka sedang bermain basket dengan teman\-temannya.


    Ia kelihatan begitu keren saat menggiring bolanya sambil meliak-liuk di antara lawan. Tubuhnya yang tinggi dan proposional memang mendukung permainan basketnya. Ditambah lagi dengan wajah oriental bak aktor korea yang sedang tren di kalangan wanita sepertiku.


"Azka ganteng juga ya." Tiba\-tiba diriku berkata seperti itu. "Tolong beritahu aku bagaimana Azka secara detail," pintaku pada Cessa.

__ADS_1



"Azka. Cowok populer yang paling ganteng nomor satu di sekolah. Tentu saja Farel nomor dua." Ia tertawa mengatakan peringkat kegantengan Farel. Tawanya sangat khas, terutama saat bola matanya seakan tak tampak karena sipitnya mataya.


   "Azka itu romantis, manis, banyak didekati cewek, dan setia," kata Cessa.


"Setia? Dia udah punya pacar?"



"Pacar katamu? Yang benar itu semua cewek yang mendekat, semuanya ditolak olehnya." Nadanya merendah ketika di akhir kalimatnya. Wajahnya turun seakan menyedihkan sesuatu.


    "Setia yang dimaksud itu, setia pada temannya." Cessa melanjutkan kata-katannya.


Aku menangguk. Tidak salah jika Azka banyak didekati oleh wanita. Pembawaannya yang manis dan romantis itu selalu saja membuat semua wanita yang dekatnya melayang dalam khayalnya sendiri, termasuk aku kadang\-kadang.



"Itulah kenapa dulu ia dekat banget dengan Farel. Kadang kesetian itu juga yang membuat orang jadi terpisah."


   Aku mendengar kata-kata Cessa. Aku seperti pernah mendengar kisah ini dari Farel sendiri. Kisah yang menjadi pemisah antara mereka.


    "Aku pernah dengar cerita itu dari Farel. Azka sendiri yang memutuskan persahabatan mereka sendiri karena Papanya nggak setuju dengan persahabatan mereka," kataku.


Cessa menatapku. Sebelah alisnya bergerark curiga.


    "Alvia suka dengan Azka?" tanya Cessa tiba-tiba.


    "Ah enggak kok."


    "Masa'?"


    "Kurasa iya." Aku tak bisa mengelak. Tiba-tiba kalimat itu langsung terucap begitu saja.


    Farel yang selalu kupikirkan dulu, telah kuikhlaskan untuknya. Ia akan kubuang jauh-jauh dari pikiranku. Farel sama sekali tidak akan memilihku walau seberapa rasa peduliku dengannya.


     Azka berbeda, ia selalu hangat padaku. Perhatiannya kepadaku sama seperti perhatianku pada Farel.


***


Alvia milih Azka?

__ADS_1


nggak milih aku aja?


__ADS_2