Rinai Hujan

Rinai Hujan
Part 28: Kepingan Puzzle


__ADS_3

Part 28: Kepingan Puzzle


Azka Aldric


     Aku dan Farel tiba di depan sebuah toko. Daerah ini berada di daerah pecinaan yang tidak jauh dari pusat kota. Tidak ada siapa-siapa di sini kecuali derap ban mobil yang lalu-lalang tak henti. Pesan balasan dari Zaki menunjukkan alamat ini, tepat di depan toko musik tempat kami berhenti.


"Azka, kita mau ngapain, sih?" tanya Farel padaku.



"Aku mau mecahin kepala dia," balasku penuh emosi.



Ia membuka kaca mobil. Matanya melihat ke sekitar. "Nggak bisa gitu Azka, ini tempat umum. Bahaya kalau kau berkelahi di sini,"



Aku tidak peduli dengan perkataannya itu. Setahu aku, dirinya yang mengajarkanku begini sewaktu dulu. Namun, kali ini ia yang melarangku untuk melakukanya.



"Kau dulu nggak pernah takut, Rel."



"Itu dulu, sewaktu kita masih gunain nafsu daripada akal," jawab Farel.



"Kalau kau takut, tinggal aja di mobil. Ini demi Alvia. Apa kau mau Alvia diganggu sama dia lagi?"



Farel hanya terdiam. Ia seperti tak tahu apa yang akan ia lakukan setelah orang yang ia cintai direbut tanpa perlawanan. Hatinya bagai ikhlas melepaskan semua yang telah ia harapkan untuk memiliki. Tak seperti Farel yang kukenal dulu, penuh semangat dan takkan berhenti sebelum dapat.



"Semuanya ada akibatnya Azka. Aku sudah merasakannnya," jawab Farel.

__ADS_1


Aku seakan kembali pada masa lalu saat kami pernah berjuang. Farel sudah sering menanggung semua akibat yang sering kami perbuat. Berkelahi, mencuri kembali apa yang telah dicuri, membela kami saat aku dan teman-teman ketahuan membolos, ia dengan rela menjadikan pundaknya untuk menanggung semua.


Seseorang tampak keluar dari toko itu. Tak lama kemudian diikuti oleh beberapa orang di belakangnya.


"Itu Zaki!" Aku keluar dari mobil dan langsung menghadangnya. Tinjuku siap menghujam bagian wajahnya. Kecepatanku rasanya sudah cukup untuk membuat bekas membiru selama seminggu.


Brakk! Seranganku ditahan oleh Farel. "Azka jaga emosimu,"



"Apaan ini?" tanyaku padanya,



Zaki tampak tersenyum melihat serangaku tak sampai menyentuh wajahnya, bahkan wangi tubuhnya tak sempat mengenai tanganku.



"Hebat, Farel. Hebat, aku suka itu. Aku bilang padamu, Azka, jangan pernah halangi aku. Oh, aku punya sebuah foto untukmu."


   Ia mengeluarkan handphone-nya lalu menunjukkan padaku.


"Jangan sentuh Cessa!" Ia meledak dan menghadang tiga orang teman Zaki yang mengikutinya. Mereka tak sanggup menahan amukan Farel. Aku seakan melihat Farel yang dulu lagi. Farel tak sanggup menyentuh Zaki karena terus dihadang oleh tiga orang lawannya. Aku tak tinggal diam. Aku berada di sampingnya untuk melindungi Farel dari serangan.



Seperti dulu ya, ucapku dalam hati.



"Lanjutkan saja pesta kalian," Zaki masuk ke sebuah mobil dan langsung pergi meninggalkan kami tanpa mengeluarkan keringat sedikitpun.



Farel tak henti melesatkan serangan. Aku di sampingnya untuk menahan pukulan yang diarahkan pada Farel. Tak lama kemudia suara serine mobil polisi berdengung. Aku melihat ke depan, sebuah mobil polisi tampak melaju ke sini. Aku menarik Farel dengan cepat.



"Farel cepat kabur, ada polisi!" Aku memasukkannya mobil. Aku tak sempat menarik pintu mobil. Badanku ditahan oleh mereka. "Kabur Farel, kabur cepat!!!"

__ADS_1



Farel terus menatapku kasihan. Sorot matanya tak tega menatap diriku yang terus menerima pukulan. Kudengar Farel menekan pedal gas mobil, beriringan dengan suara derap sepatu polisi yang berlari padaku.



Aku ditangkap untuk kedua kalinya.


***


"Seseorang sudah nebus kamu. Cepat pergi. Dasar anak muda, kerjaan kelahi terus. Nggak mikir apa?" Ia membuka gembok yang mengunci jeruji besi itu.



Aku berjalan menelusuri lantai dingin, tanpa alas kaki yang tadi aku kenakan. Aku lihat di depan sana mereka meninggalkan sepatuku lengkap dengan kaus kakinya. Aku mengenakannya dan langsung mencari siapa yang sudah menebusku.



Kulihat seorang wanita berhijab. Sorot matanya lemah di balik kacamata bergagang hitam. Bibir merahnya bertambah merah oleh olesan lipstik tipis. Tampak cantik dan manis di mataku. Seketika ia memelukku dengan erat.



"Aku khawatir, tau!" kata Cessa dengan nada sedihnya. Farel berdiri dari kursinya. Wajahnya tak sedikitpun dihiasi oleh luka lebam. Padahal sedari tadi ia juga ada terkena pukulan.



"Nggak apa\-apa, Cess. Aku baik\-baik aja."



Farel tiba\-tiba mengangkat bicara, "Ada seseorang yang lebih peduli daripada orang yang kau cintai selama ini."


Aku seakan dihantam oleh perkataan Farel. Kalimat itu memukulku tepat di hati. Pikiranku terlalu lama dikotori oleh nafsu cinta, hingga lupa oleh orang yang benar-benar tulus dan peduli. Cessa seperti sebuah kepingan puzzle yang terlupakan. Mencari-cari papan puzzle tempat ia kembali. Papan puzzle itu menemukan kepingan yang lain, namun tak bisa memenuhi kekosongan yang ada. Kupandang mata bening Cessa yang indah. Aku melihat kepingan puzzle yang terlupakan itu.


"Jadilah kekasihku, Cessa," pintaku padanya.


***


__ADS_1


__ADS_2