Rinai Hujan

Rinai Hujan
Part 32: Akhir


__ADS_3

Part 32: Akhir


Azka Aldric


Pria itu memang benar\-benar mengajarkan semuanya padaku. Dulu aku hanyalah seorang anak kuper yang hanya bisa terdiam tatkala seseorang menggangguku. Aku tak mempunyai banyak teman yang akan membantuku. Termasuk juga di rumah, aku juga jarang keluar karena tak mempunyai teman.



Pria itu bernama Farel Bintang. Pria yang mengeluarkanku dari cangkang yang menahanku. Perkenalan kami di senja yang berhias hujan, tepat di atas permukaan tanah basah setelah dirinya menolongku. Ia mengenalkanku dengan temannya, yaitu hujan. Hujan juga yang mendekatkan kami berdua hingga kata itu berubah menjadi sahabat.



Ia memiliki pengaruh. Selain dirinya lahir dari golongan orang yang berada, ia juga dihormati oleh teman\-teman sebayanya. Ia dijadikan panutan dalam pertemanan. Kami diajarkan solidaritas dalam pertemanan oleh Farel. Ia juga yang menolong kami jika terjadi masalah.



Semuanya berubah saat ayahnya pergi untuk selamanya. Ia kehilangan orang yang mengenalkan hujan dan menjelaskan arti bintang yang menjadi nama akhir dirinya. Farel mulai terjebak dalam depresi, obat\-obatan penenang, dan masa lalu yang selalu menghantuinya setiap saat.



Semenjak itu ia menjadi pendiam dan penyendiri. Ia tak suka bergaul dengan seseorang. Termasuk diriku, ia selalu menghindar dariku. Kami seakan tak pernah saling mengenal sebelumnya.



Kini aku melihatnya sedang berjuang mempertahankan arti cinta. Ia tak ingin melepaskan orang yang benar\-benar ia cintai. Alvia yang membuat dirinya berubah. Alvia telah membuatnya melupakan masa lalu serta depresi yang membuatnya hanyut dan tenggelam.



"Kau tahu kita harus ke mana?" tanyaku pada Farel. Kami tak menemukan Alvia di rumahnya, begitu pula di toko milik Zaki.



"Sesuatu yang berhubungan dengan senja..l" Ia merujuk pada tempat indah yang memperlihatkan pemandangan Kota Pekanbaru, Bukit Bintang. Alvia suka sekali mengunjungi tempat itu hanya untuk menikmati senja.

__ADS_1



"Oh, aku tahu tempatnya."



Aku melanjutkan perjalananku ke daerah Rumbai, daerah utara Kota Pekanbaru. Kami melaju di jalanan Yos Sudarso dan berbelok ke kanan sesampai di persimpangan dekat Stadion Kaharudin Nasution. Jalan menuju tempat itu cukup mendaki dan sedikit berbelok. Akhirnya kami sampai di tempat tujuan.



Aku melihat mobil Alvia terparkir di tempat itu. Tepat sekali dugaan Farel sebelumnya, ia pasti berada di sini.



"Cepat kejar Alvia," ucapku pada Farel. Farel mengangguk mengerti. Matanya menyimpan semangat yang selama ini ia tahan.




"ZAKI!" Pria itu benar\-benar suka membuat kekacauan. Ia mempengaruhi Alvia hingga terciptanya jarak antara Farel dan Alvia.



Farel memeluk Alvia dengan erat. Cahaya mentari yang menerpa berdua memberi kehangatan kepada dekapan Farel. Akhirnya sesuatu yang aku takutkan terjadi. Farel mendekat ke arah Zaki. Farel melepaskan pukulan tepat ke wajah Zaki. Aku berlari untuk melerai mereka.



"JANGAN PERNAH SENTUH ALVIA LAGI!" teriak Farel. Ia masih mendekati Farel yang tersungkur ke tanah.



"Farel, jangan!!!" Aku menahan tangannya yang masih berusaha untuk menyerang Zaki. Ia masih melawan. Tenagannya sangat kuat melebihi tenagaku.

__ADS_1


   "Cukup Farel. Kita boleh membenci orang, tapi tak boleh menyakitinya," kataku padanya. Perlahan tangannya melemah. "Kau sendiri yang mengajarkan itu padaku," lanjutku.


Ia menatapku. Tatapannya tak lagi liar seperti tadi.



"Kau benar, Azka." Matanya menoleh pada Zaki yang mengerang kesakitan di wajahnya. Aku tahu persis rasa pukulan Farel yang luar bisa sakit. Aku yang merasakannya sendiri.



Ia berbalik lalu menyentuh tangan Alvia. "Jadilah kekasihku, Alvia," pintanya pada Alvia.


    Alvia memeluknya. Tak perlu kata-kata untuk menjawab permintaan itu. Farel sudah cukup mengerti dengan jawaban Alvia. Mereka sama-sama mencintai, tak lagi ada halangan untuk mereka menyatukanya.


Aku berjalan ke arah Zaki.


    "Kalau kau datang lagi, aku takkan menahan Farel. Kau nggak tahu gimana wajah semua musuh Farel yang pernah ia hajar. Jika kau tahu, mungkin kau nggak akan mau. Ngerti?" Aku meninggalkannya.


Aku mengambil mobilku diparkiran. Di belakangku ada sepasang kekasih yang baru jadian. Alvia terus bersandar di bahu Farel, seakan tak ingin lepas.



"Untuk merayakannya, kita makan\-makan malam ini. Aku yang traktir. Tapi jemput Cessa dulu," kataku.



Tak ada sorakan gembira atas tawaranku. Mereka berdua hanya tersenyum. Kurasa masih dimabuki oleh cinta yang sedang mempengaruhi mereka. Aku melajukan mobil. Mentari semakin condong ke arah barat. Menyisakan garis\-garis cahaya merah yang membekas di awan.


    Semakin lama matahari semakin tak menampakkan diri lagi. Ada sang rembulan yang menggantikan senyumnya. Lalu bintang-bintang mendekat menemani bulan yang bersinar. Aku tersenyum. Pada akhirnya Farel menemukan cintanya.


Aku turut senang, wahai sahabatku.


***

__ADS_1


__ADS_2