Rinai Hujan

Rinai Hujan
Part 17: Badai di Balik Rinai


__ADS_3

Part 17: Badai di Balik Rinai


Azka Aldric


Hujan bergemuruh hebat di luar sana. Membasahi setiap benda yang berani untuk menghadang. Barisan petir silih berganti menunjukkan cambuknya. Mereka tidak memilih siapa untuk disambar, mereka menyambar apa saja yang bisa mereka sambar. Untuk itu kita berlindung di kala kilatan\-kilatan cahaya itu mulai tampak tatkala hujan.



Jam pelajaran tidak berlangsung efektif oleh suara hujan yang menggelegar. Guru tak bisa menjelaskan pelajarannya karena tersamarkan oleh gema titik hujan menghantam atap genting. Para murid sibuk dengan kegiatan mereka masing\-masing. Para murid laki\-laki berkumpul di sebelah sana. Entah apa yang mereka saksikan bersama di sana. Sedangkan murid perempuan berbagi kelompok gosip. Sudah menjadi kebiasaan murid perempuan pada umumnya.



Aku tak melihat senyuman manis itu. Raut wajah cantik dengan kedua bola mata indah selaras dengan alis matanya yang tebal. Terkadang rambut hitam tergerai itu membuat hatiku kembali luluh tatkala angin menerpa. Tangannya yang mungil terlihat kokoh ketika gagang gitar menempel padanya. Bergerak lincah berpindah kunci dan melodi. Mengalunkan suara indah yang terbalut mesra oleh petikan jemarinya pada senar\-senar itu.



Sudah dari tadi ia tak tampak olehku. Aku ingin bertanya pada guru, namun ia sudah pergi juga sedari tadi.



"Ada yang ngelihat Alvia?" tanya padaku pada teman yang lain.



"Nggak tau. Azka sini dong." salah satu teman laki\-lakiku berkata di kerumunan murid laki\-laki itu. Aku tertawa mendengarnya. Aku mengerti apa yang mereka lihat.



"Nggak ah, udah tobat," jawabku singkat.



"Apaan, sih. Ini loh pertandingan Barcelona tadi malam. Messi nyetak dua gol," balasnya.


   Aku kembali tertawa, ternyata dugaanku salah. Lagi pula aku tak mengerti soal sepak bola seperti anak laki-laki pada umumnya. Itulah penyebabnya aku tak pernah diajak tatkala kelas lain mengajak kami untuk bertanding futsal.


Hujan semakin lebat menghantam bumi. Angin pujaan hujan berhembus menggoyangkan setiap pohon yang kokoh mengakar. Kulangkahkan kakiku untuk mencari Alvia. Bisa jadi ia terkurung hujan di suatu tempat. Atau ia bisa saja sedang bersama Farel si penunggu hujan. Kurasa tak masalah mereka bersama. Kecemasaanku akan kedekatan mereka hilang. Alvia hanya peduli dengannya, sama seperti aku dan Cessa yang begitu peduli dengan keadaannya.



Aku berbelok ke kanan di tempat biasa Farel menikmati suara rintikan hujan. Benar saja, ia sedang duduk di sana sambil melihat langit nan mendung. Ia masih terlindungi oleh atap hingga ia tak kebasahan seperti lantai yang hanya berjarak dua langkah darinya.


     Ia menatapku dengan mata sayu. Wajahnya tampak lusuh dengan bibir tak semerah biasanya. Namun, senyum itu masih sama saja, tipis dan sederhana.


"Kau tak bertanya kenapa aku sendiri?" tanya Farel. Tak biasanya ia yang memulai pembicaraan. Logat melayu sedikit mengalir dari kalimatnya.



"Aku sudah tahu jawabanmu Farel. Makanya aku nggak nanya," jawabku.



"Sejak kapan kalian Azka?"



Aku mencerna pertanyaan Farel. Ternyata itu merujuk kepada hubungan aku dan Alvia. Aku mengangguk mengerti dan menjawab, "Sejak tiga hari yang lalu,"



"Kau mengerti perasaan Cessa saat ini? jangan terlalu mengumbar kedekatan kalian waktu di dekat dia. Itu bakal menyakiti hatinya," kata Farel.


   Sifat aslinya keluar. Ia begitu protektif dengan sahabatnya sendiri. Ia selalu melindungi seorang sahabatnya yang ia punya.


"Iya, aku tau itu. Satu hal yang mau aku tanya padamu. Apa kau menyukainya? Tidak mungkin sepasang manusia bersahabat tanpa memendam perasaan," tanyaku balik.

__ADS_1



"Pertanyaan bodoh macam apa ini, aku tak akan merebut posisi yang sudah dipersiapkan olehnya untukmu," jawab Farel dengan cepat.


    Aku tersentak mendengarnya. Aku seakan menjadi orang jahat yang telah mengabaikan orang yang begitu peduli kepadaku selama ini.


   "Ia mencintaimu, bukan aku. Sudahlah, kau jemput Alvia di ruangan musik," Farel melanjutkan kalimatnya.


"Dia di sana?"



"Aku baru aja dari sana sebelum hujan ini memanggilku,"



Aku menghilang dari sisinya untuk menjumpai Alvia di ruangan musik. Ruangan itu ada di seberang sana. Bisa saja aku berlari menghadang hujan, namun aku akan basah kuyup sebelum bisa menginjak lantai bangunan di seberang sana. Aku berlari memutari lapangan hingga sampai ke ruangan musik itu.



Aku membuka pintu dan memasuki ruangan musik. Cukup banyak murid yang sedang berada di sini. Masing\-masing dari mereka memegang gitar. Setiap pasang mata melihat satu wanita yang sedang duduk sambil memegang gitar faforitnya. Rambutnya tampak diikat agar tak mengganggunya saat beraksi dengan gitar.



"Kunci C jika dinaikkan satu nada ...." kalimatnya berhenti saat menyadari kehadiranku. Ia menampakkan senyum yang sedari tadi tak kulihat. "Azka!"



Seluruh murid perempuan yang sedang Alvia bimbing melihatku. Seperti biasanya, mereka akan seperti fans berat yang ingin berfoto.


   "Kak Azka ...," panggil mereka bersama-sama. Aku melempar senyum pada mereka.


   "Hai semua, gimana belajar gitarnya?" tanyaku pada mereka. Tampak olehku Alvia memasukkan gitar miliknya ke dalam tas gitar.



"Jangan gangguin Kak Azka lagi ya, soalnya udah ada yang jagain," kata Alvia. Ia menggandeng tanganku. Semerbak wangi tubuhnya tercium saat ia di sampingku. Tampak wajah kecewa yang terlukis di wajah adik\-adik kelas di hadapanku.



"Jadi Kak Alvia udah sama Kak Azka? Yah ...." Nada mereka merendah. Salah satu dari mereka mendekat.


"Yaudah, kenalin kami dengan temen Kakak yang cool itu. Yang sering sendiri di kursi belakang itu."


"Farel maksudnya? Itu juga udah ada yang jagain. Hahaha, besok\-besok Kakak kenalin sama kalian. Jam musik hari ini sampai di sini dulu ya, Kakak mau pergi dulu, bye!" Alvia berpamit pada mereka. Aku melempar senyum lalu menarik tangan Alvia untuk keluar.



Hujan yang menyelimuti memasuki setiap hati. Terutama pasangan yang ada di seberang sana. Tak sejatinya mereka sekedar kusebut teman, namun lebih pantas kusebut sahabat.


   Saling membutuhkan pundak saat pikiran berat oleh pikulan. Di balik hujan, Farel dan Cessa sedang duduk berdua sambil menikmati hujan yang ada.


"Adakah sahabat yang seperti itu, Azka?" tanya Alvia padaku. Tangannya menyentuh air hujan yang mengalir dari atas atap.



"Ada, seperti mereka," jawabku.


   "Mengapa mereka tak pacaran? Mereka begitu cocok. Kadang aku ingin kita seperti mereka," tanya Alvia lagi. Pikiranku langsung menyimpulkan dalam hati, alasannya karena Cessa menyukaiku.


"Ya, selalu ada alasan mereka tak melebihi batas itu. Cessa adalah teman pertamanya di sini. Farel bukanlah orang yang dengan mudahnya melepaskan seorang sahabat."



Kembali kulihat ekspresi Cessa di pundak Farel, tampak sedih dan putus asa. Aku tahu apa yang ia pikirkan. Ia memikirkanku yang sudah memilih Alvia daripada dirinya. Cessa selalu membutuhkan sebuah pundak saat dirinya sedang terpukul. Sama seperti saat ia yang pernah bersandar di pundakku.

__ADS_1



Mata Farel menatap kami. Hujan yang menyamarkan rupa wajahnya masih menyiratkan tatapan sayu yang akhir\-akhir ini melukiskan wajah Farel.


   Tiba-tiba ia terjatuh dari duduknya dan terhempas ke lantai yang basah.


"Farel!" teriak Alvia.


   Genggaman tanganku ia lepaskan dan berlari menembus hujan yang menghantam. Tak ia pedulikan dingin yang mencekam setelah hujan membasahi dirinya.


"Alvia, jangan!" Laranganku tak sempat ia dengar. Alvia terus berlari mengejar Farel yang terjatuh.



Aku segera berlari ke tempat mereka. Hidung Farel mengeluarkan darah dan badannnya terasa panas. Ada sedikit rona hitam di bawah matanya. Pasti Farel kekurangan tidur akhir\-akhir ini.


    "Cessa, cepat panggil Ibu guru," pintaku padanya.


Alvia terus saja memanggil\-manggil namanya. Air matanya jatuh ke pipi Farel dan bercampur dengan darah yang keluar dari hidungnya. Aku mengangkat tubuhnya dan membawanya ke UKS. Tangan Farel terasa begitu dingin saat kusentuh.


    Ada yang tidak beres dengannya. Mentalnya memang pernah terpukul, namun tak pernah membuat tubuhnya selemah ini. Yang kutahu Farel adalah orang yang kuat, walaupun pikirannya dipenuhi oleh hal-hal yang membuat ia terpukul.


Aku meletakkanya di atas kasur UKS. Petugas PMR, membersihkan darah hidung Farel yang memenuhi sekujur pipinya. Mereka juga melepaskan sepatu serta seragam Farel agar ia lebih nyaman. Seorang petugas PMR menempelkan stetoskop pada dada Farel dan mengecek pernafasannya.


    "Nafasnya normal. Mungkin saja ia kelelahan hingga pingsan seperti ini. Kita tunggu sampai siuman," kata petugas PMR itu.


"Jadi siapa yang bakal nungguin Kak Farel sampai siuman?" tanya petugas PMR. Ia adalah adik kelas yang sedang bertugas di UKS hari ini.



"Aku aja," jawab Alvia dengan cepat.


   "Aku juga," jawabku juga.


"Peraturan UKS nggak boleh membiarkan dua orang yang menjaga pasien, Kak. Kak Azka bisa kembali ke kelas," kata petugas PMR itu.



"Oh, gitu, yah. Yaudah, aku balik ke kelas dulu ya, Alvia," kataku pada Alvia. Ia menggangguk lalu menggenggam tanganku dengan lembut.


   "Azka jangan khawatir, aku ngerti, kok."


Aku paham dengan penjelasan Alvia. Ia pasti khawatir jika aku tidak suka jika Alvia dekat dengan pria lain. Kali ini aku paham. Penjelasannya mengurangi rasa cemasku. Aku melangkahkan kaki ke kelas.



Di luar UKS, Cessa sedang duduk bertunduk kepala. Tangisnya terisak mengkhawatirkan sesuatu. Aku berdiri di depannya. Cessa yang menyadari kehadiranku langsung memelukku dengan erat.



"Farel bakal baik\-baik aja, kok." Aku mengelus kepalanya dengan lembut. Air matanya membasahi dadaku. Aku tak bisa menyentuh rambutnya yang dibatasi oleh hijab yang ia pakai. Jemariku melepaskan kacamata yang ia pakai, lalu mengusap garis air mata yang terbentuk lurus sepanjang pipinya.


    "Jangan menangis, cantikmu hilang di sapu air mata." Perlahan tangisnya reda. Namun matanya tetap sembab oleh air mata yang tersisa.


Satu hari sudah kejadian Farel terjatuh dari duduknya itu. Aku mendapatkan telepon dari Cessa yang membuat diriku terkejut. Ia membawa berita jika Farel masuk rumah sakit. Aku tidak tahu penyakit apa yang sedang menyerang tubuh kokohnya itu.



Aku dan Cessa langsung pergi menuju rumah sakit tersebut. Namun, langkahku terhenti oleh Alvia yang terdiam begitu saja di depan pintu ruangan tempat Farel dirawat. Matanya seakan menatap kosong ke depan. Aku yang menggenggam tangannya hanya bisa terdiam.



"Inikah alasannya?" Dua kata itu keluar pelan dari mulut Alvia.


***

__ADS_1


__ADS_2