
Part 31: Pelindungku
Alvia Darsya Putri
Tak banyak yang bisa kulakukan ketika cinta berkehendak demikian. Cinta sendiri yang memutuskan untuk tidak bertahan. Ia pergi meninggalkan semua harapan yang sempat aku gantungkan. Farel tak mengerti meski aku telah menjelaskan berkali\-kali. Insiden itu hanyalah kesalahpahaman. Ia tak bisa mengesampingkan egonya yang terlalu tinggi itu.
Berkali\-kali aku menjelaskan, berkali\-kali pula cinta datang dari Zaki. Ia kokoh untuk mengambil hatiku kembali. Aku tak bisa menerimanya begitu saja. Aku yakin jika harapan itu masih bisa kugenggam. Keyakinan itu membuatku mempertahankan perasaanku Farel.
Suatu senja itu, tepat di hari ketika Farel ingin meluapkan amarahnya dengan ingin menamparku. Zaki menyatakan cintanya untuk kedua kalinya. Hatiku menolak perasaannya itu. Ia hanya kuanggap seperti pria\-pria yang baru saja kutemui, tidak lebih. Tidak ada perasaan yang membuatku menyukainya. Aku menolaknya.
"Jika iya benar\-benar mencintaimu, Farel pasti akan menerima kamu lagi, Alvia," kata Zaki.
"Apa kamu yakin, Zak?"
"Aku yakin. Jika tidak, aku akan selalu ada untukmu. Akan aku buat kamu melupakan Farel. Takkan kubiarkan dirinya menyentuhmu lagi." Ia membiarkanku untuk keluar dari mobil. Sentuhan tangannya yang sedari tadi menahanku akhirnya terlepas. Aku butuh waktu untuk memperbaiki apa yang telah terjadi.
Berhari\-hari aku mengumpulkan kata\-kata untuk menyatakan maaf pada Farel, berhari\-hari pula rindu ini bersemayam di dalam diriku. Memaksa untuk keluar dan mendekap tubuh hangatnya. Tatapannya tak lagi sehangat yang dulu, selalu menghindar dari diriku yang berusaha untuk melempar senyum.
Kata\-kataku sudah penuh dalam pikiran. Tinggal kuucapkan dengan Farel. Hari itu menjadi waktu untukku mendatanginya lagi. Hanya satu kekuatanku yang masih membuatku kuat, perasaan cinta yang sama sekali belum luntur padanya. Tak peduli seberapa besar benci yang mempengaruhinya. Kuyakin ada satu bagian kecil hatinya yang masih memandang diriku.
"Kamu nggak bisa mempertahankan cinta yang udah lama kamu perjuangkan?
Ia sama sekali tak menatapku meski air mata ini sudah membanjiri. Membuat gari yang panjang hingga jatuh di ujung dagu. Air mata menetes bagai embun pagi yang jatuh dari pucuk dedaunan.
"Cinta itu udah sirna dalam satu senja, Alvia. Jangan pernah temui aku lagi,"
__ADS_1
Hatiku bergetar mendengar pernyataannya. Kalimat itu berwangikan senja yang menyakitkan hati. Senja yang tak mengandung kebahagiaan, hanya meninggalkan benci dan kesedihan.
Jika iya benar\-benar mencintaimu, Farel pasti akan menerima kamu lagi, Alvia.
Kalimat Zaki seakan menggema di udara. Merasuki aliran darah yang menyempitkan nadi. Jantungku seakan berhenti tuk berdetak. Udara tak mampu masuk untukku bernapas. Begitu sesak terasa mendengar kalimat Farel yang menyiratkan pahitnya salam perpisahan.
Hariku bergitu sepi tanpa senyum kecil Farel. Aku rindu senyumnya di saat memainkan gitarku. Aku rindu menatap tatapannya yang lemah sedikit sayu itu. Aku rindu didekap oleh tubuh hangatnya. Aku rindu di setiap detail kenangan yang pernah dicoret dalam lembaran masa lalu.
Aku tepat berada di tepian cinta. Setelah aku sekian lama mendaki untuk menaikinya, berjalan hingga mencapai tengah tempat urat jantungnya berada,. Ahirnya diriku mencapai pada tepian itu. Tinggal menunggu waktu untuk jatuh dan mengikhlaskan semua. Cinta sendiri yang tak menerimaku.
Akhirnya aku benar\-benar jatuh dan kehilangan arah. Tak ada harapan tempatku berpegang. Pelita yang selama ini menuntunku padam sudah. Tak menerangi lagi kemana cintaku akan berarah dan berlabuh.
"Kamu udah nyerah dengan dia, kan?" tanya Zaki padaku. Sinar mentari senja memandikan kami berdua di sini.
"Iya, aku nyerah. Dia udah milih jalannya sendiri. Buatlah aku lupa dengan Farel," pintaku padanya.
Ia menyentuh tanganku. Senyumnya terlempar lembut padaku.
"Aku akan membuatmu lupa dengan Farel." Perlahan kepalanya mendekat padaku. Bibirnya masih dengan senyumnya mendekat perlahan untuk menyentuh. Aku memejamkan mataku untuk membiarkan ia melakukannya.
Alvia!
Imajinasiku memunculkan suara Farel. Aku kembali mengingat pria penunggu hujan itu. Jemariku menahan kepala Zaki yang semakin mendekat.
"Apa lagi, Alvia?" tanya Zaki.
__ADS_1
"Kurasa aku nggak bisa, Zak." Aku mengalihkan pandanganku darinya.
"Kamu udah janji mau jadi pacar aku lagi."
"Aku belum siap, sungguh belum siap."
Wajahnya berubah. Tak melukiskan senyum yang tadi kulihat.
"Aku nggak mau. Kamu harus jadi pacar aku." Ia mendekatkan wajahnya padaku dengan cepat. Tanganku yang lemah berusaha menahan badan Zaki yang mendekat. Ia berusaha menciumku kembali.
"Zaki, cukup!" perintahku padanya. Ia tak mendengarkanku. Ia terus saja berusaha. Tanganku tepat menempel pada wajah Zaki. Tamparan itu menimbulkan suara yang cukup keras. Aku berlari membawa air mataku. Berlari tanpa tujuan.
Aku tak melihat ke depan. Yang kulihat hanyalah langkah kecilku yang cepat. Zaki mengejarku sambil menyentuh pipinya yang memerah.
Sesuatu menahanku. Menabrak wajahku serta tubuhku. Air mata yang bergelinang menyesap masuk ke pakaian seseorang yang menahanku. Pelukannya yang erat serta wangi tubuhnya mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang berwangikan rinai hujan. Aku seakan merasakan betapa merdunya suara gemericikan hujan saat pertama kali menghempas bumi.
"Alvia, aku cinta sama kamu," ucapnya pelan.
Aku menoleh ke atas, Farel dengan air matanya mendekap erat tubuhku. Ia melepaskan dekapan itu lalu mendekati Zaki yang berusaha mengejarku. Ia mengepal tangannya dengan kuat. Tenaga yang selama ini ia simpan, seakan kembali lagi. Tangannya melayang tepat ke wajah Zaki.
"JANGAN PERNAH SENTUH ALVIA LAGI!"
Suranya menggelegar bagai malaikat pelindung bagiku.
__ADS_1
***