
Part 13: Perasaan
Farel Bintang
Cessa tengah duduk dalam lamunannya di tempat duduk besi di belakang sekolah. Seperti biasanya, wanita manis berhijab itu selalu memandangi bunga-bunga yang bermekaram di depan sana. Tatapannya kosong tak bergerak bahkan jika lebah yang menjadi kesukaannya bergerak-gerak berpindah bunga.
Lamunannya pecah ketika kehadiranku menghampirinya. Senyum yang menenangkan itu akhirnya kudapati. Tutur katanya yang lembut mengawali pembicaraan di antara kami. Semerbak harum tubuhnya menyeruak ke hidungku. Parfum yang sama setelah sekian lama kami bersahabat.
"Farel, kamu nggak cerita jika kamu kemarin kelahi dengan Randi sama teman\-temannya sama mereka?" tanya Alvia padaku.
"Mereka siapa?" tanyaku balik. Ia menghela nafas dengan cepat mendengar pertanyaanku.
"Azka dan Alvia dong. Siapa lagi? Kenapa kamu cuma cerita sama aku aja?"
"Aku cuman belum tahu kepada siapa aku bisa cerita, kecuali sama Cessa," ucapku pada Cessa.
Selama ini aku tertutup karena takut orang lain tahu masa laluku. Karena bagiku semakin dekat seseorang denganku, di situlah semakin besar kesempatan mereka untuk tahu akan masa laluku.
"Aku minta kamu untuk berubah. Coba cerita sama mereka. Mencobalah lebih dekat lagi dengan Alvia. Cerita sama dia. Kalau bisa dengan Azka yang juga sahabat kamu. Tak selamanya aku ada di samping kamu Farel. Kamu harus bisa menjalin interaksi dengan orang lain," kata Alvia untuk menasihatiku.
Kulihat segurat gundah terlukis di wajahnya. Tak biasanya ekspresi wajahnya seperti ini. Aku yakin ada sesuatu yang sedang menguras pikirannnya.
"Kamu sedang mikirin apa, sih?" tanyaku.
"Nggak, aku cuma teringat mengenai Azka. Menurutmu masih ada kesempatan aku buat memilikinya?"
Aku terdiam sejenak mendengar pertanyaan Cessa. Pertanyaan itu memang sudah lama ia ajukan padaku. Namun, aku bukanlah pemberi jawaban yang pasti. Ia memang sudah lama menyukai Azka. Azka selalu berusaha tuk menghindarinya. Terutama semenjak mereka tidak lagi menjadi Ketua dan Wakil OSIS SMA.
"Selalu ada kesempatan buat kamu, Cessa. Apa yang kurang dari kamu? Cantik, manis, pintar, dan masih banyak lagi. Aku tahu Azka pasti berpikir seperti pria lainnya. Hanya saja Azka malu untuk mengakuinya," jawabku.
"Bagaimana jika dia sudah memiliki orang yang ia sukai?" tanya Cessa lagi. Seketika wajah Alvia terlintas di kepalaku.
__ADS_1
"Aku akan merebutnya untuk kamu hingga kamu bakalan bisa terus ngejar Azka," jawabku.
Telinga kami berdiri mendengar pengumuman yang berkoar di toa sekolah. Di awal kalimatnya tersebut sebuah nama yang membuatku terkejut, yaitu namaku.
"Di panggil Farel Bintang......" Pengumunan itu memintaku untuk segera menuju ke ruangan Kepala Sekolah. Aku meninggalkan Cessa sendirian lalu berlari menuju tempat yang disebutkan.
Randi dan teman\-temannya sudah terlebih dulu berada di sana. Di belakang mereka berdiri yang pasti saja orang tua mereka. Inilah yang kusebut donator sekolah. Orang tua mereka yang memberikan uang lebih kepada Sekolah ini. Setelan pakaian mereka menandakan mereka memang dari kalangan atas. Masing\-masing mata menatapku sinis berharap sebuah hukuman yang akan memberatkan diriku.
"Farel, kamu diskors selama tiga hari karena dianggap melakukan penganiayaan kepada Randi dan teman\-temannya," kata Kepala Sekolah.
Aku mengambil sebuah amplop yang berisikan surat yang ditujukan kepada orang tuaku.
Kulihat Randi dan tema\-temannya tersenyum senang melihatku menerima hukuman. Wajah mereka penuh dengan luka lebam yang kuberikan beberapa hari yang lalu. Aku hanya merasa lucu mengingat mereka yang berjumlah tujuh orang bisa dikalahkan hanya dengan satu orang saja.
"Untuk kalian, kalian di\-skors sehari karena sudah sering mengganggu siswa di sekolah," ucap Kepala Sekolah kepada Randi dan teman\-temannya.
Para orang tua sudah merasa puas dengan hukuman yang diberikan. Mereka pergi meninggalkan ruangan ini dan meninggalkan aku dan Kepala Sekolah saja.
Kepala Sekolah mendekatiku.
"Ya, Bu, saya sadar kalau saya juga salah karena sudah memukuli mereka."
Tiba\-tiba seseorang membuka pintu dengan kencang. Paras cemas itu mendekat. Wajah khawatir itu bercampur dengan marah yang ia rasakah. Begitu pula dengan dua orang yang mengikutinya dari belakang. Mata cemas mereka menatapku lurus berusaha mengungkap apa yang sedang terjadi.
"Etek, Farel nggak salah. Mereka yang ganggu Farel duluan. Aku nggak mau Farel diskors gitu aja," protes Alvia pada Kepala Sekolah. Diriku heran dengan panggilan Alvia pada orang nomor satu di sekolah itu.
Alvia keponakan Kepala Sekolah? Aku sama sekali tidak tahu mengenai hal ini.
"Etek nggak bisa berbuat banyak. Farel terbukti memukuli Farel dan teman\-temannya. Para orang tua mengancam Farel untuk dilaporkan ke polisi," jawab Kepala Sekolah.
Alvia seketika terdiam dengan jawabannya. Kepala Sekolah tahu jika aku punya kenangan buruk dengan polisi. Ia salah satu orang yang tahu masa laluku. Ia tidak ingin aku terjebak lagi dalam masalah tahanan.
"Udah Alvia, Kepala Sekolah benar. Aku udah biasa di\-skors kaya gini. Malahan pernah sampai sebulan." Aku menarik bahu Alvia. Namun, ia melawan dan bersikeras untuk menurunkan hukumanku.
__ADS_1
"Farel, kamu itu\-\-" Ia memukulku lalu pergi meninggalkan kami. Tampak jelas air mata yang membasahi air matanya. Azka dengan cepat menyusulnya.
Harusnya aku yang mengejarnya, bukan dia.
Mataku menatap kosong pada pintu yang tertutup. Begitu pula dengan Cessa. Aku tahu bagaimana perasaan Cessa sekarang, sama persis dengan apa kurasakan. Kumenghela nafas lalu menarik tangan Cessa untuk pergi meninggalkan ruangan ini. Tangannya terasa dingin seperti tanganku. Dingin seperti es yang membeku oleh dinginnya patah hati.
Aku tidak menuntun tangannya. Namun, ia mengarahkan diriku menuju tempat tenang tak bersuara. Tempat ternyaman bagiku dan baginya setelah tempat duduk di belakang sekolah.
Langkah kami berbunyi di antara rak buku setinggi dua meter. Buku-buku itu tertata rapi sesuai dengan jenis bukunya. Bau debu buku-buku tak terbaca mulai tercium. Namun, pengharum ruangan beraroma khas menyamarkannya. Kami duduk di pojok baca yang sering kujadikan tempat untuk menenangkan diri dari gejala kecemasan yang acap kali kurasakan ketika di sekolah.
"Kamu nggak apa-apakan dengan hukuman kamu?" tanya Alvia.
Aku diam tak menjawab. Yang kulihat hanyalah wajah sendu yang masih ia pertahankan dari tadi.
"Farel, aku barusan nanya, loh," ucapnya.
Aku masih tidak menjawab. Matanya memang menatapku, namun terlihat kosong dan hampa. Seperti ada sesuatu yang baru saja direnggut darinya.
"Kamu cemburu?" tanyaku singkat. Ia terdiam. Ia terlihat membuang mata setelah lontaran pertanyaan itu. Bibirnya seakan tak mampu untuk berucap.
"Cessa, kamu cemburu?" tanyaku sekali lagi. Ia tetap membuang tatapannya dariku. Aku tahu ia ingin mengelak, namun tidak bisa.
Ia menarik nafas berusaha tuk berkata, "Cemburu pada siapa?"
"Azka, siapa lagi? aku tahu seberapa dalam cintamu padanya, Cess."
"Tidak, Farel. Kamu yang seharusnya cemburu!"
Perlahan air matanya membentuk garis yang memancang jatuh di pipinya. Ia tidak terisak sebagaimana tangis patah hati pada umumnya. Hanya saja kutahu ia masih menyimpan emosinya itu tanpa ia keluarkan.
"Aku tak peduli tentang perasaaanku. Yang kupedulikan kamu, Cess. Aku selama ini sudah terbiasa disakiti," ucapku di telinganya.
Aku memeluknya. Air matanya membasahi dadaku. Aku mengelus rambutnya yang terlapis oleh hijab tipis.
"Kamu jahat Farel. Kamu selalu nggak peduli dengan diri kamu sendiri. Kamu Cuma peduli dengan orang lain," ucapnya di dadaku. Kalimatnya bercampur dengan suara tangis.
"Karena kamu sahabatku."
Baru saja teringat jika selama ini Cessa yang selalu memelukku di sini. Ia selalu ada untukku bahkan dalam titik terburuk. Tidak peduli ada senyum yang terlukis ataupun tangis yang pecah. Ia akan datang tanpa kupinta.
Kini ia sedang dalam pelukanku. Memikirkan sesuatu yang selama ini selalu menguras pikirannya. Berharap cintanya ini tidak lagi cinta sepihak. Cinta sepihak yang kadang tidak kenal akhir hingga membuat para pemujanya hancur dan rapuh.
__ADS_1
***