Rinai Hujan

Rinai Hujan
Part 22: Karena Aku Yang Membuatnya


__ADS_3

Part 22: Karena Aku Yang


Membuatnya


Alvia Darsya Putri


    Hari sudah semakin malam. Rasa geramku belumlah tuntas. Nafasku tidak beraturan jika mengingat hal yang barusan terjadi. Rasanya aku tidak ingin melihat Azka lagi. Rasa cinta yang pernah menghampiriku kini hilang sirna dalam satu senja. Ia membongkar sifat aslinya sekejap. Aku membencinya, benar-benar membencinya.


Bulan sudah menampakkan diri beserta bintang\-bintang yang menemaninya. Kelap\-kelip bintang tampak jelas jika tak ada awan yang menutup. Gemerlap Kota Pekanbaru mulai berdetak seiring berjalannya malam. Menampakkan semua fenomena malam yang biasa terjadi di Pekanbaru. Lampu\-lampu jalan menerangi jalanan Kota Pekanbaru. Bangunan\-bangunan yang berdiri megah saling berlomba menampakkan pesonaya ketika malam. Pedagang\-pedagang nasi Padang mulai menjamur ketika malam. Mereka menanti perut lapar yang sering melanda ketika malam datang.



Aku tiba di toko yang baru saja buka beberapa minggu yang lalu. Komunitas musikku sering merekomendasikan tempat ini sebagai pusat alat\-alat musik yang bagus. Kuambil gitarku dan mulai berkonsultasi pada pelayan yang berada di sana.



"Bang, ininya patah. Bisa diperbaiki, nggak?" tanyaku padanya sambil menunjukkan bagian yang patah.



"Oh, bisa. Tinggal diganti aja kok. Saya tanya si Bos dulu." Ia mengambil gitarku untuk diperbaiki.

__ADS_1


    Aku menunggu sambil melihat gitar-gitar yang dipajang di sini. Tak hanya gitar, terdapat juga berbagai alat musik. Toko ini benar-benar lengkap. Tidak salah teman-temanku merekomendasikan tempat ini.


Rasa bosan menghampiriku. Cukup lama untuk memperbaiki bagian yang patah itu. Ya biasanya tidak bagian itu saja yang diganti, namun satu set. Mungkin, itu yang membuatnya lama.



"Gitar yang bagus. Terbuat dari pohon mahoni yang benar\-benar matang. Bentuk yang besar memungkinkan suaranya lebih ngebass dan bagus. Gagangnya lurus dibuat dengan teliti hingga tak bengkok sedikitpun. Namun, gitar ini perlu perawatan khusus agar kayunya tidak rusak." Tiba\-tiba seseorang menjelaskan hal itu padaku.



"Ah, abang sok tau. Tau dari mana?"





"Karena aku yang membuatnya," aku terkejut dan langsung membalikkan badan. Yang kulihat adalah pria yang sangat familiar di ingatanku.


__ADS_1


"Zaki!"


***


Azka Aldric POV


Tangisnya memecah senyum yang sempat terlukis saat yang itu. Tangan kecilnya menutup pintu ruangan itu. Air mata Alvia membelai pipinya perlahan hingga merintik melalui dagu. Ia berusaha keras menyembunyikan tangisnya itu dariku, namun tetap saja aku dapat melihatnya. Langkah kecil itu meninggalkanku dengan cepat. Ia benar-benar sedih mendengar pembicaraan Farel dan Cessa.


Tak banyak yang dapat kulakukan untuk membuat langkahnya berhenti. Aku hanya bisa diam tanpa bisa menahannya sedikit pun. Alvia cukup lihai menyembunyikan sedih dari mereka berdua, namun akhirnya pecah tak tertahan.


Cessa keluar dari ruangan Farel. Matanya yang sipit menatap tajam padaku. Tak ada segaris senyum di wajahnya. Tangannya menyentuh tanganku, menarik mesra menuju tempat yang sunyi.


   "Apa yang terjadi dengan Farel?"


"Ia depresi karena kamu, Azka. Farel kembali minum obat itu. Ini semua gara-gara kamu yang benar-benar tega menikung teman kamu sendiri," jawab Cessa.


    "Apa salahku? Aku juga manusia. Aku patut untuk mencintai dan dicintai. Dari dulu aku selalu di bawah Farel dan kali ini aku enggak akan biarin itu lagi. Alvia udah jadi milik aku."


"Ya, kamu benar. Mencintai untuk menghancurkan sahabat sendiri. Kamu boleh selama ini ngehancurin hati aku, namun tidak dengan Farel. Kamu ingat itu!"


Sore ini benar-benar meninggalkan memori yang tidak akan bisa kulupakan. Tidak pernah kupikirkan arti persahabatan saat aku memulai semuanya. Aku menyampingkan akal sehatku demi hal yang kukejar. Aku tahu sejak lama jika Alvia mencintai Farel, namun di waktu bersamaan hati ini tak dapat menolak jika aku telah jatuh cinta padanya.

__ADS_1


__ADS_2