Rinai Hujan

Rinai Hujan
Part 25: Rapuh


__ADS_3

Part 25: Rapuh


Farel Bintang


Hujan tak turun semenjak dua hari ini. Awan tampak tipis menyembunyikan tangis mereka dariku. Meski rintikan hujan itu tidak kulihat, namun langit senja menggantikan semuanya. Senja bagai menggantikan bayang Alvia tatkala ia tak sedang di sisi. Wanita bermata cantik dengan alis tebal yang rapi itu beberapa hari ini berhasil membuatku jatuh bangun. Ia mampu membuatku rapuh tak berdaya, namun ia bisa kembali menggapaikan angan yang sempat ia lepaskan.



Sebuah pesan singkat memintaku untuk mengunjungi sebuah tempat. Pesan itu beraromakan senja yang sungguh pekat saat aku merasakan dengan perasaanku. Itu bukanlah dari Alvia, namun dari orang lain. Orang lain yang baru saja kutemui tadi pagi ketika aku sedang melakukan pemeriksaan lanjutan pasca dirawatnya aku di rumah sakit. Sebenarnya aku tak mempercayai kalimat yang ia sebutkan padaku pagi tadi. Namun tak ada salahnya jika aku pergi untuk memastikannya.



Tempat itu masih segar dalam ingatanku. Aku dan Azka pernah ke sana sebelumnya untuk menemani wanita pemuja senja itu. Ia kembali mengajari kami mengenai senja. Dia memang sudah berkali\-kali melantunkan filosofi senja padaku, namun tetap saja rinai hujan yang kutunggu. Setiap orang punya filosofi masing\-masing dalam hidupnya.



Akhirnya aku sampai dengan mobil ibuku yang sedang bebas untuk dibawa. Memang aku tidak bisa membawa motor, aku masih bisa membawa mobil. Hanya saja aku jarang memakainya.



Aku terkejut saat melihatnya di balik kilauan cahaya senja yang harmoni. Aku merasa aku orang paling bodoh di dunia. Terbodohi oleh melankoli cinta yang membutakan mata. Telapak tanganku seakan tak mampu lagi berkeringat, jantungku bagai berhenti untuk berdetak cepat, dan jiwaku terbawa pergi oleh suasana yang mengundang.



Telapak tangan itu saling bersentuhan lembut seperti sepasang kekasih yang baru sehari jadian. Tak hanya itu, aku bahkan melihat kecupan pada sebuah senja. Ia menikmatinya seperti dirinya menikmati senja. Aku merasa bodoh. Baru beberapa hari yang lalu ia mengucap cinta, namun sirna kembali dalam sebuah senja. Aku merasakan kembali retakan senyum di hatiku yang sempat terekat kembali, walau tak bisa untuk diobati.



Dia pria itu!


    Ingin sekali aku memukuli wajahnya sampai tak berbentuk. Ia mencuri kecupan itu dariku.


Aku lajukan mobilku menujur rumah Azka. Ada pertanyaan besar yang ingin kuajukan padanya. Baru sehari rasanya Azka menyebutkan hal yang membuatku senang, tidak sejalan dengan realita yang ada.



"APA BENAR ALVIA MENCINTAIKU?"


     Kutarik kerahnya keras-keras. Ingin sekali aku melampiaskan pada wajah. Aku sadar kami baru saja menjadi sahabat kembali.


Berjam\-jam yang lalu ....


__ADS_1


Aku duduk sambil menonton berita pagi ini. Tak hanya aku yang berada di sini, namun banyak orang yang sedang duduk di barisan tempat duduk di belakangku. Tempat ber\-AC ini cukup menyejukkan karena di luar sana mentari bersinar terang walau hari masih terlampau pagi. Bau obat yang pekat terkadang mendekat padaku. Tentu saja ini hal yang biasa ketika kita berada di rumah sakit.



Aku menunggu ibuku menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit setelah melakukan medical check up. Cukup lama untuk mendapatkan obat yang harus aku minum walau badanku sudah terasa lebih baikan. Makanya aku menunggunya barisan terdepan ruang tunggu untuk menonton berita pagi.



Seseorang duduk di sampingku. Ia tampak tersenyum dan ramah. Rambutnya tersisir rapi. Baju polo dan selapis celana jeans membuat dirinya terlihat keren. Aku membalas senyumnya.



"Hmm, kau Farel?" tanya pria itu.



Aku memerengkan kepalaku, "Bagaimana kau tahu?"



"Kau tak perlu tahu itu. Aku cuma mau bilang kalau semua itu enggak benar. Ia cuma kasihan padamu. Tak lebih," katanya padaku. Aku tidak mengerti apa yang sedang ia katakan.



"Maksud kau apa?" tanyaku pada orang aneh di sampingku ini. Nadanya terdengar meremehkan.


Tangaku mengepal saat ia menyebutka nama Alvia. Ingin sekali aku menghabisinya sekarang, namun aku sadar tempat. Bagaimana ia bisa tahu tentang ini?



"Jangan emosi di sini. Aku tahu kau enggak akan bisa menghajarku. Aku tahu keadaanmu bagimana."



"Kau siapa?"



"Aku orang yang mengajarkan tentang senja pada Alvia. Orang dari masa lalunya. Mungkin kau nggak pernah dengar namaku. Namun perkenalkan, aku Zaki, pacar Alvia yang ia sembunyikan dari kalian berdua. Kami belum putus. Kalian berhasil ia bohongi."


     Ia berdiri dari duduknya. Aku masih tak bisa membalas kalimat miliknya.


"Aku pergi dulu. Nanti aku hubungi kau kalau kau ingin melihat kebenarannya," pamitnya. Ia pergi begitu saja dengan meninggalkan berbagai pertanyaan padaku. Rasa kesalku masih terasa. Aku berusaha untuk mengendalikan emosiku sebelum semuanya meledak. Ia menghilang di ujung koridor dengan jejak\-jejak misterius yang ia tinggalkan.

__ADS_1


***


    Bunyi kendaraan lalu-lalang menggema di telingaku berkali-kali. Daun-daun pepohonan yang kering jatuh terhempas karena tak kunjung dihampiri hujan. Jalanan begitu gersang merindukan sebuah rinai. Begitu pula aku, aku rindu dengan titik embun hujan yang sering kali menerpa wajahku tatkala aku menunggunya. Aku ingin bercerita tentang hal yang baru saja aku alami.


   Aku kembali rapuh wahai hujan.


Azka tak dapat memberikan jawaban padaku kemarin. Ia hanya bisa memberitahuku mengenai seorang pria yang bernama Zaki itu. Seseorang dari masa lalu Alvia yang selama ini ia sembunyikan. Oh bukan, ia hanya menyembunyikan itu dariku. Azka tahu tentang Zaki dari Alvia langsung.


    Namun, pertanyaan besarnya adalah kenapa dia kembali pada Alvia setelah yang pernah ia lakukan pada Alvia? Dan kenapa Alvia masih terlena olehnya? Pertanyaan itu hanya satu yang bisa menjawab, yaitu Alvia sendiri.


"Farel, semua itu enggak benar. Kita cuma salah paham. Ia yang berusaha menciumku." Seseorang berteriak dengan kalimat itu dari belakangku.


    Aku menoleh. Kulihat Alvia di samping mobil yang menepi itu. Aku tak lagi menatap cinta, namun sedang menatap benci. Tak kujawab kalimatnya. Kubiarkan ia mendekat.


"Percaya sama aku Farel, itu semua salah paham," katanya lagi.



"Percaya katamu? Udah enggak ada lagi rasa percaya itu Alvia. Dengan semua hal manis yang kamu bilang saat itu, kamu bisa ngehancurinnya dengan sesaat. Kamu hebat," jawabku.



Ia menggeleng. Air mata itu keluar perlahan, namun aku tahu itu palsu.


"Farel, percayalah sama aku. Aku cinta kamu Farel."


    Aku tak percaya dengan kalimatnya itu. Aku berbalik meninggalkan dia.


"Sebenarnya kenapa kamu mencintaiku?" kataku sambil berbalik.


"Aku peduli sama kamu Farel. Aku enggak mau kamu kembali rapuh kaya dulu lagi. dan aku kasihan melihatmu...," jawabnya.


Aku mendengar sebuah kata yang pernah disebutkan oleh Zaki, kasihan. Kembali kubalikkan badanku dan langsung menuju Alvia. Zaki sudah ada di sampingnya. Rasa benciku bercampur aduk dengan kekesalanku pada Zaki. Aku berusaha menampar Alvia.


   "Kasihan katamu?"


"Jangan, Farel," teriak Azka yang baru saja keluar dari mobilnya. Ia datang tepat di momen ini.


    Tamparanku berhasil dipatahkan oleh Zaki yang di samping Alvia. Zaki langsung sigap ingin membalasku. Reflekku bereaksi dengan melihat kepalan tangannya. Aku berhasil menghindar, namun tidak dengan kesempatan kedua. Kepalan itu tepat menuju ke wajahku.


Tak kuduga, Azka datang dengan cepat. Ia menahan serangan dari Zaki sambil berkata, "Jangan kau ganggu sahabatku dan Alvia."


    Kulihat tatapan serius itu. Azka menolongku seperti aku menolongnya dulu.

__ADS_1


***



__ADS_2