
Part 27: Peringatan
Azka Aldric
Senyum tak lagi berasa semenjak dirinya membuat semuanya tak lagi berwarna. Dimulai dengan meretakkan hatiku tatkala aku sedang membutuhkan, namun aku ikhlas demi sahabatku seorang. Farel memang membutuhkan orang sepertinya di tengah badai yang tengah berkecamuk dalam dirinya.
Di saat semuanya yang kuanggap semakin baik saja, tak pernah kukira ternyata di sanalah hujan bermuara. Aku tak tahu bagaimana pikiran Alvia saat ini. Ia menyebutkan bahwa dirinya mencintai Farel tepat di depan mataku dan Farel sendiri. Diiringi dengan air mata yang mengelabuhi dirinya bercerita tentang soal perasaan dan rasa.
Aku terlena begitu saja dengan semua kicauan ibanya itu. Bercerita tentang perasaannya yang telah lebih dulu berlabuh pada Farel daripada diriku. Namun, semua itu bohong adanya. Ia memadu cinta dengan seseorang yang tiba-tiba datang tak diundang.
Di pagi yang tak ditanti, diriku merenung seorang diri. Terpaku menatap langit yang cerah tak berawan. Sedikit terbawa debu nan mengawang di udara pagi. Kamarku tampak kumuh tak tersapu. Kubiarkan jendela terbuka agar butiran debu itu keluar dari kamarku. Kini lantaiku bermandikan cahaya mentari yang memperjelas butiran debu berterbangan.
"Hoaammmm." Aku menguap mengusir kantuk.
Pagi masih terlalu pagi untuk memulai hari. Mungkin saja itu hanya berlaku untukku. Orang lain sudah berkeliaran di jam segini., sedangkan aku semakin akrab dengan panggilan kasur dan antek-anteknya. Memang mereka seakan memanggilku untuk kembali memejam mataku. Namun sebuah pesan singkat dari seseorang mengejutkan diriku.
"Ini peringatan kedua, jika ingin temanmu nggak hancur, jauhkan ia dari Alvia. Jangan paksa aku untuk kembali memainkan permainanku."
Kulihat di bawah pesan itu tertulis sebuah nama yang baru saja kukenal, Zaki.
"Jangan pernah kau sentuh Farel!" balasku. Tak lama aku harus menunggunya, ia sudah membalas.
"Aku nggak akan akan nyentuh dia. Ia orang yang kuat. Kekerasan nggak berpengaruh dengannya. Untuk menghancurkan orang kuat sepertinya adalah dengan menghancurkan hatinya," balasnya.
Aku menghempaskan handphone-ku. Orang ini tak bermain-main. Sudah dua kali ia memperingatiku. Peringatan pertama yang kuabaikan sanggup membuat hubungan Alvia dan Farel langsung merenggang.
Aku bergeser ke laptopku. Layar sudah berisi dengan berbagai ungkapan orang-orang yang gila perhatian di media sosial. Kucari nama Alvia di laman Facebook. Satu yang kutuju, informasi mengenai pria yang bernama Zaki ini. Pasti Alvia berteman dengan pria itu.
Memang benar, sebuah akun yang bernama Zaki Fernanda memiliki foto yang sama dengan pria itu. Laman Facebook miliknya penuh dengan berbagai fotonnya menggunakan gitar.
Aku ingat, ia adalah vokalis band ZANDI yang tengah populer akhir-akhir ini. Itu dibuktikan dengan banyaknya like yang ia dapatkan dalam sekali postingan.
Tangannku meraih handphone milikku yang tergeletak hidup di atas kasur. Media sosial Instagram milikku masih menyimpan akun Alvia yang pernah ia masukkan dua minggu yang lalu.
Aku membukanya. Alvia memang bukan orang yang suka mem-posting segala sesuatu di media sosial ini. Hanya sebuah foto yang ia post, fotonya bersama diriku yang belum ia hapus sama sekali.
Sebuah direct massage yang belum terbaca tampak di sudut kanan atas. Aku membukanya. "Ini dari Zaki sialan!" kataku sambil membukanya.
"Datanglah ke tokoku lagi. Aku mau bicara."
Pesan itu tertulis tepat di hari Farel datang dengan segala kesedihannya padaku. Di saat Farel melihat Alvia sedang menunggu senja bersama Zaki. Alvia tak membalas pesan itu. Aku yakin Alvia langsung menerima ajakannya saat itu.
Satu cara untuk menyelusuri mengenai Zaki ialah dengan mengakses media sosianya. Aku tahu ke mana aku akan pergi.
__ADS_1
***
Aku tiba dirumah Farel dalam lima belas menit. Sebuah mobil masih berada di dalam garasinya. Ini pertanda ia masih ada di rumah. Hanya mobil yang menjadi kendaraan Farel selama ini. Ia tak bisa sama sekali menggunakan motor. Jangankan motor, sepeda saja ia tak bisa menggunakannya.
Seorang gadis tengah menyirami tanaman sambil menyayikan lagu. Rambutnya yang terikat bergoyang seiring pergerakan kepalanya untuk melihat tanaman di hadapan. Kulitnya tak secerah Farel, namun masih terlihat putih. Badannya sudah sebagus ini semenjak bertahun-tahun aku tak melihatnya. Terlihat proposional dengan tinggi badan yang seperti wanita pada umumnya. Itu adalah Sarah, Adik Farel.
"Sarah, ada abangmu?" tanyaku. Ia menyadari kehadiranku. Ia **** senyum menyambut kedatangaku yang tiba-tiba.
Ia mematikan kran air itu lalu mendekat. "Bang Azka, dah lama tak lihat. Bang Farel ada," katanya padaku. Logat keluarga melayu yang kental sangat terasa dari alunan nada bicaranya. Kadang Farel berbicara dengan logat melayunya padaku.
"Oh, panggilkan Farel. Abang nak berjumpa," kataku mengikuti logat melayunya.
"Tunggu sekejap, ya Bang," jawabnya.
Farel keluar dari rumahnya. Masih dengan celana pendek ditambah oleh rambut kusut yang melengkapinya. Matanya tampak sembab oleh kantuk. Sudah dipastikan, ia baru saja bangun.
"Seperti itu aja kau. Ikut aku, Farel," pintaku padanya. Ia tak menolak dan hanya menjawab dengan menguap.
Sepanjang jalan kami tak berbicara apapun. Biasanya aku hanya fokus dengan jalanan di hadapanku. Matanya masih saja tertahan oleh kantuk yang melanda. Musik berirama rendah semakin membuatnya tak bisa menahan matanya itu.
Matanya tertutup, namun mulutnya membuka pembicaraan di mobil. "Azka, waktu itu aku berjumpa dengan seseorang. Seseorang yang bersama Alvia waktu aku mau nampar dia,"
"Oh dia. Dia Zaki. Di mana kau berjumpa dengannya?"
"Di rumah sakit. Ia kayanya mengikutiku. Ia juga bilang kalau dia masih pacaran dengan Alvia dan belum putus. Alvia menyembunyikan ini dari kita semua. Zaki itu juga minta aku buat ngejauhin Alvia," jawabnya.
"Kau salah, Farel. Zaki yang udah ninggalin Alvia tanpa ngucapin kata putus. Dia selingkuh dan nyakitin Alvia. Alvia yang bilang sama aku."
"Satu hal yang kau harus ingat, kau jangan main fisik lagi sama Alvia. Waktu itu hampir saja, Rel. Kalau benar-benar terjadi, itu bikin kau makin ngejauh dari Alvia," lanjutku.
Ia mengangguk. Matanya menatap lemah ke bawa. Ekspresi wajahnya yang turun itu menyiratkan rasa menyesal yang ia pendam. "Ya aku minta maaf, aku cuma kesal."
"Minta maaf sama dia. Aku yakin kau masih cinta sama dia walau semua yang udah dia lakukan sama kau, Farel. Aku juga yakin, Alvia nggak ada maksud nyium si sialan itu. Itu cuma akal-akalan Zaki buat ngerebut kembali Alvia."
Kami berhenti di sebuah rumah di daerah Marpoyan. Bagian selatan Pekanbaru jika kita berpatokan dari pusat kota. Rumah ini tak terlalu besar. Cukuplah untuk menampung satu keluarga sederhana. Aku sudah mengirim pesan LINE sedari tadi dengannya. Ia sudah tahu kami akan datang.
"Bang Amat," panggilku di depan rumahnya. Ia langsung keluar. Rambut keritingnya terlihat semakin mengembang semenjak ia sudah tamat dari SMA. Mahasiswa jurusan pemograman ini sebenarnya kakak kelas kami sewaktu ia masih di SMA.
"Azka! Ayo masuk," pintanya padaku. Kami pun memasuki rumahnya.
Kami kini tengah berada di kamarnya. Aku terkejut melihat kamarnya yang rapi, tak seperti kamar laki-laki pada umumnya. Tak ada baju-baju yang berantakan dan sampah-sampah di sudut ruangan. Tak seperti kamarku yang beratakan. Tiga layar komputer menuntunnya untuk melangkah ke sana.
"Dasar hacker. Komputer nggak cukup satu," kataku. Ia tampak tertawa terkena lelucon itu.
__ADS_1
Aku dan Farel duduk di sampingnya. "Ini Farel ya? Tak kenal kau sama aku? Aku abang kelas kau waktu SMA," tanya Bang Amat pada Farel.
"Iya aku tau, Bang. Sering nampak kok."
"Jadi apa yang mau aku kerjakan?" tanya Bang Amat pada kami berdua.
Aku mengeluarkan handphone dan mencari nama Zaki tadi. Bang Amat meraih handphone-ku,
"Oh ini, dia bukannya vokalis band itu ya? Untuk apa nih?" tanya Bang Amat lagi.
"Urusan cinta anak SMA bang. Abang nggak perlu tau, udah tamat."
"Ah terserah kau lah. Ini mudah sama aku."
Ia membuka program yang entah apa namanya itu. huruf\-huruf acak mulai keluar di layar hitamnya. Persis seperti di film hacker yang sering aku tonton di televisi. Ia juga menulis bahasa pemograman yang hanya dia saja mengerti. Kami hanya tinggal duduk dan menanti hasil.
"Kalau ngehack pakai ini nggak perlu nunggu lama. Langsung bisa kita lihat celahnya," ia menjelaskan pada kami. Kami yang tidak mengerti hanya mengangguk saja. "Dah dapat. Paswordnya AnakMinang123."
Aku langsung meraih handphone\-ku dan langsung memasukkan akun Instagram milik Zaki. Aku langsung melihat pesan\-pesan yang ia dapatkan, terutama pesan dari Alvia yang aku lihat tadi. Aku melihat ke pesan dari paling bawah. Sebuah akun bernama Dina Veronica yang belum ia baca semenjak dua minggu yang lalu.
"Siapa yang akan kamu sakitin lagi setelah aku?"
"Bukan siapa\-siapa. Kamu kenal dia. Kamu udah nggak bersih Din. Kita nggak pernah ngelakuin itu selama ini," jawab Zaki.
"Kamu bohong Zak! Aku harap dia nggak pernah nerima cowok bejat kaya kamu."
"Dia pasti nerima aku. Tau kenapa? Karena dia Alvia."
Seketika aku mengenggam handphoneku dengan keras. Rasanya aku mau mengejar pria itu secepatnya. Farel langsung melihat apa yang sudah aku lihat sebelumnya. Ia merasakan reaksi yang sama sepertiku.
__ADS_1
"Nggak boleh kita biarkan. Kita harus bertindak." Ia menghempaskan handphone-ku. Kami saling bertatapn. Matanya tampak marah dan kesal.
Kuraih handphoneku kembali lalu mengirim sebuah pesa singkat padanya, "Di mana kau? Aku mau ketemu!"