Rinai Hujan

Rinai Hujan
Part 18: Air Mata


__ADS_3

Part 18: Air Mata


Farel Bintang


Ada sebuah arti bintang di akhir namaku. Bersinar terang tanpa pernah padam dan hanya takut untuk bersinar di kala pagi menjelang. Bukannya ia tak ingin untuk menunjukkan cahayanya, namun ia menghormati sang mentari yang ingin menerangi semua. Saat cahayanya mulai memudar tatkala merah senja menyambut, barulah bintang dengan senyum rembulan menemani di tengah kesunyian malam. Ia memang kecil, namun semua tahu ia besar. Hanya jarak yang menyembunyikan kebesarannya.



Aku menyukai bintang tatkala malam, namun beralih kepada hujan ketika siang. Aku benci hujan malam yang akan menghapus bintang di langit, tetapi aku merindukannya tatkala terik mentari mencariku. Rinai hujan melambangkan perjuangan hidup yang pernah kualami. Pahit kehidupan seperti badai hujan. Badai akan menghilang dan digantikan oleh pelangi sebagai tanda badai terlewati.



Hidupku dulu kelam hingga diriku tersesat oleh gelapnya permasalahan. Ayahku membenciku, keluargaku menanggung malu, bahkan seluruh warga mengucilkan diriku yang dianggap sebagai biang permasalahan. Puncaknya saat diriku barang haram itu tiba\-tiba saja ada padaku yang mengotori harga diriku dan keluargaku hingga saat ini. Bahkan sanak saudara mengucilkan keluargaku. Mereka mengganggap keluargaku gagal mendidik anaknya.



Aku tak menyangka kalau itu bisa terjadi. Aku tidak pernah menginginkanya datang padaku. Permasalahan ini memberatkan pikiran keluargaku hingga ayahku jatuh di depan mataku sendiri. Penyakit yang selama ini ia idap kambuh begitu saja. Aku juga tak menyangka hal itu juga yang merenggut orang yang paling kubanggakan selama ini. Orang yang mengenalkan padaku indahnya bintang malam dan sejuknya rinai hujan.



Aku tidak pernah merasakan cinta selama itu. Pikiranku hanya penuh dengan lembaran masa lalu yang selalu saja menghantuiku kapan saja dan di mana saja. Rasanya sakit saat semua itu kembali terputar kembali di pikiran. Aku tak bisa merasakan cinta, bahkan untuk sekedar benihnya saja. Yang kutahu hanyalah ketakutan dan keputusasaan.



Kulihat sepasang kekasih di sana. Terasa hangat dengan genggaman tangan nan erat. Dingin hujan tak dapat masuk menembus gelora mereka. Mataku sungguh lemah untuk mengangkat kelopaknya, namun ada kekuatan yang membuatku untuk tetap membuka. Ia ******** senyum di samping pria itu. Bersanding berdua di seberang rinai hujan yang terus saja bercucuran.



Cessa di sampingku memanjakan diri dengan menyandarkan kepala pada pundakku. Aku sama lemahnya dengan Cessa semenjak saat itu. Pelukan itu mengetuk masing\-masing hati kami untuk kembali berpikir, apa makna mencintai?


    Kami melihat orang yang kami cintai saling memadu kasih tanpa memikirkan hati yang sedang terlukai. Tepat pada malam itu, Azka dan Alvia resmi menyelaraskan janji mereka.


Aku menyesal meminta Cessa untuk menunjukkan letak rumah Alvia. Aku berharap tidak akan melihat hal yang seperti itu. Sakit rasanya saat orang yang dicintai ternyata direnggut oleh orang lain. Aku tahu mereka berhak untuk mencintai dan dicintai, namun rasa sakit ini menutupi alasan untuk tetap bertahan. Aku kembali hancur. Rinai hujanku kembali berbadai, menghapus pelangi yang tengah menunggu di seberang sana.



Tiba\-tiba semuanya terlihat gelap. Yang kurasakan hanyalah desahan Cessa memanggil\-manggil namaku, hingga akhirnya suara itu datang dalam setengah sadarku.



"Farel!" Alvia memanggil namaku. Namun aku terlalu jauh untuk kembali sadar hingga semuanya benar\-benar gelap dan sunyi.


__ADS_1


....



....



....



Aku mendengar tetesan air mata seperti tetesan rinai hujan pertama yang jatuh ke kolam pemandian. Terasa membasahi tangan dinginku. Walaupun basah, perlahan memberi kehangatan. Kucari tetesan itu di sekelilingku, namun semuanya tampak gelap. Ada yang salah dengan dunia ini? pikirku dalam hati setelah sadar bahwa aku tidak berada di tempat yang seharusnya aku berada.



Farel sadarlah!



Seketika secercah cahaya membekas di hadapanku, membuatku mataku silau dan terjatuh. Kelopak mataku perlahan terbuka. Semuanya yang gelap kini perlahan terlihat jelas. Ruangan bercat biru muda ini mengingatku akan sebuah tempat di sekolah. Bau obat yang pekat bercampur dengan wewangian parfum yang entah siapa yang memakainya. Sebuah kipas angin tergantung di langit\-langit. Tangan kiriku terasa berat dan kesemutan, seperti ada yang menghimpitnya sedari tadi. Kepalaku terasa berat untuk bergerak, namun tetap kupaksakan untuk menoleh ke kiri.




"Bangun Alvia," kataku. Tak lama kemudian ia terbangun sambil mengusap matanya yang sembab.



Secercah senyum itu mekar saat ia menatapku. Tangannya melebar dan langsung memelukku. Aku tak bisa menahan. Kubiarkan ia memelukku dengan erat tanpa kuhentikan.


    "Kamu buat aku khawatir Farel." Kalimatnya bagai membelai lembut diriku. Aku tak bisa menjawab. Kuhanya bisa menikmati rasa pedulinya dalam hati.


Aku melepaskann pelukannya sebelum Azka melihat ini. Aku tahu perasaan ia saat kekasihnya tengah memeluk erat orang lain. "Jangan peluk aku seperti ini, nanti Azka bisa melihatnya."



Ia melepaskan pelukannya. Tangannya mengusap air mata yang keluar saat memelukku. Riasan tipis pada wajahnya terlihat sedikit luntur tersapu air mata.



"Cessa mana?" tanyaku.

__ADS_1



"Ke kelas dengan Azka. Aku yang nungguin kamu sedari tadi," jawab Alvia.



Aku melihat tanganku. Tetesan mata yang membasahai tanganku ternyata miliknya. Ia menangis di tanganku selama aku pingsan. Aku yakin akan hal itu.



"Harusnya, Cessa yang menjagaku!"



"Farel, kamu mencintainya?"



Pertanyaan bodoh macam apa ini? Cukuplah dirimu yang membuat hatiku patah, jangan kamu tanyakan pertanyaan yang membuatku merasa bodoh.



"Iya, sama seperti kamu mencintai Azka," jawabku singkat. Aku langsung berusaha untuk berdiri. Kutinggalkan dirinya sendiri yang tengah terduduk. Tak kupedulikan jasanya yang telah begitu peduli denganku tadi.



Maaf aku harus berbohong pada perasaanku sendiri, kataku dalam hati.



Badanku begitu tak berdaya. Langkahku terhuyung\-huyung menuju pintu. Pandanganku tak begitu jelas, terlihat berbayang. Mungkin saja ini efek obat yang tengah aku minum beberapa jam yang lalu. Obat yang selalu menemani diriku saat diriku terpukul.



Di depan pintu Cessa dan Azka tengah berdiri. Langkahku benar\-benar tidak bisa bertahan lagi. Kujatuhkan diriku ke badan Cessa. Untung saja ia masih bisa menahan berat badanku. Aku benar\-benar tidak tahan lagi.



"Cessa, aku sakit, Tolong aku," kataku padanya. Sedikit manja terdengar.



"Aku nggak akan biarin kamu sakit Farel. Aku selalu ada." kalimat itu sungguh menenangkan hatiku. Wanita yang satu ini memang yang paling peduli denganku.

__ADS_1


***


__ADS_2