Rinai Hujan

Rinai Hujan
Part 26: Aku Sungguh Menyesal


__ADS_3

Part 26: Aku Sungguh Menyesal


Alvia Darsya Putri


"Zaki, kita udah kelewatan. Aku sudah menyimpan sebuah nama. Nama itu adalah Farel," ucapku saat melepaskan kecupan Zaki pada bibirku.


    Aku merasa mengkhianati Farel yang selama ini menggatungkan harapan padaku. Aku merasa hina sesaat. Aku sempat menikmati kecupan itu beberapa saat sebelum aku melepaskannya. Hal itu mengingatkanku akan senja di garis tepi pantai Padang dua tahuin yang lalu.


Senja dapat membongkar misterinya bagi siapa saja yang ingin menunggu. Cahaya senja yang jingga bagai mengingatkan kembali hal-hal yang membuat kita merasa istimewa. Senja sendiri yang mengingatkanku pada Farel hingga aku menghentikan Zaki. Senja membongkar misterinya pada Farel. Aku membalikkan diri dan aku melihat Farel berdiri di saat aku melihat aku dan Zaki tengah menanti senja di sini.


Ini tak direncanakan. Aku hanya ingin ke toko Zaki untuk membeli senar gitarku. Ia mengajakku untuk bersenja ria bersama setelah sekian lama kami tak berjumpa. Aku menghargai itu. Zaki sendiri yang sudah menanamkan filosofi senja padaku. Ia yang mengajari semuanya padaku.


"Maaf aku tak bermaksud Alvia. Aku cuma terbawa suasana," katanya padaku.


    Rasa canggung yang kualami membuatku melihat ke sekitar. Alangkah terkejut diriku terselipnya seseorang dalam edaran penglihatanku. Tatapan teduh seteduh hujan dan tampak dingin bak rinai yang tak berujung. Farel melihat momen senjaku yang kusembunyikan darinya. Ia melihat Zaki mengecup lembut tepat pada bibirku.


Kesalahan terbesarku adalah saat menghancurkan hati seseorang yang telah kuraih harapannya. Baru saja aku mengatakan bahwa aku mencintainya. Tepat di senja kali ini, semua itu hilang sirna terbawa alunan angin senja. Aku menyakiti hatinya kembali. Hatinya kembali patah setelah aku sendiri yang melekatkan sebelumnya. Rekatan itu terbuka dan membuatnya rapuh.


"Sebenarnya kenapa kamu mencintaiku?" Pertanyaanya begitu sulit bagiku.


    Andai saja aku bisa menyentuh cinta itu dengan logika, mungkin aku bisa mencari alasan untuk mencintai. Aku hanya bisa mencintainya tanpa menjelaskan, hanya perasaan dan hati yang bisa merasakan.

__ADS_1


"Aku peduli sama kamu Farel. Aku enggak mau kamu kembali rapuh kaya dulu lagi. dan aku kasihan melihatmu...." Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku. Entah badai apa yang membuatnya mendekat.


    "Kasihan katamu?" tanya Farel padaku. Kata itu terasa menyesakkan baginya. Untuk pertama kalinya aku ingin ditampar oleh seorang pria.


Aku ingin menangis, menangisi apa yang telah terjadi. Aku kehilangan hatinya yang pernah ia titipkan padaku. Ia pantas untuk membenciku. Sudah berapa kali hatinya rapuh dikarenakan diriku. Walaupun begitu, tetap saja hati ini mendesak untuk mempertahankan, tak peduli seberapa besar Farel bertahan dalam bencinya.


Kebingunganku mencari kepada siapa untuk bersandar. Kali ini yang ada hanyalah Zaki sebagai pendengar baikku untuk sementara. Awalnya aku memang tak menyukai dirinya yang tiba-tiba saja kembali hadir dalam hidupku.


   Namun, ia datang dengan damai tanpa ingin membuka luka lama. Aku menerima itu dengan mengubur rasa kesal yang ada. Tak ada waktu bagiku untuk mengingat masa lalu.


Pepohonan meneduhkan bayangan di antara kami. Terasa sejuk tatkala hati ini yang sedang memanas. Pria di sampingku memainkan gitar yang pernah ia buat untukku sebelumnya. Akhirnya gitar itu kembali menyentuh tangan pembuatnya.


     Zaki membawaku ke sebuah tempat untuk merenung sementara. Ia memberi kesempatanku untuk bercerita tentang hal yang sedang menggaduh hati.


"Berarti Farel nggak lagi mencintaiku."


"Ini semua salahku Alvia. Andai saja aku nggak menciummu waktu itu," kata Zaki. Wajahnya tampak menyesal dengan apa yang telah ia lakukan.


"Farel memang pantas membenciku. Semakin dekat diriku dengannya, semakin sering dirinya tersakiti olehku."


Zaki mengantarku pulang. Bunyi musik pada mobil berhenti sesampainya kami di depan rumahku.

__ADS_1


"Aku pulang dulu, Zak. Makasih udah ngantarin," pamitku padanya.


   Aku membuka pintu mobil. Namun sesuatu menahanku untuk melanjutkan langkah. Tangannya yang dingin menyentuh tanganku.


"Akan kubuat kamu melupakan Farel. Jadilah milikku lagi Alvia," pintanya padaku.


Sontak aku menggeleng. Aku sadar bahwa hatiku sudah memilih. Kenangan masa lalu juga menjadi alasan diriku untuk tidak terjebak dalam lubang yang sama.


"Aku nggak bisa, Zaki. Itu semakin ngebuat aku jauh dari Farel. Aku mencintai dia." Aku melepaskan tangannya. Namun, ia meraihnya kembali.


"Akan kubuat Alvia melupakan Farel."


Aku kembali melepaskan sentuhan tangannya yang lembut.


   "Tetap saja aku nggak bisa Zaki. Aku belum siap untuk ngelupain dia. Maaf," kataku sambil menutup pintunya. Tampak rasa kecewa yang terlukis dari wajah tampannya itu. Sorot matanya menatap lesuh diriku dari tembusan kaca bening mobil.


Hatiku pilu menyadari orang yang kucintai pergi dan membenci. Meninggalkan semua harapan yang ia berikan dan aku berikan padanya.


    Aku juga merasa sakit menyadari bahwa aku sempat menikmati kecupan itu beberapa saat. Rasanya aku membohongi dirinya yang tulus mencintaiku. Ketulusan yang membuatnya bertahan untuk tetap mencintai dan rapuh saat semuanya merasa didustai.


Aku menyesal Farel, sungguh menyesal......

__ADS_1


***



__ADS_2