Rinai Hujan

Rinai Hujan
Part 8 : Diam Dalam Kesendirian


__ADS_3

Part 8 : Diam Dalam Kesendirian


Alvia Darsya Putri POV


 


Bintang malam menunjukkan diri di kemilaunya. Senyuman rembulan membuatku terus berpikir bagimana untuk menyentuh cahaya terang itu. Nafasku melambat oleh pesona sebuah malam. Senja yang kutunggu sudah berpulang sedari tadi. Kini aku hanya tinggal menunggu hari esok untuk melihatnya lagi. Rasanya tak sabar tuk melihat awan merah senja lagi.


Kamarku penuh oleh wewangian parfum yang kupakai. Wanginya cukup lama hilang jika kusemprot beberapa kali. Kupeluk erat boneka beruang cokelat pemberian Zaki dulu. Rasanya masih segar ingatanku saat ia memberiku sebagai hadiah ulang tahunku. Entah kenapa wajah Zaki masih terbayang\-bayang olehku. Padahal aku sudah berusaha tuk melupakannya.


Poster-poster musisi terkenal yang kutempel di dinding. Wajah musisi Iwan Fals beserta tanda tangannya selalu menjadi kebanggaanku setiap teman yang datang ke sini. Itu kudapatkan ketika ia melakukan konser di Kota Padang beberapa hari yang lalu. Kuambil gitarku dan kumainkan sebuah lagu.


Kuberusaha berimprovisasi melalui setiap melodi yang kumainkan. Pergesekan jariku dan senar pada setiap pergantian kunci menimbulkan bunyi berdecit yang khas. Kurasakan setiap kelokan melodi yang kumainkan. Merasuki sukma, hingga membua tenang setiap jiwa. Aku rasa aku mengenal melodi ini, tiba-tiba diriku mengingat sesuatu.


"Melodi milik Farel yaa." Aku melanjutkan melodinya yang dengan mudah kumainkan. Melodi yang sederhana, namun enak tuk di dengar. Melodi-melodi lambat cocok untuk kepribadiannya yang sedikit pendiam.


"Hai anak baru, bangunlah." seseorang membangunkan dari mimpiku. Tak sadarku aku bermimpi mengenai suasana kamarku.


 


Aku sungguh mudah tertidur walaupun di tempat seperti ini. Wanita itu duduk di sampingku. Mata sipitnya memandang taman bunga dan rimbunan pohon yang ada di depan kami. Hidungnya terlihat mancung jika dilihat dari samping. Ia cantik dengan hijab yang ia kenakan.


 

__ADS_1


"Eh, maaf aku tertidur. Thanks udah bangunin," kataku sambil menyentuh mataku yang masih mengantuk.


"Kenalin aku, Cessa." Ia menyodorkan tangannya. Aku menyambutnya sambil memperkenalkan namaku.


 


"Aku Alvia, anak baru."


 


"Oh kamu yang kemarin bersama Farel di perpustakaan itu yah? Aku lihat kamu teman satu-satunya di sini," kataku.


"Ah kamu berlebihan Alvia, aku bukanlah teman satu-satunya. Kamu teman ia juga. Azka juga. Ngomong-ngomong kamu kok tau aku bersama Farel di perpustakaan kemarin?" ucap Cessa.


 


 


"Iya, kemarin aku lihat ia diganggu oleh anak\-anak IPS yang nakal itu. Trus seperti ada yang tidak beres dengannya. Aku mengikutinya. Ia terlihat gelisah di meja itu dan kamu datang. Ada apa dengannya?" kataku dengan panjang lebar. Sedari kemarin aku penasaran dengan Farel yang terlihat gelisah. Aku tidak tahu penyebabnya.


"Ia dulu mengalami hari-hari yang berat yang membuatnya seperti itu. Ada satu yang aku inginkan dari kamu Alvia," ucap Cessa dengan lambat. Matanya menatap tajam seakan berharap sesuatu.


"Maksud kamu Cessa?" tanyaku.

__ADS_1


"Buatlah Farel berubah. Buatlah ia selalu tersenyum. Sejak ia bertemu denganmu, aku selalu ngelihat perubahan Farel yang selalu bersemangat."


 


Ia memelukku. Aku tidak tahu maksudnya. Air matanya mengalir.


 


"Cessa, apa maksudmu? Apa yang berubah?" Aku melepaskan pelukan wanita itu. Sebagai seorang wanita, aku tahu betul apa yang ia rasakan.


"Hanya itu yang bisa aku kasih tahu ke kamu. Aku mempercayai kamu Alvia."


 


Ia berdiri dan perlahan meninggalkanku. Ia berjalan lambat tanpa tujuan yang kuketahui. Aku masih tidak mengerti apa yang Cessa katakan. Ia menyembunyikan sesuatu meski ia sudah mengupas sebagiannya padaku. Masih banyak yang tak kuketahui.


 


Inikah yang menyebabkan Farel selalu diam dalam kesendiriannya? Aku berusaha menebak sebisa mungkin.


 


***

__ADS_1


Aku mau nanya, POV siapa yg paling lo tunggu?


__ADS_2