
Part 12: Cemburu
Farel Bintang
Sayup\-sayup mataku masih sembab oleh kantuk. Bekas cahaya mentari sudah mulai menerpa dinding kamarku. Sebuah foto berbingkai hitam itu sudah sedari tadi menyambut diriku untuk memulai pagi. Senyumnya menghantarkan energi lebih demi melangkahkan kaki.
Senyum Papaku tampak cerah pagi ini, sama seperti pagi-pagi yang selalu kulalui. Meski senyumnya hanya bisa kulihat melalui foto itu, namun kutahu ia akan selalu tersenyum untukku di sana.
Wanita itu sudah mengetuk pintu berkali\-kali. Tak satu kali ia kesal sendiri karena aku tidak membukakan pintu untuknya. Sudah jelas aku baru saja selesai mandi, bahkan pakaianku saja masih tidak untuk menempel pada badanku.
"Cepatlah, tak pergi ke sekolah abang?" teriak Adik perempuanku itu.
Aku sengaja diam agar ia semakin kesal pagi ini. Kadang ia terlihat cantik ketika sedang cemberut. Ada kesenangan tersendiri tatkala diriku menggaduhnya. Rasa senang dan cemas akan garangnya ibuku bercampur aduk menjadi satu.
"Iya, Abang nak keluar lagi ni," jawabku dengan sedikit logat melayu yang khas.
Kubuka pintu. Ia tak lagi berdiri di sana. Tentu saja ia sudah turun ke bawah untuk melihat menu sarapan pagi ini. Ia hanya meninggalkan harum tubuhnya di pintu ini.
Kakiku menuruni tangga menuju ke dapur. Mama sedang sibuk mengaduk\-aduk sesuatu di pancinya. Adikku asik sendiri dengan gelasnya yang akan ia isi dengan susu.
"Nah, kalian makanlah nasi goreng ni cepat. Nanti terlambat, baru tau rase." Mama menyendokkan nasi goreng ke atas piring.
Adikku memandang kesal padaku. Aku tak bisa berkata\-kata, hanya senyum yang bisa kulontarkan sebelum tawa yang keluar.
"Abang ni Ma, dah dipanggil-panggil tak juge keluar," protes Adikku.
"Siape suruh nak menunggu Abang!" jawabku sambil menyendok nasi goreng di hadapanku. Ia dengan kesal melemparkan sebuah tisu yang telah ia gunakan sebelumnya.
"Sudahlah Farel, jangan kau gaduh juge Sarah tu lagi. Untung die yang bangunkan engkau. Kalau tak, takkan pergi sekolah kau Farel," kata Mama
Mama mencubit lenganku. Rasanya tidak terlalu sakit, namun aku hanya melebih-lebihkan saja agar terlihat sakit. Tampak Adikku puas melihat diriku yang sedang dicubit Mama.
"Harum sangat pagi ini Farel. Siape juge perempuan nak kau dekati?" tanya Mamaku sambil tersenyum.
__ADS_1
"Adelah Ma. Mama tak perlu tau," jawabku singkat.
"Tak perlu tau? Farel bawalah die ke rumah. Kenalkan same Mama, ye?" tanya Mamaku lagi. Aku mengangguk. Sudah pasti orang yang kusuka akan kukenalkan pada Mama. Hanya saja aku belum siap untuk memperkenalkan ia padanya.
Selesai menyantap sarapan, kami menyalami Mama sebelum pergi ke sekolah. Adikku bergegas mengambil motornya, sedangkan diriku bersiap menapaki kerasnya batu trotoar.
Sarah sedang berada di kelas X SMA. Sekolahnya memang agak jauh dari rumah, jadi ia harus menggunakan motor walaupun ia belum mempunyai SIM.
Sudah tiga hari ini hujan yang kutunggu tak kunjung datang. Rindu sekali rasanya ingin merasakan dingin nan menusuk itu. Bau tanah nan terangkat tercium dalam khayal. Bunga\-bunga pinggir jalan sudah kering tak tersiram, meminta dan meronta kepada rinai hujan. Namun sayang, nyanyian doa mereka tak terdengar oleh rinai hujan. Termasuk doaku juga agar ia turun menyapaku lagi.
Tak sadar olehku aku lebih banyak tersenyum akhir\-akhir ini. Hidupku seakan lebih ringan dari sebelumnya. Gejala depresi tidak terlalu sering muncul, bahkan bisa dibilang tidak pernah muncul lagi.
Benar kata ayah Cessa yang menjadi pembimbingku untuk melupakan semuanya. Depresiku bisa dihilangkan, salah satu caranya ialah dengan cinta.
Aku telah lama kehilangan cinta, terutama cinta Papaku sendiri dan cinta seorang sahabat. Sudah lama aku tak memilikinya sehingga aku berlarut-larut tenggelam dalam masa laluku sendiri.
Mereka belum ada apa-apanya dengan orang-orang yang pernah kutemui dulu. Mereka seperti sekelomok siswa yang baru tahu dunia luar, sehingga mereka merasa hebat karena sudah menatapku seperti itu.
Tiga hari yang lalu tepat pada hari aku dan Azka diculik oleh Alvia, aku tidak mengerti kenapa badanku bergerak sendiri dan lebih bersemangat.
Hari itu aku melewati koridor yang biasa dijadikan tempat tongkrongan mereka di sana. Komplotan berandal sekolah yang berisikan anak-anak kaya nan gila dengan harta orang tua mereka. Percuma kaya raya seperti mereka jika menjadi berandalan seperti itu.
Pria berambut klimis itu salah satunya. Namanya Randi, anak dari donator terbesar SMA Diponegoro. Playboy sejati, tukang cabut, dan penindas siswa lain, itulah dia. Diikuti dengan siswa lain yang selalu mengekornya kemanapun.
"Farel, setoranmu mana?" katanya saat mencegat diriku yang sedang lewat. Dua orang lainnya memegangi tanganku agar tidak kabur. Sedangkan empat orang lainnya berada di belakang Randi.
"Nggak cukup jajan yang dikasih orang tuamu?" tanyaku. Tercium jelas bau rokok dari desahan nafasnya. Entah di mana ia mengisapnya. Dari bau yang terasa, ia sepertinya baru saja mengisapnya.
"Melawan? Bawa dia ke tempat biasa," pinta Randi pada anak buahnya.
__ADS_1
Aku digerek ke tempat biasa. Mereka acap sekali mem-bully siswa lain di sana, termasuk aku. Sudah belasan kali aku memasukinya.
Ruangan itu berdebu seperti tak diurus. Yang kutahu ialah ruangan ini pernah dijadikan laboratorium sebelumnya. Namun, sekarang sudah berganti sebagai gudang peralatan sekolah. Biasanya para murid menggunakan ruangan ini untuk kabur dari kejaran guru yang ingin merazia rambutnya. Secara perlahan gudang ini sering dijadikan tempat menyiksa murid oleh komplotan Randi.
Kuhitung berapa jumlah mereka. Semuanya ada tujuh termasuk Randi sendiri. Ketika dulu aku juga sering disekap seperti ini, bahkan dengan orang yang lebih banyak lagi. Tidak hanya itu, penyekapku bukanlah komplotan murid namun komplotan preman pasar yang sering kulawan karena memalak teman satu SMA. Tetap saja mereka bisa kulawan, namun tidak semua. Selalu ada Azka yang datang terlambat.
Selama ini aku selalu diam jika dijahili oleh Randi dan teman\-temannya. Setiap aku mencoba melawan, emosiku mendatangkan gejala depresi padaku. Kepalaku menjadi sakit dan ingatan\-ingatan buruk itu kembali terputar. Hal itu mengurungkan niatku untuk melesatkan kepalan tanganku yang terkenal cepat itu.
Satu kalimat yang teringat olehku yang terucapkan oleh Cessa.
Kamu harus berubah.
Kalimat itu seakan memberikan energi lebih padaku dan....
Satu per satu dari mereka tumbang tak berdaya.
***
Aku melihat Alvia lengkap dengan senyumannya yang menawan. Matanya yang bulat menatap lurus padaku. Seakan ada yang ia cemaskan. Di sampingnya berdiri pria bermata sipit itu. Azka melemparkan senyum padaku. Kami baru saja berbaikan beberapa hari ini.
"Kamu nggak apa\-apa Farel? Tadi Randi sama teman\-temannnya nyariin kamu," tanya Alvia padaku. Tampak jelas kekhawatiran di wajah wanita itu. Alis tebalnya mengisyaratkann kekhawatiran itu.
"Jangan khawatir, Randi itu belum ada apa\-apanya dengan Farel," jawab Azka.
Kapten basket itu mengacak-acak rambut Alvia. Alvia memukul lembut Azka. Seketika ada rasa sesak yang kurasa ketika sentuhan tangan Azka mendarat ke rambut Alvia nan kemilau.
"Nggak apa-apa kok, mereka cuman ngebentak aku kemarin."
Aku tersenyum lalu meninggalkan mereka berdua.
Kadang ada sesuatu yang terasa mengganjal pada diriku saat melihat mereka berdua. Aku tidak tahu apa itu.
Mungkin saja ini bagian dari cinta yang kualami. Menyesakkan, yaitu rasa cemburu.
__ADS_1
***