
Part 29: Sungguh
mencintainya
Farel Bintang
Kembang cahaya sebuah senyuman terpancar dari selapis bibir wanita di sana. Berjarak jauh antara kedua sudut bibir yang membatasi. Terselip sebuah arti yang dapat kita gali dari sela bibirnya. Terlihat manis olehku tatkala matanya menyipit, tatkala menyapa seseorang. Kulit putih itu berona merah di daerah hidungnya yang lancip. Melancip indah membuat bentuk yang tegas. Sesekali rambut tergerai itu bergerak bebas tersibak angin yang lalu.
Aku menatapnya dari jauh sambil menyandang tas. Kakiku terus melangkah menuju kelas. Ia tampak setia dengan gitar yang juga ia bawa. Bersanding berdua dengan gitarnya. Mereka memiliki tujuan yang sama denganku. Namun, aku hanya bisa membuang muka tatkala tempat yang menjadi tujuan kami sengaja mempertemukan. Aku masih sakit hati.
Patah hati yang kurasakan berpadu dengan sisa benih cinta yang ia tinggalkan. Masih bersemi walau tak seindah seperti dulu. Ingin rasanya aku bisa membelai senyumnya secara langsung, namun semua itu sudah menjadi tak biasa setelah semua yang terjadi. Ia menjauh, aku pun menjauh. Menjauh dari masalah yang ada dan berusaha untuk tak mengungkit dan menyentuhnya.
Salahkah jika aku menjauh meski pedih yang kurasakan membentuk luka memanjang tepat pada hatiku? Aku menjauh setelah ia membuatku terjatuh dan terjatuh lagi. Ia tak memberi jeda untukku guna memulihkan hati. Merekatkan kepingan hati yang sempat patah. Mencari kepingan hati yang sempat hilang.
Rinai hujanku yang kuanggap bersemayam pada Alvia tengah berbadai. Tak memberi kesempatan pada pelangi untuk menunjukkan pesonannya.
Hujan tak selalu mewarnai, kadang berbadai bak hati nan terlukai. Dan Hujan tak juga selalu dirundung awan hitam, akan ada pelangi dan senyuman mentari yang akan menggantikan kelam.
Kalimat itu menjadi pedomanku selama ini. Alvia hanya mendengar salah satu dari dua kalimat itu, dan tidak mengentahui jika aku menyembunyikan kalimat yang satunya lagi darinya.
Badai yang tengah berkecamuk dalam hidupku sempat hilang dan sirna. Semua permasalahan yang ada pada diriku perlahan pergi dan tak kembali. Depresi, kecanduan akan obat\-obatan, serta sukarnya diriku untuk melupakan masa laluku, membuatku lama terpendam oleh hantu masa lalu.
Cinta yang memberiku semua kekuatan itu. Jatuh cinta ikut menghempaskan semua permasalahan pada diriku serta menghampus badai yang menghalangi pesona pelangi dan senyuman mentari. Namun, cinta juga yang kembali menyeret badai itu kembali. Berkecamuk hebat dalam hatiku.
Kumerenung di hadapan bunga\-bunga tempat bermain para lebah. Bersandar tubuh pada kursi besi nan dingin. Tempat biasa yang menghabiskan waktu kesendirianku.
Wanita itu tampak mendekat. Di bawah terpaan mentari pagi yang bersenandung dengan kicuan burung menari, samar-samar mataku memandang mata indah yang bulat itu. Tampak bening dan jernih oleh naungan kelopak berbulu mata lentik. Alisnya yang tebal mempertegas tatapan lurusnya itu. Lurus tepat tertuju pada kedua bola mataku.
Wangi tubuhnya mulai mendekat, seakan membawa sepi yang tak harmoni. Aku berdiri dan berusaha meninggalkannya. Namun, tangan lembut itu menyentuh tanganku. Menghambat niatku untuk tidak bertemu dengannya.
__ADS_1
"Aku mau bicara padamu," katanya pelan. "Aku mohon dengarkan aku sekali lagi."
Aku tak bisa menahan. Benih yang tersisa di dalam hati masih ingin bersemi, tak peduli seberapa besar benci yang tengah mempengaruhinya. Tangannya menuntunku untuk kembali duduk. Sudah lama aku tak merasakan bersanding berdua dengannya seperti ini.
"Silahkan bicara sesukamu."
"Aku nggak pernah ada niat untuk nyakitin kamu. Oke, kamu udah lihat semuanya. Tapi itu di luar dugaanku, Rel. Dia yang berusaha memulai."
"Aku nggak tahu harus berkata apa lagi, Alvia. Nggak semua yang kita lihat bisa kita terima begitu aja. Kamu nggak tahu rasanya kembali terpuruk di saat semuanya perlahan membaik. Kamu begitu mudahnya numbuhin cinta, namun kamu dengan mudahnya juga menanamkan benci yang menutupi cinta itu,"
Aku menatap matanya. Wajahnya tak berbinar seperti biasanya.
"Aku nggak marah Alvia. Aku kecewa, ucapku pelan.
Aku melepaskan sentuhan tanganya lalu berdiri meninggalkan Alvia. Wajahnya dibanjiri air mata. Entah air mata apa yang sedang keluar kali ini. Apakah berbanding lurus dengan perasaan yang ia rasakan saat ini? atau hanya peminta belas kasihan berkat kesalahan yang ia perbuat? Hanya ia dan senja miliknya yang tahu.
"Kamu tahu apa yang aku pikirkan saat Zaki berusaha menciumku?"
"Apa?" Langkahku berhenti.
__ADS_1
"Kamu, Farel. Aku merasa hina karena udah dibuat seperti itu. Aku sadar jika aku sudah ada yang pantas untuk mengecupku. Aku sadar jika aku punya harapan. Harapan kugantungkan kepada orang yang aku cintai."
"Bukankah kamu menikmatinya?" tanyaku.
"Aku tidak menikmatinya, Farel. Percaya sama aku. Apa kamu nggak mau pertahanin aku? Apa itu perasaan yang kamu simpan saat ini?"
"Perasaan? Apa itu perasaan? Cinta maksudmu?
"Kamu nggak bisa mempertahankan cinta yang udah lama kamu perjuangkan?
Aku membuang muka. Aku tak sanggup melihat aliran air mata yang membasahi pipinya. Membasuhi bedak tipis yang ia gunakan sebelum pergi ke sekolah.
"Cinta itu udah sirna dalam satu senja, Alvia. Jangan pernah temui aku lagi,"
Kutinggalkan dirinya, lengkap dengan air mata yang ia rasakan. Angin yang menghempas, menggoyangkan jiwa rapuh dan sepi seperti diriku. Mencoba untuk meluluhkan hati yang membatu karena kebencian. Hatiku yang kebas tak memikirkan seberapa jujurnya air mata yang ia keluarkan dari tadi. Egoku terlalu besar tidak bisa menerima.
Kakiku berlari menuju sebuah tempat. Tempat yang menjadi tempatku menyendiri untuk menumpahkan air mata. Meja itu kembali berguna setelah sekian lama aku tak bertemu dengannya. Air mataku tumpah untuk bercerita.
__ADS_1
Aku masih mencintainya. Sungguh aku mencintainya. Namun, aku belum siap untuk menerima dirinya. Aku masih ingin sendiri dan sendiri lagi. Merenung, memberi hatiku waktu untuk memulihkan diri.
***