
Part 23: Benih Yang Tumbuh
Azka Aldric
Sedari dulu aku selalu di bawah Farel. Farel dapat menyaingiku dalam hal apapun. Mulai dari teman, harta, wanita, dan pengaruh, ia selalu selangkah mendahuli diriku. Salah satu hal yang membuat rasa benciku muncul padanya. Aku senang sewaktu itu dia terpuruk. Waktu itu aku berpikir bahwa itulah waktu yang tepat untuk mendahului dirinya. Ternyata semua itu benar. Semua yang kuperoleh saat ini melebih apapun yang pernah ia peroleh saat itu.
Aku pernah berusaha melupakan seseorang. Sekuat apapun usaha untuk melupakan seseorang, tetap saja akan meninggalkan sedikit rasa yang pernah membekas sebelumnya. Ia pernah mengisi hatiku yang sempat dirundung sepi. Sikap lemah lembut dirinya membuat diriku jatuh hati untuk pertama kalinya.
Ia adalah Cessa, wanita berhijab itu. Namun, tak kusangka Farel yang kuanggap musuh kembali hadir dalam hidupku. Ia berhasil mengambil perhatian Cessa dariku yang pada akhirnya Farel kuanggap sainganku sendiri.
Sekali lagi aku berpikir bahwa Farel selalu di atas diriku. Ia bahkan bisa menarik perhatian orang yang kusukai. Waktu menjawab semuanya. Cessa mengatakan cinta padaku tiba-tiba. Rasa benciku terlalu dalam kepada Farel membuat diriku menolaknya.
"Cessa, kamu akan menjadi pacarku, namun aku mau kamu menjauh dari Farel si bodoh itu," kataku pada saat itu.
Aku benar-benar tidak suka ia dekat dengan Farel. Hal itu membuat diriku cemburu. Cessa menolak permintaanku untuk menjauhi Farel. Ia rela menjauhi orang yang ia cintai demi sahabatnya sendiri.
Mereka benar-benar tidak bisa dipisahkan, selalu bersama setiap saat. Semakin hari, diriku semakin membencinya. Rasa cemburuku semakin besar seiring mereka yang semakin dekat. Aku mengharapkan seseorang yang bisa melupakan Cessa dariku dan akhirnya tuhan menjawabnya. Tuhan mendatangkan Alvia pada hari itu.
Kemunculan Alvia membuat diriku buta. Ternyata pepatah itu benar, cinta itu benar-benar buta. Cinta tidak pernah memilih kepada siapa ia akan tumbuh. Tidak hanya itu, cinta bahkan membutakan setiap hati hingga menyakiti orang yang pernah benar-benar peduli. Aku menyampingkan semua hal yang pernah Farel lakukan padaku.
Tanpa dirinya aku tidak akan pernah berubah menjadi pria yang sebenarnya. Ia yang telah mengajarkanku semuanya. Hingga ia kembali terpuruk di tanganku sendiri.
__ADS_1
Bulan di malam ini memanggil bintang-bintang untuk menyinari bumi. Sinarnya takkan kuat untuk menghangatkan dingin yang menyentuh, namun cukup terang bagi hati yang tengah mencari sebuah kehangatan. Suara serangga saling bersahutan dengan bunyi yang takkan pernah dimengerti manusia. Suara itu hanya menjadi pengisi tatkala di kesunyian malam. Tak jarang juga terselip suara burung malam yang sering kali keluar memanggil untuk di dengar.
Hatiku masih sakit dirundung patah hatiku. Aku merasa ada yang kosong tatkala menyentuh hati ini. Hati yang pernah mengisi hatiku kini telah pergi. Lubang dalam itu kini bersarang dan menunggu untuk diisi kembali. Jika tak dirinya, mungkin saja oleh orang lain yang bahkan tak pernah kukenal sebelumnya.
Ia tak salah membenciku. Aku yang memulai semuanya. Tatkala mereka mencintai satu sama lain, aku malah datang untuk menghancurkan rasa itu demi keinginanku sendiri. Aku seperti orang jahat yang telah mengelabuhi perasaan orang lain dan membelokkan rasa itu padaku.
Memang rasanya aku menang dalam hal itu, namun kenyataannya akulah yang kalah. Akhirnya semua terbongkar. Mereka tahu bahwa mereka pernah saling mencintai.
Cahaya remang-remang lampu halaman ini menyinari setengah dari wajahku. Gelap terasa menyentuh sebagian wajahku yang lainnya. Udara yang menari lambat membelai rambutku perlahan. Bergoyang perlahan mengikuti irama angin malam. Jemariku memantik api yang menyulut ujung tembakau harum ini. Sudah lama aku tak mencobanya. Rasanya ini adalah waktu yang tepat untuk mencobanya lagi.
Kuhisap perlahan tembakau hingga mengeluarkan suara khasnya. Harum tembakau berubah menjadi bau asap yang menyengat. Kutarik sedikit lalu menghembuskannya kembali. Asap tembakau menari-nari di antara cahaya remang lampu halaman. Berputar-putar terbang mengawang ke udara. Bebanku seakan terbawa oleh sekumpulan asap. Begitu pula dengan pikiranku perlahan menjadi rileks.
Setengah batang tembakau ini sudah habis terhisap. Di ujungnya tertinggal abu-abu yang meminta untuk kujentik oleh jemari. Dengan gaya yang khas, telunjukku menjentik batang tembakau murah itu. Sebatang ini hanya dihargai seribu jika kubeli di kedai sebelah. Aku tidak mau membeli sebungkus penuh. Itu hanya akan membuat diriku kembali menjandi candu. Sebatang saja tidak akan berefek untuk kembali mengisap.
Ia berdiri tegak di hadapan. Semerbak harum wanita berhijab ini menyeruak di sekeliling. Wajahnya yang putih sedikit kemerah-merahan di bagian pipinya. Itu bukanlah polesan kosmetik atau sebagainya, itu alami dari keistimewaan wajahnya. Cessa menarik rokok yang terselip di antara bibirku.
"Jangan hisap ini! Ini merusak!" Ia menginjaknya hingga hanya meninggalkan bagian filternya saja.
"Aku bingung, Cess. Aku mencintainya tatkala sahabatku mencintainya juga. Apakah aku salah?" tanyaku padanya. Ia meletakkan tasnya dan duduk di sampingku.
"Enggak, kamu nggak salah mencintai Alvia. Namun, maksud dan cara kamu yang salah. Aku sudah mengingatkannya sebelumnya bahwa Farel juga mencintainya. Kamu ngelakuin ini bukan hanya karena cinta, namun juga membuktikan bahwa kamu bisa lebih dari Farel," jawab Cessa.
__ADS_1
Bahu kami saling bersentuhan. Memberikan sedikit sentruman yang entah dari mana datangnya. Bukankah ini sudah biasa kami lakukan sebelumnya? Atau semuanya menjadi canggung tatkala semuanya tak lagi biasa?
"Farel juga mencintai Alvia, dan Farel perlahan membaik semenjak kehadiran Alvia. Jangan ganggu mereka, plisss."
Aku kembali mengingat kalimat yang sudah lama ia katakan padaku sewaktu Cessa berusaha memperingati. Hanya saja aku malah memakinya dengan mengatakan hal yang menjelekkan Farel: Jangan sebut nama teman idiotmu itu di depanku."
"Tadi aku mukulin Farel. Aku nyesal banget Cess."
Cessa mengangguk. Bibirnya melebar tipis membentuk senyum kecil.
"Ya, aku tahu kok. Tadi Alvia ceritain semuanya, termasuk perasaannya kepada Farel. Sebenarnya aku sudah tahu lama tentang hal itu, cuma dia yang malah cemburu ngelihat aku sama Farel. Yah, sama ceritanya kaya kamu dulu Azka." Cessa mengingatkan hal itu kepadaku. Wajahku merah padam karena malu.
"Bukannya kamu yang ngejar aku?" tanyaku untuk membalas balik.
"Eh, nyadar, Azka. Kamu tuh yang ngejar aku. Tapi, akhirnya malah aku yg nyatain duluan," katanya sambil tertawa.
Kami tertawa bersama di bawah cahaya redup sang rembulan. Berselimut di dalam gelapnya malam sambil bercerita mengenai masa lalu yang acap kali membuat kami tersipu malu. Bercerita layaknya sepasang kekasih.
Rasanya ada yang menjanggal dari apa yang kurasakan. Seperti ada yang mengisi kekosongan yang ada. Aku menyentuh dadaku dan berusaha untuk merasakannya.
Kekosongan hatiku seakan terisi kembali, walau hanya sebagian.
__ADS_1
Kurasa rasa itu tak hanya sekedar benih, namun telah tumbuh kembali.
***