Rinai Hujan

Rinai Hujan
Part 16: Mengubur Perasaan


__ADS_3

Part 16: Mengubur Perasaan


Alvia Darsya Putri


Telepon genggamku berdering berkali-kali. Nada itu pertanda masuknya sebuah pesan. Kulihat lambang hijau yang tampak pada layar telepon genggamku itu. Belasan pesan LINE dari Azka bertengger sejak lima belas menit yang lalu. Kugeser ke bawah layar sentuh itu untuk mencari namanya.


Tidak sengaja nama sang penunggu hujan itu tampak oleh mataku. Hanya ada sebaris pesan yang ia kirimkan. "Sedang makan."


Pesan itu sudah dua minggu yang lalu ia kirimkan pada saat kutanya sedang apa dia. Ya, itu hanyalah basa-basiku untuk mencoba mendekati penunggu hujan itu. Tetap saja Farel bertahan dengan sikap dinginnya..


Sentuhan tanganku sampai pada nama yang kucari, Azka Aldric. Foto profil kecil itu terlihat tampan dengan setelan kemeja yang membuat dirinya terlihat elegan. Aku menyentuh namanya untuk melihat isi pesannya.


Alvia, keluar yuk! Kujemput kalau kamu jawab iya, kubaca pesan itu dalam hati.


Aku menjatuhkan telepon genggamku. Rasa panik ini menyerangku, bercampur dengan perasaan senang yang menyamarkannya. Aku mencoba untuk tetap tenang. Tidak kusangka aku diajak keluar oleh dirinya.


Sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Kurasa aku harus menjawab secepatnya. Tidak baik membuat seorang pria menunggu lama.


Oke, siapa takut. Jemput aku dalam lima belas menit dari sekaran!


Aku menekan tombol kirim, lalu menghempaskan telepon genggamku di atas kasur. Suara yang lembut terdengar saat bersentuhan dengan permukaan kasur yang empuk.


Aku berlalu ke lemari mencari pakaian terbaik yang kupunya. Kuanggap kali ini ia benar-benar mengajakku kencan walau sebenarnya ia tidak berani mengakuinya.


Satu per satu pakaian kucoba dan satu per satu pula pakaian mendarat ke kasurku. Mereka terlihat tidak cocok untuk kubawa malam ini.


Aku berhenti sejenak memikirkan pakaian apa yang bagus untuk kukenakan. Pilihanku jatuh ke baju lengan pendek yang tergantung paling kanan. warna cream menurutku lebih santai untuk suasana ini. Kuambil celana jeans yang tergantung di belakang pintu lalu mulai memasangnya.


Bedak tipis memoles pipiku yang putih. Selapis pemerah bibir kuoleskan dengan lembut pada bibir. Tampak merah, namun tak menor. Aku tahu benar dia. Kadang ia sering risih melihat siswi di sekolah yang sering kali mengenakan lipstik terlalu merah pada bibrnya. Terkesan tidak sesuai umur.


"Ibu," panggilku di depan pintu kamar. Ia sedang duduk bersantai di depan TV bersama Ayah. Sedangkan adik kecilku sedang asyik menggambar dengan pensil warnanya.


"Ndeh, mau pergi ke mana? Cantik sekali," puji Ibuku saat melihat penampilanku yang tidak biasanya. Kulihat senyum mereka itu, tidak ada tanda-tanda akan melarangku pergi malam ini.


"Kawan ngajak keluar tadi. Boleh, ya?" tanyaku pada Ibu. Ia mengangguk kecil memberi izin. Aku tersenyum senang melihat anggukan itu.


"Anak awak dah gadis. Ayah tau kalau Alvia diajak sama cowok," kata ayahku.


Aku tak bisa menyembunyikan merahnya wajahku saat ia mengatakan hal itu. Aku menyalami mereka satu persatu. Tidak lupa pula aku mencium adik kecilku yang lucu itu.


"Ilham, Kakak pergi dulu ya," ucapku saat kumenciumnya.


"Alvia, kenalkan cowokmu itu sama Ayah, biar ayah ajarkan dia memancing," kata ayahku sambil tertawa.


Candaan ayahku berhasil membuat merah di wajahku hilang. Ia memang suka memancing. Bahkan setiap lelaki yang dekat dengaku ingin ia ajak untuk memancing di Sungai Siak.


Tepat saat aku membuka pintu, terdengar suara klakson mobil di depan pagar rumah. Mobil warna putih itu mematikan mesinnya lalu seseorang keluar dari mobil. Kulihat mata sipitnya yang kecil itu seakan ia tak memiliki bola mata, apalagi tatkala ia tersenyum. Bola matanya tak tampak oleh mata sipitnya.


Ia menyambutku bagaikan seorang ratu. Sambutan itu diiringi oleh senyum manis darinya. Ia juga membukakan pintu untukku. Azka memang selalu pandai untuk bersikap manis di depan wanita. Romantisme yang ia bawakan membuat jantungku berdebar-debar. Seperti ada yang ingin keluar dari dadaku.


Kami menuju pusat kota. Aku tahu karena kami sudah melewati dua buah fly over yang ada di sepanjang perjalanan kami.


Jujur, aku tidak terlalu mengenali jalanan kota, walaupun sekolahku berada di sana. Bagaimana tidak, sepulang sekolah aku langsung ke rumah dan jarang berkeliling sekedar mengenal jalanan kota.


Lagu romantis yang sempat terputar membuatku sedikit canggung. Aku merapatkan kakiku karena canggung. Kulihat wajah Azka, ia terlihat fokus melihat mengendalikan kemudi mobil. Sesekali kepalanya bergoyang mengikuti irama musik.


Perlahan suaranya ikut menyanyikan lagu yang terputar. Aku juga ikut-ikutan menyanyikan.


"Just say you won't let go .... Just say you won't let go...."


kami mengikuti irama suara James Arthur yang berdengung di speaker mobil.


"Kamu suka lagu ini juga Alvia?"


"Ya, kadang-kadang," jawabku singkat, lalu bernyanyi kembali.


Kami sampai di tempat yang kami tuju. Azka memarkirkan mobilnya dengan hati-hati. Tempat ini adalah cafe pertama yang kukunjungi semenjak tinggal di Pekanbaru.


Selama ini aku hanya nongkrong di pinggiran jalan sambil memakan jagung bakar dan minum kelapa muda. Itu pun bersama Farel. Aku dan Farel memang sering menunggu senja di sana. Itu semenjak kami pertama kali mencobanya, ternyata menyenangkan melihat langit senja yang penuh dengan asap bakaran jagung. Aroma senja yang kuat membuat aku dan Farel larut di dalamnya.


"Ayo, Alvia," kata Azka.


Suara musik akustik mulai terdengar saat mendekati café. Seperti biasanya, café yang bagus selalu menyediakan live music untuk kenyamanan para pengunjungnya. Dentuman alat musik kajon terdengar begitu padu dengan alunan yang berjalan. Suaranya mengisi setiap kekosongan tempo yang ada.

__ADS_1


Melodi gitar dimainkan sungguh merasuki setiap jiwa yang mendengarnya, seakan membawa menari suasana hati para pengunjung. Pasti ia adalah gitaris hebat. Itu terdengar dari melodinya yang sempura.


Di dinding café tertempel sebuah poster band yang akan tampil di café ini. Aku membacanya dengan seksama. Jadwalnya tepat untuk hari ini. Tiga orang pria berkacamata hitam menghiasi sebagian besar poster band itu.


Pria yang paling depan memegang gitar lalu diikuti dengan kedua orang temannya yang memegang bass dan stik drum.


"ZANDI, nama yang bagus untuk sebuah band," kataku sambil menyentuh poster tersebut. Aku melihat Azka sudah masuk ke dalam café. Aku menyusulnya dengan cepat.


Wangi aroma kopi yang khas menyeruak ke hidungku. Aroma yang kuat itu seakan memberikan gairah kepada setiap orang penikmat kopi. Tentu saja ini aroma kopi-kopi premium yang cuma kita temukan di café.


Azka sudah duduk di meja pilihannya. Ia memanggilku untuk segera duduk di sana.


"Pesan apa?" tanya Azka padaku.


"Sama kaya Azka aja. Aku nggak tau menu yang bagus di sini," jawabku.


Azka mengangguk lalu memanggil pelayan yang tengah sibuk di meja pengunjung lainnya. Pelayan itu merespon dengan cepat, ia segera menghampiri kami. Wanita itu dengan ramah menanyakan pesanan kami.


"Nasi gorengnya dua, minumnya jus melon dua kak," kata Azka pada wanita berpakaian pelayan café itu. Ia mencatat pesanan kami lalu pergi menyampaikannya pada juru masak café.


"Jauh-jauh ke café cuman buat makan nasi goreng."


"Biarin, yang penting kenyang. Hahah," tawa Azka keluar oleh candaanku.


Tawanya memang manis terasa. Sebelah lesung pipinya selalu menampakkan diri ketika kedua ujung bibirnya melebar. Aku menatap matanya terus menerus, sementara ia melihat ke arah lain.


Entah apa yang sedang ia lihat. Mungkin sekedar mencuri pandang ke para wanita yang sedang duduk di meja yang lain. Aku maklum saja, ia tetap seorang pria yang bisa tertarik sementara dengan wanita yang baru saja ia lihat.


Cukup lama kami menunggu pesanan kami datang. Mungkin sekitar lima belas menit sudah kami menunggu. Pelayan yang menghampiri kami tengah membawa pesanan kami sekarang adalah seorang lelaki. Wanita yang menanyakan pesanan kami kini tengah berada di meja yang lain.


Dengan sebuah senyum ia meletakkan pesanan kami ke atas meja. Wangi nasi goreng langsung tercium di hidungku. Hal itu semakin membuatku semakin lapar saja.


"Gasak aja langsung nasi gorengnya." Azka langsung memegang sendok dan garpu.


Tanpa menunggu wanita di depannya, Azka langsung menyendok nasi goreng. Ia bukanlah pria terkesan pemalu yang selalu menjaga pembawaannya di depan wanita.


"Alvia pernah diajak makan kaya gini sebelumnya?"


"Pernah dulu. Udah lama banget," jawabku. Aku menggali ingatanku kembali mengenai Kak Zaki yang pernah menghampiriku dulu.


"Namanya Zaki. Dia pernah jadi pacar aku. Namun, udah lama banget,"


Azka menatapku lama. Kadang aku menjadi salah tingkah jika ditatap lama olehnya. Pesonanya selalu membuat para wanita menjadi luluh tak bisa menahan. Aku menarik gelas jus melon lalu meminumnya agar mengalihkan perhatiannya.


"Ceritain sama aku bagaimana sih si Zaki itu," pinta Azka. Seketika aku bersemangat menceritakan Kak Zaki. Aku mencari hal apa yang akan kuceritakan pertama.


"Zaki itu sih lebih mirip dengan Farel. Dia orangnya pendiam dan lebih suka menyendiri. Dia seorang musisi sekaligus pembuat gitar. Orangtuanya punya toko musik di Padang,"


"Kalau boleh kutebak, pasti Alvia belajar main gitar dari dia,"


"Ya, tepat sekali. Sayangnya dia malah selingkuh dan pergi jauh bersama selingkuhannya."


Aku menyendok nasi goreng di hadapanku seakan yang berada di sendok itu adalah kak Zaki serta selingkuhannya. Aku ingat persis saat ia mengatakan bahwa aku bukanlah satu-satunya yang ia miliki.


Band yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Mereka tengah bersiap-siap di samping panggung. Sang pemegang gitar jauh lebih keren daripada personil lainnya. Kacamata hitam yang ia kenakan menyulitkan diriku untuk melihat wajah tampannya secara utuh. Ditambah lagi ia mengenakan kupluk di kepalanya. Tampak begitu keren. Mereka naik ke panggung dan memulai memainkan alat musiknya.


"Azka, tau band yang namanya ZANDI?" tanyaku pada Azka. Ia tampak terkesima melihat tiga orang di atas panggung kecil itu.


"Iya, aku tau. Mereka nggak salah band dari Kota Bandung. Nama mereka terkenal akhir-akhir ini."


Pemain kajon memberikan ketukannya untuk memberikan aba-aba. Vokalis sekaligus gitaris memetikkan pick gitarnya pada senar. Ia memulai permainan gitarnya dengan sebuah genjrengan yang menarik.


Pemain bass ikut mengatur tempo dengan memetik senar atasnya perlahan. Suara bass seakan mengisi setiap kekosongan irama yang ada pada permainan musik. Ia memberikan suara berat yang akan membuat musik semakin menarik.


Suara vokalis itu sungguh merdu terdengar. Ekspresi wajahnya begitu ditunjukkan untuk menyampaikan perasaan yang ada pada lagu. Ia bisa membawa masuk setiap jiwa yang mendengarkannya.


Sesekali ia memainkan melodi yang berkelok indah dalam irama. Seindah petikan gitar yang pernah kudengar sebelumnya. Melodi itu tak terlalu rumit, aku bisa saja memainkannya. Hanya saja yang perlu membuatnya hidup adalah perasaan saat kita memainkannya, seperti gitaris di panggung itu.


Masing-masing kepala kami dibuat mengangguk perlahan, mengikuti tempo musik yang dimainkan. Akhirnya petikan terakhir pada gitar mengakhiri penampilan mereka.


Tepuk tangan menggema pada setiap sudut café. Para wanita yang duduk di depan panggung terlihat senang sekali saat vokalis itu melempar senyum pada mereka. Aku tahu persis betapa senangnya mereka saat berhasil melakukan suatu penampilan dengan sukses.


Rasa suntuk telah merasuki masing-masing dari kami. Sesekali aku menghela nafas karena tidak ada yang akan kami lakukan di sini. Kami sempat diam tak berbahasa. Namun, ia masih ada cara untuk memecah keheningan yang menghampiri. Tampaknya Azka menangkap kode-kodeku yang ingin meninggalkan tempat ini segera. Ia pria yang begitu peka.

__ADS_1


Kembali Azka mengeluarkan mobilnya di antara mobil yang lain. Ia begitu hati-hati, tampak dari cara ia memajukan kendaraannya secara perlahan. Pria sipit itu mengeluarkan tangannya dan mengisyaratkan padaku untuk masuk ke mobil. Ia tak lagi membuka pintu untukku, namun membiarkan diriku untuk membukannya sendiri.


Azka melajukan mobilnya. Kami bersiap untuk pulang. Seseorang melintas secara tiba-tiba. Membuat diriku terkejut dan berteriak.


"Haaaaa!" teriakku.


Aku menutup mataku dengan cepat. Azka dengan sigap menghentikan laju kendaraannya. Badanku terhentak. Namun, masih bisa tertahan oleh sabuk pengaman yang kukenakan.


"Dasar sinting!" kata Azka dengan kasar. Aku tahu suaranya tidak akan terdengar dari luar. Baru kali ini kulihat Azka semarah itu.


"Dia kenak, ya?" Aku membuka mataku. Pria itu tepat di hadapan mobil kami. Ia tampak baik-baik saja. Ia menatap kaca depan kami. Mungkin saja ia terkejut dengan apa yang terjadi.


Ia tak sekedar menatap kaca depan mobil, namun menatap fokus kami berdua yang di dalam mobil. Lama-kelamaan ia melihatku dengan seksama.


Ia sedang menyandang sebuah gitar. Baju yang ia kenakan sama seperti salah satu personil band ZANDI yang baru saja tampil di café. Rambutnya terlihat rapi tersisir ke belakang, seperti mengingatkanku pada seseorang. Pria berkulit cokelat itu tampak tegas menatapku. Tatapan lurus itu bagaikan merasukiku kembali dan menggali memoriku yang hilang. Aku mengenal mata itu.


"Zaki?" kataku pelan, bahkan Azka pun tak dapat mendengarnya. Lalu pria bergitar itu meminta maaf dan pergi menjauh.


Apa itu Zaki? Kenapa ia di sini? Kenapa ia hadir kembali di hadapanku?


Berkali-kali diriku menanyakan itu dalam benakku. Pikiranku kembali kacau seperti awal-awal perpisahan kami.


Ia kembali membuka memori kelam yang pernah ia tulis dalam lembaran kenangan hidupku. Aku berharap ia takkan kembali. Namun, waktu menjawabnya sudah. Waktu membuka kenangan kelam itu lalu seakan menyalinnya kembali pada lembaran baru. Memori itu seakan terputar kembali hingga kukembali pada kesunyian.


"Alvia," panggil Azka disampingku.


Aku tidak menyaut. Hanya terpaku dalam tatapan lurus ke depan. Pikiraku masih dipenuhi oleh wajah Zaki yang kembali terlukis semenjak kehadirannya tadi.


"Alvia," panggilnya sekali lagi.


"Iya ada apa?" Seketika kesadaranku kembali pulih. Suara mobil Azka kembali terdengar jelas.


"Kamu suka sama Farel?"


Aku terdiam sejenak. Pandanganku kembali lurus ke arah jalanan rumahku. Tinggal beberapa belokan lagi hingga sampai di depan rumahku.


"Tentu saja enggak. Aku cuma peduli sama Farel." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.


Aku tidak memikir panjang dengan menyebutkan kebohongan pertamaku padanya. Aku suka pada Farel, hanya saja ekspetasi itu sedang kukubur dalam-dalam agar tak kembali muncul. Farel sudah punya pilihannya.


"Aku kira kamu suka sama dia. Kalian deket banget,"


Aku tersenyum mendengarnya.


"Ya kali aku bisa sama dia. Trus, Cessa mau kuapakan? Mereka kelihatannya lebih cocok," jawabku.


Wajah Azka terlihat datar saat mendengar hal itu.


Badanku tersentak ke depan saat Azka mengerem tepat di depan pagarku. Kami baru saja sampai. Lampu tengah rumahku belum dimatikan, pertanda Ayah dan Ibuku masih bersantai di depan TV ruang tengah. Jemariku membuka pintu mobil perlahan.


"Aku masuk dulu. Thanks for tonight," ucapku sembari tersenyum padanya.


Ia membalasku dengan senyum khasnya hingga matanya yang sipit itu seakan tak tampak terkulum oleh senyum. Namun tak kusangka, aku merasakan sebuah tangan dingin yang menyentuh. Azka menahan tanganku.


"Azka ada apa?"


"Jika Zaki tak lagi mengisi hatimu dan Farel tak lagi menjadi alasan cemasku atas kedekatanmu dengannya, jadilah kekasihku Alvia. Aku suka sama kamu."


Aku terjekut mendengarnya. Wajahnya terlihat serius tak sedetik pun untuk berpaling. Aku menelan ludah mendengar pernyataan.


Kembali Aku berpikir.


Mau kubawa ke mana asmaraku ini?


Aku telah ditolak sebelum bisa menyatakan yang sebenarnya pada Farel. Aku kalah sebelum diriku berperang.


Namun, di saat yang tak terduga, penyataan ini mampir di saat aku membutuhkan seseorang yang benar-benar membuat diriku untuk melupakaan Farel.


Aku bingung harus memilih siapa. Memilih orang yang tak mencintaiku atau memilih orang yang benar-benar memerhatikanku. Aku membulatkan tekat untuk membuat pilihan.


"Baiklah aku bersedia." Aku memeluknya.


Ternyata sehangat ini pelukan orang yang baru saja menjadi kekasihku.

__ADS_1


Kukubur harapanku pada Farel dalam-dalam.


***


__ADS_2