Rinai Hujan

Rinai Hujan
Part 6 : Hantu Masa Lalu


__ADS_3

Part 6 : Hantu Masa Lalu


Farel Bintang POV


Ingatan itu kembali terputar dipikiranku. Yang kulihat hanya bayang abu-abu seperti film di bioskop lama. Perlahan-lahan bayangan itu tak lagi abu-abu, namun mulai berwarna hingga aku bisa melihatnya dengan jelas.


Kuberlari tanpa tujuan. Kulihat di sekeliling, berdiri teman-temanku yang terbungkus seragam abu-abu. Teriakan hinaan terlontar di mana-mana, saling menghujat tanpa jelas. Aku hanya terbingung dalam mimpiku sendiri tanpa tahu tuk berbuat sesuatu.


Keringatku mulai bercucuran di dahiku. Kulit ini terasa kebas di bakar sinar matahari nan terik. Fatamorgana yang khas dengan jelas kulihat di depan kelompok nan sedang memegang berbagai senjata tumpul itu.


Apa yang sedang mereka lakukan? diriku hanya bisa bergumam di dalam hati. Sesuatu kurasakan di tanganku, keras namun ringan. Sebuah balok kayu yang kokoh saat kugenggam.


Kembali kulihat di sekelilingku. Tak hanya aku yang memegang senjata, namun teman-temanku yang lain. Termasuk dia, orang yang kutemui ketika di SMP. Ia tak lagi menjadi pecundang. Ia tegak bak ksatria nan siap tuk berperang.


"Mereka hampir perkosa anak cewek SMA kita, nggak bisa diampuni," katanya dengan tegas. Kudengar nafasnya tak lagi beraturan. Badannya yang tinggi siap menerjang siapa saja yang menghadang.


Aku ingat ini, kejadian 2014 yang menjadi pengalamanku memegang besi-besi dingin itu. Mimpi ini sudah berulang kali terputar dan aku selalu tersadar saat pertengahan mimpi ini, tepatnya saat ia mengatakan hal yang sama.


Tiba-tiba emosiku memuncak tak tertahankan. Mataku seakan berapi menatap kelompok anak SMA di hadapan kami. Benar katanya, mereka sudah menculik salah satu teman wanita di SMA kami.


"Azka, kau lindungi Farel dari yang bawa parang. Kita nggak mau ketua kita kena sabetannya," kata salah satu temanku yang lain. Di tangannya terdapat sebuah linggis panjang yang menjadi andalannya setiap kami bertempur seperti ini.

__ADS_1


"Kalau ada polisi lari, aku nggak mau teman-temanku masuk ke tempat yang seperti itu, ngerti?" Mereka mengangguk mendengar perkataanku.


Kami semua berteriak lalu berlari sekencang-kencangnya. Kakiku menerjang semua musuh yang ada di depanku. Berkali-kali balok kayu di tanganku mengenai badan mereka. Azka di sampingku sibuk melindungiku dari berbagai macam serangan.


Teman-teman yang lain tidak memperdulikan terik matahari yang membakar. Semangat balas dendam mereka berkobar seiring teriakanku yang menggerakkan mereka. Kembali kurasakan bagaimana menjadi pemimpin yang disegani. Semua melindungiku, sedangkanku berada di garis depan tuk menekan mereka ke belakang.


Satu per satu lawan telah kabur menyelamatkan diri. Kulihat Azka masih sibuk menghajar mereka yang masih tersisa. Aku meletakkan balokku untuk merayakan kemenangan ini. Tidak kusangka, tiba-tiba sebuah teriakan tertuju padaku. Ia dan balok kayunya mencoba mencelakai diriku. Mimpi ini seakan memperlambat waktunya.


Azka melindungiku. Badannya terkulai lemas di jalanan beraspal. Aku mencoba menyadarkannya, namun usahaku sia-sia belaka. Benturan di kepalanya cukup keras untuk membuatnya pingsan. Polisi sudah datang ke lokasi. Mereka tampak mengejar siapa saja yang ia lihat. Hanya satu yang kupikirkan, yaitu menyelamatkan Azka ke warung kecil itu.


"Tolong sembunyikan teman saya, pak," pintaku pada orang tua itu lalu aku pergi. Tak sampai beberapa meter dari warung, aku ditangkap oleh para polisi.


"Dasar anak nggak tahu diri ....." kata-kata itu menggema saatku di balik jeruji besi. Kata itu terus saja menggema hingga tidak tertahankan lagi. Aku tertunduk sambil memegangi kedua telingaku berharap suara-suara itu hilang.


"Haaaa diam!" teriakku di dalam mimpi itu. Perasaaanku bercampur aduk dengan gelisah. Sulit untuk menjelaskannya. Yang kulihat hanyalah seorang bapak tua menatap sini kepadaku. Rindu dan takut menjadi satu tak karuan hingga diriku di bangunkan oleh seseorang.


"Farel, it's okay. Bangunlah, nggak ada yang perlu dikhawatirkan." Ia memeluk kepalaku lalu mengusap rambutku yang kusut. Baju seragam sekolahku basah oleh keringat dingin yang keluar.


Kesadaranku belum sepenuhnya pulih. Sayup-sayup kulihat buku novel yang kubaca terletak begitu saja di meja. Mataku mengarah ke wanita itu. Masih terlihat tidak jelas olehku. Benakku langsung terlintas seorang wanita yang bernama Alvia itu. Wanita pernah menadahkan tangannya ke rinai hujan yang turun beberapa hari yang lalu. Wanita berambut panjang dan bermata bulat itu.


"Alvia," panggilku. Pikiranku masih setengah tersadar. Apa yang kuliha masih samar-samar.

__ADS_1


"Farel, kamu belum bangun ya. Ayok sadar, ini aku Cessa." Ia memegangi wajahku nan lusuh. Perlahan-lahan aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Wajah manis sedikit lancip di bagian dagu itu terselimuti selapis hijab nan terpasang rapi. Binar matanya terlihat jelas saat berusaha tersenyum.


"Minum ini air dulu." Ia memberiku sebotol air mineral.


Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Nyawaku belum terkumpul sepenuhnya. Kubiarkan udara perpustakaan yang bercampur dengan wangi parfum Cessa masuk ke hidungku.


Ia membiarkan kepalaku tuk mendarat di bahunya. Terasa nyaman dan hangat bahu seorang sahabat ini. Aku pernah merasakan sebelumnya dengan sahabatku yang lain di masa lalu, namun ia kini hilang tak mengingat. Namun kehadiran Cessa cukup untuk menggantikannya.


"Kamu mimpi buruk lagi?" tanya Cessa penuh cemas. Nada bicaranya rendah seperti biasanya.


"Iya, mimpi sewaktu aku ditangkap trus Azka masuk rumah sakit," kataku sambil menegakkan kepalaku yang sedari tadi di pundah Cessa.


"Beberapa hari ini kamu nggak ada ke klinik Papaku buat konseling, kenapa?" Matanya menatapku.


"Nggak tahu akhir-akhir ini aku merasa nyaman dan hangat. Aku juga nggak tahu kenapa, ada sesuatu yang menjanggal. Dan ini mimpi buruk pertamaku semenjak beberapa hari yang lalu," jawabku.


Ia pun mengangguk lalu tersenyum. "Mungkin aja konselingmu berhasil," katanya.


Cessa adalah anak dari Psikolog-ku. Ia yang biasanya menemaini hari-hariku di sekolah. Kami bertemu saat ia kuselamatkan dari preman-preman yang menganggunya di jalan. Lalu ia memperkenalkanku dengan Papanya.


Kenapa aku mempunyai seorang Psikolog? Aku mempunyai masalah dengan masa lalu yang ingin kulupakan. Sering kali gejala-gejala itu muncul saatku tertidur, gelisah, amarah, dan segala yang menguras emosiku. Ada sesuatu yang tidak bisa kujelaskan mengenai hantu masa laluku ini.

__ADS_1


Aku mengidap sebuah depresi.


***


__ADS_2