
Epilog
Farel Bintang
Aku menadahkan tangan ke atas untuk menanti hujan datang. Setitik air pun tak kunjung datang setelah hampir sebulan. Aku rindu wangi tanah yang basah tatkala rintikan hujan mulai jatuh satu\-persatu. Hal yang terakhir kuingat tentang hujan ialah tatkala diriku jatuh pingsan menatap mereka berdua yang masih saling mencinta.
Kubiarkan angin menerpa diriku. Berharap angin membawa awan yang mengandung hujan. Walaupun langit bermendung manja di atas sana, tetap saja ia malu untuk meneteskan air. Entah apa yang menahan air untuk jatuh menjadi hujan.
Wangi tubuhku kini tercium seperti wangi tubuh ayahku. Benar saja, ini adalah setelan tuxedo ayahku yang sudah lama tak terpakai. Tuxedo ini telah lama tersimpan di lemari dan sedikit berdebu saat ibuku keluarkan tadi pagi.
Hari ini adalah saat yang tepat untuk diriku memakainya. Hari yang paling ditunggu\-tunggu oleh anak kelas XII sepertiku. Waktu di mana kami akan memakai baju terbaik dan berkumpul untuk terakhir kalinya. Ya benar, hari ini adalah hari perpisahan sekolahku.
Aku mengunci mobilku dan berjalan ke gedung tempat diselenggarakannya acara perpisahan. Tampak di sana Azka telah menungguku bersama Cessa.
Azka sama sepertiku, juga menggunakan tuxedo seperti diriku. Sedangkan Cessa, memakai baju kurung khas gadis melayu. Ia tampak anggun menggunakan itu. Tidak lupa pula ia menggunakan hijab yang menjadi ciri khas Cessa yang muslimah.
Mereka menyadari kehadiranku.
"Farel!" panggil Cessa dari sana. Suaranya terdengar kecil, namun masih jelas di telingaku.
"Hai, udah lama nggak jumpa," kataku pada mereka. Kami memang tak bertemu semenjak hari terakhir Ujian Nasional.
"Tambah ganteng aja?" tanya Azka.
"Ah, bisa aj. Bukannya aku tiap hari gantengnya?"
"Dulu kau kumal banget. Hahaha."
Azka melihat ke sekitarku.
"Mana Alvia, Rel? masa' nggak sama\-sama?"
"Oh Alvia masih di salon. Make up\-nya lama banget. Yaudah kita masuk."
Kami meneruskan langkah untuk masuk ke dalam gedung. Bunyi musik musik terdengar walaupun kami masih berada di luar. Para anggota OSIS yang bertugas di pintu utama, menyambut para hadirin yang datang penuh denga senyuman.
Azka tampak menggandeng Cessa. Langkahnya tegap dan kokoh. Wajahnya yang tampan sepertinya akan membuat para wanita tergila\-gila saat mereka melihatnya. Ia dari dulu memang setampan itu.
Begitu pula Cessa. Langkahnya anggun saat di samping Azka. Pada akhirnya ia menggandeng orang yang benar\-benar ia sukai sedari dulu. Waktu memberikan mereka kesempatan untuk menyatukan cinta.
Aku sadar, tanganku masih kosong. Tak ada yang mengisi celah\-celah kecil jemariku. Aku menatap garis\-garis tanganku yang jelas terlihat. Sisa pomade yang masih melekat terasa sedikit lengket. Sudah lama tangan ini tak menyentuh tangan Alvia. Kami cukup jarang bertemu semenjak libur panjang.
__ADS_1
Seketika Aku merasakan kehangatan di sela\-sela jariku. Mengisi setiap kekosongan yang ada. Tangan itu menyentuh tanganku. Jemarinya yang kecil terpasang sebuah cincin yang mempermanis jemarinya.
"Udah lama nunggu aku?" wanita itu berkata di sampingku. Aku menoleh.
"Udah sampai karatan aku nunggu kamu. Cantik banget hari ini."
"Iya dong, enggak Alvia namanya kalau nggak cantik. Tapi, cantiknya bukan hari ini aja ya. Yuk, jalan." Ia tersenyum dengan manisnya. Menyejukkan hatiku seketika. Dia begitu cantik dengan gaun yang ia kenakan.
"Ayo."
Senda gurau yang lama tertahan, kini keluar untuk yang terakhir kalinya. Garis\-garis senyum terpancar dalam setiap wajah para siswa kelas XII. Kami akan berpisah untuk waktu yang lama. Gerbang menuju jenjang yang lebih tinggi sudah terbuka. Masa depan sudah menyambut kami di sana. Tak heran mereka meluapkan kegembiraan mereka di momen ini.
Perhatian kami tertuju ke sesi nominasi yang telah dibuat untuk kelas XII. Pembawa acara begitu pandai mendapatkan antusias masing\-masing dari kami.
"Kita mulai dari nominasi cowok paling poluler di sekolah. Siapa ya kira\-kira?" tanya pembawa acara di atas panggung. Semua hadirin berbisik untuk menebak siapa yang akan mendapatkan nominasi ini.
"Pasti aku," kataku pada Alvia.
"Nggak mungkin kamu. Kamu mah bukan apa\-apa." Ia mencubit pipiku.
"Liat saja nanti."
"Yang mendapatkan nominasi cowok terpopuler adalah........... AZKA ALDRIC!!"
Para hadirin bersorak dan bertepuk tangan. Lampu menyorot Azka yang sedang naik ke panggung. Sensasi yang tak kalah dengan nominasi Oscar. Dirinya menyambut piala nominasi yang diberikan oleh pembawa acara.
"Makasih semuanya. Aku nggak bakal ada di sini tanpa kalian. Terutama untuk sahabat terbaik aku, Farel Bintang yang lagi sama pacarnya di sana. Hai Farel, Hai Alvia," ucapnya di sana.
Kami tersipu malu saat dirinya menyebut hubungan kami sebenarnya di hadapan para siswa kelas XII. Ia juga berani menyebutkannya, walaupun Azka pernah ada hubungan dengan Alvia.
"Nggak lupa dengan orang yang selalu spesial buat aku. Dia nggak pernah peduli bagaimana aku. Dia tetap setia. Cessa, l love you so much." Ia mengangkat pialanya lalu turun dari panggung.
Banyak nominasi yang dibacakan. Mulai dari siswa terkocak, terpintar, kelas terkompak, guru terbaik di hati siswa, dan banyak nominasi lainnya. Tentu saja di sekian banyak nominasi yang ada, aku tidak termasuk di antaranya. Aku juga sadar, aku tak cukup terkenal di sekolah. Jika ada nominasi siswa paling pendiam satu sekolah, aku yang akan mendapatkan pialanya.
Kami sudah berada di perujung acara. Penampilan band sekolah menjadi penutup acara perpisahan. Para siswa berkumpul di dekat panggung untuk menikmati alunan musik rock yang akan mengguncang mereka di sana. Azka memberanikan diri membawa Cessa ke tengah kerumunan.
"Kita ikut ke sana, yuk!" pintaku pada Alvia.
"Nggak, ah."
__ADS_1
"Kamu nggak mau ngelihat anak didikan kamu nampil?"
"Kalau aku enggak mau, gimana? Kita jalan keluar aja."
Tangannya menarik diriku. Aku tak menolak. Sentuhan lembut tangannya selalu berhasil membuat diriku menuruti apa yang ia suka.
Langkahnya menuntunku ke sebuah pohon rindang. Dedaunan yang lebat menjatuhkan bayang\-bayang teduh. Cahaya senja tak sanggup untuk menembusnya. Alvia duduk meluruskan kaki. Gaun yang ia kenakan mungkin saja bisa kotor. Kami duduk beralaskan rumput hijau.
Ia pandai memilih tempat untuk menunggu senja di tempat ini. Mentari yang condong ke barat, dapat dengan jelas kami lihat secara langsung. Langit di atas dipenuhi oleh awan\-awan yang bermendung manja tak jelas. Sudah berhari\-hari menahan air matanya untuk menurunkan hujan.
Alvia menyandarkan kepalanya ke bahuku. Begitu nyaman rasanya tatkala orang yang kita cintai menyandarkan tubuhnya seperti ini. Bermanja manis untuk mendapatkan perhatian seorang kekasih.
"Setidaknya aku pernah lebih populer dari Azka," ucapku untuk memulai pembicaraan.
"Kan itu dulu. Sekarang mah beda."
"Dia tuh menang tinggi dan menang ganteng aja."
"Lah mending dia. Kamu menang apanya?" Alvia tertawa. Aku seakan termakan kalimatku sendiri.
"Aku menang karena udah dapetin kamu, udah cukup kok," kataku sedikit merayu.
"Ah kamu gombal. Belajar dari Azka ya? Jelas dia playboy. Kamu sebenarnya dapat nominasi kok," kata Alvia.
Aku menoleh padanya. Tak ada satupun nominasi yang menyebut namaku tadi. "Nominasi apaan? Aku kan nggak dapat tadi."
"Nominasi cowok paling spesial di hati aku." Ia mengecup pipiku. Seketika badanku seakan bergetar. Listrik\-listrik statis bagai menjalar ke seluruh tubuh.
"Ah bisa aja kamu." Aku mengacak\-acak rambutnya. Wajahnya sedikit risau dengan tanganku di rambut panjangnya. Aku menatap matanya. Matanya benar\-benar indah. Terlihat bening dan bulat. Bulu matanya yang lentik berpadu dengan alis tebal yang menaungi kedua matanya. Tak satupun pria yang bisa menahan tatapannya kepada wanita secantik Alvia.
Hujan turun perlahan. Meneteskan bulir\-bulir air dengan deras. Seketika tanah mengeluarkan wangi yang unik tatkala hujan menyentuhnya. Bunyi gemericik daun nan diterpa angin berpadu dengan merdunya suara hujan. Tetes demi tetes air jatuh melalu pucuk\-pucuk dedaunan. Sedikit membasahi sepasang kekasih di sini.
Akhirnya hujan turun juga. Aku menyimpan rindu kepada rinainya selama ini. Tak hanya menunggu air ini turun, namun juga menunggu rinai hujan yang sedang berada di sampingku. Tersenyum senang menyambut hujan yang turun.
Rinaiku tak lagi berbadai. Sekarang tersenyum sambil menjelaskan arti cinta dari setiap garis\-garis bibirnya. Melukis pelangi di tengah awan hitam yang terusir. Menjadi pemandu tatkala diriku buta oleh kesepian.
Hujan yang datang adanya hanya singkat. Sesingkat lebah\-lebah nan hinggap di setiap kelopak bunga. Terlukis garis\-garis pelangi di langit senja yang kembali cerah. Mentari kembali tersenyum menyambut kehangatan yang tercipta di sini. Aku melihat pelangi. Bukan pelangi yang memanjang di langit sana. Namun, pelangi yang ada di senyuman Alvia.
Sebuah kalimat berbunyi dari hatiku yang pernah sepi, hujan tak selalu mewarnai, kadang berbadai bak hati nan terlukai. Dan Hujan tak juga selalu dirundung awan hitam, akan ada pelangi dan senyuman mentari yang akan menggantikan kelam.
__ADS_1
"Rinai hujan selalu terlihat indah, terutama jika berpadu dengan harmoni senja," ucapku pada rinai hujan.
***