
Mark mulai merasakan ada kejanggalan di dalam sikap Intan yang sekarang sudah mulai pulang terlambat dan lebih suka untuk menghabiskan waktunya di luar, daripada menemaninya di rumah.
"Kamu mau ke mana lagi, Intan?? ini sudah jam berapa Kenapa kau masih juga pergi keluar?" tanya Mark pada Intan yang sudah bersiap meninggalkan apartemen mereka.
Intan mendekati Mark dan mencium pipinya. "Aku dapat panggilan dari manajerku, kalau sekarang ada pemotretan mendadak. Aku pergi dulu. Oh ya, kamu tidak usah menungguku. Mungkin aku pulang dini hari." Intan kemudian meninggalkan Mark begitu saja. Mark terlihat begitu geram dengan kelakuan Intan yang tidak menghargainya sama sekali sebagai suaminya.
Entah kenapa Mark tiba-tiba merindukan Bunga yang selama ini selalu memuliakan dan juga mencintainya dengan tulus.
"Bunga! Allah sudah memberikan istri solehah seperti kamu, tetapi aku merindukan wanita jahat seperti Intan yang sedang koma. Sekarang dia sudah siuman dan menjadi istriku. Aku kira kami akan bahagia sebagai suami istri. Tapi dia bukanlah istri solehah yang bisa membuat hidupku bahagia. Bunga! aku tampaknya sedang menerima Karma aku karena sudah jahat sama kamu." monolog Mark yang saat ini sedang menatap foto pernikahannya bersama Bunga.
"Kamu di mana sekarang, Bunga? Aku sangat merindukan kamu." Mark terlihat meneteskan air matanya karena sedih sekali hatinya.
Tanpa disadari Mark tertidur di ruang tamu. Karena terlalu lelah menunggu Intan untuk pulang ke rumah mereka. Mark terjaga ketika Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
Mark melihat ke garasi mobil mereka. Dia masih belum melihat mobil Intan terparkir di sana. "Intan sampai jam segini masih juga belum pulang. Apa sebenarnya yang sedang dia lakukan di luar sana? Ya Allah!! aku harus mulai menyelidiki aktivitas Intan yang tidak wajar. Aku tidak boleh dibodohi dia untuk selamanya!" Mark kemudian masuk ke kamarnya.
Mark sudah meyakinkan dirinya untuk menyelidiki kepergian Intan di luar sana. Mark menyadari kalau ada sesuatu yang tidak beres terhadap istrinya yang baru beberapa bulan dia nikahi.
__ADS_1
Mark tidak akan bersedia selamanya dibodohi oleh Intan. Intan sepertinya tidak menghargai Mark sebagai suaminya. Terbukti dia yang selalu melakukan segala sesuatu tanpa berunding dengan Mark selaku suaminya.
Sementara itu, saat ini Intan sedang berada di sebuah hotel bintang 3 yang ada di pinggir kota bersama dengan Amar.
"Kamu jahat banget sih, sayang! Masa iya kamu tega membawaku ke tempat jelek seperti ini?" tanya Intan yang terlihat protes melihat kamar yang akan mereka tempati untuk malam ini.
Amar memeluk Intan dengan lembut. "Maafkan aku, sayang. Aku hanya menjaga supaya istriku tidak kembali menangkap kita berdua. Kalau kita pergi ke hotel mewah, aku yakin pasti ada orang-orang ke percayaan Amara di sana yang akan selalu melaporkan apapun kepadanya. Hanya hotel-hotel kecil seperti ini yang aman untuk kita berdua. Kamu tenang saja sayang. Setelah aku berhasil menyingkirkannya, aku akan mengajak kamu menikah dan berjalan-jalan ke luar negeri berdua. Sabar, ya?" Amar si buaya darat terus berusaha untuk menenangkan Intan demi mendapatkan apa yang dia mau dari Intan.
Amar rupanya benar-benar sudah kepencet dan tergoda dengan pesona seorang Intan yang selalu berhasil membuat dia melayang. Intan memang jago memberikan service kepada Amar.
Intan akhirnya hanya bisa mengiyakan saja. Karena bagaimanapun juga Mereka sudah pergi jauh-jauh ke pinggir kota. Tidak mungkin bukan? Kalau di habiskan untuk bertengkar ga jelas. Lebih baik kalau mereka bertengkar di atas ranjang saja dan menikmati pertemuan haram mereka berdua malam itu.
Intan sudah tidak protes lagi dengan fasilitas hotel bintang 3 yang benar-benar di bawah ekspektasi dirinya saat melakukan janji temu dengan Amar.
"Kamu harus ingat janji kamu! Kamu harus segera meninggalkan istri kamu dan kita akan menikah setelah itu. Aku juga akan segera mencari cara untuk bercerai dengan Mark. Kamu tahu bukan? Sejak dulu yang aku cintai adalah kamu. Aku pasti akan berjuang untuk menyatukan cinta kita berdua hingga akhir!" janji Intan kepada Amar.
Amar hanya memejamkan matanya karena sudah terasa mengantuk dan lelah setelah pertarungan mereka yang sengit malam itu. 'Astaga! Aku gak tahu haruh bagaimana untuk berpisah dengan Intan. Cuma dia yang selalu bisa membuat aku melayang kayak gini. Amara benar-benar bukan tandingannya. Aku harus gimana kalau nanti Amara minta kami pisah? Ah sudahlah! Aku harus pintar-pintar mengatur waktuku supaya Amara tidak tahu pertemuan aku dengan Intan!' batin Amar saat ini.
__ADS_1
Intan terus mengoceh tetapi Amar sudah terlelap dalam tidurnya karena kelelahan. Intan juga akhirnya tidur di pelukan Amar. Mereka berdua tidak mengetahui kalau semua yang mereka lakukan sejak tadi sudah diawasi oleh anak buah Amara yang 24 jam mengawasi segera gerak-gerik Amar.
Amara tahu kalau suaminya yang suka berselingkuh itu tidak mungkin bisa meninggalkan kekasihnya begitu saja walaupun dengan begitu banyak ancaman yang dia berikan kepada Amar.
Amara sampai saat ini masih berjuang untuk mempertahankan rumah tangga mereka yang sudah diambang kehancuran. Demi anak-anak mereka yang masih kecil Amara menahan diri untuk mengamuk dan bercerai. Amara masih berusaha untuk percaya kepada suaminya yang buaya darat.
Amara selama ini hanya mendengarkan laporan-laporan dari orang-orang sekitar Amar yang mengatakan kalau suaminya suka sekali mencicipi para artis atau model baru mereka.
Selama ini Amara selalu berusaha untuk percaya kepada suaminya yang ternyata penghianat dan tidak bisa dia kasih hati. Jabatan Amar di perusahaan keluarganya bahkan sudah diturunkan oleh Amara. Hal itu untuk mengekang gerak langkah Amar yang suka memanfaatkan fasilitas dan juga statusnya sebagai CEO di agensi miliknya.
***
Bunga akhirnya menerima tawaran Haikal untuk berangkat ke luar negeri dan mendampinginya untuk merintis usaha baru milik atasannya yang ternyata mencintainya.
Tetapi Bunga yang masih mencintai Mark sama sekali tidak menggubris perasaan cinta yang ditunjukkan oleh Haikal kepadanya.
"Pikirkanlah lagi perasaanku kepadamu. Bunga! Aku akan dengan setia menunggumu untuk membuka pintu hatimu untuk aku." Ucap Haikal pada saat mereka melakukan makan malam bersama.
__ADS_1
Bunga hanya bisa tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan oleh Haikal yang sudah banyak sekali menolong dan membantu Bunga dalam setiap kesulitannya. Haikal juga yang sudah menolong Bunga untuk mengurus perceraiannya bersama Mark agar tidak berlarut-larut dan cepat selesai.