Rindu Untuk Di Cintai Suamiku

Rindu Untuk Di Cintai Suamiku
Bab 31


__ADS_3

"Jelaskan padaku tentang anak ini!" cecar Mark yang kemudian menarik tangan Bunga ke dalam kamar.


Bunga hendak protes akan tetapi Mark sama sekali tidak peduli dengan apapun yang dia katakan. "Bawa masuk bocah nakal itu ke dalam kamarnya!" perintah Mark kepada pengasuh yang tadi hanya melihat kelakuan Haidar yang memukuli tangan Mark yang menarik Bunga ke dalam kamarnya.


Pengasuh terlihat bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Dia menatap kepada Bunga, ketika melihat bunga yang mengangguk dia pun kemudian mengajak Haidar untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Sayang, ayo kita ke kamar dulu. Mama mau bicara dulu dengan Papamu." ucapnya sambil menggendong bocah itu yang kelihatannya tidak terima dengan yang Mark lakukan pada Bunga.


"Tidak mau! Sejak kapan aku punya Papa? Bukankah sejak kecil aku hanya sendirian sama Mama saja?" protes Haidar saat dirinya dipaksa untuk masuk ke dalam kamar.


Bunga saat ini hanya bisa menundukkan kepala ketika Mark mencecarnya dengan begitu banyak pertanyaan. "Jawab aku!! Apakah anak kecil itu adalah Putraku? Jawab, Bunga!" Mark terlihat sudah kehilangan kesabaran dengan Bunga yang masih diam seribu bahasa.


Bunga bahkan tubuhnya sekarang gemetar ketakutan saat dia melirik ke arah Mark yang masih menuntut penjelasan atas sosok Haidar Antonio.


"Dia adalah anakku! Jangan khawatir, Mark! Kau tidak usah repot untuk mengurus dia. Aku selama ini tidak pernah memintamu untuk bertanggung jawab apapun terhadapnya. Pergilah!! Lebih bagus kalau kita menjalani kehidupan kita masing-masing dan tidak saling mengganggu." pinta Bunga dengan suara getir. Hati Bunga saat ini kalut dan takut.


Bunga tidak mau kalau sampai Haidar direbut oleh Mark dan dipisahkan darinya. Hidupnya akan hampa kalau harus berpisah dengan anaknya.

__ADS_1


"Cepat ,eritakan padaku tentang anak kita! Bunga, bagaimana bisa kau tidak pernah memberitahuku tentang kehadirannya di dunia ini? Ya Tuhan! Bunga, kau sungguh benar-benar sangat kejam!" Mark meraup wajahnya dengan kasar.


Ada rasa kecewa, kesal dan rasa bahagia yang kini bercampur di dalam hatinya. Mark jadi bingung sendiri dengan perasaannya saat ini.


"Mark, aku sendiri baru tahu soal kehamilan itu setelah masuk bulan ke empat. Anak itu sangat anteng di perutku. Lagipula aku juga tidak pernah menunjukkan gejala kehamilan seperti wanita lainnya. Sehingga membuatku tidak pernah curiga kalau aku sedang hamil. Waktu itu kalau bukan karena aku pingsan tiba-tiba di kantor, Haikal pasti tidak akan membawa aku ke klinik yang ada di kantor kami. Aku baru mengetahui tentang kehamilanku saat itu. Karena aku takut, dengan banyak gosip yang tidak penting makanya aku merahasiakan semua ini dari siapapun." Bunga menundukkan kepala karena sedih.


Mark bisa paham dengan perasaan Bunga saat itu. Mereka baru saja bercerai. Bunga tiba-tiba saja mengetahui tentang kondisi kehamilannya yang tanpa rencana dan persiapan apapun. Tentu saja Bunga saat itu dalam keadaan panik dan takut.


"Kenapa kamu tidak menghubungiku tentang kehamilan kamu?" tanya Mark kesal setengah mati.


"Untuk apa aku memberitahumu, huh? Apakah untuk mendapatkan hinaan dan penolakan darimu? Saat itu kau baru saja menikah dengan Intan dan sedang menikmati indahnya bulan madu kalian berdua. Apakah kau berharap aku untuk mengemis cinta dan perhatian darimu hanya karena anak yang sedang aku kandung? Jangan bermimpi, Bung! This not my style!" ucap Bunga dengan angkuh dan jumawa.


"Kau memang benar-benar Azalea! Bunga, Setidaknya kalau aku tahu kalau kau hamil aku bisa untuk memberikan tunjangan anak kita. Kamu tidak perlu mengalami kesulitan untuk mengurus dan membiayai anaknya sendiri." ucap Mark pelan.


Akan tetapi Bunga malah tersenyum sinis. "Kamu lucu!" Bunga kemudian berniat untuk meninggalkan Mark di kamarnya tapi lengannya di tahan oleh Mark.


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Pada waktu itu aku hendak melahirkan Haidar. Karena aku selalu Stress dan frustasi saat kehamilan, ada masalah dengan janinnya sehingga akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan caesar. Aku kesulitan untuk membiayainya waktu itu. Aku menghubungimu berkali-kali tapi tidak juga kau angkat. Ketika aku neninggalkan pesan dan meminta kepadamu untuk menolongku. Apa yang kau jawab saat itu? Kau bilang, anak itu bukan milikku! Sebaiknya kau bunuh saja karena aku tidak menginginkan kehadirannya di dalam hidupku! Setelah itu kau langsung memblokir nomorku!" Mark cukup terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Bunga karena dia tidak merasa melakukan semua itu.


"Kau jangan fitnahku untuk sesuatu yang tidak aku ketahui!" sengit Mark yang kesal luar biasa.


Bunga akhirnya mengambil ponselnya dan menunjukkan kepada Mark, apa yang dia katakan tadi. Mark melotot sempurna ketika membaca semua pesan-pesan yang ada di dalam ponsel tersebut dengan menggunakan nomornya.


Mark begitu murka saat membaca semua itu yang terasa asing untuk dirinya "Bukan aku yang mengirim pesan ini! Ini pasti kelakuannya Intan yang sudah menyabotase ponselku. Kurang ajar sekali wanita liar itu bertindak seakan-akan diriku dan menyuruh kamu untuk membunuh anakku sendiri!" Mark terlihat begitu geram dan mengepalkan kedua tangannya sampai buku-buku tangannya memutih.


Bunga hanya terdiam melihat ekspresi dan respon yang ditunjukkan oleh Mark. Saat Mark membaca semua pesan yang diberikan kepada Bunga pada saat kelahiran Haidar.


"Demi Allah! Pesan itu bukan milikku dan aku tidak pernah memblokir nomormu! Aku malah bingung karena nomor kamu tiba-tiba saja hilang dari ponselku. Saat aku mengatakan itu kepada Intan, dia bilang mungkin kamu yang sudah menghapus nomormu dari ponselku." Bunga hanya tersenyum sinis pada Mark.


Mereka berdua benar-benar tidak menyangka kalau Intan sanggup melakukan hal-hal tidak terpuji seperti itu. Intan bahkan tidak memperdulikan kelahiran seorang bayi yang tak berdosa yang saat itu membutuhkan pertolongan dari ayahnya sendiri.


"Aku tidak pernah menyangka kalau aku ternyata menikahi seorang wanita yang berhati iblis. Bodohnya aku!" Mark meraup wajahnya dengan kasar terlihat sekali bahwa begitu banyak penyesalan yang sedang dirasakan oleh Mark setelah mengetahui kebusukan Intan selama menjadi istrinya.


Intan bahkan begitu lancang berpura-pura menjadi dirinya dan meminta kepada Bunga untuk dia membunuh anaknya sendiri, darah dagingnya yang sudah lama dinantikan oleh keluarga besarnya.

__ADS_1


Intan sendiri menolak untuk hamil dan melahirkan untuk Mark ketika Intan masih berstatus sebagai istrinya dulu. Mark yang memang saat itu tengah dibutakan dan di bodohi oleh cintanya pada Intan, Mark tidak pernah keberatan dengan apapun yang dilakukan Intan selama wanitanya bahagia.


__ADS_2