Rindu Untuk Di Cintai Suamiku

Rindu Untuk Di Cintai Suamiku
Bab 33


__ADS_3

"Jangan sembarangan bicara! Sejak dulu Mamaku tidak pernah mengatakan tentangmu sebagai Papaku. Lagu pula, kami berdua sudah bahagia hidup tanpamu. Lebih baik kau pergilah nggak usah datang lagi kepada kami!" ucapan Haidar cukup menohok bagi Mark yang seakan sedang ditampar oleh putranya sendiri.


Mark mencubit hidung Haidar yang masih cemberut karena tidak diijinkan masuk oleh Mark ke dalam kamar ibunya. "Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan kepada Mamaku? Kenapa kau melarang aku untuk melihatnya? Jangan-jangan kau sudah membunuh ibuku, ya kan?" tuduh Haidar sambil menatap tajam kepada Mark yang hanya bisa menggelengkan kepala dengan imajinasi putranya yang amat luar biasa.


Mark mengelus kepala Haidar dengan lembut, tetapi langsung ditepis oleh bocah kecil itu dengan tatapan tajam, setajam silet. Mark hanya tersenyum melihat kelakuan Haidar yang begitu memusuhinya tanpa alasan. Padahal normalnya, Haidar harusnya merasa bahagia karena kini dia sudah mengetahui bahwa dirinya bukanlah anak yatim seperti yang di katakan orang-orang. Akan tetapi Haidar seorang anak yang memiliki orang tua yang lengkap.


Tapi entah kenapa Haidar malah menunjukkan emosi dan kemarahannya kepada Mark dan terus saja mengusir untuk menjauhi ibunya yang masih tidur di ranjang dalam keadaan polos.


Mark hanya tidak ingin melihat putranya yang masih kecil, melihat Bunga yang kelelahan setelah dia gempur dengan penuh hasrat birahi karena kerinduan yang terlalu besar menguasai hatinya.


Apalagi kemarahan Mark terhadap Bunga yang terus saja mengusir dan menolak dirinya untuk masuk ke dalam kehidupannya. Mark tahu bahwa apa yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan besar. Akan tetapi Mark sadar sekali, hanya dengan itulah caranya untuk membuat Bunga tetap berada di sampingnya.


Mark akan segera mengurus pernikahannya kembali dengan Bunga begitu mereka sampai ke Indonesia. Mark tidak akan pernah membiarkan dirinya berpisah lagi dengan keluarga kecilnya.


"Tidurlah sana, bocah nakal! Karena sebentar lagi kita akan segera terbang ke Indonesia dan kau akan melihat pernikahan Mama dan Papamu." Mark kemudian memanggil pengasuh untuk membawa Haidar kembali ke dalam kamarnya.


"Aku tidak akan pernah mengizinkan Mamaku menikahi kamu! Manaku adalah milikku dan selamanya akan selalu bersamaku!" Haidar menolak keras keinginan Mark untuk menikah dengan Bunga.


Bunga tampak mengerjapkan matanya karena merasa terganggu dengan keributan di depan pintu kamarnya. "Ada apa sih? Kenapa kalian malah ribut bukannya beristirahat?" Bunga tampaknya Belum sadar dengan apa yang sedang terjadi kepada dirinya gara-gara Mark. Karena rasa kantuk masih menyelimuti dirinya.

__ADS_1


Haidar menerobos masuk ke dalam kamar tidak memperdulikan Mark yang sudah menghalanginya.


"Mama! Apakah benar Om jelek itu adalah Papaku. Dia juga mengatakan bahwa Mama akan menikah dengannya. Apakah itu benar?" tanya Haidar dengan air mata yang mulai menetes di kelopak matanya.


Bunga langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Ketika dia melihat putranya yang masuk dengan air mata di pipinya.


Bunga menatap Mark yang sudah berpakaian rapi dan wangi yang saat ini sedang berjalan ke arahnya.


"Mark apa yang sudah kau katakan kepada Haidar? Kenapa dia menangis sedih seperti itu?" tanya Bunga merasa tidak suka melihat putranya yang bersedih.


"Dia mengatakan kalau kita akan segera berangkat ke Indonesia dan kalian akan menikah di sana. Pokoknya Haidar tidak mengizinkan Mama untuk menikahi siapapun. Mama bukankah pernah bilang kalau Mama akan selamanya bersama Haidar dan tidak akan pernah meninggalkanku?" tanya bocah tampan itu yang saat ini sedang merasakan bahwa dirinya sedang dikhianati oleh ibunya sendiri.


Mark memberikan pakaian kepada Bunga yang akhirnya dikenakan secara serampangan karena dia ingin segera memeluk putranya yang sedang menangis pilu.


"Sayang. Kenapa kau menangis seperti ini? Apakah Haidar tidak bahagia bertemu dengan papa? Bukankah Haidar dulu selalu bertanya tentang papamu?" tanya Bunga dengan suara lembut.


Walaupun dia menolak keras untuk Mark dan Haidar saling mengakui satu sama lain, tetapi tetap saja, hati nuraninya sebagai seorang ibu merasa tidak tega melihat kesedihan putranya.


Bunga menjelaskan semuanya dengan terperinci. Alasan ayah dan ibunya bercerai dan tidak hidup bersama, sehingga membuat Haidar akhirnya bisa mengerti kondisi dan situasi yang terjadi kepada mereka sekeluarga.

__ADS_1


"Tapi tetap saja Mah! Aku tidak mau kalau mama benar-benar bersamanya lagi. Bukankah kita sudah berbahagia tinggal di sini? Haidar tidak ingin meninggalkan apartemen kita, hanya untuk laki-laki brengsek itu yang mengaku sebagai ayahku, setelah menghilang begitu lama dalam kehidupan kita." Hati Bunga mencelos mendengar apa yang dikatakan oleh putranya tadi.


Haidar tampaknya memang belum bisa memaafkan masa lalu yang begitu pahit yang pernah dia lewati.


Anak kecil itu selama ini selalu di-bully sebagai anak haram oleh teman-temannya di sekolah TK. Karena tidak memiliki Ayah di sampingnya sejak dia masih bayi. Haidar bahkan selalu menangis di pojokan kelasnya ketika teman-temannya terus mengejek dan menghina dirinya.


Bunga bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh putranya yang pastinya tidak bisa memaafkan yang sudah menorehkan begitu banyak luka di dalam hati putra kesayangannya.


"Sayang sebaiknya kita tidak usah menyimpan dendam kepada Papa kamu. Karena dendam hanya akan mengotori hati kita dan membuat kita tidak bisa untuk berbahagia. Mama tidak ingin kalau anak kesayangan Mama hidup dalam kegelapan hati karena tidak bisa memaafkan kesalahan Papamu." Bunga terus berusaha membujuk putranya agar tidak ngambek ataupun cemburu lagi kepada Mark.


Bunga sendiri merasa bingung dari manakah putranya mendapatkan sifat posesif yang begitu akut dan tidak suka melihat ibunya berdekatan dengan laki-laki selain dirinya.


"Kau masih kecil tetapi sudah memiliki sifat yang dimiliki oleh Papamu. Jagoan! Kita berdua akan melindungi ibumu dari siapapun yang akan berbuat jahat kepadanya. Percaya sama Papa!" Mark masih belum juga mau menyerah untuk bisa menaklukkan hati Haidar yang masih merasa kesal terhadapnya.


Bunga saat ini sedang melirik ke arah Mark yang begitu keukeuh dan terus membujuk Haidar. Bunga sekarang bisa mengerti dari mana sifat keras kepala dan ke aroganan yang dimiliki oleh Haidar.


Mark ternyata mewariskan semua sifat buruknya kepada Putra kesayangannya. Bunga hanya bisa mengelus dada melihat itu semua.


Melihat kedua laki-laki beda generasi yang kini tengah berdiri di hadapannya dengan tatapan yang berbeda. Membuat Bunga jantungnya berdebar sangat kencang. Bunga tidak tahu harus melakukan apa untuk menenangkan Haidar yang menolak mentah-mentah kepergian mereka ke Indonesia sesuai dengan keinginan Mark yang ingin kembali rujuk dengan Bunga dan sudah mempersiapkan pernikahan ulang mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2