
Ada rasa bahagia dan kesedihan di hati Haikal. Dia tahu kalau Bunga telah mengalami waktu yang sulit sekali di dalam hidupnya ketika menjadi istrinya Mark di masa lalu. Dirinya telah menjadi saksi atas kebrutalan Mark ketika itu. Hal itu telah menjadi trauma tersendiri untuk Bunga kala itu.
Haikal luruh ke lantai karena sedih dan bimbang. "Apakah aku akan melanjutkan untuk melamar dia ataukah menyerah saja sampai di sini? Tapi, aku benar-benar mencintainya dan aku tidak akan sanggup untuk hidup tanpa dia. Bagaimana ini, ya Allah?" monolog Haikal pilu.
Haikal tidak pernah mengira kalau dirinya akan sampai kepada tahap seperti sekarang ini dalam hubungannya bersama Bunga.
"Anda tidak apa-apa?" tanya pelayan yang melihat Haikal masih terdiam di tempat.
"Mas, Anda tidak apa-apa?" tanyanya lagi sambil mengguncangkan bahu Haikal dengan pelan.
Tapi Haikal masih tak bergeming juga. Pada saat itulah, calon tunangan Haikal datang. Dia tidak sengaja lewat di restoran itu. Dia niatnya mau menyapa sahabatnya yang kebetulan bekerja sebagai manajer di tempat itu.
Tanpa banyak kata pelayan itu pun meninggalkan mereka. Walaupun di dalam hatinya dia bingung sekali dengan situasi di sana. Bagaimana mungkin? Haikal saat itu benar-benar seperti orang linglung dan acuh sekali pada Adelia yang mengaku sebagai tunangan Haikal.
"Haikal? Biarkan saya yang akan mengurus dia. Jangan khawatir! Dia adalah calon tunangan saya!" ujarnya kepada pelayan yang merasa lega ada yang mengenal Haikal di sana.
Adelia mendekati Haikal yang masih seperti orang linglung. "Kamu baik-baik saja, Haikal?" tanya Adelia sambil tersenyum kepada Haikal.
Haikal mengerjapkan matanya yang terasa perih. "Aku harus segera mengejar Bunga! Aku tidak bisa membiarkan dia terus bersama dengan Mark! Oh, no!" Haikal kemudian berlari meninggalkan Adelia yang masih bingung dengan apa yang sedang terjadi kepada Haikal yang menurutnya sangat aneh.
Adelia kemudian mengikuti Haikal yang menganggap bahwa dirinya tidak ada di tempat itu.
__ADS_1
Fokus Haikal saat ini memang hanya terhadap Bunga. Jadi wajar kalau dia tidak melihat kehadiran Adelia di tempat itu. Kalau mau jujur, hati Adelia saat ini benar-benar sedang sakit hati.
"Apakah aku tidak sepenting itu? Sehingga dia bahkan tidak mau melihat keberadaanku di sampin dia tadi?" monolog Adelia sambil menyentuh dadanya yang terus denyut nyeri.
Adelia tahu kalau perjodohannya dengan Haikal memang tidaklah berjalan mulus. Karena Haikal yang sudah berkali-kali menolak untuk bertemu dengannya secara langsung.
"Ah, kami belum bertemu tentu saja Haikal tidak mengenalkan. Adelia! Bodohnya kamu!! kau hampir saja memvonis Haikal yang tidak perduli sama kamu. Haikal tadi seperti orang linglung wajar kalau dia bersikap seperti itu." ujar Adelia yang masih saja membodohi dirinya sendiri dan menghibur hatinya yang kesakitan luar biasa.
Adelia kemudian mengejar Haikal yang tadi keluar dari restoran dengan buru-buru. Haikal tidak bisa memikirkan yang lainnya selain ingin mengejar Bunga yang tadi membawa Mark ke rumah sakit.
Haikal berusaha untuk menghubungi Bunga yang terlihat mobilnya di depannya. Haikal masih mengharapkan ada harapan untuk dirinya bisa bersama Bunga.
Hati Haikal sudah tidak karuan rasanya. Haikal benar-benar merasa seperti sedang membuntuti istrinya yang sedang berselingkuh. Memikirkan tentang hal itu membuat Haikal sedikit tersenyum.
Haikal merasa lucu dengan tingkahnya sendiri. "Ah, Adelia benar-benar akan illfil kalau melihat aku seperti ini. Pasti dia akan berpikir kalau aku adalah penguntit gila yang mengganggu kehidupannya. Aku sekarang sebaiknya ke kantor saja dan menunggu kedatangannya." putus Haikal pada akhirnya.
Haikal membatalkan niatnya untuk mengejar dan mengikuti Bunga. Haikal merasa bersyukur karena kesadaran masuk kembali ke dalam kepalanya sehingga dia bisa berpikir dengan jernih dan tenang.
Adelia mengerutkan keningnya ketika melihat kendaraan Haikal yang malah berbalik arah menuju ke kantornya. Adelia akhirnya memutuskan untuk terus mengikuti Haikal sampai ke kantornya.
Adelia sudah bertekad bahwa dirinya hari ini harus berkenalan dengan Haikal secara langsung. Adelia sudah mendengar kisah dari beberapa calon tunangan Haikal yang ditolak olehnya. Adelia tidak ingin menjadi wanita yang kesekian kali ditolak oleh pria tampan dan mandiri serta mapan itu.
__ADS_1
Memang wajar kalau banyak wanita yang menginginkan Haikal sebagai calon pasangannya. Karena mengingat pemuda itu yang tidak banyak bergaya dan banyak tingkah. Walaupun Haikal berstatus seorang CEO terkenal dan memiliki cabang perusahaan di manapun, namun Haikal tidak terkenal sebagai Playboy seperti kebanyakan para CEO yang di kenal oleh Adelia.
Adelia kemudian menghubungi ibunya Haikal. Dia percaya bahwa hanya ibunya yang bisa membuat Haikal tidak akan menolak kedatangannya di perusahaan itu.
"Hallo Tante, saat ini Adelia sedang berada di kantor Mas Haikal. Apakah Tante bisa datang kemari? Adelia takut kalau Haikal akan menolak kedatangan aku di kantornya. Bukankah Haikal itu seorang yang sangat keras kepala dan terkenal sangat sombong kepada wanita selain Bunga yang merupakan asisten pribadinya?" tanya Adelia getir.
Tetapi Adelia meyakini bahwa Haikal saat ini sedang menghadapi sesuatu yang berat dan canggung.
Adelia sebenarnya tidak ingin mencampuri urusan Haikal. Baginya masa lalu adalah masa lalu dan dia bisa menerima semua itu selama Haikal mau menerima dirinya sebagai calon istrinya.
Sekitar 10 menit kemudian ibunya Haikal datang dengan tergopoh-gopoh. Nafasnya saja masih amat ngos-ngosan karena dia tadi buru-buru untuk datang ke kantor milik putranya.
"Ada apa Adelia? Kenapa kamu tidak masuk saja untuk menemui Haikal malah menghubungi tante seperti ini?" tanyanya sambil menatap tajam kepada Adelia yang hanya bisa meringis kepada calon ibu mertuanya yang terkenal sebagai seorang wanita yang tegas dan keras.
"Tidak apa-apa Tante. Ayo kita masuk ke dalam dan Tante bisa memperkenalkan secara resmi kepada putramu yang tampan itu." Ucap Adelia dengan begitu percaya diri bahwa Haikal akan sudi dan mau menerima dirinya sebagai pasangan hidupnya.
Mereka berdua pun kemudian berjalan beriringan dan masuk ke dalam kantor Haikal. Haikal saat ini sedang mondar-mandir di dalam kantornya karena benar-benar sedang pusing memikirkan tentang Bunga yang masih saja sangat sulit untuk dihubungi.
Bahkan pesan-pesannya sejak tadi siang masih belum juga dibaca oleh Bunga. Haikal benar-benar penasaran sekali dengan apa yang sedang dilakukan oleh Bunga sampai tidak memiliki waktu hanya untuk membaca pesannya.
"Kurang ajar! Apakah aku terlalu baik kepada Bunga selama ini? Sehingga dia tidak mengindahkanku sebagai atasannya sama sekali. Lihatlah kebodohanku yang tidak bisa tertolong ini!" Haikal bahkan sampai menepuk jidatnya berkali-kali karena menyadari kesalahannya sendiri.
__ADS_1