
Sepanjang meeting siang itu, Bunga benar-benar tidak bisa fokus karena terus memikirkan Mark yang kini ada di apartemennya. Haikal sebenarnya menyadari ketidakberesan itu, tapi Haikal terlihat memakluminya saja, tidak marah atau kesal.
Haikal memang tidak pernah bisa marah kepada Bunga. Setelah meeting selesai, Haikal kemudian mengajak bunga ke sebuah restoran untuk makan siang bersama, tetapi Bunga menolaknya karena dia ingat bahwa dia punya janji kepada Mark akan pulang pada saat jam makan siang.
"Maaf, Pak, saya harus pulang dulu. Ada hal penting yang harus aku lakukan di apartemenku, aku pergi dulu! Nanti jam makan siang selesai, aku balik langsung ke kantor, bye!" pesan Bunga pada Haikal.
Tapi Haikal mencekal tangan Bunga dan menghentikan langkahnya, Haikal merasa penasaran dengan apa yang di lakukan oleh Bunga. Hal yang di luar kebiasaannya selama Bunga kerja dengannya.
"Kenapa? Sepanjang meeting tadi aku perhatikan kamu terus melamun. Aku takutnya kamu lapar atau sakit. Apa kamu mau kita ke dokter saja?" tanya Haikal yang merasa khawatir dengan kesehatan Bunga, wanita yang selalu menarik perhatiannya.
Demi perasaan cintanya kepada Bunga, Haikal sudah beberapa kali menolak perjodohan yang ditawarkan oleh kedua orang tuanya.
Bunga tersenyum kepada Haikal dan berusaha untuk menampilkan dirinya yang baik-baik saja, agar Haikal tidak memperlambat dirinya lagi untuk segera sampai ke apartemennya.
"Saya baik-baik saja, Pak. Percaya sama saya. Saya hanya ada keperluan di apartemen. Saya pergi dulu, Pak! Buru-buru soalnya," ujar Bunga sambil meringis.
Sejujurnya pada saat ini Haikal merasa kecewa dengan Bunga. Padahal dia sudah merencanakan akan melamar Bunga pada saat jam makan siang.
Haikal benar-benar tidak mengindahkan keinginan ayah dan ibunya untuk menjodohkan dia dengan anak dari rekan bisnis mereka.
"Ada apa sih sebenarnya? Kenapa Bunga tampak begitu buru-buru? Aku ikutin dia saja!" putus Haikal pada akhirnya.
Haikal kemudian membatalkan reservasinya untuk makan siang di restoran mewah langganannya. Karena Bunga yang sudah pergi duluan menuju apartemennya sementara Haikal saat ini berniat untuk menyusulnya.
__ADS_1
Haikal merasa bahagia karena dia sudah yakin untuk menjadikan Bunga sebagai istrinya. Haikal menimbang cincin berlian yang dia siapkan.
"Kalau begitu aku akan melamar Bunga di apartemennya saja. Aku akan mampir dulu di toko bunga untuk membeli bunga kesukaannya. Aih, pasti Bunga akan terharu dan surprise banget!" monolog Haikal terlihat begitu bahagia ketika membayangkan wajah Bunga saat datang ke apartemen pujaan hatinya yang sudah lama dia cintai.
Walaupun selama kebersamaan mereka Bunga tidak pernah menjanjikan apapun ataupun mengisyaratkan bahwa dia mencintai Haikal, tapi Haikal sangat percaya diri. Karena selama ini dia tahu bahwa bunga tidak pernah berhubungan dengan laki-laki manapun kecuali dirinya.
Dengan penuh percaya diri Haikal turun di sebuah toko bunga dan memesan bunga mawar yang sangat cantik yang akan dia gunakan saat melamar Bunga di apartemennya. Haikal juga membeli sekotak coklat mewah kesukaan Bunga.
Setelah merasa bahwa semua persiapannya sudah perfect. Haikal pun kemudian melanjutkan kendaraannya menuju apartemen Bunga yang tidak terlalu jauh dari tempatnya saat ini berada.
Tapi saat Haikal sudah bersiap untuk menyalakan mesin mobilnya. Dia melihat Bunga melintas di depannya bersama Mark.
Mark terlihat menyetir mobil milik Bunga. Haikal tampak terkejut dan tidak percaya bahwa itu benar-benar Bunga. Setahunya, Bunga dan Mark sudah bercerai lama, lebih dari satu tahun lamanya.
Haikal tidak pernah menyangka kalau Bunga lebih mengutamakan Mark daripada dirinya. "Tunggu! Tadi Bunga minta izin padaku akan pergi ke apartemen miliknya. Apakah itu artinya mereka tinggal bersama? Ya Tuhan!" Haikal menutup mulutnya dengan tangannya sangking terkejut dengan pemikirannya sendiri.
Haikal langsung menyalakan mobilnya dan mengikuti mobil Bunga yang tadi di bawa oleh Mark.
Saat ini perasaan Haikal benar-benar merasa sakit sekali. Seakan sedang dikhianati oleh Bunga. Wanita yang selama bertahun-tahun dia jaga hatinya dengan menolak begitu banyak wanita yang mendekati dirinya maupun di jodohku dengannya.
Haikal turun di sebuah restoran ketika melihat Bunga dan Mark turun dari mobil. Haikal meremas telapak tangannya. Saat melihat Mark yang menggandeng tangan Bunga dengan mesra.
Awalnya Bunga menolak, tapi Mark langsung menarik telapak tangan Bunga lalu menggengam dengan erat. Bunga menundukkan kepalanya karena malu di lihat banyak orang.
__ADS_1
Haikal merasa bahwa saat ini dia sedang memergoki pasangannya yang sedang selingkuh. Hatinya hancur luar biasa.
Melihat kebersamaan antara Bunga dan Mark yang terlihat dekat, sungguh amat menyakitkan bagi Haikal. Haikal tidak menyangka kalau Bunga mau kembali dekat dengan Mark. Setahunya, Mark itu sudah menikah dengan Intan dan mereka katanya saling mencintai.
"Aku tidak pernah menyangka kalau Bunga rela untuk menjadi seorang pelakor hanya untuk bersama dengan laki-laki berengsek itu." geram Haikal.
Haikal duduk di belakang Mark. Dia masih diam dan tidak melakukan apapun karena dia ingin mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh mereka.
Bagaimanapun juga akal dan logika sehat masih digunakan oleh Haikal. Dia tidak ingin berbuat sembrono ataupun ceroboh dalam menyikapi semua itu. Apalagi dia sadar bahwa dirinya tidak memiliki hak apapun terhadap Bunga.
'Aku harus tenang dan melihat situasi yang sedang terjadi disini. Aku gak boleh ceroboh. Kalau tidak, Bunga nanti akan illfeel padaku.' batin Haikal.
Haikal sangat mencintai bunga dan berharap untuk menjadikan dia sebagai istrinya. Cinta Hailal untuk Bunga tulus dan sudah teruji selama hampir dua tahun sejak dia kenal dengan Bunga.
Haikal selalu menghormati Bunga layaknya wanita yang amat berharga di dalam hidupnya. Haikal tidak pernah membiarkan Bunga dihina oleh siapapun.
Haikal bahkan selalu membela Bunga kalau ibunya sudah mengamuk setiap kali dia menolak perjodohan yang ditawarkan olehnya. Ibunya pasti akan mendatangi Bunga dan melampiaskan emosinya pada Bunga yang tidak mengerti apa-apa.
"Kapan kamu kembali ke Indonesia?" tanya Bunga dengan suara dingin. Mark terlihat santai saja.
"Ya ampun, Bunga! Aku disini baru satu hari saja belum. Kau sudah mengusir aku? Apa kau tidak ingin melihatku atau tidak rindu denganku?" tanya Mark yang merasa kecewa dengan Bunga.
"Kenapa aku harus merindukan suami orang lain? Aku bukan pelakor, ya! Jadi, sebaiknya kau segera kembali ke Indonesia dan kembali ke sisi istri kamu!" sengit Bunga dengan serius.
__ADS_1
Mendengar perkataan Bunga yang terdengar begitu sengit, hati Haikal berbunga-bunga dan merasa bahagia. Ternyata apa yang dia pikirkan salah.