Rindu Untuk Di Cintai Suamiku

Rindu Untuk Di Cintai Suamiku
Bab 27


__ADS_3

"Ada apa Mama datang ke kantorku? Bukanya biasanya Mama minta aku yang datang ke kediaman utama?" tanya Haikal sambil menyambut kedatangan ibunya yang datang bersama Adelia.


Haikal mundur satu langkah saat dia melihat Ibunya datang dengan seorang wanita asing yang belum dia kenal sebelumnya.


"Kenalkan, dia adalah Adelia. Dia adalah calon tunanganmu yang sudah dipilih oleh kakekmu untuk menjadi istrimu!" Haikal awalnya terkejut mendengar ucapan ibunya akan tetapi dengan cepat Haikal berusaha untuk mengendalikan perasaannya sendiri.


"Oooo," ucapnya pelan.


Adelia merasa tersinggung dengan respon yang ditunjukkan oleh Haikal yang tampaknya tidak terlalu mempedulikan dirinya sebagai seorang pewaris keluarga unggul dan ternama.


'Sungguh sombong! Dia tidak perduli sama sekali dengan reputasi keluarga besarku. Cuh! Dia pikir siapa dia?' batin Adelia merasa kesal luar biasa.


Tetapi Adelia masih merasa penasaran dengan sosok Haikal yang terlalu diagungkan oleh kedua orang tuanya dan kakeknya.


'Apakah kakek sudah pikun? Kenapa dia mengatakan laki-laki seperti dia itu yang terbaik di atas dunia ini? Astaga! Lihatlah penampilannya yang mengerikan!' batin Adelia mulai sanksi dengan penilaian kedua orang tua dan juga kakeknya ketika mempromosikan Haikal sebagai calon suaminya.


Haikal hanya bisa menghela nafas melihat Adelia yang saat ini sedang menilainya dan menaksir dirinya layaknya barang dagangan yang ada di pasar.


"Sudah puas menilai diriku?? Mah! Maafkan Haikal, ya? Haikal saat ini ada keperluan di luar, tidak bisa berlama-lama untuk menemani kalian." Haikal sudah bersiap mengambil jas dan juga kunci mobilnya Tetapi semua gerak langkahnya di hentikan oleh Adelia yang berkata dengan ketus dan sinis.

__ADS_1


"Cih!! Aku lihat, kau tidak terlalu keren, kualifikasimu juga tidak terlalu hebat. Hey, apa yang membuatmu begitu sombong di hadapanku?" tanya Adelia dengan kesal dan jumawa.


Haikal yang saat ini sedang buru-buru untuk menemui Bunga, yang berdasarkan laporan anak buahnya bahwa Bunga saat ini sedang berada di rumah sakit menemani Mark yang pingsan tadi siang di restoran tempat mereka bertemu.


"Aku tidak punya waktu untuk melayani nona manja sepertimu, minggir!" Haikal mendorong tubuh Adelia yang menghalangi langkahnya untuk keluar dari ruangan itu.


Adelia benar-benar merasa tersinggung diperlakukan tidak sopan oleh Haikal. Ibunya Haikal hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putranya yang mulai liar.


"Haikal, sebagai seorang laki-laki sejati, kau tidak boleh berbuat kasar terhadap seorang wanita. Apalagi dia adalah calon istrimu!" tegur ibunya yang menyentuh lengan Haikal.


Haikal menatap ibunya dengan lekat, "Bunga saat ini sedang berada di rumah sakit. Aku harus segera menemuinya. Maafkan Haikal, Mah!" Haikal kemudian langsung meninggalkan ruangannya tanpa mempedulikan panggilan dari ibunya.


Setelah lepas dari Adelia dan sang ibu, Haikal langsung menuju ke rumah sakit yang sudah diberitahukan oleh anak buahnya yang tadi dia perintahkan untuk mengikuti Bunga.


"Bunga, kamu baik-baik saja?" tanya Haikal yang berusaha untuk tetap tegar dan tidak terlalu mngambil hati dengan kedekatan Bunga dan Mark.


Mark yang melihat kedatangan Haikal di dalam ruangannya, dia mulai melakukan aksi tengilnya untuk membuat Haikal merasa lebih cemburu lagi.


Sebagai sesama lelaki tentu saja Mark bisa mengerti dengan baik. Bagaimana perasaan Haikal yang sudah lama tertarik dan menyukai Bunga.

__ADS_1


"Aw, sakit sekali!" ucap Mark sambil memegangi perutnya yang melilit. Mark sebenarnya sudah merasakan sakit itu sejak tadi, hanya saja dia terus menahannya demi gengsi di hadapan Bunga.


Tetapi demi memperlihatkan kepedulian Bunga terhadap dirinya di hadapan Haikal, Mark terpaksa memperlihatkan Sisi lemahnya di hadapan sang mantan istri yang sedang dia usahakan untuk bisa rujuk kembali. Bunga tentu saja khawatir melihat Mark yang meringis dan terus memegang perutnya.


"Maafkan aku ya, gara-gara aku yang semalaman memaksamu untuk tidur di koridor, lalu memberikan makanan tidak sesuai dengan selera dan kebiasaan kamu, sekarang kamu jadi mengalami gangguan pencernaan. Maafkan aku!" Bunga benar-benar menyesali kecerobohannya dalam mengurus Mark yang saat ini sedang menjadi tamunya.


Haikal tidak suka melihat Bunga yang terlalu memperhatikan Mark. Haikal kemudian mendekat kepada Mark dan menyuruh Bunga untuk memanggil dokter, "Aku akan menjaganya kau panggillah dokter untuk memeriksa dia." perintah Haikal kepada Bunga.


Mark langsung menarik tangan Bunga yang hendak pergi meninggalkannya dan menahan dia untuk tetap di sampingnya. "Kenapa bukan kamu saja yang pergi untuk memanggil dokter? Bunga pasti lelah kalau harus berlarian ke sana kemari. Bukankah Kau adalah seorang laki-laki sejati yang akan melindungi seorang wanita?" tanya Mark dengan senyum tengilnya yang membuat Haikal merasa tidak suka.


Haikal menghela nafas dalam, Haikal dan Mark sejak dulu memang selalu menjadi rival dalam hal apapun. Haikal sudah terlalu hafal dengan Mark yang selalu mencari gara-gara dengannya.


"Benar, Haikal tolonglah aku untuk mencarikan dokter untuk memeriksa Mark. Tadi malam dia tidur di koridor sepanjang malam. Karena aku yang tidak mau membuka pintu apartemenku. Aku takut kalau dia itu penjahat yang datang untuk merampok ataupun membunuh. Baru pagi-pagi saat Aku hendak berangkat ke kantor baru melihat keadaan dia yang sudah kedinginan dan menggigil semalam suntuk. Dia kelaparan juga, tetapi aku malah kasih dia sarapan yang tidak biasa dia makan. Siangnya, malah menyuguhkan makanan pedas di restoran. Semua yang terjadi kepada Mark saat ini adalah kesalahanku. Tolong aku, ya?" tanya Bunga berusaha untuk meminta pertolongan kepada Haikal.


Haikal yang tidak ingin terlihat buruk di hadapan Bunga, walaupun hatinya mendongkol akhirnya dia hanya bisa mengikuti keinginannya.


"Baiklah aku akan memanggil dokter. Bunga, sebaiknya kau tidak terlalu dekat dengannya. Aku hanya kalau dia cuma bersandiwara. Untuk memanfaatkan kebaikanmu." pinta Haikal dengan tatapan sinis ke arah Mark yang merasa di atas angin karena Bunga percaya dengan dirinya.


Mark mengerahkan segala kemampuannya untuk bisa menciptakan Simpati di hati Bunga kepada dirinya. Mark hanya bisa memanfaatkan kebaikan hati Bunga untuk kepentingannya.

__ADS_1


Setidaknya dengan hal itu akan membuat Bunga tidak mengusirnya begitu saja dari sisinya. Mark berencana akan memanfaatkan rasa bersalah yang dimiliki oleh Bunga dan menahannya untuk berada di sisinya selama dia berada di apartemen Bunga.


'Aku yakin dengan kami yang terus menghabiskan waktu bersama lebih banyak lagi, secara perlahan dia akan kembali mengingat masa indah ketika Kami Bersama dulu. Aku harap dia mau memaafkan aku. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat Bunga mau menerimaku kembali di dalam hidupnya,' monolog Mark dengan penuh percaya diri.


__ADS_2