Rindu Untuk Di Cintai Suamiku

Rindu Untuk Di Cintai Suamiku
Bab 32


__ADS_3

"Kau itu seorang dokter yang pinter di rumah sakit ternama. Bahkan kau selalu menjadi andalan rekan-rekan kamu ketika menemukan kasus sulit dan langka. Tapi kamu menjadi bodoh ketika berurusan dengan cinta dan wanita." ucap Bunga yang duduk lemas di atas ranjang.


Jujur saja, Bunga sebenarnya merasa keberatan untuk jujur kepada Mark mengenai Haidar. Bunga dulu merasakan sakit yang luar biasa ketika membaca pesan dari Mark yang menyuruh untuk membunuh anak mereka ketika dia meminta kepada Mark untuk membantu biaya persalinannya.


Sejak saat itu Bunga sudah berjanji bahwa dia tidak akan pernah mengenalkan Haidar dan Mark. Haidar akan selamanya menjadi anaknya sendiri, bukan anaknya Mark Antonio!!


Rasa sakit hati dan dendam yang dirasakan oleh Bunga terlalu besar untuk Mark dan Intan. Walaupun Bunga sekarang tahu bahwa pesan itu bukan Mark yang menyampaikannya tetapi tetap saja semua itu tidak akan merubah apapun yang sudah terjadi.


Kalau pada waktu itu tidak ada orang baik yang menolongnya, mungkin Bunga sudah kehilangan Haidar karena terlambat di tangani.


Bunga sampai saat ini masih merasakan sakitnya. Mark memegang tangan Bunga dan menciumnya berkali-kali, Mark terus meminta maaf kepada Bunga atas apa yang sudah terjadi di masa lalu.


"Sudah terlambat Mark! Karena aku sudah tidak memiliki perasaan apapun untukmu. Sebaiknya kau pergi dari sini dan kembalilah ke Indonesia. Jalanilah kehidupan kita masing-masing seperti dulu tanpa mengganggu satu sama lain." Bunga rupanya sudah mantap dan tidak akan membiarkan Haidar bertemu dengan Mark.


Tetapi Mark malahan kalap. Dia langsung mendekati Bunga dan mendorongnya ke ranjang. Mark kembali melakukan apa yang pernah dia lakukan ketika mereka dulu masih sebagai suami istri. Mark kembali melampiaskan amarah dan kekerasan kepada Bunga dengan bercinta di aras ranjang.


Mark benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Dia bahkan tidak memperdulikan tangisan Bunga di bawah kuasanya. "Kita akan rujuk kembali. Aku akan membawa kalian berdua ke Indonesia dan kita akan menikah ulang di hadapan kedua orang tuaku dan juga orang tuamu." ucap Mark sambil mencium kening Bunga yang masih terisak dalam pelukannya.


Mark merasakan jantungnya berdetak sangat kencang melihat air mata Bunga yang terus saja menetes tanpa bisa dihentikan.

__ADS_1


"Kamu binatang kejam! Kamu jahat, Mark! sejak dulu kamu tidak pernah berubah. Kau selalu egois dan mau menang sendiri! Aku benci sama kamu, Mark! Benci sekali!" Bunga terisak dalam pelukan Mark.


Bunga berniat untuk meninggalkan Mark. Tetapi lelaki itu tidak mengizinkannya untuk beranjak dari atas ranjang. Mark sudah memutuskan untuk menaklukkan Bunga dengan kuasanya.


'Maafkan aku! Karena aku terpaksa melakukan ini. Karena hanya dengan cara seperti ini aku bisa kembali merengkuhmu dalam pelukanku. Aku tidak akan pernah membiarkan Putraku hidup tanpa seorang ayah atau memanggil pria lain sebagai ayahnya. Dia adalah keturunanku maka dia harus hidup sesuai dengan statusnya!' Mark sudah mengambil keputusan sudah tidak akan dia rubah walau apapun yang terjadi.


Bunga yang sudah kelelahan akhirnya terlelap juga di dalam pelukan Mark. Semua usaha yang Bunga lakukan sudah di pastikan sia-sia. Mark sudah bertekad di dalam hatinya tidak akan membiarkan keluarganya bercerai-berai lagi.


Setelah melihat Bunga terlelap, Mark pun kemudian turun dari ranjang dan mencari ponselnya. Mark menghubungi asistennya untuk mempersiapkan jet pribadi keluarganya untuk menjemputnya.


"Pastikan nanti malam jet itu sudah datang ke sini dan siapkan kediamanku untuk keluargaku kembali. Kamu siapkan juga untuk pernikahan ulangku bersama Bunga. Kamu paham?" tanya Mark pada asistennya. Setelah dia memberikan perintahnya.


"Kabarkan juga kepada kedua orang tuaku dan juga kedua orang tuanya. Pastikan mereka dan media untuk datang di acara pernikahan kami. Kau harus pastikan tidak ada kekurangan apapun! Paham?" setelah memberikan perintahnya, Mark lalu menutup telponnya dan kembali mengaruh ponselnya di atas nakas. Mark kembali memandang di wajah polos Bunga yang begitu kelelahan setelah dia gempur habis-habisan tadi.


Mark hanya tersenyum ketika mengingat kembali pertarungan mereka di ranjang tadi. Entah kenapa Mark merasa sangat bahagia ketika ingat semua itu.


Seolah mengembalikan ingatannya kepada masa lalu ketika dirinya masih berstatus sebagai suaminya Bunga. Mark berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan Bunga dan Haidar sepanjang hidupnya.


Mark tidak memperdulikan apapun yang akan dihadapi dihadapannya nanti. Mark sudah yakin dengan keputusan yang dia ambil. Saat Mark hendak masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, terdengar suara ketukan pintu yang begitu keras dan tidak sabaran.

__ADS_1


Tok tok tok


"Mama!! Mama baik-baik saja, kan?? Apakah om jelek itu melakukan sesuatu yang buruk kepada Mama?" bocah kecil itu terus memanggil Ibunya dan mengetuk pintu kamar dengan tidak sabar.


Haidar bisa keluar dari kamarnya setelah tadi di kurung oleh pengasuhnya dan tidak diperbolehkan untuk keluar kamar. Haidar terlihat begitu murka karena saat makan malam tiba, masih tidak melihat kehadiran ibunya di meja makan.


"Mama! Cepatlah keluar. Apa mama tidak rindu denganku? Bukankah kita cukup lama berpisah?" tanya Haidar masih tidak mau menyerah untuk bisa bertemu dengan ibunya.


Haidar mengerutkan keningnya ketika melihat Mark yang keluar dari kamar ibunya dengan tatapan horor.


"Bocah nakal!! Apa kau sudah bosan hidup, huh? Kenapa kau berteriak-teriak di depan kamar ibumu? Kau ganggu saja!" sungut Mark kesal.


Entah kenapa Mark seperti melihat dirinya sendiri ketika memandang wajah Haidar yang penuh dengan emosi dan kemarahan ketika melihat dirinya.


"Om jelek! Siapa kau sebenarnya? Kenapa berani sekali kau masuk ke dalam kamar ibuku? Lihatlah itu! Kau apakan Ibuku sampai dia tertidur lemas begitu di ranjang, huh?" tanya Haidar terlihat begitu murka saat dia tanpa sengaja melihat ke dalam kamar ibunya yang sedang tertidur karena lelah.


Mark mendorong tubuh Haidar yang hendak masuk dalam kamar. "Anak kecil sebaiknya tidak usah ikut campur dengan urusan orang dewasa. Papa akan menikah lagi dengan Mamamu. Papa tadi habis membuat adik buatmu. Eh, bocah nakal!! Apa kamu tidak bosan sendirian saja tanpa teman? Papa akan jadi Papamu dan akan memberikanmu seorang adik yang cantik. Bagaimana?" tanya Mark dengan senyum tengilnya yang amat menyebalkan bagi Haidar yang tidak suka pada Mark.


Mark seperti sedang melawan dirinya sendiri. Ketika berhadapan dengan Haidar yang merupakan putranya yang baru dia ketahui kehadirannya di dunia ini beberapa jam yang lalu. Mark merasa bahagia dan tidak keberatan sama sekali untuk sedikit ribut dengan Haidar yang merupakan ahli waris keluarga besarnya yang sudah lama di nantikan oleh kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2