
"Aku rindu dengan kamu, makanya aku datang ke sini. Kenapa? Apa kamu tidak suka?" tanya Mark yang terlihat sedih ketika mengatakannya.
Bunga gelagapan mendapatkan todongan dari Mark seperti itu. "Bukan seperti itu maksudku! Tapi aneh aja sih. Kenapa kok bisa rindu padaku?" tanya Bunga sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Saat ini perasaan Bunga benar-benar sedang merasakan keanehan yang luar biasa dengan kelakuan Mark yang tiba-tiba saja ada di depan pintu apartemennya pada tengah malam. Mark bahkan rela untuk tidur di depan pintu apartementnya.
"Aku sangat lapar haus dan juga sangat lelah. Apa kau bisa memberikan aku makanan dan juga minuman? Mungkin, setelah itu, apa kau bisa memberikan aku tempat tidur? semalaman aku tidur di depan pintu apartemen kamu. Seluruh badanku sangat sakit dan juga kedinginan." Mark terlihat sedih dan menggigil.
Bunga kemudian bangkit dan menuju dapur. "Makanlah! Untung saja tadi Aku memasak banyak untuk sarapanku." Bunga kemudian menaruh dua buah sandwich di atas sebuah piring yang diserahkan kepada Mark. Mark begitu lahap.
"Pelan-pelan makannya, ga ada yang akan berebut denganmu!" tegur Bunga sambil mengambil sebuah gelas dan menyodorkan minuman untuk Mark.
Mark tersenyum, melihat kepedulian yang ditunjukkan oleh Bunga untuknya.
"Kau itu aneh banget! Kenapa bukannya mencari hotel malah tidur di depan pintu apartemenku? Apakah kamu tidak bisa sewa hotel? Tapi rasanya gak mungkin deh! Kamu itu kan, pewaris dari rumah sakit ternama di ibukota. Bagaimana mungkin kamu bisa datang kemari, tapi tidak bisa menyewa sebuah hotel?" tanya Bunga masih penasaran dengan keberadaan Mark di apartementnya.
Mark menyelesaikan acara sarapannya. Dia sangat bahagia sekali. Setelah sekian lama akhirnya bisa merasakan kembali masakan Bunga yang terasa begitu nikmat dan enak.
Mark sangat menyesal karena dulu selalu menghina Bunga dan tidak pernah menghargai kerja kerasnya sebagai istrinya.
__ADS_1
Setelah selesai dengan sarapannya baru kemudian meminta kepada Bunga untuk mengikutinya.
"Apa kita bisa bicara serius?" tanya Mark ketika mereka sudah berhadapan di sofa yang ada di ruang tamu milik Bunga.
Bunga melirik ke arah jam tangan yang dia gunakan dan dia tampak begitu gelisah, "Mark, Maafkan aku! Tapi aku tidak bisa berlama-lama di sini. Karena pagi ini ada rapat penting yang harus dihadiri oleh Tuan Haikal sebagai asistennya tentu saja aku harus stand by di kantor." sesal Bunga saat itu.
Mark tiba-tiba merasakan hatinya dibakar oleh api cemburu yang begitu besar gara-gara Bunga menyebutkan nama Haikal di depan matanya.
"Aku datang jauh-jauh dari Indonesia kemari untuk bertemu denganmu. Tapi kau akan pergi ninggalin aku?" tanya Mark sambil menundukkan wajahnya.
Bunga bisa melihat kekecewaan dan kesedihan di wajah Haikal. "Maafkan aku, tapi itu adalah pekerjaan aku. Aku pergi dulu ya. Oh ya, kau bisa tidur di mana saja yang kau inginkan. Hmmm, nanti siang, saat makan siang aku akan kembali untuk bicara dengan kamu." ucap Bunga yang kemudian bangun dan bersiap untuk meninggalkan Mark.
"Aku pergi dulu, kalau kau ingini makan siang nanti, dan aku belum kembali, panaskan saja makanannya dari kulkas. Atau kau bisa juga pesan atau kau..." kata-kata Bung terhenti saat tiba-tiba saja Mark memeluknya dan mencium bibirnya dengan begitu rakus dan penuh kerinduan.
Bunga sangking terkejutnya langsung mendorong Mark untuk menjauh dari hadapannya. "Mark, Apa yang kau lakukan ini?" tanya Bunga merasa kesal dengan nafas yang memburu.
Mark meraup wajahnya dengan kasar dan merasa kecewa karena Bunga menolak dirinya dengan begitu mudah tanpa berpikir sama sekali.
"Baiklah kau bisa pergi sekarang. Aku akan tidur di kamar kamu saja. Karena aku sangat mengantuk dan juga lelah tubuhku!" Mark kemudian dengan begitu acuh langsung meninggalkan Bunga yang masih bengong di tempatnya.
__ADS_1
Bunga sebenarnya hendak protes dengan keinginan Mark yang akan tidur di kamarnya. Tapi waktu sudah semakin mepet. Kalau tidak segera bergegas maka dia akan terlambat. Bunga akhirnya memilih untuk segera meninggalkan apartemen miliknya.
Walaupun jantungnya saat ini sedang berdebar sangat kencang. Tapi Bunga tidak peduli sama sekali. Karena dia saat ini sedang memburu waktu agar bisa segera sampai di kantor.
Sepanjang perjalanan bunga terus memegang dadanya yang berdebar sangat kencang karena Mark yang begitu lancang sudah mencium dirinya.
"Ya Allah!! Apa yang dilakukan Mark di sini? Kenapa dia harus datang lagi ke dalam hidupku? Disaat aku sudah susah payah untuk berusaha melupakan dia?" tanya Bunga dengan perasaan tidak suka.
"Seenaknya saja dia datang mau pergi seperti yang tidak pernah memikirkan perasaanku. Dia sudah memiliki istri dan tiba-tiba saja menciumku. Tidak sopan! Nanti pas jam makan siang aku akan mengusirnya dari apartemenku!" ucap Bunga memutuskan untuk tidak berbelas kasihan kepada Mark yang takutnya akan mengundang kedatangan Intan ke dalam hidupnya.
Bunga tidak ingin lagi berhubungan dengan masa lalunya yang hanya memberikan luka dan air mata untuk dirinya. "Cukup sudah aku menangis dan menderita karena mereka semua. Sekarang aku ingin hidup bebas tanpa harus takut ataupun gemetra gara-gara mereka! Tidak akan pernah! Bunga sekarang bukanlah Bunga yang dulu. Bunga yang kan selalu diam saja walaupun dianiaya oleh siapapun. Tidak akan!" Bunga terlihat begitu geram dan sangat kesal.
Akan tetapi jantungnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Dia berdetak sangat kencang setiap kali mengingat tentang Mark yang aneh sekali kelakuan tadi. "Apa sebenarnya yang dilakukan oleh dia? Astaga! Dia benar-benar hampir membuatku gila!" Bunga terus menepuk kepalanya yang hampir meledak karena pusing.
Begitu sampai di kantor, Bunga langsung menemui Haikal yang saat ini sedang menunggu Bunga di ruangan rapat. "Bunga! Ya Allah!! Kenapa kamu lama sekali aku dari tadi menunggumu. Ayo kita briefing dulu sebentar sebelum pergi ke perusahaan rekan kerja kita. Aku takut kalau nanti ada kesalahan ketika kita ada di sana," perintah Haikal yang kemudian membuka laptopnya.
"Maafkan aku Tuan, tadi ada insiden kecil di apartemenku yang menahanku untuk datang ke kantor. Maafkan!" Bunga meminta maaf karena sudah menghambat pekerjaan Haikal pagi ini.
Haikal tersenyum melihat Bunga yang tampak begitu cemas karena hal itu.
__ADS_1
"Sudahlah Ayo, duduklah! Kita mulai briefingnya dulu, supaya kita buka bisa segera berangkat ke perusahaan rekan kerja kita!" Haikal mengulas senyum kepada Bunga yang tadi merasa sangat bersalah karena sudah terlambat dan membuat Haikal jadi terlambat juga untuk menghadiri pertemuan penting pagi ini.