
"Kamu apa-apaan sih? Datang-datang ngaku sebagai tunangan aku. Emangnya kapan kita tunangan?" tanya Haikal sambil menghempaskan tangan Adelia.
Adelia cukup tersinggung mendengar apa yang dikatakan oleh Haikal yang tidak mau mengakui statusnya sebagai tunangannya. Walaupun memang masih sebagai calon. Karena Haikal yang selalu menghindar dan lari setiap kali mereka hendak membicarakan tentang rencana pertunangan mereka yang akan di resmikan.
"Pergilah! Aku ada urusan yang penting dan sebaiknya kamu tidak usah memproklamasikan dirimu sebagai tunanganku di hadapan siapapun juga. Karena aku tidak pernah mengakuimu sebagai tunangan aku!" sengit Haikal yang merasa tidak senang dengan hal itu.
Adelia sama sekali tidak memperdulikan apapun yang dikatakan oleh Haikal. Karena dia mempunyai dukungan dari kedua orang tuanya Haikal dan juga dari kakeknya yang menyukai dirinya.
"Cepat pergi! Kau nggak usah bengong seperti orang bodoh kayak gitu!" hardik Haikal mengusir Adelia dari hadapannya.
Alih-alih pergi, Adelia malah menarik Haikal ke arahnya dan langsung mencium bibir Haikal. Haikal tentu saja terkejut sekali dengan sifat Adelia yang ternyata begitu agresif terhadap dia.
Saat Haikal berusaha untuk melepaskan diri dan mendorong Adelia untuk menjauh darinya, Adelia sengaja menggigit bibir Haikal hingga berdarah dan membengkak. Haikal terlihat sangat murka dengan kelakuan Adelia yang sangat lancang kepadanya.
"Kau gila, huh?" tanya Haikal kesal sambil menahan rasa sakit di bibirnya yang berdarah.
"Dasar perempuan gila! Bisa-bisanya kau melakukan seperti ini padaku. Entah apa yang dilihat oleh kakekku sehingga memilihmu sebagai calon istriku!" Haikal yang sudah gemas dan malas untuk berdebat dengan Adelia tidak pernah merasakan takut dengan apapun, Haikal akhirnya lebih memilih untuk segera meninggalkan Adelia di sana.
Tetapi Adelia tampaknya memang tidak berniat untuk melepaskan Haikal untuk kembali pada Bunga dan Mark. Adelia malah langsung meloncat ke punggung Haikal dan membuat Haikal kalang kabut luar biasa dengan kelakuan absurdnya yang benar-benar tidak bisa ditolerir lagi.
__ADS_1
"Dengerin anak manja! Aku tidak punya waktu untuk melayani kegilaanmu ataupun kegabutan kamu. Sebaiknya kau carilah orang lain yang mau melayani semua kegilaanmu itu! Dasar sinting!" Sungut Haikal yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi.
Mendengar makian yang dikatakan oleh Haikal kepada dirinya, Adelia benar-benar tidak terima dia pun langsung mendekati Haikal dan menggigit telinga pemuda itu hingga berdarah.
"Astaga! Sebenarnya kau itu seorang wanita atau dracula, huh? Kenapa kau hobby sekali menggigit orang, huh?" Haikal wajahnya bahkan sampai merah karena marah dan juga menahan rasa sakit.
Adelia terlihat Acuh dan tidak terlalu memperdulikan semua yang dikatakan oleh Haikal. "Suruh siapa kau terus saja menghinaku dari tadi, huh?" tanya Adelia sengit tanpa merasa berdosa sama sekali pada Haikal.
Mungkin kalau tadi dia tidak melepaskannya, karena Haikal yang menjerit karena kesakitan. Telinga Haikal bisa saja copot karena ulahnya.
Adelia hanya meringis saja membayangkan Haikal tanpa telinga pasti akan sangat lucu sekali. "Heh, wanita gila! Apa yang kau tertawakan huh? Apakah ada yang lucu?" sengit Haikal yang sudah bersiap untuk memberikan pelajaran kepada Adelia.
Adelia tentu saja tidak akan menerima kalau dirinya diperlakukan semena-mena oleh calon suaminya. Adelia juga bukanlah seorang wanita lemah yang mau diperlakukan tidak baik oleh Haikal.
Adegan seperti Cina drama pun terjadi di sana membuat keduanya menjadi gugup dan malu. Haikal tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar sangat kencang. Semua yang dialami oleh dirinya dengan Adelia adalah sesuatu yang baru dan tidak pernah dialami sebelumnya.
"Kau benar-benar pembawa petaka!" Haikal akhirnya meninggalkan Adelia yang masih bengong di tempat dan meresapi jantungnya yang saat ini sedang berdebar begitu kencang.
Adelia tidak mengerti apa yang sedang terjadi terhadap dirinya. Awalnya dia menggoda Haikal hanya untuk melampiaskan emosi dan kemarahannya di hatinya. Karena Haikal yang terlihat meremehkan dirinya.
__ADS_1
Ego dan harga diri Adelia sebagai Nona muda dari keluarga terpandang benar-benar tersentil dengan kelakuan Haikal yang amat lancang sekali.
***
"Sebenarnya apa yang terjadi disini? Mana yang benar, hmm? Kamu ataukah perempuan tadi yang merupakan tunangan dari Haikal?" tanya Mark dengan tatapan menyelidik kepada Bunga yang tentu saja gugup sendiri.
Bunga tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Dia tidak mungkin mengakui bahwa Haikal hanya sedang bersandiwara saja tadi. Bisa rusak harga dirinya di hadapan Mark kalau hal itu dia lakukan.
"Perempuan tadi adalah perempuan yang telah dijodohkan oleh keluarga besarnya. Akan tetapi Haikal lebih mencintaiku dan memilihku sebagai tunangannya. Kami sudah bertunangan tanpa diketahui oleh keluarga besarnya." dusta Bunga dengan suara gemetar karena takut ketahuan oleh Mark yang seorang dokter.
Mark bukanlah orang bodoh dan dia bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di sana secara keseluruhan tanpa Bunga menjelaskan banyak kata kepada dirinya.
"Kalau benar kalian sudah bertunangan. Kenapa kau tidak menggunakan cincin di jari manismu?" tanya Mark sambil terus menatap Bunga dengan tatapan mata yang tajam. Dia tidak mau kalau sampai dibohongi oleh Bunga, sehingga dia mengambil keputusan yang salah yang akan dia sesali di kemudian hari. Mark tidak mau kehilangan Bunga.
Mendengar pertanyaan dari Mark, Bunga sangat kaget dan berusaha untuk tetap tenang. Bagaimana pun dia tidak mau usaha yang sudah dia lakukan sejak tadi gagal total karena kecerobohannya.
"Kenapa aku harus menggunakan cincin pertunangan? Kami hanyalah melakukan pertunangan pribadi dan belum diresmikan di dalam keluarga besar. Aku malu kalau harus pake cincin. Apalagi keluarga Haikal yang belum menyetujui tentang rencana pernikahan kami." jawab Bunga bingung.
Benar kata orang. Apabila kita satu kali membohongi orang lain, pasti akan ada banyak kebohongan lainnya yang harus kita susun untuk menutupi satu kebohongan yang sudah kita ciptakan.
__ADS_1
Bunga merutuki semua kecerobohan Haikal yang sudah berpura-pura sebagai tunangannya pada Mark. Sekarang dirinya yang harus pusing dalam menghadapi semua pertanyaan Mark yang tampaknya tidak percaya dengan semua keterangan yang sudah susah payah dia berikan kepada Mark.
Intan yang saat ini sedang berada di kejauhan dan terus memperhatikan mereka berdua, begitu murka dan marah. Intan sudah memerintahkan kepada anak buahnya untuk segera beraksi dan memisahkan mereka berdua. Intan tidak rela kalau sampai kembali kepada Bunga, sehingga dirinya akan kehilangan kesempatan untuk bersama dengan Mark kembali di masa yang akan datang.