Rindu Untuk Di Cintai Suamiku

Rindu Untuk Di Cintai Suamiku
Bab 39


__ADS_3

Intan saat ini sedang berada di dalam kamarnya dan mengamuk. Kedua orang tuanya bahkan mengalami kesulitan untuk membujuknya.


"Kurang ajar! Kenapa semua usahaku untuk dapat menyingkirkan wanita brengsek itu semuanya gagal? Apa yang dia miliki sehingga semua orang lebih sayang sama dia daripada aku? Padahal selama ini aku jauh lebih baik dari pada dia." monolog Intan kesal setengah mati.


Karena sudah tidak mendengar lagi suara amukkan di dalam kamarnya Intan, ibu dan ayahnya pergi dan meninggalkan Intan di sana sendiri.


Bagaimanapun juga mereka yang paling tahu tabiat Intan yang buruk ketika marah dan kesal.


"Anak kamu itu benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya dia berniat untuk kembali rujuk dengan Mark? Eh, siapa anak kecil yang dia bawa dari luar negeri? Aku melihat anak itu mirip sekali dengan Mark." ayahnya Bunga hanya menatap istrinya sekilas dan memilih untuk meninggalkan wanita itu di kamar mereka.


Saat ini dia sedang berada di dalam kamar yang dahulu ditempati oleh Bunga ketika masih tinggal di sana bersamanya.


Tampak air mata yang berderai di pipinya karena menyesali hal-hal yang sudah terjadi kepada putrinya. "Azalea sayangku. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga putri kita. Aku terlalu lemah sehingga tidak mampu untuk melawan. Saat ini perusahaan kita terus berada dalam kritis. Hanya suntikan dana dari keluarganya yang bisa menyelamatkan perusahaan kita yang kolaps. Maafkan aku!" ucapnya dengan begitu sedih.


Pria paruh baya itu kelihatannya menanggung beban yang begitu berat yang saat ini berada di pundaknya yang semakin rapuh dan lemah.


Semalam itu dia menangis di kamar milik Bunga. Sambil memeluk foto keluarga saat sang istri tercinta masih hidup. Saat keluarga kecilnya masih berada dalam kebahagiaan dan kasih sayang.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸŒΌπŸŒΌπŸŒΌπŸ€πŸ€πŸ€


Bunga masih menangis di kamarnya. Bunga tidak memperdulikan sama sekali ponselnya yang terus berdering dari Mark.

__ADS_1


Rencananya Mark akan mengajak Bunga untuk survey gedung tempat dirinya dan Bunga akan kembali mengucapkan ijab qabul dan rujuk.


Mark terlihat frustasi karena Bunga yang sangat sulit di bujuk dan terus saja menghindari dirinya sejak kemarin. Bunga masih berusaha untuk menata hatinya yang masih terluka untuk bertahan di sisi Mark.


Walaupun semalam Bunga sudah bertekad akan menggunakan Mark untuk balas dendam kepada Intan dan ibunya yang sudah menghina dirinya dan Haidar di pesta kemarin. Tetapi Bunga sampai saat ini masih belum menunjukkan aksinya.


Bunga masih memainkan peranan tarik ulur untuk membuat Mark semakin penasaran. Bunga saat ini sedang berdiri di depan jendela dan terus menatap Mark yang masih mondar-mandir di depan gerbang mansion yang dia tempati.


Bunga mendapatkan begitu banyak fasilitas dari Haikal yang amat sayang pada Haidar. Haikal sebenarnya ingin menjadikan Bunga sebagai istrinya tetapi jarak yang dibentangkan oleh janda beranak satu itu terlalu lebar, sehingga membuat Haikal mundur teratur dan memilih mencintai Bunga dalam diam.


Apalagi pernikahan yang sudah disetujui oleh kedua keluarga benar-benar membuat Haikal tidak bisa berkutik sama sekali. Haikal hanya menolong Bunga dalam gelap dan tidak berani menampilkan wajah secara langsung pada Bunga.


"Apa kau tidak bisa membangunkan Nyonya kamu?" tanya Mark yang terlihat mulai prestasi karena sudah berdiri di depan gerbang selama 1 jam lamanya tetapi Bunga masih belum mau menemui Mark.


Mark langsung menyongsong kedatangan Bunga dengan bahagia. "Sayang, kau akhirnya memutuskan untuk ikut denganku ke gedung pernikahan kita?" tanya Mark dengan senyum sumringah yang tidak terlepas dari wajahnya.


Bunga menatap sekilas kepada Mars kemudian dia mendekati pengasuh Haidar yang masih membeku di tampat. "Hubungi aku kalau terjadi apa-apa dengan anakku. Tadi malam Haidar. terus menangis karena marah dan sedih dengan hinaan perempuan gila itu. Celakanya dia adalah wanita yang pernah di gilai ayahnya. Cih, sungguh karma buruk!" Bunga mendengus kesal melirik kepada Mark yang hanya bisa menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


Mark tahu kalau Intan memang benar-benar sangat keterlaluan dengan memfitnah Bunga dan menghina anaknya sebagai anak haram.


'Untung saja Intan sudah kuceraikan sejak lama. Kalau tidak, Bunga pasti tidak akan pernah memaafkanku sampai kapanpun. Aih, Intan kurang ajar! Kita berpisah pun kau masih memberikan kepusingan di kepalaku!' batin Mark merasa kesal.

__ADS_1


Bunga kemudian naik ke dalam mobilnya setelah meninggalkan banyak pesan untuk pengasuh anaknya. Bagaimana pun juga Bunga merasa khawatir dengan kondisi putranya yang tidak baik-baik saja sama seperti dirinya.


Bunga pun kalau tidak memiliki keinginan untuk membalas dendam terhadap Intan dan ibunya, tidak mungkin sekarang berada di samping Mark dan duduk di mobilnya.


Bunga tampaknya sudah bertekad bulat untuk membuat Intan merasakan putus asa karena kehilangan laki-laki yang dicintainya.


Bunga yakin sekali Intan pasti akan mengamuk kalau mengetahui dirinya kembali rujuk bersama Mark lalu pindah ke mansion keluarga besar Antonio.


Secara tidak disadari oleh Bunga, terbit senyum di bibirnya. Walaupun sekedar membayangkan kemarahan Intan dan Ibunya sudah membuat bunga merasa bahagia.


Benar kata orang, orang jahat adalah orang baik yang selalu ditindas dan disakiti. Bunga yang selama ini selalu diam dan tidak pernah melawan, walau apapun yang dilakukan oleh mereka berdua terhadap dirinya. Tetapi sekarang, Bunga tidak bisa terima ketika anaknya dihina sebagai anak haram oleh mereka berdua.


Bunga sudah bersumpah akan menunjukkan kekuatan seorang ibu yang disakiti saat anaknya di serang secara mental dan fisik. Bunga akan bangkit dan memperlihatkan kekuatannya pada mereka.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Mark yang merasa bingung melihat Bunga yang sejak tadi hanya diam saja dan tidak merespon apapun yang dia katakan.


Bunga memang sedang menyusun begitu banyak rencana di dalam kepalanya untuk membuat Mark tidak curiga atau sakit hati karena dimanfaatkan untuk membalas dendam terhadap Intan dan ibunya.


"Aku baik-baik saja kau fokus saja untuk menyetir! Kalau sampai aku mati, maka anakmu tidak akan memiliki Ibu yang akan menjaganya." jawab Bunga dengan ketus.


Padahal di dalam hatinya bunga saat ini sedang berdebar-debar dan gemetar karena Mark yang sejak tadi terus menggenggam telapak tangannya dan menciumnya berkali-kali. Entah Apa yang sedang dilakukan oleh Mark kepada dirinya yang membuat Bunga jadi bingung sendiri.

__ADS_1


Bunga sangat takut kalau sampai dia malah terperosok di dalam rencananya sendiri dan hanyut dalam perasaan cinta yang ditawarkan oleh Mark kepadanya dengan berlimpah dan membuat hati Bunga kalang kabut sendiri.


__ADS_2