
"Lalu apa kamu sudah mantap untuk rujuk dengan aku? Nanti ga ingin rujuk juga dengan Intan?" tanya Bunga dengan perasaan yang sangat aneh dan membingungkan. Entah kenapa ada perasaan sesak di hati Bunga saat menanyakan hal itu.
Mark melirik pada Bunga, merasa tertohok hatinya dengan pertanyaan sederhana itu. "Aku mencintai kamu. Sejak dulu, mungkin orang yang aku cinta adalah kamu. Intan berpura-pura menjadi Azalea. Wanita yang sudah lama aku cari dan aku cintai. Bunga, aku memperlakukan Intan seperti itu karena aku pikir dia adalah kamu. Azaleaku! Kenapa kamu ga bisa paham juga?" tanya Mark seakan tambah frustasi ketika memikirkan hal itu.
"Yakin?"
"Emmm,"
"Intan kan cantik banget, model dan juga artis. Kamu yakin tidak pernah mencintai dia?" tanya Bunga lagi.
Sebenarnya bunga hanya ingin memastikan perasaan Mark pada Intan. Bunga tidak ingin kalau sampai suatu saat nanti Intan berhasil kembali mengelabui Mark yang berhati baik.
Bunga tahu walaupun Mark terlihat keras dari luar, tetapi Mark adalah type lelaki lembut kalau sudah mencintai seseorang dengan dalam. Terbukti saat Mark bahkan rela menunggu Intan yang koma. Mark tidak pernah berniat meninggalkan Intan waktu walaupun sudah berstatus sebagai suaminya.
Mungkin karena ikatan cinta di hati Mark terhadap Azalea terlalu kuat, sehingga tanpa disadarinya hatinya selalu terpaut pada Bunga yang merupakan Azalea yang asli.
"Apakah kalau Intan tidak berselingkuh kau akan tetap bersamaku? Maksudku, apakah kau akan ingat siapa aku di masa lalu?" Bunga tampak bingung dengan pertanyaannya sendiri.
Mark sendiri tidak tahu apa yang harus dia jawab saat ini. Karena kalau bukan karena perselingkuhan Intan, tidak mungkin dirinya akan menyelidiki latar belakang Intan sehingga akhirnya menemukan kebenaran itu. Tidak mungkin dirinya akan tahu kalau Intan dan ibunya selama ini sudah menipu nama mentah-mentah dengan mengaku sebagai Azalea.
__ADS_1
"Aku yakin bahwa semua yang terjadi di dunia ini sudah ada yang mengaturnya. Bunga, semua yang terjadi pada kita adalah cara Tuhan untuk membuat kita saling menemukan. Apakah kita bisa menghentikan pembicaraan tentang ini? Jujur, aku merasa terganggu dan tidak suka," Mark menggenggam telapak tangan Bunga yang di tepis begitu saja oleh Bunga.
Bunga saat ini merasa ragu dengan perasaan Mark. Apalagi setelah melihat kelakuan Intan yang sangat barbar di pesta kemarin. Walaupun dirinya sudah bertekad untuk membalaskan dendam terhadap Intan, tetapi Bunga masih berusaha untuk memikirkan perasaannya dan masa depannya.
Apalagi ada Haidar yang berdiri di antara mereka. "Anak kita membutuhkan kita berdoa sebagai orang tuanya. Kenapa kau masih ragu?" tanya Mark mulai merasa frustasi dengan sikap Bunga yang kembali menunjukkan keraguan di hatinya.
"Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menghindari Intan maupun ibunya. Aku sangat tahu kalau mereka adalah perempuan yang licik dan selalu menghalalkan segala cara. Bunga, apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu yakin padaku ketulusanku untuk kita kembali merajut pernikahan kita?" tanya Mark putus asa.
Mark merasakan bahwa dirinya tidak pernah berada pada posisi saat ini. Dimana dia merasa seperti orang yang tak berguna karena wanita yang dia cintai selalu meragukan perasaannya.
"Tak perlu melakukan apapun. Aku hanya ingin kau membuktikan bahwa kau tidak akan pernah terlibat lagi dengan Intan." ucap Bunga lirih.
'Apakah karena itu yang membuat bunga berpikir kalau aku masih mencintai Intan? Apakah Bunga merasa cemburu karena aku masih mengijinkan Intan menjadi wajah dari rumah sakit keluargaku?' batin Mark sambil melirik pada Bunga.
Padahal Bunga tidak tahu sama sekali tentang hal itu. Bunga hanya melihat begitu besar usaha yang dilakukan oleh Intan untuk menarik perhatian Mark.
Contohnya saat di pesta tadi malam, Intan dengan begitu percaya diri berani menghina dirinya di depan publik dan bersikap seakan menjadi orang penting di sana. Padahal jelas-jelas Mark ada di sampingnya dan terus menggenggam telapak tangannya dengan erat sepanjang acara tadi malam.
Entahlah! memikirkan tentang Intan dan Mark di masa lalu benar-benar sudah membuatnya frustasi dan stress sendiri. Bayangan pengkhianatan itu terus saja menghantuinya. Padahal Bunga sudah tahu tentang kenyataan dan fakta bahwa Mark dalam posisi di tipu oleh Intan dan ibunya yang telah mencuri identitasnya di masa lalu.
__ADS_1
"Berhentilah untuk berpikir yang kita tidak dan fokuslah untuk masa depan kita aku mohon padamu. Anak kita menunggu kita untuk bersama. Walaupun Haidar tidak mengatakannya secara langsung, tapi aku tahu bahwa anak nakal itu mau punya ayah juga seperti orang lain!" Bunga terkesiap mendengar apa yang dikatakan oleh Mark.
Bunga seakan diingatkan kembali dengan tangisan dan rengekan Haidar di masa lalu setiap kali dia pulang bermain dan selalu mendapatkan bullyan dari teman-temannya yang selalu mengatakan kalau Haidar adalah anak haram karena tidak punya ayah.
Hati Bunga mencelos. Darahnya berdesir sangat kencang. Seketika dendam dan sakit hati muncul di relung hatinya yang terdalam.
"Kalau bukan karena Intan tidak mungkin anakku harus mengalami nasib seperti itu. Aku harus melakukan sesuatu kepada wanita jahat itu!" ucap Bunga gemetar dan air mata yang berlinangan.
Mark benar-benar merasa bersalah karena sudah memberikan waktu yang berat kepada Bunga.
"Maafkan Aku karena terlalu bodoh saat itu. Seharusnya aku sudah menyelidiki masalah ini sejak lama sehingga kalian tidak perlu mengalami penderitaan itu. Maafkan aku!" Mark memeluk Bunga semakin erat.
Mereka hari itu menghabiskan banyak waktu bersama untuk berbicara dari hati ke hati agar bisa saling memahami satu sama lain.
Semua itu perlu dibicarakan dengab gamblabg sebelum mereka benar-benar melakukan rujuk. Hal yang sangat penting dan bukan main-main.
Bunga dan Mark mencoba untuk menyelami perasaan satu sama lain agar suatu saat nanti tidak kembali melukai pasangan mereka.
"Aku akan meminta kepada pihak manajemen untuk menghentikan perjanjian kontrak Intan sebagai brand Ambassador Rumah Sakit kami. Percaya sama aku, Bunga. Aku pasti akan menjauhkan Intan dari hidup kita secara perlahan-lahan. Kamu bisa tenang dan tidak usah memikirkan tentang wanita itu lagi dalam hidup kita!" janji Mark saat dia melihat Bunga memejamkan matanya karena lelah terlalu banyak menangis.
__ADS_1
Mark tahu bahwa Bunga telah banyak menanggung penderitaan dan air mata karena kebodohannya di masa lalu. Mark tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Mark langsung nutup panggilan telepon dari Intan yang sejak tadi terus berdering dan mengirim pesan berantai di aplikasi hijaunya.