
Mark senang karena Bunga sudah menerima keinginan dirinya untuk rujuk. Mark tidak peduli apapun yang menjadi alasan di belakang itu semua. Bagi Mark, dia bisa bersama dengan Bunga dan anaknya itu yang lebih penting.
Mark ingin kembali mempertemukan kedua orang tuanya dengan Bunga dan Haidar. Saat pesta pertemuan mereka tidak kondusif dan intens, karena kedua orang tuanya sibuk untuk menyambut tamu-tamu yang datang ke kediaman mereka.
Selain itu Bunga juga diganggu oleh Intan dan ibunya yang terus saja berusaha untuk menyakiti Bunga. Mark tidak mengerti dengan mereka berdua yang selalu saja mencari gara-gara dengan Bunga.
Sekarang Mark bisa melihat sosok Intan yang sesungguhnya. Wanita keji yang penuh dengan iri dengki terhadap Bunga, ibu dari anaknya.
"Aku benar-benar telah dibutakan oleh cinta di masa lalu. Sehingga tidak bisa melihat wanita seperti apakah Intan yang sesungguhnya. Wanita yang otaknya hanya di isi dengan muslihat dan dengki. Untung saja mataku sekarang udah terbuka dan bisa melihat semuanya dengan jernih." ucap Mark sambil meremas telapak tangan Bunga yang sejak tadi dia pegang dengan erat.
Bunga terlihat meringis karena kesakitan. "Maaf, aku terlalu bersemangat karena kau ada di sampingku. Bunga, aku berjanji padamu mulai saat ini akan selalu menjagamu dan anak kita. Aku gak akan pernah biarkan siapapun menyakiti kalian lagi!" janji Mark dengan suara gemetar.
Hati Bunga meleleh. Bahagia dan haru bercampur aduk di dalam hatinya saat ini. "Apakah kamu tidak keberatan? Kalau aku menggunakannya untuk balas dendam pada Intan dan ibunya? Mark, apa kamu akan membenci aku?" tanya Bunga dengan suara yang tersekat di tenggorokan.
Mark menghentikan laju kendaraannya saat mendengar apa yang dikatakan oleh Bunga dengan suara yang lirih dan bergetar. Ada kesakitan yang bisa dirasakan oleh Mark ketika itu.
__ADS_1
"Aku tidak peduli alasan kamu mau rujuk sama aku, aku gak perduli apakah kau akan menggunakan aku untuk balas dendam ataukah karena kau memang masih mencintaiku. Bunga, selama aku bisa berada di sampingmu aku tidak peduli sama sekali dengan semua itu. Percaya sama aku!" Mark menangkup wajah Bunga dengan kedua tangannya kemudian mengecupnya dengan lembut.
Bunga terisak karena haru dan bahagia. Perasaan rindu untuk di cintai suaminya di masa lalu, yang lama sekali Bunga pendam, akhirnya tidak bisa dia sembunyikan lagi. Bunga menangis sesegukan dalam pelukan Mark.
Mark tidak mengatakan apapun dan hanya diam saja. Mark menyediakan bahu dan pelukannya untuk Bunga meluahkan perasaan di hatinya.
"Kau tahu kan? Kalau mereka selama ini selalu menyakitiku dan juga menghinaku. Aku harus memberikan mereka pelajaran agar bisa menghargai perasaan orang lain." ucap Bunga di sela tangisnya.
Mark mengangguk, jelas Mark sangat Paham bagaimana perasaan Bunga. Karena dulu dirinya juga menjadi bagian dari mereka yang suka menyakiti Bunga. Mark sendiri tidak paham dengan dirinya ketika itu yang begitu menikmati saat melihat Bunga menangis karena ulahnya.
Mark tidak rela kalau sampai Intan ataupun ibunya yang membuat Bunga menangis kejer. Jadi Mark sengaja melakukan banyak hal yang menyakitkan hanya untuk membuat Bunga melihat kearahnya.
"Kamu gunakan aku sepuas kamu untuk membalas Intan. Aku tidak keberatan sama sekali ketika kau melakukan itu. Aku malahan akan membantu kamu untuk menghukum kejahatan mereka!" ucap Mark dengan begitu bersemangat.
Bunga menarik dirinya dari pelukan Mark, "Ck, bukankah kau juga salah satu pelaku yang sangat hobi membuatku menangis di masa lalu? Apa pantas sekarang kau bilang begitu?" tanya Bunga terlihat kesal dengan Mark yang meringis tak berdosa di hadapannya.
__ADS_1
Mark tahu bahwa dosanya terhadap Bunga bisa di katakan cukup berat. Mark merinding ketika mengingat kembali apa saja yang sudah dia lakukan terhadap Bunga. Bagaimana dirinya menyiksa Bunga lahir, bathin dan mentalnya. Dirinya juga selalu melampiaskan hasrat birahinya kepada Bunga secara brutal dan menyakitinya sampai menangis begitu sedih dan memilukan hati siapapun yang mendengar.
Sayangnya ketika itu tidak ada siapapun yang membela Bunga. Bahkan ayahnya tak perduli sama sekali. Apalagi para pembantu maupun pekerja yang ada di kediaman mereka yang jelas takut kepada Mark sebagai majikan mereka yang galak dan kejam pada Nyonya mereka.
"Maafkan aku yang sudah melakukan begitu banyak kesalahan di masa lalu, karena kebodohan dan juga butanya mata hatiku dari melihat kebenaran. Aku menelan mentah-mentah semua yang diceritakan oleh Intan dan ibunya tanpa menyelidiki atau menelaah semuanya. Maafkan aku. Aku berharap ada kesempatan kedua untuk kita bisa memulai Semuanya dari awal demi anak kita dan masa depan kita sekeluarga. Sayang, kamu tidak mau kan, kalau anak kita hidup tanpa seorang ayah kandung?" tanya Mark menatap tajam kepada Bunga yang lebih memilih mengalihkan pandangannya melalui jendela mobil yang tertutup.
"Mark, Aku tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang kepadamu. Tapi yang jelas saat ini niatku kembali bersamamu hanya untuk membuat Intan murka dan putus asa. Aku tahu kalau dia masih mencintaimu dan masih berharap kembali kepada kamu!" ucap Bunga menunduk.
"Kamu salah, Bunga. Intan tidak pernah mencintaiku. Buktinya saat malam pernikahan kami berdua, dia malah lari kepelukan selingkuhannya alih-alih menghabiskan malam pertama kami sebagai suami istri di hotel yang sudah di pesan olehku." Ada kegetiran di dalam suara Mark ketika dia mengingat masa lalunya bersama Intan.
Ada semburat penyesalan yang begitu besar yang bisa terbaca saat Bunga melirik sekilas pada Mark. Mark meraup wajahnya dengan kedua tangan, terlihat begitu frustasi.
"Kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat itu. Saat mengetahui tentang perselingkuhan Intan dan Amar. Duniaku seakan hancur semua pengorbananku seperti tidak ada artinya sama sekali." Mark terlihat bersedih, Bunga cukup terkejut mendengar cerita dari Mark soal perselingkuhan Intan.
Di media sosial maupun berita yang beredar tidak di sebutkan alasan perceraian antara Mark dan Intan. Karena Mark yang memang ingin menjaga nama baik Intan sebagai seorang public figure. Makanya semua hanya menjadi rahasia mereka.
__ADS_1
"Apakah kau begitu mencintainya? Bahkan kau merahasiakan alasan perceraian kalian dari publik," terdengar suara Bunga yang gemetar karena merasakan cemburu ketika memikirkan tentang Mark yang mungkin saja masih mencintai mantan istrinya yang pernah dia cintai dengan amat dalam.
Mark bahkan sampai rela menunggu Intan yang waktu itu koma selama berbulan-bulan lamanya. Tidak bergeming sama sekali dengan dirinya yang berstatus sebagai istrinya saat itu. Mark tetap mencintai Intan dengan segala kelemahannya di kala itu. Bisa Bunga bayangkan sebesar apa cinta yang dimiliki oleh Mark untuk Intan di kala itu.