Rintihan Dari Balik Kubur

Rintihan Dari Balik Kubur
bab 1 awal mula : tanah kematian yg menebar busuk


__ADS_3

...Hari kamis tanggal 2 agustus 2005...


Sore hari itu, wajah langit nampak muram. Lembayung senja di barat cakrawala tengah merintih pilu saat keindahan tertutupi oleh mendung kelabu di langit barat. desiran angin yang mendesau-desau layaknya suara langit yang hendak menyampaikan pesan pilunya kepada jagat pertiwi. Kepada sebuah jiwa yang telah terlepas dari raga.


Di tengah suasana senja, tatkala mata semesta tengah menatap sendu ke arah hamparan bumi. terlihat orang-orang yang berjalan membentuk sebuah iringan. Sebuah iringan pengantar jenazah yang berjalan pelan mengikuti irama tauhid yang didengungkan dengan khidmat oleh mereka, para peziarah.


" laa ilaaha illallaah, laa ilaaha illallaah "


Kalimat suci itu terdengar merdu dari kerumunan orang-orang yang tengah beriringan menuju ke sebuah TPU (tempat pemakaman umum ). mengantarkan seseorang yang telah berpulang menuju rumah abadinya di tanah pekuburan.


" yang sabar ya mas aryo. saya juga sedih loh waktu denger mbak kinan meninggal dunia, " ujar seorang ibu berkerudung hitam ke arah seorang pria berperawakan tinggi kurus.


Nampak si pria yang bernama aryo itu tak ada niat untuk menimpali ucapan si ibu tadi. pria itu hanya terdiam sembari terus menatap ke depan. wajah tampannya terlihat memancarkan sinar kehampaan. Hampa yang membelit hatinya dengan erat. Sebuah kehampaan jiwa saat melihat sang istri tercinta telah dulu berpulang menuju alam penantian yang jauh nan sunyi di ujung sana.


Waktu demi waktu berlalu, langkah kaki serta seruan suci terdengar bagaikan sebuah alunan kelam di tengah terjangan angin senja.


Beberapa saat kemudian, setelah berjalan kaki sekian lamanya, akhirnya sampailah mereka disini.


Orang-orang itu berdiri tegak di atas tanah pemakaman, tanah orang-orang mati yang diperuntukan bagi mereka yang telah berpulang.


Aryo hanya berdiri termenung. di sebelahnya, seorang laki-laki paru baya berpeci putih sama-sama tengah berdiri tegak melihat ke arah jajaran makam yang tersusun membentuk barisan.


" kita akhirnya sampai mas aryo. Alhamdulillah allah ternyata masih memberikan kelancaran kepada kita untuk sampai ke sini, " ucap pak ustadz rahman kepada aryo. Sorban putihnya ia gunakan untuk mengelap peluh yang menetes turun dari dahi. Maklum, umur yang beranjak tua membuat bapak dua anak itu cepat lelah.


sesak di dada coba aryo tahan. air mata di pelupuk tengah coba ia hentikan. ia tak ingin kesedihannya malah membawa kesedihan baru bagi mendiang istrinya nanti.


" iya pak rahman, saya sangat berterima kasih kepada pak ustadz dan warga yang lain karena telah berbaik hati mengantarkan mendiang istri saya ke..., " putus aryo terbata-bata.


Pak rahman mengerti dengan kondisi pria itu. Keduanya tengah berjalan bersama dengan yang lainnya menuju ke salah satu sudut pemakaman.


"...ke tempat peristirahatan terakhirnya disini, " sambung aryo sedih.


" meskipun istri saya..., " lanjut aryo pelan namun masih terdengar jelas oleh pak rahman. Kedua orang beda usia dan status itu berjalan berdampingan. Meninggalkan para jamaah di belakang.


Pak rahman-seorang yang dikenal oleh warga desa sebagai seorang ustadz yang disegani itu, hanya tersenyum simpul,


"sudah menjadi kewajiban saya dan warga lain untuk saling membantu mas aryo. Apalagi terhadap sesama muslim. Karena allah swt sendiri berfirman dalam qur'an bahwa...,


" pak ustadz...,"


Belum sempat pak rahman meneruskan ceramah singkatnya, suara seorang pria terdengar dari balik lubang kubur yang telah jadi. Terlihat si pemilik suara tengah duduk di pinggir lubang kuburan.


Sebatang rokok sampoerna terhimpit manis diantara dua jari pria berkumis itu.


melihat pria yang dikenalinya, sontak pak rahman melontarkan sapaan ramah, " oh pak hendra, gimana lubang kuburnya pak? Apa sudah siap dan bisa digunakan, " tanya pak rahman. Meskipun ia sendiri tau jika kuburan yang jauh-jauh lalu digali itu, memang sudah siap.


" udah dong pak. Hendra kaleee..., " kelakar hendra melucu. Meskipun dalam suasana berkabung penuh duka, pria yang telah lama berprofesi sebagai tukang gali kubur itu masih ceria tanpa beban.


Memilih untuk point to point, pak rahman lantas berucap, " apa ada kendala selama penggalian kubur pak? " tanya pak rahman penasaran.


beberapa jamaah pembawa keranda telah sampai. Bersamaan dengan kedatangan para warga lain yang turut mengantar jenazah ke kuburan.


hendra diam sejenak. Seraya memasang pose berfikir, pria itu menimpali ucapan pak rahman, " hmmm...saya rasa cuman genangan air sama riuhnya angin yang membelai-belai aja pak, " pungkas pria itu dengan gaya bak seorang pujangga salah tempat.

__ADS_1


Tak ada yang menyahut maupun tertawa. Orang-orang yang baru datang hanya diam memperhatikan percakapan dua orang beda nasib itu. Sebelum...


" pak rahman apakah acara pemakamannya bisa segera dimulai. Kasihan almarhumah lho, " cetus seorang ibu yang bernama inah itu kepada sang ustadz. Tatapan galaknya melirik sinis ke arah pak hendra yang hanya cengengesan.


" baik jika begitu. tolong bapak-bapak keluarkan jenazah almarhumah. Kita mulai saja prosesi pemakamannya, " perintah pak rahman kepada kaum pria yang ada.


Mendung di langit semakin menebal. Hujan nampaknya akan turun kembali, sama seperti kemarin hari.


" duh kenapa mendungnya malah tambah tebel ya mpok? " seru pelan bu edah. tatapan tak lepas dari awan hitam di langit. sesekali deru napas cemas keluar dari perempuan itu.


" aye juga kaga tau bu,, " rekan di sampingnya yang bernama ningsih, menyahut dengan ketus, " apa ini ada hubungannya dengan almarhum si kinanti ya? " cicit pelan ningsih. Raut cemas kedua wanita itu seakan tenggelam diantara bahu-bahu para peziarah yang tengah menyaksikan acara pemakaman dari mendiang.


bu edah mengerutkan kening, " maksud lu ape ning? " bisik bu edah.


" beh! Kaya engga tau aja lu. lu inget ama tabiat si kinanti pas masih idup? " kata ningsih setengah jengkel ke arah rekannya yang sesama ibu-ibu.


memilih untuk berada di belakang, kedua penggosip handal itu malah tenggelam dengan obrolan mereka berdua.


" jadi maksud lu, si kinanti kena azab gitu?" tebak bu edahi agak ragu.


" nah nyambung juga lu sekarang, " timpal ningsih agak sarkas. Wanita berbadan gemuk itu terlihat menepuk-nepuk bahu kecil dari bu edah, membuat si empu meringis kesakitan.


" ah yang bener lu ning, gak baik loh bilang kek gitu di tempat kaya gini, " balas bu edah kesal. Wanita kurus berhidung panjang itu melirik sekilas ke arah kumpulan pelayat yang tengah menggelar doa bersama untuk almarhumah kinanti.


" heh beres juga akhirnya. Kalo bukan karena suruhan bang jali, gue sih ogah dateng ke sini, " omel wanita berhijab merah itu dalam hatinya.


" yeh masalah percaya gak percaya itu pilihan lu, tapi..., " putus ningsih.


" tapi apaan? " tanya bu edah penasaran.


" woy ning, ya elah lo kok malah bengong sih? Mikirin utang yah, " ledek bu edah tajam. Niat hati ingin bercanda, namun perempuan berpostur ceking itu justru keheranan saat melihat ningsih seperti orang ketakutan.


" lah napa lo ning? Kaya liat setan aja? " tanya bu edah heran. Dan ia lebih heran lagi saat melihat getar-getar ketakutan yang menjalar bak listrik di sekujur wanita itu.


" b-b-bu edah g-gue balik dulu ye, " usai berucap demikian, ningsih segera berbalik badan dan meninggalkan bu edah yang menatapnya terheran-heran.


" lah nape tu anak? " cicit bu edah bertanya-tanya dalam hati, " masa iya liat arwahnya si jablay desa sih? " candanya seraya tertawa pelan dalam hati. Matanya melirik para pelayat yang nampaknya hendak bergegas pulang.


"... Mati lo sekarang, " senyum terkulum menghiasi bibir wanita itu. Sebelum akhirnya ia pergi bersama yang lain.


...****************...


Waktu semakin merangkak naik, sore hari yang buram masih meringkuk murung dalam selimut mendung di atas langit. layaknya sebuah belaian lembut alam, nafas dingin sang bayu datang menerpa halus punggung pria itu. Menemaninya dalam dekap sepi.


Aryo tengah berdiri sembari memandang kosong ke arah sebuah kuburan baru.


" kinanti..., " desisnya pelan. bahu pria itu terlihat bergetar pelan. Rintik hujan yang hendak turun bersamaan dengan air mata yang keluar dari pelupuk matanya yang sembab.


"...dek kenapa kamu secepat ini ninggalin mas sendirian sih, " bisiknya sendu, " mas tau kok kalau yang mereka katakan hanya fitnah belaka, " imbuhnya lirih.


Aryo tersenyum masam ketika teringat beberapa selentingan kabar yang didengarnya tentang mendiang istrinya ini. meskipun sebagian yang mereka katakan sepenuhnya benar.


" mas harap kamu bisa tenang di sana, " ujarnya pelan.

__ADS_1


" mas aryo, " sapa sebuah suara dari arah belakang.


Aryo yang tengah membaca kalimat doa untuk sang istri, lantas menoleh ke sumber suara. Netra cokelat matanya melihat seorang perempuan dengan kerudung hijau membalut kepalanya. Terlihat si perempuan tengah melangkah mendekat menuju dirinya yang masih termenung sendirian disini.


" dinda, " terka aryo pelan. sambil menyebutkan suatu nama yang tak asing baginya, ingatan aryo kembali mundur ke belakang, ke beberapa tahun sebelumnya.


" mas aryo kamu gak apa-apa mas? " tanya si perempuan yang bernama dinda itu saat telah berada persis di samping aryo. Mata sang empunya melihat aryo dengan pandangan lembut penuh arti.


" dinda, kamu dinda kan? " ujar aryo setengah tak percaya.


dinda mengangguk pelan. Ekor hijabnya berkibar mengiringi anggukan dari wanita cantik itu.


" iya mas, aku dinda temen kamu dulu, " tukas dinda, " aku turut berbela sungkawa dengan kematiannya mbak kinan mas, " sambungnya lagi. tangannya terlihat mengusap lembut bahu pria itu.


Aryo mengusap kasar cucuran air mata dari pelupuk matanya, sebelum ia tersenyum kecil menatap sahabat masa lalunya, " makasih ya din, kamu emang gak pernah berubah, sama seperti dulu, " ujar aryo sembari tertawa pelan.


Dinda hanya tersipu malu. sikap wanita itu jadi salah tingkah saat mendengar keterangan aryo tentang dirinya.


" sekarang kamu kerja dimana din? " tanya aryo memecah suasana canggung antara dua sahabat yang lama tak berjumpa itu.


Usai meredakan gerak canggungnya, wanita berhidung kecil namun manis itu lantas menjawab, " aku kerja di RS purnama sari mas, sebagai perawat hehe," timpal dinda terkekeh.


" ouh jadi perawat toh, keren bener nih besti gue, " ujar aryo menggoda dinda. sebuah cubitan pelan terasa di bagian bahunya, saat dinda dengan wajah merah menahan malu mencubit bahu kanannya.


" apaan sih mas! Aku kan jadi malu, " setengah kesal, dinda berujar demikian kepada aryo.


Nampak aryo hanya tertawa sebentar, sebelum pandangannya kembali menjadi sendu.


"sebaiknya kita lekas pergi dari tempat ini din. Aku rasa hujan bentar lagi akan turun," ucap aryo, seraya bangkit dari jongkoknya. Saat hendak bangkit, aryo teringat sesuatu, " oh iya dinda, kamu sekarang tinggal di mana, " celetuk aryo bertanya-tanya.


Sembari tersenyum, dinda menimpali pertanyaan aryo, "aku sekarang tinggal sama pakde arjo dan bukde maryam mas," jawab dinda, " sekalian liburan mumpung cuti panjang heheh, " tukasnya sekali lagi.


Aryo hanya mengangguk sambil tersenyum.


" wah mas, kayanya udah mau turun ujan ya, tebel banget mendungnya, " pekik dinda saat menengadah menatap langit dengan ekspresi terperangah.


Aryo menimpali, " namanya juga lagi musim hujan, jadi udah biasa ada mendung setebal itu, " pungkas aryo sambil menaburi kuburan kinanti dengan bunga-bunga segar. sementara dinda hanya memperhatikan kegiatan pria itu dalam diam.


" udah mas? " tanya dinda.


Setelah rampung, aryo lantas berujar


"udah din, kamu bawa kendaraan? " tanya aryo.


" bawa mas, aku bawa motor kesini, " balas dinda.


Aryo tersenyum lega. Bayangan akan baju yang basah kuyup dan batuk flu yang menyerang tubuhnya, nampaknya tak akan terjadi.


Lalu tak lama kemudian, kedua insan itu lantas berjalan meninggalkan tanah pemakaman. Beriringan pergi dari sunyi penuh cekam di tempat ini.


Mendung diatas langit semakin tebal menutupi cahaya senja yang temaram. rintik-rintik hujan perlahan turun dari atas langit. turun membasahi tanah pekuburan yang warga desa menyebutnya dengan nama lemah bongko, tanah orang mati sekaligus rumah abadi bagi mereka yang telah pergi menuju alam penantian.


beberapa jam berlalu, hujan lebat yang ditunggu pun mengguyur area pemakaman itu. hembusan angin datang menggoyangkan beberapa pohon.

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2