
Malam semakin beranjak larut. terpaan angin datang dari balik bukit kelam di timur jauh. Mengugurkan daun serta ranting pohon di dekat sebuah pangkalan ojek.
'PANGKALAN OJEK DESA BAYAN', begitulah kira-kira nama yang tertulis di atas sebuah papan kayu lapuk yang menghiasi atap pangkalan tersebut.
Melihat hujan yang masih turun membanjiri bumi, seorang pria yang tengah berteduh di pangkalan ini hanya bisa menghembus napas pasrah. nampaknya hujan masih lama berhenti pikirnya kalut. pria itu bernama bang juki, seorang tukang ojek berusia paruh baya yang biasa mangkal di kawasan ini. ia yang baru saja mengantarkan seorang penumpang ke desa sebelah terpaksa berteduh disini lantaran hujan yang turun dengan derasnya.
" heh dingin banget dah, gile!, " ujar pria itu disertai gemeratuk gigi yang terdengar.
Dalam gelap larut penuh hening, bang juki hanya pasrah menatap sahabat sejatinya, seonggok motor tua yang tengah termenung dalam guyuran hujan di luar.
Purnama di langit nampaknya tengah merengut dalam hening. kesal kepada gulita malam yang telah menutupi cahaya terangnya. malam larut menemani sepi yang menyelimuti bang juki.
Bang Juki semakin mempererat jaketnya saat dirasa hawa dingin ini semakin memeluk erat tubuhnya.
" heh kampret bener ni ujan,, gak bosan-bosannya turun. kalo ginii terus bisa mati gue kedinginan disini, " keluhnya pelan, "gini nih nasib rakyat jelata kaya gue, serba susah, " lanjutnya seraya menggerutu dalam hati.
Kibasan angin yang datang bagaikan terpaan tangan alam yang menampar-nampar wajah bang juki. membuat si empu semakin merengut dalam dinginnya malam penuh kesunyian.
Dalam hening yang mencekam, wajah bang juki yang memang sudah kusut tak beraturan dihantam oleh lelah tak berperi, mendadak mengernyit. bukan karena perkara mengapa dirinya bisa lupa membeli cemilan untuk anaknya di rumah, tapi karena di kejauhan sana, ekor matanya menangkap sesuatu.
Dalam rintik-rintik hujan malam, netra tua bang juki melihat selembar kain putih yang berkibat lemah di salah satu dahan pohon yang terletak tak jauh dari pos ojek tempatnya berada.
Kain putih itu berkibar diterpa oleh angin. warnanya yang mencolok sangat kontras dengan kegelapan di sekitarnya, dan hal itu tidak luput dari perhatian bang juki.
"kain apaan tuh?" gumam pria yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang ojek itu dalam hatinya, " kok kaya kain jenazah ye , " cetusnya pelan.
Bang juki mendadak merinding dengan dugaannya tadi. pikirannya langsung dipenuhi oleh bayang-bayang yang menyeramkan.
Bang juki mencoba untuk tenang, ia mencoba untuk menepis pikirannya sendiri.
Malam rintik semakin merangkak naik menemani bang juki yang masih terpaku menatap kain putih tadi yang kini telah hilang entah kemana.
" Lho kok ilang, " kata bang juki heran. mata pria kurus itu berpedar tak tentu arah mencari-cari kain yang dilihatnya tadi. tapi nihil, lama mencari namun kain itu seolah hilang tak berbekas.
" yah sudahlah, ngapain juga gue pikirin, " gumam bang juki, " heh sudah pukul sembilan lebih tapi ujan belum raat, " lanjutnya sambil matanya melirik sedikit ke arah arloji sederhananya.
"bang juki....,"
" Iya neng, " tukas bang juki. pria itu lantas menoleh ke arah sumber suara. namun ia hanya mengerutkan kening, kebingungan.
Sejauh mata memandang, bang juki hanya melihat kegelapan berbalut sepi
di sepanjang jalan desa. apalagi ditambah dengan riuhnya hujan yang turun. membuat keheningan malam semakin terasa oleh bang juki yang tengah celingukan mencari suara yang tadi memanggilnya.
__ADS_1
jelas-jelas ia mendengar suara wanita! meskipun pelan namun bang juki masih jelas mendengarnya.
merasa keadaan semakin aneh, pria berjaket hijau khas go-jek itu semakin merinding tak karuan.
" aih siapa sih yang tadi manggil? apa gue salah denger ya? " cetus bang juki penuh keheranan, " kok jadi merinding gini sih. mana di belakang kuburan lagi, " ungkap bang juki cemas. telapak tangannya dengan gusar mengusap bulu tengkuknya yang tiba-tiba berdiri.
" bang juki....bang tolongin saya bang, "
muak dengan suara itu lagi, juki—bapa dari satu anak itu berteriak keras.
" woy kalo berani tunjukin muka lu! jangan kaya banci, " omel bang juki sembari bersungut–sungut. meskipun hatinya dilanda ketakutan yang hebat, namun matanya mendelik-delik liar layaknya singa yang mencari mangsa.
penglihatannya menyapu kegelapan di sekitarnya. sumber cahaya nampaknya hanya berasal dari neon kecil yang tergantung lemah di pangkalan ini. membuat suasana agak remang-remang nan temaram menyambut gelapnya malam.
bang juki berkeringat dingin. peluh basah terasa mengalir pelan bak embun melewati dahinya. padahal ini bukan pertama kalinya ia terjebak di tengah guyuran hujan seperti ini.
" nyari saya bang, "
sontak bang juki menoleh ke arah samping, dan pria itu hanya membelalakan mata, kaget, seperti sapi yang bertemu tukang jagal, pasrah dan ketakutan.
Tepat di samping bang juki, berdiri sesosok berkain putih lusuh penuh tanah merah. kafan lusuh itu berukuran cukup lebar, beberapa noda merah mewarnai bagian bawah dan atas sosok itu.
kafan putih itu terlihat membungkus seorang wanita. namun bukan wanita yang biasa bang juki temui di pasar, melainkan wanita dengan wajah hancur penuh darah bercampur nanah.
" Tolong Saya bang juki...tolong galikan kuburan saya bang..., " beberapa belatung busuk segera berjatuhan dari kening sosok itu. belatung-belatung itu menggeliat di dekat kaki bang juki.
bang juki masih terdiam dengan mata melotot dan mulut terbuka sebelum pria itu sendiri berteriak, "" Setaaaannnn...."
dengan langkah tergopoh-gopoh disertai rasa mules yang muncul tiba-tiba, bang juki bergegas pergi menjauhi sosok yang hanya diam sambil tertawa lebar.
"hihihi...mau kemana bang, "
" anjir lo, apes banget dah gue sekarang, " umpat bang juki saat hendak lari menuju motor bututnya.
" hi...hi...hi...hi..."
Cipratan air lumpur bertebaran mengiringi langkah dari pria itu saat menginjak lantai tanah yang basah. Hembusan angin yang dingin menghempas peluh keringat bang juki yang tengah bersusah payah menghidupkan motor tuanya yang mendadak sekarat disaat yang tak tepat.
" beh! lo malah mati lagi tong, " Ujar panik bang juki dengan wajah basah penuh peluh. Di tengah perjuangannya menghidupkan si totong–nama motornya, sesekali matanya bergulir menatap sosok itu kembali. Namun yang ia lihat ternyata....
" lho kok ga ada? " gumam bang juki saat mencari sosok yang tadi menghantuinya kini raib entah kemana.
" mane tuh setan bangs*t, biar gue patahin lehernya, " ujar bang juki kesal, " lagian ganggu orang aja sih huh, " sambung bang juki merutuk dalam hati.
__ADS_1
"...bang juki...bang juki " sapaan bernada menggoda itu terdengar berbisik pelan di telinga bang juki. Bisikan bak biduan menggoda iman itu seakan meruntuhkan dinding keberanian bang juki yang kembali lemas tak berdaya.
Di tengah guyuran hujan, bahu pria itu terlihat bergetar hebat. Saat udara lembab nan dingin menusuk kulit, semerbak bau busuk berpedar melewati hidung. Penciuman bang juki kembang-kempis menahan mual.
" saya disini bang hi...hi...hi..., "
Bang juki menoleh ke belakang, dan...
betapa kagetnya ia saat melihat sosok mengerikan tadi sekarang tengah duduk manis di jok motornya.
" ki, ki, ki, " ujar bang juki terbata, " ...nanti "
"tolong saya bang...sempit...sakit...gelap,"
Suara lirih nan pilu itu berdesir membelah gendang telinga bang juki yang diam membisu tak berucap. Lagi-lagi mulut pria itu menganga tak percaya, menampilkan sederet gigi tonggos yang menyembul keluar.
" gali kuburanku... hi...hi...hi..., "
seekor kelabang hitam keluar dari balik rongga mata yang bolong. Wajah pucat penuh sayat tak beraturan itu kemudian menyeringai ke arah bang juki.
" gelap malam mengiringi tawaku...
" senandung pilu menemani sepiku...
" dalam pengapnya kuburan aku meratap...
kidung bernada sendu itu terdengar mengalun di sepinya malam tanpa arti. sebuah kidung penyampai kesedihan dari sosok wanita bergaun putih lusuh yang kini tengah memeluk erat bang juki dari belakang.
" Kaburrr..., " teriak histeris bang juki. nampaknya ketakutan pria itu telah sampai di ubun-ubun. membuat pria perayu janda itu mengumpulkan kembali kekuatannya guna menghidupkan motor bobroknya.
Dengan selahan terakhir penuh tenaga, motor tua bergaya 90'an itu akhirnya dapat menyala. nafas tersengal-sengal bersamaan dengan degup dada yang berdebar, melepas kepergian bang juki yang mengebut bak orang kesetanan.
Pria itu memacu motornya menerabas guyuran hujan yang masih menyapu jalanan.
TRENGGG!!!
Asap Tipis putih mengepul dari knapot bermodel bebek pria itu. Mengawang ke angkasa malam bersatu padu dengan kabut dingin yang bergumpal di atas atmosfer bumi.
" tolong aku... dingin... Mas aryo..., " bisik pelan penuh kesedihan dan...
...dendam
TO BE CONTINUE
__ADS_1