
Suara gedebuk itu membuat pak hendra dan ozil terperanjat kaget. kedua orang itu saling memandang satu sama lain, bertanya-tanya, suara apa itu.
" suara apa itu beh? " tanya ozil dengan suara tercekat.
Pak hendra menggeleng pelan. pria tua itu sendiri juga tidak tau suara apa yang barusan terdengar. yang pasti, ia akan memeriksanya.
Pak hendra bangkit berdiri. langkahnya tertatih-tatih menuju pintu gubuk. asap putih tipis keluar dari sebatang klobot di mulutnya.
" mau kemana beh? " tanya ozil pelan.
Pak hendra menoleh pada ozil, lalu berujar.
" gua mau meriksa suara tadi. barangkali ada batang pohon yang tumbang, kan lumayan buat bikin api unggun, " tandas pak hendra seraya membukakan pintu gubuk itu. semilir hawa dingin kembali terasa.
" biar gue temenin beh, tapi..., " sahut ozil terputus.
" tapi apaan, "
" ...perempuan tadi gimana beh, kok gue ngerasa firasat yang gak baik ya beh, " cetus ozil sedikit khawatir.
Pak hendra hanya menghela napas. detik berikutnya pria ringkih itu kembali berkata.
" heh lu masih ngomongin aja tuh perempuan, mungkin itu saudaranya si kinanti yang mau dateng ngelayat, udah gak usah dipikirin, " jelas pak hendra sedikit jengkel.
" iye, iye, sewot banget lu beh, " gerutu ozil. pria itu kemudian bangkit lalu berjalan mendekati pak hendra.
" ikut juga lu, gue kira lu bakal ketakutan liat setan, " sindir pak hendra mengejek.
" sialan lu beh, gue khawatir aja lu ntar malah ilang digondol genderuwo, " timpal ozil sambil tertawa-tawa.
pak hendra hanya tersenyum kecil. ozil meskipun pemuda itu bersikap seperti kurang dewasa, namun dengan kehadirannya lah, dunia pak hendra yang kelabu, bisa sedikit berwarna. ozil sudah ia anggap sebagai putranya sendiri. menggantikan putra aslinya yang sudah dimakamkan disini.
kedua pria itu keluar dari gubuk menyambut dinginnya kabut senja. lentera kuning di samping gubuk bergoyang pelan manakala semilir angin lembab datang melanda. keadaan hening menyelimuti tanah keramat itu. lemah bongko, tanahnya orang-orang mati.
Ozil dan pak hendra berjalan beriringan membelah tiap-tiap batu nisan yang ada di kanan dan kiri mereka. Kedua orang beda usia itu menerjang lautan nisan.
" herrr...dingin juga cuacanya, " ozil yang berjalan paling depan menoleh melihat tiap-tiap nisan tua yang berlumut. pria botak bertumpluk hijau itu sedikit bergidik ngeri melihat batu-batu nisan yang tersembul tak beraturan. Sebagian besarnya sudah rusak parah. mungkin karena saking jarangnya ada orang yang mau peduli terhadap kondisi makam-makam yang ada disini.
" beh, bagi dong rokoknya, enak banget lu dari tadi nyebat sedang gue kagak, " omel ozil pada pak hendra yang masih berjalan melewati tiap makam.
Pak hendra menoleh menatap ozil. pria tua itu bergumam, pelan.
__ADS_1
" ada sesuatu yang aneh di makam itu zil atau mata gue aja yang salah liat ya, " gumam pak hendra.
Ozil terkesiap mendengar penuturan pria itu. dengan dahi mengernyit, ozil bertanya.
" makam apa beh, ah lu jangan nakutin-nakutin gue dah, " hardik ozil sedikit ketakutan. matanya awas melihat ke sembarang arah. firasat tak menyenangkan yang sejak tadi ia rasakan, semakin kuat terasa.
Pak hendra meneruskan perkataannya.
" makam yang deket pohon kamboja, makamnya si kinanti, " bisik pak hendra seraya melirik makam yang ia maksud.
Bahu ozil rasanya lemas setelah mendengar penuturan pak hendra. ternyata bukan hanya dirinya saja yang menyadari keanehan itu. pak hendra juga.
Sejujurnya, sejak ia keluar gubuk, ia begitu penasaran sekali dengan sosok yang tadi ia lihat di makamnya kinanti. dengan bermodal rasa penasaran juga secuil keberanian, diam-diam ozil mengamati makam kinanti yang berjarak tak jauh dari tempatnya berdiri. hanya dipisahkan oleh beberapa makam.
Saat tengah asyik mengamati di tengah perjalanannya mencari kayu, terjadi suatu keanehan. papan nisan di makam itu seolah bergoyang pelan bersamaan dengan tanah makam yang bergetar.
Entah ozil sendiri yang salah lihat atau memang benar makam itu yang bergetar. Entahlah, yang terpenting saat ini ozil ingin cepat-cepat mengambil kayu bakar lalu pulang ke rumahnya. dia sudah merasa tak nyaman berlama-lama tinggal di tempat ini.
Mereka berdua–pak hendra dan ozil terdiam mematung di tengah barisan nisan. mereka terdiam bukan karena adanya akar menjulur yang menghalangi jalan atau hewan berbahaya yang bersiap mematuk. mereka terdiam karena fokus mata mereka mengamati kuburan kinanti yang semakin terlihat aneh.
Kini kuburan itu bergetar lebih hebat. gumpalan tanah merah di atasnya, perlahan jatuh ke bawah. bersamaan dengan sebuah tenaga hentakan yang membuat tanah di atas makam itu berhamburan ke luar.
Pak hendra serta ozil yang melihat itu terperanjat kaget dan tak percaya melihat fenomena aneh yang barusan mereka saksikan. perlahan, rasa takut kembali hinggap di hati mereka. langit biru kembali bermendung ria. kicauan burung dari pohon laksana jeritan para arwah yang tersiksa. terdengar nyaring dan memekakan telinga.
Tak jauh berbeda dengan pak hendra, ozil juga menggigil hebat menahan rasa takut. pria plontos itu menatap tak percaya pada kuburan kinanti yang kian berantakan dengan sendirinya.
" g-gue juga kagak tau beh, lebih baik kita kembali ke gubuk, gue gak mau ada apa-apa nantinya, " saran ozil tergagap-gagap.
" nanti dulu zil, gue penasaran ama tuh kuburan. gimana kalau kita lihat lebih dekat, " ujar pak hendra memberi usulan.
Sontak kalimat pak hendra mengundang tatapan tajam dari ozil.
" lu gile beh, gue ogah kalo kesana, " tolak ozil dengan cepat. perlahan di tengah terjangan angin dingin, matanya menatap setipis asap putih yang keluar dari celah-celah papan nisan. asap yang makin lama makin membumbung ke angkasa.
" beh, itu makamnya si kinan keluar asep putih, " teriak ozil sedikit panik.
" iye makanya gue khawatir kalo tuh makam tadi kesamber petir, " ucap pak hendra. pria itu seketika berlari menuju makamnya kinanti.
Tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada pak hendra, ozil terpaksa mengikuti laju pria tua itu dengan hati penuh gelisah.
Kedua pria itu berlari menyibak rumput serta ilalang yang menghalangi mereka. jaket dan mantel mereka berkibar diterpa angin. asap putih makin menggumpal keluar dari makam.
Selang sekian menit berlalu, pak hendra dan ozil sampai juga di depan makam kinanti. namun mereka tetap menjaga jarak dengan makam itu.
__ADS_1
" waduh ada apa ama ni makam, " ozil bertanya-tanya dengan wajah heran bercampur penasaran.
Makam kinanti masih mengeluarkan asap putih pekat. sementara gejolak tanah di makam itu makin terlihat. sejumlah bunga yang telah layu bertebaran di bawah.
" sebenarnya ada apa dengan makam istrinya aryo ini? " pak hendra juga bergumam dengan wajah berpikir.
Namun di detik berikutnya, ekspresi penasaran dan heran ozil dan pak hendra berubah menjadi ekspresi penuh kengerian saat melihat sesuatu yang keluar tersembul dari balik kubur.
" astagfirlullah, pak hendra, " teriak ozil ketakutan. pria botak itu meloncat ke belakang hingga jatuh terduduk. wajahnya syok ketika melihat sesuatu yang ada di tengah makam kinanti.
lolongan anjing terdengar saling bersahutan dari kejauhan. semerbak aroma amis darah bercampur bangkai tercium meracuni udara pemakaman ini. petir terdengar menyambar dari kejauhan.
Pak hendra jatuh lunglai tak mampu menahan bobot tubuhnya yang mendadak lemas tak bertenaga. mulutnya terbuka dengan tampang wajah yang ketakutan. mata tuanya terlihat sayu ketika sepenggal kepala berbalut kain kafan itu menyembul keluar dari lubang kubur.
Kepala berbalut kafan kusam itu terlihat tersenyum mengerikan ke arah ozil dan pak hendra. mata hitamnya melotot tajam memandang ke arah dua pria yang sama-sama tertunduk ketakutan. dari balik wajah pucatnya, kepala pocong itu tersenyum menyeringai ke arah mereka. menampilkan deretan gigi hitam busuk dengan belatung-belatung yang menggeliat.
" bang ozil... "
suara lirih itu memecah kesenyapan dalam nuansa hitamnya awan langit. lolongan anjing makin keras terdengar. hembusan aroma busuk tercium oleh ozil yang telah pucat pasi. wajah pria itu semakin mengkerut tatkala sosok kepala pocong itu memanggil namanya dengan suara pelan, namun mengerikan. sosok itu kini menatap ke arahnya, dengan matanya yang hitam mengucurkan darah merah. diiringi oleh tawa kikik yang mampu membuat siapa pun lari terkencing-kencing.
Pak hendra sendiri sudah tak mampu menopang kesadaran dirinya. pria sepuh itu lalu tergeletak pingsan tak sadarkan diri. menyisakan ozil seorang yang masih bertahan.
mas aryo, temani aku di bawah sini mas...
Ingat dengan janjimu dulu... hiks hiks hiks
Dengan tangisan lirih menyayat hati, sosok kepala itu menggeliat-geliat lebih hebat. kepala berbalut kafan itu nampak bergetar hebat, sebelum...
WUSSS!!!
Kepala itu terbang dengan tubuh lengkapnya yang berbalut kafan. Jauh ke atas angkasa raya yang mulai kembali dihiasi mendung kelam. lalu hilang entah kemana. menyisakan tanah makam yang porak-poranda serta dua orang pria yang tergeletak lemas tak berdaya.
Ozil berusaha bangkit lalu menampar-nampar wajahnya yang masih menahan ngeri. pria botak itu masih belum percaya dengan kejadian yang tadi menimpanya. ozil berusaha menenangkan jantungnya yang berpacu kencang.
Saat pria itu sedang menenangkan diri, dirinya tiba-tiba teringat pada sesuatu.
" aryo...gue harus peringatin tuh orang kalo dia sedang dalam bahaya, " gumam ozil berbisik dalam hatinya.
Dengan napas memburu, ozil melangkah maju menuju gerbang masuk lemah bongko. pria botak itu berniat memberitahu sahabatnya aryo, jika kegelapan akan datang mencelakainya.
Akan tetapi, saat kakinya mulai berayun, ozil melihat pak hendra yang tersungkur pingsan.
Ya allah pak hendra!
__ADS_1
TO BE CONTINUE