
" Setiap orang yang pernah melintasi jalanan rumahmu di malam hari pasti akan melihat sosok perempuan itu mas "
" a-apa maksudmu jun? Kamu tidak bercanda kan? "
" aku mengatakan yang sebenarnya mas aryo. aku tidak bohong, bahkan aku pun pernah beberapa kali melihat sosok itu kemarin malam, " tandas juno menghela napas. sorot matanya menatap sekilas cangkir kopi yang mulai mendingin. bibir hitamnya mengeluarkan setipis putih asap rokok.
juno terdiam begitu pun dengan aryo. kedua pria itu sibuk dengan pikiran masing-masing. Jam di dinding berdetak pelan. pukul sepuluh malam adalah waktu untuk tidur, namun tidak bagi mereka. mereka masih menunggu, menunggu malam mencekam ini secepatnya berlalu.
" Sebenarnya ada apa dengan semua ini jun? rasanya semua ini terasa aneh, " cetus aryo sambil memandang atap-atap langit rumah.
Juno menggeleng pelan.
" aku juga gak sepenuhnya paham mas, dengan apa yang terjadi. yang pasti keadaan desa sekarang lagi gawat darurat mas, " ungkap juno serius.
" maksudmu? " tanya aryo bingung.
Juno terdiam beberapa saat, Kemudian berujar.
" mas aryo masih ingat dengan maman, anaknya kang jali ama mpok ningsih yang hilang itu? " ujar juno memberi pertanyaan.
Aryo mengangguk. tentu saja dia ingat dengan anak dari jali yang raib secara misterius. dan kabarnya sampai sekarang, anak itu belum diketahui keberadaannya. namun untuk apa juno mengatakan hal demikian pikir aryo penuh tanda tanya.
" tentu saja aku masih ingat, memangnya kenapa jun? " sahut aryo makin kebingungan.
Juno melanjutkan kalimatnya.
" Rupanya kasus yang serupa juga telah menimpa beberapa keluarga di kampung ini mas, anak-anak mereka hilang secara misterius dan hingga kini mereka belum ditemukan, " kata juno menerangkan dengan wajah pucat. ekspresi mukanya kosong saat menjelaskan itu.
Kopi yang tengah aryo minum tersembur keluar dari mulut pemiliknya. aryo tersedak saking kagetnya mendengar keterangan dari juno.
" a-apa jun, apa itu benar? lalu kemana mereka, anak-anak itu? " tanya aryo membombardir.
" Aku tidak tau, aku menjawab yang sejujurnya mas. bahkan aparat polisi pun sampai kebingungan menangani kasus ini, " seloroh juno.
" lalu apa hubungannya dengan semua ini, dengan kemunculan sosok itu, " tanya aryo masih dengan wajah bertanya-tanya.
Juno melihat aryo dengan pandangan sulit diartikan, sebelum berucap.
" Aku menduga sosok itulah yang menjadi biang keladi dari semua masalah dari hilangnya anak-anak di desa, " tandas juno penuh penekanan.
__ADS_1
" Apa kamu yakin jun? bisa jadi kan semua ini ulah dari para penculik, " ujar aryo.
Juno menjawab kembali, " Penculik mana yang bisa menculik anak-anak dalam waktu berdekatan mas , " imbuhnya.
" Bahkan aku pernah suatu malam melihat ratih anaknya pak RT, sedang berjalan sendirian ke arah alas peteng. ketika aku dan kawan-kawan ronda mencoba untuk menghampiri, terlihat sosok kuntilanak itu berjalan di samping si ratih lalu mereka berdua masuk ke dalam alas, " jelas juno panjang lebar.
" lalu bagaimana dengan si ratih itu jun? " tanya aryo penasaran.
Juno menghela napas berat, " Sama seperti yang lainnya, si ratih juga hilang dan kami tidak punya cukup keberanian untuk masuk ke kawasan gelap itu, " tutur juno bergidik.
Aryo terdiam. isi kepalanya dipenuhi oleh beragam pertanyaan yang meminta jawaban. jantungnya bergetar dan napasnya sesak menahan pilu. haruskah ia menanyakan hal itu kepada juno? sesuatu yang sejak tadi terus mengusiknya.
" jun..., " aryo berujar pelan.
Juno memandang aryo, melihat pria itu dengan wajah penuh tanda tanya.
" apa menurutmu, semua ini, masalah di desa, kemunculan sosok kuntilanak, serta hilangnya beberapa anak-anak, ada hubungannya dengan kematian kinanti, " ujar aryo terbata-bata. bola mata cokelatnya menatap juno tajam.
Juno kelabakan. dirinya tak menyangka jika sahabatnya ini akan bertanya demikian.
" Apa maksud sampeyan mas? " tanya juno dengan gagap.
" jangan pura-pura tidak tau juno, kau dan warga yang lain pasti mengira ini perbuatannya arwah kinanti kan? " tanya aryo dengan nada tinggi.
" sejujurnya, aku juga menduga demikian mas, masalah ini ada sangkut pautnya dengan kematian mbak kinanti, " jawab juno hati-hati. pria berusia dibawah aryo itu berusaha agar kalimatnya tidak satu pun menyinggung aryo.
" maaf lho mas aryo kalo kalimatku tadi menyinggung sampeyan, tapi aku mau nanya, apa setelah wafatnya mbak kinanti, ada sesuatu yang aneh dalam hidup sampeyan, " tanya juno penasaran.
" kau benar jun semenjak kematian dari istriku, hal-hal aneh acap kali terjadi di rumah kinanti, terutama dengan suara tangisan serta sebuah kamar misterius yang aku sendiri juga tidak tau kamar apa itu, " jelas aryo.
Juno merinding tak karuan. tapi dia juga penasaran dengan kamar yang aryo maksud.
" kamar mas? " tanya juno bingung.
Aryo mengangguk, " iya jun. sebuah kamar tua yang bersebelahan dengan kamarku. saat kinanti masih hidup dulu, dia selalu saja melarangku untuk melihat isi kamar itu. bahkan ia tak segan-segan untuk menamparku jika aku sampai memaksa masuk, " lanjut aryo kembali dengan tatapan sedih.
Juno terheyak mendengar cerita dari sahabatnya. Ia perlahan mulai memahami sesuatu.
" Apa jangan-jangan mbak kinanti–" juno terpaksa menghentikan kalimatnya saat keraguan itu muncul di hatinya.
__ADS_1
" jangan-jangan apa jun? " tanya aryo heran.
Juno menggeleng dengan senyum canggung. tidak! dia tidak boleh berasumsi terlalu jauh. perlu beberapa bukti untuk menguatkan spekulasinya tadi.
" enggak mas, aku malah lupa mau ngomong apa hehe, " balas juno tertawa kikuk.
Aryo tersenyum kecil, sebelum tatapannya kembali pilu.
" andaikan sosok kuntilanak itu adalah penjelmaan arwah kinanti, maka aku siap untuk menebus segala kesalahan yang telah diperbuat oleh istriku itu, " ungkap aryo.
Juno membisu sambil mendengarkan ungkapan temannya ini.
" itu bukan arwah istrimu mas, itu adalah jelmaan iblis yang menyerupai istrimu. pasti ada sesuatu yang telah terjadi disini, sesuatu yang menjadi awal dari semua ini, " timpal juno menenangkan aryo.
Lampu bohlam sedikit berkedip remang menyinari kedua pria itu yang terpaku membisu. suara lolongan anjing mengusik kesunyian dari kejauhan. bersamaaan dengan tamparan keras angin malam pada kaca jendela.
" jun, untuk beberapa hari kedepan, aku izin menginap di rumahmu ya, " aryo berucap pada juno.
Seraya menghembus asap rokok, juno tersenyum mengiyakan.
" tentu saja boleh mas, dari pada sampeyan kembali ke rumah itu. Yang ada ntar malah diganggu, " tukas juno.
Aryo menyunggingkan senyum. beruntungnya ia memiliki sahabat baik seperti juno, bisik aryo dalam batin.
" aku izin ingin istirahat dulu jun, apa ada kamar yang bisa kutempati? " ucap aryo.
" ada mas aryo, kamar yang disana kosong, " tukas juno seraya menunjuk pada sebuah kamar dekat Tv.
Aryo manggut-manggut. Pria itu beranjak berdiri lalu melangkah menuju kamar yang ditunjuk oleh juno. dirinya malam ini sangat lelah. fisik dan jiwanya terasa merintih. Ia ingin beristirahat, menyosong cakrawala esok pagi.
" mas aryo, mas tau mbak dinda, perawat dari kota itu? " mendadak juno bertanya.
baru setengah jalan ia melangkah, suara juno terdengar dari belakang.
Aryo menoleh lalu menjawab
" tau dia temanku memangnya kenapa? " balas aryo bertanya.
" Sore tadi saya dapat kabar dari warga, kalo mbak dinda katanya ditemukan tergeletak di jalan menuju dusun dukuh mas, " kalimat juno singkat, namun sudah cukup membuat aryo terjengkang saking kagetnya.
__ADS_1
" a-apa! "
TO BE CONTINUE