Rintihan Dari Balik Kubur

Rintihan Dari Balik Kubur
bab 4 : korban pertama yang hilang


__ADS_3

" enya, dede laper, pengen mamam bubur," suara mungil yang merengek itu terdengar sayup membangunkan seorang wanita dari tidur lelapnya di ranjang. Tangan kecilnya memegang pipi sang ibu yang terbangun dari mimpi indahnya.


"" nya...enya bangun dong, " rengek manja si anak.


" iya..iya, gangguin gue aja lu man, " sembari menguap pelan, wanita yang sehari-hari dipanggil ningsih itu lalu beranjak dari tidurnya. meskipun ngantuk tak tertahan plus kesal kepada anak semata wayangnya, tapi sebagai seorang ibu, ia masih harus tetap menuruti keinginan anaknya ini.


bangun dari tidur membuat penglihatan wanita berumur dua puluh tujuh tahun itu agak mengabur. Sembari mengerjapkan mata pelan, ningsih berusaha menyesuaikan netranya dengan kegelapan yang ada.


" ning...nang...ning...nung, "


suara pelan penuh ratapan itu terdengar di tengah gemuruh hujan yang turun di luar.


Ningsih terdiam, begitu pun dengan maman–anaknya yang juga ikut terdiam. Cicit tokek di platform rumah terdengar nyaring memecah senyap yang menulikan telinga.


" Suara apaan tuh? Kok kaya orang lagi nyenandung sih? " gumam ningsih heran.


" nya, maman takut, ada tante serem deket pintu, " maman si bocah berusia delapan tahun itu mendadak menjerit tanpa sebab. Di tengah keremangan kamar yang samar-samar, telunjuk kecilnya menunjuk ke arah sudut kamar yang gelap.


sontak pandangan ningsih mengikuti telunjuk sang anak. Namun setelah diteliti ternyata...


Kosong!


Ia tak menemukan apa-apa di kegelapan sana. Hanya angin pelan yang berdesir dari balik celah ventilasi.


" tante apaan lu tong, aneh-aneh aja!" hardik ningsih kesal.


" itu nya tadi tantenya liatin terus ke kita, " cetus pelan maman, " matanya merah, mukanya item. Serem nya, " bisik maman dengan pandangan yang masih melihat ke arah sudut ruangan tadi.


Suasana kamar yang remang membuat kedua anak‐beranak itu tak terlalu jelas melihat keadaan sekitar. Pandangan ningsih berpedar menyusuri tiap sudut ruang kamarnya, lampu yang mati seakan membuat matanya tersiksa.


" udeh ah lu nakut-nakutin gue aja tong, katenye lu laper tadi. Bentar enya mau ambilin nasi, " ucap ningsih. Wanita berbadan gemuk itu lantas bangkit dari ranjangnya.


" jangan lama ya nya, maman takut sendirian disini, " cetus bocah itu dengan nada cemas. bola matanya bergulir melihat ke arah sang ibu yang tengah mengambil sebuah senter panjang.


Ningsih yang tengah susah payah menghidupkan senternya itu, melirik sekilas ke arah sang putra yang masih meringkuk di ranjang, " iye tong, lu baek-baek disini, jangan kemana-kemana, " nasihat ningsih panjang lebar kepada maman.


Tak ada sahutan, hanya keheningan yang entah mengapa terasa mencekam. dari balik selimut, penglihatan maman mendadak terkejut saat ia melihat ke arah sang bunda. Dari balik gelap, maman melihat...


" Ya udeh tong, gue ke dapur dulu ye. elu sih rese bener dah malem-malem minta makan, " ungkap ningsih masih agak jengkel.


" Nya, itu nya..., " tunjuk maman ke arah ningsih. Bahu kecilnya bergetar pelan. Dahinya terlihat basah oleh keringat yang mengucur. Matanya mendelik-delik ke arah ningsih yang tengah berdiri bingung menatapnya.


Anak kecil itu menggertakan gigi menahan ngeri saat menyadari jika sedari tadi ada sesuatu yang berdiri di samping ibunya.


" Apaan lagi lu tong, " tanya ningsih yang sudah semakin jengkel dengan anaknya ini.


" nya..., " cetus maman lirih, " itu tante seremnya ada di deket enya, " sambungnya lagi.


Mendengar seruan anaknya itu Ningsih lantas menolehkan kepala, dan di detik itu juga, matanya tercengang saat ia melihat...


...****************...


" Abang pulang, " ucap seorang pria berjaket abu-abu itu seraya membuka pintu rumahnya.


KRIEEET!!!


Di tengah hantaman hujan badai yang mendera kampung, suara Derit pintu terdengar kala pria bernama lengkap rojali itu membuka pintu rumahnya.


" wah udeh pada tidur kayanya, " cetus rojali yang sering dipanggil bang jali saat melihat kondisi rumah yang nampak sepi.


Dalam ruang tamu yang temaram, pria satu anak dan istri itu melihat beberapa batang lilin yang terpasang di sudut rumahnya. Membuat suasana magis sangat terasa di rumah kecilnya ini.

__ADS_1


" busyet, rumah gue udah kaya ajang pesugihan aje, " kelakar jali sembari terus melangkah menuju kamarnya berada, " kira‐kira si ningsih udh tidur belum ya? " gumam pria itu.


" bang jali..., " bisik sebuah suara.


saat gelap dan hening menyelimuti, jali yang tengah melangkah pelan mendadak berhenti. Ia terdiam di tengah jalan saat telinganya mendengar sebuah bisikan.


" bang jali...udah pulang bang, " bisik suara itu lagi. Suara itu terdengar lirih dari samping kanannya.


" ya allah ningsih! " teriak kaget jali tiba-tiba. Refleks pria itu berbalik badan ke arah kanan, ke dapur yang menghubungkan ruang tengah dengan ruang makan.


Dalam gelap yang temaram, sebuah siluet besar yang ternyata ningsih terlihat samar-samar keluar mendekati jali.


" abang udah pulang? " tanya ningsih tersenyum, " bawa makanan apa kage bang? " tanyanya sèkali lagi. Pipi tembemnya sedikit menyunggingkan senyum.


Melihat istrinya yang sebesar gajah, detak jantung jali sedikit reda. Ia lantas menimpali, " laki baru pulang langsung nanyain makanan, dasar gentong, " sindir jali pada ningsih.


Ningsih hanya diam tak membalas ejekan suaminya itu. mungkin ia tersinggung atau apa, entahlah.


" Gimana bang ama acara tahlilan di rumahnya bang aryo? Jadi apa kagak, " tanya ningsih lirih. Wanita itu perlahan mendekat ke arah jali, menyejajarkan tubuh besarnya dengan tubuh ceking sang suami.


" kagak jadi, gua ama jemaah yang lain tadinya emang mau ke rumahnya si aryo, tapi karena ujan deras, jadi gua lebih milih balik ke rumah, " terang jali kepada ningsih.


Ningsih kembali diam. Wanita berhijab kuning itu tiba-tiba menundukan kepalanya.


Jali hanya terheran-heran saat melihat istrinya ini, apalagi ditambah dengan roman muka ningsih yang terlihat pucat pasi.


"Ada apa dengan istrinya ini" begitulah kira-kira yang ada di benak jali kala itu.


" bang...kenapa abang malah pulang? " ningsih yang masih menunduk, bertanya pada jali.


Jali yang bertambah heran, seketika menjawab, " lu budeg ye, jelas-jelas tadi gue bilang, gue pulang karena ujan tambah deras, " terang jali lagi, " udeh ah, lu aneh-aneh aja, dimana si maman? " lanjut jali seraya menanyakan keberadaan anaknya-maman.


tak menjawab, ningsih malah menunjuk ke arah kamar anaknya.


BABEHHH!!!


Jali tersentak kaget. Saat mendengar suara anaknya yang berteriak kencang memanggilnya.


" ada apa man, " sahut jali kaget. Bergegas pria berjaket itu berlari menghampiri kamar sang anak. Gurat kecemasan terlihat terpahat rapih di tiap lekuk wajah pria itu.


BABEHHH!!!...


BANG JALI!!!...


DEG!


Diantara sahut-menyahut teriakan yang menggemparkan seisi rumah, wajah jali mendadak pucat, saat telinganya menangkap sebuah suara yang tak asing baginya.


" ningsih...," gumam jali pelan, " bukannye tu orang tadi ada di belakang gue ye? " bisik jali was-was.


menyadari ada sesuatu yang janggal, jali segera menghentikan langkahnya. Pria itu lantas menoleh ke belakang guna memastikan.


Saat pria itu menoleh ke belakang, jali seketika terkesiap pelan.


" Bang jali..., bang jali....,"


dalam gelap yang mencekam di ruang tengah, jali melihat sesuatu yang melayang mendekatinya.


Jali menyipitkan matanya guna memastikan apa yang tengah hadir di depannya. saat sosok itu semakin mendekat, bola mata jali nyaris melompat dari tempatnya, ia melihat...


" jali...jali..., " sosok yang melayang dengan balutan kain putih berbau busuk itu dengan cepat menghampiri jali. Suhu mendadak menjadi dingin, bersamaan dengan bau busuk yang tercium dimana-mana. tubuh jali bergetar hebat menahan rasa takut yang menyerangnya.

__ADS_1


" S-siape lu? " lontar jali gemetaran.


Sosok itu kini berhenti melayang, kaki pucatnya menapak lantai rumah. Dari balik wajah penuh luka sayat dan darah, sebuah seringai tercipta dari bibir hitam wanita itu.


Jali bergidik ngeri saat melihat sosok mengerikan itu.


" Jali..." desis sosok itu, " ...tolong gali kuburanku, sakit, perih...," lanjutnya sembari menangis darah diikuti oleh ratapan lirih seolah menyimpan kesedihan yang teramat dalam.


Jali tak menjawab, pria itu hanya mematung layaknya arca batu. wajahnya membeku, rautnya menahan pilu, serta celana bawahnya basah oleh air seni.


" S-setaaaaaaaaan, " teriak jali ketakutan. Serentak saja Kakinya melangkah terbirit-birit bak seorang pencuri. Pria itu berbalik badan, kabur ke arah kamarnya.


" hi...hi...hi...jali...., " ujar sosok itu sesaat sebelum menghilang.


Sedangkan dengan jali sendiri, sembari tergopoh-gopoh penuh kepanikan, pria bertubuh kurus itu berlari sekuat tenaga.


Sementara di luar, gemerlap petir terus menyentak tubuh semesta, airnya turun mengalir bak cucuran keringat dari pelipis langit.


DRAP...DRAP...DRAP...


bunyi hentakan kaki jali menggema di sepanjang lorong rumah bertembok itu. Membawa pria itu menyusuri lebih jauh labirin gelap rumahnya.


" An*jing! Tolongin Gue, " teriak jali.


setelah melewati belokan sebuah bilik, ia bergegas masuk ke satu ruangan yang nampak remang-remang, ruangan kamarnya.


" hosh...hosh...hosh..., apa-apaan tadi! " bisik jali penuh ketakutan, " apa gue salah penglihatan ya, " lanjutnya dengan napas yang memburu.


Pria itu bersandar di pintu kamar. seorang diri dalam gelap yang nampak temaram. Ia berusaha mencari anak istrinya yang tadi memanggil, namun gelapnya kamar membuat penglihatannya agak kabur.


Di tengah suasana yang mencekam, jali teringat kepada istri dan anaknya. Ia memanggil mereka dengan suara keras.


" maman, ningsih kalian dimana? "


Tak ada sahutan. semuanya benar-benar sunyi nan sunyi. deru hujan di luar terdengar menghujami atap rumah. Jali kian tak nyaman dengan keadaan ini.


" bang jali..., "


Jali yang sedang menenangkan diri, mendengar suara perempuan yang dikenalnya.


" ningsih..., " gumam jali. Buru-buru pria itu bangkit dari duduknya, lalu berniat membukakan pintu. namun saat tangannya sudah memegang knop pintu, ada perasaan ragu menyelimuti hatinya. bagaimana jika itu bukan ningsih melainkan makhluk menyeramkan itu lagi.


Jali kembali ketakutan. debaran jantungnya bagaikan ditabuh dengan keras. keringat dingin turun membasahi pelipis. Jali mundur beberapa langkah ke belakang saat melihat pintu yang digedor dengan keras.


DOK! DOK! DOK!


" bang jali...bang jali...buka bang, ini gue ningsih...buka bang! " suara ningsih terdengar dari luar kamar. Gedoran di pintu semakin keras bersama dengan isak tangis pilu.


" ning itu elu? " tanya jali dengan ragu.


" ini gue bang...cepet buka pintunya, anak kita bang...si maman–" suara ningsih terputus-putus dengan isak tangis yang semakin keras terdengar.


BRAK! Secepat kilat jali membukakan pintu manakala ningsih yang ternyata tengah berdiri di dekat ambang pintu menyebut nama anaknya.


" kenapa ama maman ning! mana tuh bocah kok gak ama elu? " ujar jali dengan pertanyaan bertubi-tubi. Raut kecemasan terlihat jelas di wajah jali. Napasnya menderu-deru saat melihat ningsih yang masih menangis diam.


" jawab ning! " bentak jali keras.


dengan nada terbata-bata serta lelehan air mata yang masih turun, ningsih berkata.


" anak kita hilang bang...wanita itu ngambil maman, " tukas ningsih bergetar.

__ADS_1


Malam merangkak semakin larut. petir di langit bagaikan lidah api yang melecut-lecut menggentarkan hati. tinta hitam telah menetes di atas kertas. Membuka catatan teror yang sebentar lagi menghampiri.


TO BE CONTINUE


__ADS_2