Rintihan Dari Balik Kubur

Rintihan Dari Balik Kubur
bab 13 : Mimpi aneh


__ADS_3

~ bumi tak dapat berputar bila tak dibantu hembus nafasmu ~


~ matahari tak dapat bersinar bila tak dibantu nyala matamu ~


~ dan duniaku tak akan hidup bila pintu hatimu tertutup ketahuilah aku menyerah … ~


Perlahan dengan gerakan lambat, pria itu membuka kedua kelopak matanya. sinar putih menyambut netra matanya kala ia membuka mata. namun sejurus kemudian, ia terkejut dengan wajah bingung.


"Dimana aku? " bisiknya pelan


Pria itu adalah aryo. ia begitu terperangah melihat keramaian ini. sebuah keramaian yang hadir di depan kedua matanya dan membuatnya tak bisa berkata apa-apa.


Pandangannya melihat dengan heran ke arah orang-orang yang sedang duduk di meja bundar. kerlap-kerlip lampu menyinari ruangan ini, dengan alunan musik merdu yang terdengar dari berbagai penjuru.


Aryo sendiri duduk di salat satu meja. entah bagaimana ceritanya ia bisa ada disini.


matanya mengerling dengan bingung dan resah melihat orang-orang yang tak dikenalinya terlihat tertawa-tawa. mereka hilir mudik menikmati lagu yang sedang berputar dari atas sebuah panggung kecil lengkap dengan para pemain musik orkestra beserta alat-alat musik khas keroncong.


Sepertinya aryo sedang berada di sebuah pesta atau perayaan. hal ini bisa terlihat dari beraneka ragam dekorasi mewah yang menghiasi ruangan yang dirinya tempati. tak lupa dengan rangkaian bunga serta janur emas yang menghiasi atap-atap mewah ruangan ini. sebuah kemewahan yang belum pernah aryo lihat seumur hidup.


Namun di tengah rasa kagum dan herannya, bola matanya sekali lagi berpencar dengan sorot gelisah.


" sebenarnya dimana aku? dan kenapa aku bisa ada disini? " gumam aryo sekali lagi. pria itu kembali melihat-lihat ke arah sekitar.


~ Dan namamu setiap ku dengar...


terasa memacu detak jantungku...

__ADS_1


~lagu ini sisi gaduhku


berharap meminta engkau milikku ~


Lagu keroncong itu mengalun pelan memecah hening. petikan sinar gitar dan gesekan biola terasa membelai lembut hati para penonton yang tengah menikmati hidangan yang tersaji di depan mereka. namun tak berselang lama, dengan diiringi oleh beberapa tepukan riuh serta suitan gemuruh, para penonton tampaknya menjadi gaduh saat seorang penyanyi hadir untuk memeriahkan acara mereka.


DEG!


Mata aryo terbuka sepenuhnya dengan mulut yang mangap. Ia begitu tak percaya melihat seseorang yang sangat dikenalinya, tengah berada di atas panggung sana. Ia mengenali sosok penyanyi itu.


Tidak salah, dia adalah...


" kinanti..., " desis aryo pelan. matanya beberapa kali mengerjap, berusaha meyakinkan diri jika sosok itu adalah istrinya, kinanti.


Akan tetapi, berapa kali pun ia mengerjap, pandangannya tak pernah salah. ia yakin itu adalah kinanti. Ia kenal dengan wajahnya, bajunya, dan suaranya yang kecil namun merdu. dan yang lebih penting, sepucuk bunga melati putih yang terselip cantik di telinga kinanti. bunga itu adalah pemberian darinya untuk kinanti, dan selalu dipakai oleh istrinya itu setiap kali dia tampil di acara-acara.


Dari sisi meja yang tak jauh dari panggung, aryo melihat para penonton semakin antusias. mereka bahkan sampai berkerumun di sisi panggung, bersorak-sorak menyambut nyanyian dari istrinya.


Tak ada respon dari kinanti. dia masih menyanyi dengan khidmat, rambut panjang hitamnya berkibar dengan anggun. wanita itu masih asyik meliukan badannya di hadapan para penonton yang mayoritas adalah pria hidung belang. beberapa sorakan mesum terdengar dari mereka. dan kinanti semakin menggila dengan liukan badannya.


Aryo yang melihat istrinya dikerumuni bak gula oleh semut, tak ayal langsung naik pitam. dia tak peduli dengan dirinya yang kenapa tiba-tiba ada disini atau mengapa ia bisa bertemu dengan mendiang sang istri, amarahnya naik dan nafsunya membara tatkala melihat tangan dari para bajingan itu meraba-raba area sensitif milik istrinya.


" bangsat! " ujar aryo keras dengan geram. pria itu berlari menuju kerumunan di pinggir panggung, bersiap melayangkan pukulan pada wajah-wajah pencabul istrinya.


Lagu berjudul ' Bumi ciptaan monty tiwa ' itu berubah menjadi suara ******* tertahan. Kinanti di atas panggung semakin digerayang oleh tangan-tangan mesum hingga membuat wanita berkulit kuning langsat itu harus memekik beberapa kali.


Aryo yang sudah sampai dekat kerumunan itu, langsung melepaskan semua emosi yang sudah ia tahan sejak tadi. pria itu berusaha menerobos kerumunan, mencari tangan-tangan kurang ajar yang telah berani mencabuli istrinya itu.

__ADS_1


Akan tetapi, ketika aryo berusaha menerobos sekumpulan penonton itu, terjadi suatu keanehan. ruangan itu mendadak sepi dan hening, bahkan dengan alunan musik keroncong yang tadi nyaring terdengar. tanpa ada yang mengundang, keheningan tiba-tiba menyelimuti ruangan ini. aryo terdiam, begitu pun dengan para penonton yang tadi berteriak histeris tak terkendali, mereka juga terdiam bisu.


" ada apa ini? " bisik aryo heran. entah mengapa firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk. pria itu melihat para penonton yang menundukan kepalanya ke bawah dengan tubuh berdiri mematung. ada apa dengan mereka? Bisik aryo.


Tanpa aryo sadari, kinanti yang tadi memekik, mendadak melihat ke arahnya dengan pandangan dingin. wajahnya yang semula segar dan cantik, tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi. terdapat lingkaran hitam di sekitar matanya. darah merah amis keluar dari hidungnya dengan deras.


Aryo yang melihat kondisi sang istri yang mengeluarkan darah, tak urung berteriak panik. Ketika pria itu akan mendekati istrinya, anehnya tubuhnya tak dapat digerakan. tubuhnya menjadi kaku.


" mas aryo..., " Suara kinanti berubah menjadi berat dan serak. tatapan matanya melihat ke arah aryo dengan tajam. bibir pucatnya menyunggingkan senyum mengerikan.


Aryo perlahan mulai dicekam oleh rasa takut. apalagi ditambah dengan tatapan semua orang yang memandang ke arahnya dengan sorot kosong.


ada apa ini sebenarnya? bisik aryo bergetar.


Kembali terdengar suara kinanti memanggil namanya.


" mas aryo...berikan dia tumbal darah gadis perawan dan anak-anak, dia butuh tumbal. Sulastri..., " Suara kinanti kian berat dan serak, bersamaan dengan munculnya asap tebal berbau hangit di belakang kinanti. setelah asap menipis, aryo dengan mata melotot, melihat sesosok perempuan bertubuh sangat tinggi, tengah menatapnya dengan tatapan membunuh. suhu di ruangan ini berubah menjadi dingin mencekam.


Aryo jatuh bersimpuh ke lantai. semua yang dilihatnya tadi ternyata tidaklah nyata, semuanya fatamorgana semata. kumpulan penonton berubah menjadi barisan nisan tua dan ruangan ini berubah menjadi tanah kuburan.


Lewat sudut matanya yang telah pasrah, aryo melihat kinanti yang sudah berbentuk pocong sedang dicekik oleh sosok tinggi itu.


" Tolong aku mas...beri dia tumbal seratus nyawa anak-anak, agar jiwaku bisa tenang di alam sana, " jerit kinanti kesakitan.


Dan tak lupa dengan sosok perempuan tinggi berwajah sangat menyeramkan. dari matanya yang semuanya putih, sosok itu makin melotot kepada aryo seakan tengah mengintimidasi.


" aku butuh darah aryooo...," suara itu keras menggelegar, membuat gendang telinga aryo serasa hendak pecah.

__ADS_1


Perlahan kegelapan menghampirinya dan pria itu akhirnya...


TO BE CONTINUE...


__ADS_2