Rintihan Dari Balik Kubur

Rintihan Dari Balik Kubur
bab 9 : pak hendra dan barisan nisan


__ADS_3

" Mampus lu zil, "


" ah, asem lu beh, lu curang ya, "


" enak aja lu bilang gue curang, kalah mah kalah aja, "


Teriakan dari dua orang itu terdengar memecah hening di jum'at senja yang kelabu. pohon pisang di samping pos bambu terlihat melambai dihembus oleh angin yang datang. satu buah lentera terpasang di samping gubuk itu. cahaya kuningnya menjadi sumber penerangan yang menyibak gelap di tengah kabut.


Pak hendra si tukang gali kubur nampak girang saat melihat kemenangan gemilang yang akan diraihnya. dengan wajah optimis, sebelah tangannya dengan keras menghentakan kartu poker dengan senyum sumringah.


" yes, gue menang lagi! " teriak senang pak hendra ketika dirinya mengalahkan ozil–si pria plontos dengan telak.


" ****** lu pak hendra, lu pake jimat ya, " tuduh ozil dengan wajah kesal. bibirnya bersungut-sungut melontarkan sumpah serapah. Ini adalah sekian kalinya dirinya kalah melawan pria tua itu.


pak hendra hanya tertawa terbahak-bahak melihat wajah ozil yang terlihat jenaka. apalagi dengan kepala plontosnya yang makin membuat ozil terlihat lucu.


Kedua orang itu sedang asyik bermain poker di tengah suasana mendung berkabut. hari memang belum terlalu senja, namun cuaca yang mendung, membuat keadaan terlihat suram. hembusan angin sore menerbangkan beberapa helai daun dari pohon rambutan di samping pos mereka.


pak hendra berkata, " eh zil, lu yakin kagak mau pulang, kasian lho ama si ratih sendirian di rumah, " celetuk pak hendra kepada ozil. kupluk hitamnya sedikit bergoyang ketika pria yang sudah bertahun-tahun menjadi tukang gali kubur itu mengaduk-ngaduk kopi hitamnya.


ozil menoleh lalu berkata, " ogah ah males. gue lagi ada masalah ama si ratih beh, " tukas ozil.


Pak hendra mengangkat alis, penasaran.


" emang masalah ape sih zil, baru aja lima hari nikah udah ada masalah aja lu, " ledek pak hendra seraya mengulum senyum.


" yah biasa beh, namanya juga pengantin baru, pasti ada aja yang namanya masalah, " kata ozil sambil menghembus napas, " si ratih pengen punya anak beh, " lanjutnya dengan nada malu-malu.


" hahaha... ternyata itu toh masalah elu, " ungkap pak hendra tertawa bak pejabat.


ozil mengangguk dengan wajah menahan malu.


" iya, beh, tadi juga gue abis marahan ama dia, " lanjut ozil lesu.


" lah terus elu nunggu apa lagi tong, sikat dong zil sikat, " kata pak hendra tersenyum menyeringai.


Ozil kebingungan. sikat apaan? WC kah?


" sikat apaan beh? " tanya ozil kebingungan.


Kini pak hendra yang malah keheranan.


" lah, kan tadi bini elu bilang mau punya anak, ya sikat lah ama elu, " kata pak hendra dengan senyum sedikit cabul.


Namun dasar ozil, pria itu tidak paham dengan maksud dari perkataan pak hendra. pria itu terlalu polos, sepolos kepalanya.


" napa bini gue disikat beh, emangnya cucian, " balas ozil murka.


Pak hendra menepuk jidat, lalu berkata dengan nada miris, " elu pas pelajaran biologi kemane aje tong, " ratapnya.


" lah nape malah nyasar ke biologi lu beh, gak nyambung lu, " nyolot ozil.


" terserah lu deh, " ucap pak hendra pasrah.

__ADS_1


Keduanya terdiam dalam pelukan kabut senja yang makin pekat. gubuk bambu tempat keduanya duduk bersama, beberapa kali bergoyang diterpa angin. cicit suara burung terdengar berkoak dari dahan-dahan pohon tua.


Ozil yang sedang diam menikmati secangkir kopi pahit, tergelitik untuk menengok keluar melalui jendela gubuk. pria botak itu bangun dari duduknya, sarungnya ia lampirkan di bahu.


" mau kemane lu tong, " tanya pak hendra pada ozil yang mendekati jendela gubuk.


Ozil menoleh, lalu berkata, " enggak beh, gue mau liat-liat aja pemandangan di luar, " sahut ozil.


" liat apaan lu di kuburan kaya gini, pocong? " kelakar pak hendra disambut tatapan jengkel ozil.


" bacot lu beh, bisa diem napa sih, " kata ozil kesal.


Pak hendra tergelak mendengar bentakan dari ozil. namun tanpa sepengetahuan ozil, matanya juga ikut melirik keluar. ke arah barisan nisan yang tersamarkan oleh kabut putih. gubuk bambu ini memang terletak persis di tengah pemakaman. barisan batu nisan terlihat sejauh mata memandang.


" hih...dingin bener, " kata ozil bergidik. matanya masih mengamati deretan papan nisan dari tempatnya berdiri. saat ozil tengah hanyut dalam suasana hening, secara tak sengaja matanya melihat seorang perempuan di sudut pemakaman.


Ozil terdiam dengan wajah heran. mata memincing untuk melihat lebih jelas sosok itu. namun ia yakin tidak salah lihat, sosok itu adalah seorang perempuan. ya tidak salah, itu seorang perempuan yang berdiri di dekat sebuah pohon kamboja tua.


" siapa dia..., " bisik ozil pelan dalam batinnya. sudut matanya seakan tak bisa lepas memandang ke arah sosok perempuan itu yang berdiri beberapa meter tak jauhnya dari gubuk ini.


Kabut perlahan mulai menipis, hamparan batu nisan terlihat sedikit demi sedikit.


Dari lubang jendela, ozil dapat mengamati dengan jelas sosok perempuan itu. perempuan itu terlihat membelakanginya . gaun kumalnya berkibar diterpa oleh angin senja.


Saat ozil menatapnya dari kejauhan, si perempuan misterius itu terlihat membalikan badan. perempuan misterius itu melihat ke arah gubuk tua lalu melambaikan tangan ke arahnya. seolah perempuan itu mengetahui ada seseorang yang sedang mengamatinya.


" lho, beh, itu beh, " kata ozil terperangah sambil menunjuk-nunjuk ke arah luar.


" ada apa lagi lu zil, ganggu gue aja? " omel pak hendra kesal. mata layunya melihat ozil yang tengah memandang lekat ke arah luar. namun keningnya kemudian mengkerut tatkala melihat ozil yang melangkah keluar.


" heh zil, mau kemane lu? " tanya pak hendra pada ozil yang sudah membuka pintu gubuk. seketika hawa dingin masuk melalui celah-celah pintu bambu.


Ozil menoleh dengan wajah sedikit panik.


" ada seorang perempuan di luar beh, kayanya dia butuh pertolongan, " cetus ozil terburu-buru.


Pak hendra sontak terheyak. wajah keriputnya menampakan raut heran.


" perempuan siapa zil? " tanya pak hendra penasaran.


" itu perempuan yang ada di deket pohon kamboja beh, di sudut pemakaman, " timpal ozil seraya telunjuknya menunjuk sudut penakaman.


Pak hendra bangkit dari tikar. radio usangnya ia letakan lebih dulu sebelum pria tua itu berjalan mendekati ozil.


" mane zil, katanya ada perempuan, kagak ada tuh, " kata pak hendra sembari melongok-longkok di jendela.


" lah gimana sih lu beh, itu tuh yang ada di sudut makam deket pohon kamboja tua, " ozil menunjuk sekali lagi ke tempat perempuan tadi. namun seketika, rautnya berubah.


Ternyata perempuan yang tadi melambai ke arahnya, telah hilang dari pandangan. hanya terlihat pohon kamboja yang sesekali menggugurkan bunganya.


" mana zil, ah lu halu ye, " celetuk pak hendra.


" t-tapi, tadi gue liat tuh perempuan beh. Kok ilang ye, " kata ozil heran sendiri.

__ADS_1


" bukannye yang sudut makan deket pohon kamboja itu, makamnya istrinya si aryo ye, " celetuk pak hendra mengingat-ngingat.


" maksud lu si kinanti beh, " tebak ozil.


Pak hendra mengangguk, " iye yang beberapa hari yang lalu dimakamin disana, " jawab pak hendra.


kinanti... entah mengapa ketika mendengar nama itu sekilas mengingatkan ozil pada sesuatu.


" beh, lu tau gak dengan kabar yang lagi hangat-hangat ini beredar di kampung ini, " cetus ozil tiba-tiba. pandangan mata pria itu menatap lekat wajah pak hendra, seolah ingin menyampaikan sesuatu.


pak hendra menggeleng


" kagak tau emang kabar apaan? " tanya balik pak hendra.


Ozil terdiam sejenak sebelum berkata.


" lu tau kan bang juki si tukang ojek? " kata ozil.


Pak hendra mengangguk.


" iye gue tau, emang kenape? " tanya pak hendra.


" menurut si juki, pas malem waktu dia lagi mangkal, ntu orang didatengin ama sosok kuntilanak, " ujar ozil dengan suara berbisik. matanya mengerling liar kesana-kemari, seolah khawatir jika perbincangan mereka didengar oleh sesuatu.


" hah! Yang bener lu, " kata pak hendra tak percaya.


Ozil mengangguk mengiyakan.


" bener beh, gue denger langsung dari orangnya. bahkan sekarang si juki jadi rada-rada gini saking traumanya, " lanjit ozil seraya memberi isyarat dengan menyilang-nyilangkan telunjuknya pada dahi.


Pak hendra yang sudah terkejut, semakin kaget mendengar penuturan ozil.


" serem juga ya tong kalo udah denger yang begituan, bahkan gue nih yang udah lama berkecimpung di dunia penggalian kubur, belum tuh sekalipun liat setan atau demit, " terang pak hendra seraya membuang napas. mimik wajah tuanya menunjukan setitik ketakutan yang coba ia lawan.


" mau tau gak yang lebih serem dari cerita tadi? " desis ozil menatap tajam pak hendra.


Pak hendra menelan ludah susah payah dengan wajah tegang. pria itu mengangguk.


" kata si juki, sosok kuntilanak dia temui wajahnya..., " ozil tak meneruskan kalimatnya. pria botak itu terdiam ketika hidungnya tiba-tiba mencium aroma bunga kamboja yang semilir hadir. bersamaan dengan aura ruangan gubuk yang berubah menjadi mencekam.


" wajahnya kenapa tong, " kata pak hendra penasaran juga ketakutan.


Dengan suara bergetar, ozil melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus tadi.


"...wajahnya katanya mirip ama mendiang si kinanti beh, " sambung ozil.


" hah! "


BRUKKK!


kedua orang itu meloncat saking kagetnya.


TO BE CONTINUE.

__ADS_1


__ADS_2