
" S-sulastri jun? " dengan tatapan terkejut, aryo bertanya kembali pada juno.
Juno jelas keheranan dengan reaksi aryo yang sedemikian rupa kagetnya. memangnya ada apa dengan nama itu?
" memangnya kenapa dengan nama itu mas? Apa mas kenal dengan pemilik nama itu? " dengan wajah penuh tanda tanya, juno melirik sekilas aryo yang mendadak diam dengan wajah berkeringat dingin.
" Ah e-enggak jun, a-aku gak kenal siapa itu sulastri, " elak aryo tergagap-gagap.
Juno hanya mengangguk pelan, walaupun dirinya heran melihat aryo yang tiba-tiba menjadi aneh ini.
Sulastri
Entah kenapa mendengar nama asing itu, hati aryo menjadi bergetar. ada rasa ketidaknyamanan pada hatinya ketika nama yang tidak dikenalnya itu terbesit pelan dalam benaknya.
Sulastri
Rasanya aryo sedikit familier dengan nama itu. ada sedikit kilas balik singkat yang berputar dalam ingatannya ketika dirinya mengingat-ngingat nama itu.
" mas aryo...mas, "
" eh iya jun, kenapa? "
" kita sebentar lagi sampai di dusun dukuh, apa kita mau ke rumah mbak dinda dulu atau langsung ke rumahnya pak RT damar? " tanya juno menengok pada aryo.
" kita ke rumahnya dinda dulu jun, aku agak khawatir dengan keadaan dia, " sahut aryo.
" baik mas, " balas juno.
BRUMMM
motor melaju melewati gerbang kayu yang berbentuk gapura beratap. setelah sekian menit perjalanan yang mereka tempuh, akhirnya mereka sampai juga di dusun dukuh, satu dari dua dusun yang ada di desa ini.
Tatkala motor juno maju menyisiri jalanan dusun ini, terlihat deretan perumahan sederhana yang menghiasi tiap sisi jalan. rumah-rumah itu milik para warga dusun ini. ketika motor mereka melaju, sesekali terlihat warga dusun yang tengah berkumpul di halaman rumah, melirik kedatangan mereka.
" pstt...jun, ada apa dengan para warga disini? Kok tatapan mereka kaya aneh gitu, " bisik aryo pada juno. pria itu menyampaikan kebingungannya mengenai perilaku para warga dusun yang terlihat tak seperti biasanya.
Juno lantas menjawab, dengan nada ragu-ragu.
" Aku juga gak tau mas, mungkin mereka sudah tau tentang cerita itu, " seloroh juno pelan.
" hah? Cerita apa jun? " balik aryo bertanya dengan heran.
" cerita tentang sosok yang ada di rumah sampeyan mas, para warga dusun ini sudah tau dengan cerita itu. mungkin mereka berperilaku aneh seperti itu dikarenakan ketakutan dengan teror dari sosok yang lain. dusun ini juga sedang tidak baik-baik saja mas, ada sesosok..." juno tidak meneruskan kalimatnya karena bibirnya yang terasa kelu saat ia hendak membeberkan sebuah hal lain pada aryo.
" sosok lain yang bagaimana jun? " desak aryo.
Juno menggeleng dengan cepat. tangannya dengan cekat menambah laju motor.
" lebih baik kita bicarakan hal itu di rumah pakde arjo, dia lebih mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dusun ini, " jelas juno singkat.
Tak ada sahutan dari aryo. tampaknya pria itu juga setuju dengan perkataan juno. motor belok melewati sebuah jalan kecil yang sebelah kanannya berupa hamparan sawah. mereka terus melaju sebelum sampai di sebuah pekarangan rumah.
" Nah, sampai juga kita di rumahnya pakde arjo, semoga yang punya rumahnya ada, " kata juno seraya memarkirkan motor.
Mereka berdua turun dari motor, lalu bergegas menuju rumah yang terlihat lengang itu. sepoi-sepoi angin dari persawahan menggoyangkan pohon pisang di pinggir rumah.
__ADS_1
TOK! TOK! TOK!
" Assalamualaikum, " juno mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
Aryo menunggu di depan pintu jati dengan ornamen khas jawa. matanya sesekali melirik dengan kagum melihat betapa bagusnya rumah bergaya joglo ini. sebuah sesuatu yang bisa terbilang mewah untuk ukuran orang desa, maka tak heran jika keluarga pakde arjo terkenal sebagai keluarga kaya di kampung ini.
Setelah beberapa menit lamanya mereka menunggu di luar, pintu rumah akhirnya terbuka. menampilkan seorang wanita paruh baya yang sekilas mengintip mereka dari celah pintu.
" siapa ya? " tanya wanita itu dengan nada curiga.
Aryo yang pertama kali menjawab.
" Bukde ini saya aryo, temen dinda pas masa sekolah, bukde inget kan? " kata aryo pada wanita yang dipanggilnya bukde itu.
Si wanita tampak diam seraya mengingat-ngingat.
" Aryo..., masa sekolah..., bentar-bentar..., " ucap wanita itu dalam pose berfikir.
" oalah sampeyan aryo yang dulu sering main ke sini? " tebak si wanita dengan wajah terkejut.
" iya bukde, saya aryo yang dulu sering minta makan disini, bukde ingat kan? "
Si wanita mengangguk-angguk seraya tersenyum.
" iyo, bukde inget, wah kamu udah lama gak sini ya, udah berapa taun? Tanya bukde maryam.
" hmm...mungkin sekitar sepuluh atau lima belas tahun yang lalu bukde, saya ke sini karena dapat kabar jika dinda mengalami kecelakaan, " tukas aryo tersenyum.
Si wanita yang merupakan bibi dari dinda itu mengangguk, lalu pandangannya menjadi sedih dan muram.
Aryo yang bingung lalu bertanya.
" lho memangnya kenapa bukde dengan dinda, " ujar aryo makin keheranan.
Bukde maryam menghela napas sejenak, sebelum berujar.
" dinda, dia–"
BUKDE!!!
Suara teriakan itu mengagetkan mereka yang ada di luar. arahnya dari dalam rumah.
" s-suara siapa itu mas? " juno bertanya dengan wajah terkejut.
" Dinda, " bukde maryam mendesis pelan. tanpa memedulikan kalimatnya yang terputus, wanita itu berlari masuk kembali ke rumahnya.
Aryo dan juno yang mematung tak urung mengikuti langkah bukde maryam. mereka masuk ke rumah joglo itu karena khawatir dengan teriakan dinda tadi.
Di dalam rumah, aryo dan juno melihat bukde maryam berlari masuk menuju salah satu kamar dekat tangga kayu.
TOLONG!!!
Terdengar lagi suara teriakan dinda, kali ini suaranya jauh lebih keras.
" jun, ayo kita lekas menuju kamarnya dinda, aku khawatir dia kenapa-napa, " ungkap aryo memburu. pria itu berlari memasuki kamar dinda diikuti oleh juno. kedua pria itu terlihat terburu-buru masuk ke kamar yang samar-samar tercium bau tidak enak.
__ADS_1
Di dalam kamar yang nampak remang-remang itu, aryo dan juno terheyak. mereka berdua tak percaya melihat perempuan yang sehari-hari dikenal sebagai seorang bidan itu, kini dalam keadaan yang begitu berantakan.
Disana, di atas kasur dengan seprai dan bantal yang tergeletak sembarang arah, dinda tengah menangis sambil menjerit-jerit layaknya orang gila. rambut yang biasanya dibalut oleh hijab itu, sekarang tergerai acak-acakan.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan dinda?
Bukde maryam mencoba menenangkan dinda yang masih menjerit histeris. lengannya mencoba mendekap tubuh dinda yang terlihat kurus. tangannya berusaha membelai wajah dinda yang pucat serta dikotori oleh jejak air mata.
Aryo yang melihat kondisi teman masa kecilnya itu yang demikian parahnya, dengan cepat mendekati ranjang tidur dinda.
" bukde, ini ada apa? ada apa dengan dinda, " ujar aryo khawatir. pria itu melihat wajah cantik dinda yang kusut semrawut. perempuan itu membenamkan wajahnya dalam pelukan bukde maryam.
" yah beginilah nak aryo, kamu bisa lihat sendiri kondisi dari dinda. sudah sekian hari lamanya dia seperti ini pasca kecelakaan itu, " terang bukde maryam dengan sedih.
" apa sudah dilakukan pemeriksaan oleh dokter atau matri bukde? " tanya aryo tanpa mengalihkan pandangannya dari dinda. dinda masih terus saja merintih ketakutan. kadang-kadang wajahnya mengintip pada gorden dekat jendela, sebelum kembali dibenamkan pada bahu bukde maryam.
" sudah nak, kemarin pak arif rekan kerjanya dinda datang kesini sekedar buat meriksa dan ngasih obat penenang, " terang bukde maryam sambil tangannya mengelus-ngelus punggung dinda yang terlihat basah oleh keringat.
" bukde, bukde, wanita itu masih ada disana, " isak dinda seraya tangannya menunjuk pada sudut gorden tadi.
" sudah nak, disana gak ada apa-apa, itu cuman halusinasi pikiran kamu aja, " bukde maryam mencoba menenangkan dinda.
Aryo yang kasihan melihat kondisi dinda yang seperti itu tak tinggal diam.
" dinda, ini aku aryo, " kata aryo pada dinda.
Dinda yang sedang ketakutan, melirik ke arah aryo kemudian terkesiap.
" m-mas aryo, itu beneran kamu mas, " isak dinda tak percaya ketika melihat aryo yang ada di rumahnya. segera perempuan itu lepas dari dekapan bukde maryam lalu berhambur memeluk aryo dengan erat.
" aku takut mas, aku takut, " ujar dinda dengan nada bergetar hebat. lelehan air matanya membasahi dada aryo. membuat pria itu makin bingung dengan apa yang terjadi.
" tenang dinda ada aku disini, kamu gak perlu takut lagi, " tangan kekar aryo mengelus pelan bahu dinda. sementara tangan yang satunya lagi menopang agar tubuh dinda tidak terjatuh.
" wanita itu mas, sosok itu, " bisik dinda di telinga aryo.
" wanita siapa dinda? Apa ada seseorang yang berniat buruk ama kamu? " balas aryo pelan. namun entah mengapa degup hatinya berdetak kencang.
" Sulastri mas, dia selalu mengawasi dari balik kegelapan, " rintih dinda pelan.
" S-sulastri din? Apa maksudmu, " kata aryo dengan suara tercekat. Ia merasakan perubahan suhu ruangan yang tidak sebagaimana mestinya. bulu kuduknya meremang, aryo merasa ada sesuatu yang sedang mengamatinya entah dari mana.
" Wanita tinggi itu mas, dia sekarang sedang menatap ke arah kita, sulastri sedang mengincar nyawa kita berdua mas, " bisik dinda pelan seraya tangan lunglainya menunjuk ke arah sudut ruangan yang temaram.
Aryo mengikuti telunjuk dinda. matanya melihat sudut kamar yang sebelahnya berupa gorden jendela yang tipis.
Dan disana, aryo mematung dengan wajah penuh bingung juga kaget saat melihat satu buah siluet seseorang, samar-samar terlihat dari balik kaca jendeka yang tertutupi gorden.
Namun bukan itu yang menjadi fokus aryo. melainkan pada bentuk siluet itu yang dinilai tak lazim. terlihat siluet itu membentuk bayangan seorang wanita, namun dengan ukuran tubuh yang tinggi menjulang.
BRAGGG!!!
Semua orang terkesiap mendengar suara gebrakan pintu rumah.
Ada apa lagi ini?
__ADS_1
TO BE CONTINUE...