Rintihan Dari Balik Kubur

Rintihan Dari Balik Kubur
bab 17 : Di balik semua ini


__ADS_3

" Kutukan sulastri, " gumam aryo mengulangi perkataan pakde arjo tadi.


Sesaat hening menjeda obrolan diantara mereka. jam di dinding telah menunjukan pukul satu siang hari. matahari di puncak khatulistiwa perlahan bergeser ke arah barat.


Semua orang terkejut saat mendengar kalimat pakde arjo tadi.


" sebuah kutukan pakde? " tanya juno penasaran.


Pakde arjo mengangguk. kopiah hitam di kepalanya telah ia lepaskan. menampilkan kepalanya yang setengah botak.


" yah sebuah kutukan. mungkin kamu dan aryo serta semua warga yang lain belum mengetahui tentang hal ini, karena secara cerita ini merupakan kisah yang disimpan rapat-rapat oleh para generasi tua di desa ini, " lanjut pakde arjo menjelaskan.


Aryo dan juno semakin terperangah mendengar keterangan dari pakde arjo. apakah dusun yang selama ini mereka tinggali, menyimpan sebuah rahasia gelap?


" Terkait peristiwa hilangnya beberapa anak perempuan, juga kemunculan dua sosok gaib yang meneror warga kampung, aku menduga ini semua ada hubungannya dengan sulastri, " kata pakde arjo seraya memejamkan mata.


Mendengar pakde arjo yang seakan telah mengetahui ini semua, membuat aryo tercengang setengah mati.


" D-dua sosok? Apa maksud pakde? " ujar aryo terbata-bata.


Pakde arjo tersenyum singkat, lalu membalas.


" kau pikir aku tidak tau dengan apa yang terjadi di dusunmu aryo? tentang kematian istrimu, juga semua hal aneh yang selama ini menimpamu, " kata pakde arjo sambil menatap aryo dengan senyum terkulum.


" tunggu! bagaimana pakde tau dengan apa yang menimpa saya? apa pakde menyembunyikan sesuatu dari saya, " ujar aryo seraya bangkit berdiri meminta penjelasan dari sosok tua itu.


" tenang nak aryo, biar pakde akan jelaskan sendiri tentang semua ini. tapi sebelumnya, pakde akan ceritakan dulu siapa itu sulastri, sosok yang sering muncul di mimpimu, " kata pakde arjo pada aryo.


Aryo kembali duduk di samping juno. kedua pria itu menunggu dengan wajah tegang.


Pakde arjo memulai ceritanya.


" Tahun 1960, adalah masa-masa yang tak akan pernah pakde lupakan seumur hidup. masa dimana sebuah teror gelap pernah mengurung desa ini dalam ketakutan, " pakde arjo memulai ceritanya.


Aryo dan yang lainnya menahan napas saat pakde arjo memulai kisahnya.


" Semua teror gelap itu dimulai dengan sulastri, seorang gadis biasa yang pernah hidup di desa ini berpuluh-puluh tahun silam, " pandangan pakde arjo memandang jauh persawahan di luar melalui kaca jendela rumahnya. menarik napas sejenak guna mengumpulkan kembali suara.


" sulastri adalah gadis yang bisa dibilang memiliki suatu kecacatan fisik, terutama pada bagian wajahnya. wajahnya borok serta mengeluarkan banyak nanah menjijikan. dan mungkin karena kecacatan itulah yang menjadikan sulastri selalu dijauhi dan dikucilkan oleh para warga. gadis malang itu selalu sendiri dan juga kesepian. bahkan tak ada yang berani mendekati gadis itu karena para warga meyakini jika sulastri adalah gadis titisan setan, pembawa malapetaka yang harus dimusnahkan, " tutur pakde arjo dengan nada sendu.


" sungguh tega para warga itu pakde. Kenapa mereka sampai hati melakukan itu, " kata juno geram.


" karena sulastri adalah anak dari nyai padmi, seorang dukun misterius yang tinggal di tengah hutan. Nyai padmi dipercayai merupakan sosok penganut ilmu hitam, dan mungkin dari sanalah para warga menyimpulkan jika sulastri adalah anak dari iblis, hasil perjanjian nyai padmi dengan sosok penunggu hutan alas peteng, " ujar kembali pakde arjo.


" lalu apa yang menyebabkan ini semua pakde? Maksudku apa yang menyebabkan sulastri menjadi awal dari bencana bagi kampung ini? " tanya aryo dengan wajah tidak sabaran.

__ADS_1


Pakde arjo tergelak, " kamu sama seperti ayahmu nak, tidak sabaran, " lanjutnya.


" baik pakde akan lanjutkan, singkatnya, walaupun sulastri sudah melalui berbagai macam cobaan di kampung ini, tetapi ia adalah tipe penyayang, terutama kepada anak-anak. Yah sulastri selalu menyukai anak kecil, terutama anak perempuan karena mereka lah yang selalu menemani sulastri dalam kesepian, " ungkap pakde arjo seraya menghembus asap rokok.


" Sampai suatu hari, sebuah kejadian gempar membuat resah warga di seluruh kampung, " kata pakde arjo lagi.


" K-kejadian apa pakde? " suara itu terdengar begitu lirih nan lemah. setelah dilihat, ternyata dinda sudah membuka mata. perempuan itu sudah tersadar dari tidurnya lalu bangkit secara perlahan.


" dinda, kamu udah bangun? " tanya aryo pada dinda.


Dinda mengangguk lemah dengan senyum tersungging di bibirnya yang kering. Bukde maryam sedikit kesulitan tatkala membantu dinda yang hendak duduk.


" kamu lebih baik istirahat dulu nduk, " saran bukde maryam.


" enggak bukde, aku udah agak baikan, " ujar dinda sambil sedikit terbatuk-batuk.


" lanjutkan cerita itu pakde, aku ingin mendengar langsung kisah dari sulastri, " ujar dinda datar.


" heh baiklah, kejadian itu ialah hilangnya anak-anak perempuan persis seperti sekarang ini, " lanjut pakde arjo.


Semua mata terbelalak kaget. menatap dengan raut terkejut ke arah pakde arjo.


" M-memangnya kemana pakde, anak-anak itu? " kata juno dengan mimik penasaran.


" alas peteng, " jawab singkat pakde arjo, " di hutan gelap itulah sulastri membawa mereka untuk bermain bersamanya, " imbuh pakde arjo.


Pakde arjo mengangguk.


" benar, dan apa kamu tau hal mengerikan apa yang warga temui ketika sampai di hutan alas peteng, " ujar pakde arjo semakin memancing rasa penasaran aryo.


" apa pakde? " tanya aryo penasaran diikuti oleh juno. dinda juga menunggu dengan harap-harap cemas jawaban dari sosok pamannya itu.


" Atas petunjuk dari seorang guru spritual, para warga masuk ke alas peteng dan disana mereka menemukan anak-anak mereka tengah menari dengan gemulai di tengah hutan, namun..., " ucapan pakde arjo terputus kala seberkas sinar petir dari jauh terdengar bergemuruh. nampaknya hujan akan kembali turun, terbukti dengan adanya arak-arakan awan mendung di langit.


Semua mata menunggu dengan gurat cemas. detik jarum jam bagaikan denting teror yang seolah mengintai mereka dari balik kegelapan.


" Para warga menemukan anak-anak itu tengah menari bersama membentuk lingkaran, namun dalam kondisi tanpa kepala, " pungkas pakde arjo kemudian. Ada nada getir dalam kalimatnya saat pakde arjo mengatakan hal itu. sorot mata tuanya kosong menyapu ke arah luar. pikirannya mengawang mengintip kilas balik masa lalunya.


Bagaikan sambaran petir di siang bolong, semua mata tak dapat menahan ngeri ketika mendengar cerita pakde arjo.


" K-kenapa bisa pakde? Apa yang terjadi dengan anak-anak itu? " tanya aryo hampir menyentak.


Pakde arjo menatap lekat aryo dengan wajah pucat.


" sulastri...dia adalah dalang dari semua tragedi gelap itu...dia juga yang memenggal secara sadis anak-anak tak berdosa itu untuk merasakan darah mereka, " tutur pakde arjo bergetar. Pintu ingatan tuanya kembali terbuka untuk mengintip kilas kejadian masa lalu yang tragis.

__ADS_1


" sungguh mengerikan tragedi itu pakde. lalu bagaimana dengan sulastri sendiri? pakde bilang jika sulastri adalah penyebab dari tragedi itu, " tanya juno.


" sulastri..., gadis itu ada di tengah-tengah barisan anak-anak tanpa kepala. dia waktu itu sedang diam mematung dengan wajah mengerikan. seluruh tubuhnya berlumuran cairan busuk. para warga yang sudah tak dapat menahan emosi dan dendam, segera mendekati gadis itu hingga sesuatu yang mengerikan pun terjadi, "


" Di bawah sinar bulan, pakde melihat sulastri dipukuli oleh para warga yang marah hingga babak belur, lalu tanpa diberi aba-aba, salah satu warga yang terlibat dalam aksi itu, melemparkan sebatang obor yang membara yang membuat sulastri langsung terbakar hebat, " ujar lirih pakde arjo.


Mereka semua meneguk ludah dengan kening bercucuran keringat dingin. suhu ruangan perlahan mendingin. entah karena pengaruh mendung di luar atau apa, yang pasti mereka merasakan aura yang mencekam.


" singkat cerita, sulastri terbakar hingga tewas, namun sebelum dirinya mati, pakde mendengar gadis itu mengucapkan sesuatu, "


" apa itu pakde? " sahut mereka serempak.


" dia mengatakan, setelah apa yang sudah kalian lakukan padaku, maka tiap-tiap darah yang jatuh mengalir ke tanah akan menimpa anak-anak kalian, " kata pakde arjo.


Mereka yang tengah duduk di ruang tamu itu hanyut dalam suasana tegang. hawa dingin perlahan masuk dari luar. hawa lembab yang semakin membuat ruangan itu terasa mengerikan.


" Lalu apa yang terjadi setelah peristiwa itu pakde? " kali ini juno yang bertanya.


" sebuah teror nduk, sebuah teror kelam mulai menghampiri kampung ini pasca kematian sulastri, " punglas pakde arjo bergetar.


" teror seperti apa pakde? " tanya dinda serak. tampaknya perempuan itu juga sama penasarannya dengan juno. sesekali mata bulatnya melirik aryo yang terlihat termenung.


Ada apa dengan mas aryo? Bisik dinda dalam hatinya.


" teror berupa suara alunan gamelan ketika hari menjelang malam disertai suara tertawa anak-anak yang entah dari mana datangnya, " tukas pakde arjo kemudian.


Juno bergidik ngeri mendengar hal itu.


" Namun yang lebih mengerikan daripada itu adalah, hilangnya beberapa anak para warga pasca kematian sulastri. mereka menghilang tanpa jejak, sama seperti kasus sekarang ini, " jelas pakde arjo.


" pakde arjo, " aryo yang diam sedari tadi, tiba-tiba berujar pelan. semua mata memandang ke arahnya, termasuk pakde arjo.


" tadi panjenengan bilang, jika kematian istri saya ada hubungannya dengan sulastri, apa maksudnya, " ujar aryo bertanya. matanya menatap tajam wajah renta pakde arjo. Pria itu seolah meminta jawaban akan hasrat keingintahuannya itu.


Pakde arjo diam sesaat tak langsung menjawab. malah pria tua itu balas menatap aryo.


" Apa kamu tau nduk, tentang cerita sebuah sekte sesat yang begitu memuja sosok sulastri sebagai iblis, " bukannya menjawab, pakde arjo malah menyodorkan sebuah pertanyaan baru untuk aryo.


Jelas pria itu semakin bingung dan terkejut. Apa maksudnya?


" apa maksud pakde? " tanya aryo.


" percaya tak percaya, istrimu kinanti tergabung ke dalam sekte itu, " cetus pakde arjo.


A-apa?

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2