Rintihan Dari Balik Kubur

Rintihan Dari Balik Kubur
bab 11 : Suara dari radio tua


__ADS_3

Pa-ra-ra-ra-ra


Pa-ra-ra-ra-ra


Pa-ra-ra-ra-ra


Pa-ra-ra-ra-ra


Pa-ra-ra-ra-ra


Pa-ra-ra-ra-ra


Oh-oh-oh


Aku ingin berjalan bersamamu


Dalam hujan dan malam gelap


Tapi aku tak bisa melihat matamu


Aku ingin berdua denganmu


Di antara daun gugur


Aku ingin berdua denganmu


Tapi aku hanya melihat keresahanmu


Pa-ra-ra-ra-ra


Pa-ra-ra-ra-ra


Pa-ra-ra-ra-ra


Pa-ra-ra-ra-ra


Pa-ra-ra-ra-ra


Pa-ra-ra-ra-ra


Uh-uh, uh-uh


Aku menunggu dengan sabar


Di atas sini, melayang-layang


Tergoyang angin menantikan tubuh itu


Aku ingin berdua denganmu


Di antara daun gugur


Aku ingin berdua denganmu


Tapi aku hanya melihat keresahanmu


Ingin berdua denganmu

__ADS_1


Di antara daun gugur


Aku ingin berdua denganmu


Tapi aku hanya melihat keresahanmu "


Lagu radio itu terdengar merdu nan syahdu menemani senja yang sebentar lagi akan tenggelam di cakrawala barat.


Aryo melamun dengan tatapan kosong ke arah senja merah yang sebentar lagi akan terbenam di balik bukit. radio usang di sampingnya terdengar menyanyikan sebuah lagu lawas. menemani sepi pria itu dalam kesunyian waktu di sore hari.


" huh, sepi banget ya ni kampung, pada kemana sih orang-orang, " dalam lamunannya, aryo bergumam pelan. mata layunya memandang dengan seksama ke arah jalanan depan rumahnya, yang kini terlihat lengang.


Radio tua keluaran era 90-an itu masih menyanyikan lagu bernada sendu. aryo masih diam mengamati kondisi kampungnya dari teras rumahnya. rumah aryo memang terletak agak berjauhan dengan rumah tetangga lain. sehingga membuat keadaan di sekitar rumahnya cenderung tenang.


Waktu mulai bergulir mendekati surup. suara adzan dari mushola di balai desa terdengar sayup-sayup, menandai masuknya waktu sholat magrib.


Aryo masih diam dengan tatapan sendu ke arah halaman rumahnya yang ditumbuhi oleh pohon rambutan. meskipun ini sudah hari kelima kematian dari kinanti, namun hatinya belum juga bisa tenang. apalagi semenjak kematian istrinya itu, hal-hal aneh kerap kali terjadi di rumah ini. mulai dari suara cakaran dari balik pintu kamarnya, televisi yang menyala sendiri, hingga suara tangisan perempuan dari luar rumah yang selalu membuatnya terbangun di kala tengah malam.


Magrib mengawali malam sunyi. Aryo kian resah dengan semua ini. sudah beberapa kali ia mencoba menyugesti alam pikirannya agar tetap tenang, namun tetap saja semua keanehan yang menimpanya di rumah ini masih tetap terjadi. aryo mengembus napas lelah, lelah dengan semua masalah yang menimpa dirinya.


Dalam renungannya, dirinya mulai berpikir tentang sesuatu. sesuatu yang menjurus ke arah hal-hal yang tidak masuk akal. aryo makin tenggelam dalam lamunannya. radio masih mendendangkan lagu. nadanya mendayu-dayu mengusir sepi dalam balutan malam.


Derik jangkrik dari rimbunan semak terdengar semarak. hawa dingin perlahan mulai menghempas aryo di teras rumah.


" apakah ini ada kaitannya dengan mimpi itu ya? " cetus aryo lirih. sudut matanya melirik jalan yang masih tetap sunyi. tak ada kendaraaan yang lewat barang secuil pun, padahal jalur ini merupakan akses transportasi ke arah pusat perkotaan.


" Apa aku pindah saja ya dari rumah ini? mengingat sekarang kinanti sudah tiada, " gumam aryo lebih jauh. dirinya sedang asyik bermonolog ria untuk sebuah keputusan yang ia harapkan bisa mengakhiri teror dari sesuatu yang entah apa itu.


DSTTTT...


Aryo mencoba untuk memperbaiki radio tersebut. sebelah tangannya memutar-mutar tuning untuk memperbaiki gelombang sinyal yang nampaknya mengalami gangguan.


DSTTT...mas...tuuutt...krsss...


Aryo masih mencoba untuk memperbaiki radio yang tengah mencari sinyalnya itu dengan diiringi oleh beberapa desiran yang masih terdengar.


Krsss...krsss... Mas...mas aryo


DEG!


Bagai dihujam oleh bara yang panas, jantung aryo langsung berdegup kencang ketika mendengar suara bernada serak itu memanggil namanya dari balik radio.


Mas aryooo... temani aku...hi...hi...hi


Dengan muka kembali menahan ngeri, wajah aryo kembali dibasahi oleh keringat dingin. tanpa sengaja, tangannya melepaskan radio itu yang menyebabkan radio itu jatuh ke lantai.


Aryo bangkit berdiri, lalu memandang ke resah ke arah kotak tua itu. malam semakin menegangkan. hawa dingin berpadu lembab membuat keadaan di teras itu bertambah mencekam. radio tua itu masih mengeluarkan suara-suara yang tidak jelas. aryo mematung berdiri dengan pandangan kosong.


Lampu neon kusam di atas teras berayun-ayun digerakan oleh angin. daun-daun kering yang terhampar di pekarangan beterbangan tersapu ayunan angin. perlahan, aryo merasakan kembali suasana yang menyeramkan ini. hidungnya kembali mencium bau busuk yang menyengat sedangkan telinganya mendengar bisikan lirih. bisikan seorang perempuan yang terdengar berat dan serak di sampingnya.


Mas aryooo...aku rindu mas...ikut aku mas...kita akan bersama lagi seperti dulu...


" kamu bukan kinanti, Pergi kamu! " teriak aryo keras pada sosok yang sedang berdiri di dekatnya.


Dengan napas tersengal-sengal, aryo berlari keluar dengan panik, menghindari sosok perempuan bergaun putih itu. sosok perempuan itu menyeringai ke arahnya, memamerkan gigi hitamnya yang runcing.


aku kinanti mas...aku kelaparan dan haus...tolong beri aku darah...seperti yang kamu lakukan padaku dulu...

__ADS_1


Aryo tak menghiraukan ucapan sosok setan itu. kakinya berlari menuju pekarangan rumahnya. Ia berniat untuk kabur meminta bantuan ke rumah tetangga terdekat.


Saat aryo berada di tengah pekarangan rumahnya, ia menoleh untuk melihat sosok menyeramkan itu. bahunya bergetar hebat sedangkan keringat bercucuran dari pori-pori kulitnya.


Perempuan berwajah hangus itu masih berdiri disana. dengan mata putihnya yang melotot ke arah aryo, sosok itu semakin melebarkan seringainya.


Aryo tak mampu lagi bertahan terhadap situasi yang benar-benar membuat nyalinya ciut bagai curut. keberanian seolah hilang tanpa jejak.


Purnama di langit malam tertutupi oleh kabut hitam. di tengah purnama yang hendak pudar, aryo yang masih ketakutan mendengat suara deru motor dari kejauhan. aryo melirik sebuah sorot lampu kuning yang menerangi pekarangan rumahnya.


Sebuah motor melaju menghampiri dari arah jalanan, lalu masuk ke pekarangan rumahnya dengan tergesa-gesa. motor bebek itu dikendarai oleh seseorang.


Matanya yang masih menampilkan sorot ketakutan melihat seorang pria yang dikenalnya, memandanginya dengan cemas.


" mas aryo, kamu lagi ngapain dan kenapa juga kamu ngos-ngosan kaya gini? " si pemilik motor yang menghampirinya bertanya dengan nada panik. kelihatannya ia begitu terburu-buru.


Aryo menatap sekilas si pemilik motor sebelum mendesis.


" kang juno, " desis aryo.


Pria cungkring dengan sarung yang terikat di pinggangnya, secepat kilat menghampiri aryo.


" kamu kenapa mas aryo? " tanya juno khawatir


Aryo tak menjawab. Ia takut jika dirinya memberitahu kepada juno dengan apa yang sebenarnya terjadi, pria kurus itu juga akan ketakutan.


Namun anehnya, tanpa aryo beritahu, juno sepertinya paham dengan apa yang menimpa pria itu.


" aku udah paham mas dengan semua yang terjadi disini, " juno berujar pelan.


Aryo mengerutkan kening. apa juno tau dengan kejadian mengerikan yang menimpa dirinya barusan.


" sebaiknya kita cepat pergi dari rumah ini mas, " desis juno sekali lagi. mata sipitnya melirik sedikit ke arah rumah aryo yang nampak remang-remang, sebelum memalingkan wajah dengan tampang pucat.


" tunggu dulu jun, apa maksud– "


" diam! sebaiknya kita bicarakan hal ini di rumahku saja, ada sesuatu yang harus kamu ketahui selama ini mas, " jawab juno cepat. pria itu segera menghidupkan motor bebeknya. deru mesin kembali menyala.


Tanpa pikir panjang, aryo segera menaiki motor juno. dirinya juga sudah tak tahan dengan semua gangguan dan terror dari sosok kuntilanak itu.


" jun, apa kamu tau dengan apa yang menimpaku ini, " tanya aryo lirih.


Juno mengangguk. aryo melihat bulu di tengkuk sahabatnya ini meremang.


" bukan aku saja yang tau dengan sosok itu, bahkan hampir separuh warga di kampung ini tau sosok itu, " jelas juno.


Aryo jelas sangat kaget mendengar fakta mengejutkan ini. wajahnya bertanya-tanya meminta jawaban pada juno.


Motor segera melaju keluar dari pekarangan rumah aryo.


Sebelum motor meninggalkan pekarangan rumahnya, dengan penasaran aryo menoleh sedikit ke arah rumahnya yang terlihat mencekam. dan disana sosok itu terlihat masih memandanginya dengan senyum mengerikan, sebelum sosok itu melayang menuju ke arahnya.


" cepet jun! " perintah aryo panik.


Juno menambah kecepatan motornya. mereka berdua melaju menembus angin serta gulita yang buram. asap motor membumbung tinggi. lalu hilang diantara pepohonan.


TO BE CONTINUE...

__ADS_1


__ADS_2