Rintihan Dari Balik Kubur

Rintihan Dari Balik Kubur
bab 19 : Keanehan di dusun


__ADS_3

Lampu motor sengaja dinyalakan tatkala suasana jalan kian redup. cahaya kuning pucatnya menyibak ilalang serta rumput liar yang tumbuh sembarang di atas jalan setapak yang motor mereka lalui.


" gelap bener ya mas. alamat bakal hujan deras lagi nih, " celetuk juno dari belakang sambil memperhatikan dengan seksama awan mendung tebal di bentangan langit. pria kribo itu begitu terperangah melihat mendung tebal yang seolah mengurung kawasan ini. belum pernah ia melihat mendung semacam ini. tebal dan gelap.


Entah dari mana datangnya perasaan itu, namun tiap kali juno melihat mendung hitam, perasaannya selalu dikepung oleh risau dan gelisah. ia merasa mendung selalu hadir membawa kejadian buruk. kejadian yang memang sedang terjadi sekarang.


Perjalanan mereka diisi oleh keheningan. aryo maupun juno tak saling berbincang. kedua orang itu sama-sama resah menanti kemungkinan apa yang akan mereka hadapi dalam mengakhiri teror ini.


setelah melalui rumitnya jalan setapak yang memang merupakan akses utama ke rumah mewah pakde arjo, kini tibalah mereka di jalanan desa. kawasan ini merupakan kawasan yang lumayan padat penduduk, namun entah mengapa sekarang begitu sunyi seolah tak ada tanda-tanda kehidupan. hanya ada deretan rumah warga. Itupun aryo sendiri ragu jika ada orang di dalamnya.


" sepi amat ya mas, " seperti tak bosan, juno kembali menyeletuk pelan sambil mengamati ke sekitar.


" iya jun, mungkin karena cuaca mendung jadinya para warga enggan keluar, " sahut aryo sambil terus melajukan motornya dengan pelan. sesekali sudut matanya melirik ke arah deret rumah warga itu. sepi dan tampak gelap.


" atau jangan-jangan para warga tengah melayat ke rumahnya pak RT dhamar, " bisik juno lirih. mengingat akhir tragis RT itu membuat bulu di tengkuk juno meremang. buru-buru tangannya mengusap tengkuknya itu.


" entahlah juno, yang pasti ada sesuatu yang tak beres dengan dusun ini, " ujar aryo pelan namun masih bisa di dengar oleh juno.


Juno makin gelisah mendengar penuturan aryo. dadanya berdegup kencang dan wajahnya kembali dibasahi oleh keringat dingin.


setelah mereka melewati barisan rumah warga, kini sampailah mereka di belokan menuju gerbang dusun. terlihat kondisi dusun seperti dusun mati. senyap dan sunyi. apalagi ditambah dengan latar awan mendung di langit serta kabut yang secara perlahan turun melingkupi dusun ini.


Sekilas tak ada yang aneh. namun tidak bagi aryo dan juno. mereka berhenti tepat di depan gerbang keluar dusun. mereka berhenti dengan isi pikiran yang hampir sama. Yaitu...


Kemana orang-orang dusun?


Mustahil dusun yang tak terlalu luas ini mendadak kehilangan para penghuninya.


" mas aryo, lebih baik kita lekas pergi dari sini, aku merasa–"

__ADS_1


DEG!


belum selesai juno dengan kalimatnya, dari kejauhan sana samar-samar matanya melihat siluet beberapa orang yang terlihat tengah melihat ke arahnya. namun karena suasana yang serba temaram, juno tak terlalu jelas melihat siluet mereka. tapi ia yakin jika siluet yang dilihatnya itu merupakan siluet orang dewasa, tapi tunggu...


" anak kecil? " bisik juno mengernyit heran. Ia berusaha menajamkan penglihatannya menembus kabut putih. dan ia yakin tidak salah jika salah satu siluet yang dilihatnya adalah siluet anak kecil yang berada diantara siluet orang-orang dewasa.


" kamu melihatnya jun? " bisik aryo lirih.


Juno menoleh ke aryo lalu mengangguk.


" iya mas, apa mereka warga dusun ya. tapi kenapa mereka sebanyak ini keluar? " tanya juno kala melihat siluet orang-orang itu yang semakin banyak memenuhi jalan dusun.


Ada apa ini sebenarnya? Pikir aryo dan juno yang keheranan melihat keanehan ini


semakin lama jumlah siluet yang memenuhi jalan semakin banyak. aryo dan juno yang melihat itu jelas kebingungan dan sedikit panik.


" M-mas ada apa ini sebenarnya? " tanya juno pelan.


" Lebih baik kita segera pergi dari dusun ini jun! aku merasakan keanehan yang tak wajar, " usul aryo disertai penekanan di tiap kalimatnya.


KHEEE!!! GRRRR!!! GRRRR!!!


Tepat saat mereka hendak pergi, sebuah geraman samar-samar terdengar dari balik kabut putih. Aryo menoleh diikuti oleh juno. kedua pria itu melihat dengan tatapan tegang, menanti apa yang ada di balik kabut tebal itu.


CRING!...CRING!...CRING...!


Bukan hanya suara geraman lirih yang terdengar dari balik kabut, namun kali ini ditambah dengan suara dencingan keras yang berkali-kali terdengar.


" Suara apa itu ya? " bisik juno semakin ketakutan.

__ADS_1


Aryo sekali lagi menggeleng. sungguh ia juga tengah dilanda badai kebingungan. pikirannya seolah buntu melihat semua kejadian ini.


Semakin lama, suara dencingan dan geraman itu semakin mendekat. seakan sengaja hendak menyusul mereka.


Lambat laut dari balik kabut, muncul beberapa sosok kecil yang berjalan ke arah aryo dan juno.


kabut putih perlahan tersibak. sosok-sosok kecil itu ternyata anak-anak dusun. Namun dengan kondisi yang menyeramkan.


Anak-anak itu berjalan tertatih-tatih menuju aryo. wajah mereka pucat dan kurus. mereka telanjang sambil menggeram-geram.


Ternyata suara geraman itu berasal dari mereka.


" M-mas...ituuuu, " tunjuk juno dengan suara tercekat. wajahnya menanpakan ketakutan yang sangat. bahunya lemas apalagi setelah melihat rantai panjang yang melilit tubuh tangan dan kaki anak-anak itu. suara dencingan itu ternyata berasal dari rantai-rantai yang mengikat anak-anak itu.


Tolongkhhh...k-a-m-i....


Aryo seketika diam membatu. motor yang dinaikinya hampir jatuh limbung.


Anak-anak berwajah pucat itu semakin mendekati mereka. tangan-tangan terantai itu terlihat menggapai-gapai ke arah aryo, seolah meminta pertolongan.


" mas aryo! jalan mas! " teriak juno menyadarkan aryo.


Tersadar dengan wajah gelagapan, aryo lantas mengikuti perintah juno. pria bercambang itu kemudian menarik pedal gas motornya.


Motor itu melaju kencang keluar dari dusun dukuh yang menjadi aneh dan mencekam. meninggalkan segala kengerian jauh di belakangnya.


Dan tanpa menyadari, jika jauh di belakang sana, diantara anak-anak yang berjalan sempoyongan dengan tangan dan kaki terantai, berdiri sesosok putih berukuran besar terbungkus kain kafan. sosok itu berbentuk pocong, namun dengan tangan yang keluar dari balik kafan. tangan sosok pocong itu berwarna hitam dan sangat panjang. sebelah tangannya memegang seutas rantai besi.


kegelapan hutan mati akan menyambut kalian...

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2