Rintihan Dari Balik Kubur

Rintihan Dari Balik Kubur
bab 23 : Sudut pandang lain


__ADS_3

" Kamu sudah pingsan disini selama dua hari mas, setelah kamu mengalami kecelakaan itu, "


" D-dua hari? Yang benar saja! " kalimat penuh keterkejutan itu keluar mengalir begitu saja dari mulut aryo.


Laksmi menyunggingkan senyum melihat aryo yang tak percaya dengan semua ini. sayup-sayup sinar senja dari ufuk barat menerpa jendela rumah laksmi. waktu perlahan merangkak menuju waktu magrib.


keadaan mendadak hening. Teh hangat yang mengepulkan uap dibiarkan begitu saja tak disentuh. Aryo berfikir keras mencari simpul dari tali masalah yang sekarang menjeratnya dengan kuat.


" Tunggu! lalu apa maksudmu dengan aku yang terjebak di sebuah dimensi gaib? " kening aryo berkerut, tanda jika ia sedang berpikir keras.


Laksmi kembali tersenyum namun dengan ekspresi dingin.


" tampaknya mereka, para warga dusun dukuh berhasil membuatmu terkena jebakan gaib mas? " tukas laksmi.


" jebakan gaib? "


Laksmi mengangguk, " ya jebakan gaib yang membuatmu dan temanmu itu masuk ke dalam dimensi kegelapan, sebuah tempat dimana kekuatan gelap bisa menunjukan eksistensinya, " ucapnya.


" jadi itulah alasan mengapa dukuh–siluman pocong itu bisa muncul dan mengejarku, karena aku sendiri yang tak sengaja masuk ke gerbang dimensi itu, " aryo kembali berujar, menduga-duga pada laksmi–si perempuan yang kini duduk di depannya.


mereka berdua tengah asyik berbincang di ruang tamu. ruang tamu sederhana dengan beberapa perabotan biasa.


laksmi mengangguk membenarkan.


" benar mas, si tua bangka arjo sengaja menjebakmu dalam dimensi gelap, dia sengaja membuatmu terbunuh karena dirinya sadar jika kau adalah tombak yang ditakdirkan untuk memusnahkan iblis itu, " lanjut laksmi seraya tersenyum kembali.


Aryo tertegun mendengar itu. apalagi ketika laksmi mengatakan jika dirinyalah yang sanggup mengusir kekuatan gelap yang selama ini memutari dusunnya. dirinyalah yang selama ini disebut sebagai Sang pakujiwo, sosok yang sanggup memaku jiwa dari bangsa gaib bahkan memusnahkannya. akan tetapi, meskipun dengan darah kliwon yang ada dalam dirinya, diam-diam dalam lubuk hati, aryo masih ragu. ragu akan dirinya, juga ragu akan semua hal yang selama ini menimpanya. apakah semua ini nyata? atau hanya mimpi gila yang berasal dari pikiran seorang pria putus asa karena kematian seseorang yang sangat dicintainya itu.


" aku sudah lama menjalin persahabatan dengan kinanti mas, aku cukup banyak tau mengenai aktifitas sekte itu karena dulu aku secara diam-diam mengawasi bagaimana sekte itu berjalan, " lanjut laksmi sambil menghembuskan napas. mata lentiknya memandang jauh ke arah luar melalui jendela. halaman yang banyak ditumbuhi oleh pohon sejenis kamboja.


" lalu apa kamu tau alasan kinanti masuk dan bergabung dengan sekte sesat itu? " lata aryo dengan wajah bertanya-tanya.


Laksmi memandang ke arah aryo, melihat mata pria itu dalam-dalam sebelum berkata.


" jawabannya hanya satu, " laksmi diam sebentar, lalu lanjut berkata.


" apa? "


" demi popularitas semata, "


" maksudmu? "

__ADS_1


" Kau tau kan jika istrimu–kinanti adalah seorang biduan terkenal? " tanya balik laksmi.


Aryo mengangguk.


" persaingan yang ketat serta kehidupan keras di kota membuat semua orang disana berlaku gila. mereka berlomba-lomba untuk mencari uang, meskipun dengan cara yang jahat sekali pun, "


Aryo diam mendengarkan pemaparan laksmi. keadaan di luar telah masuk waktu surup, dan entah kenapa setiap malam hendak menjelang, suasana kembali berubah mencekam. aryo merasa seolah ada ribuan pasang mata yang tengah memperhatikannya dari arah luar.


Bulu kuduknya sedikit meremang. Ia menoleh sekilas ke arah jendela yang belum sepenuhnya tertutup, dan samar diantara rerimbunan semak, matanya secara tak sengaja melihat sosok-sosok kecil berwarna hitam tengah memandanginya dengan sorot mata merah.


Suara terkikik sayup-sayup terdengar pelan.


Aryo bergidik melihat itu. pandangannya dialihkan pada laksmi yang diam-diam memperhatikan rona kegelisahan pada pria itu.


Seolah mengetahui kegelisahan yang dialami aryo, laksmi beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati jendela yang setengah terbuka. wanita itu perlahan menutup jendela lalu menyibak gorden di kaca. seolah sengaja membatasi pandangan aryo untuk melihat ke arah luar.


" abaikan saja mas, surup adalah waktu tepat bagi ' mereka ' untuk menunjukan diri, kau bisa merasakannya mas? Bau amis darah yang menyengat? " bisik laksmi pelan. Tak lama dia kembali duduk di tempatnya semula.


Aryo mengangguk pelan.


" aku serta kinanti yang pada saat itu tengah kebingungan karena sepinya penawaran untuk manggung, secara tak sengaja bertemu dengan seorang kenalan yang mempunyai koneksi dengan sekte itu. sebuah sekte yang katanya dapat memberikan kekayaan, kekuasaan, serta kemewahan duniawi secara instan, namun dengan sebuah syarat, " laksmi terdiam sesaat. mata sekilas melirik ke arah pintu kamar di sebelahnya.


" syarat? Syarat apa? " tanya aryo.


" kami, terutama para wanita diharuskan melahap janin bayi yang masih segar sebagai tanda bersedia bergabung dengan sekte itu, " jawab laksmi lirih.


DEG!


Seakan dunia terjungkal balik sekaligus, aryo terdiam seketika dengan raut hampa. apakah itu semua laku atau syarat yang dilakukan oleh kinanti selama ini? rasanya aryo masih belum percaya dengan semua tindakan yang telah istrinya perbuat.


" tapi untungnya aku menolak masuk ke dalam sekte itu mas, aku hanya mengawasi, " kata laksmi kemudian.


" tapi tidak dengan kinanti, " lanjutnya seraya menundukan kepala.


" kenapa dengan kinanti? " kata aryo pasa sahabat istrinya itu.


setelah menghela napas panjang, laksmi kemudia melanjutkan kalimatnya.


" Aku telah mencoba memberitahu jika sekte itu berbahaya, tapi dasar wanita itu yang keras kepala, kinanti malah bersikeras bergabung dengan sekte sesat itu dengan alasan, mencari kehidupan ekonomi yang lebih baik, " cetus laksmi.


Mendengar semua keterangan itu, wajah aryo tidak terkejut, tapi pria itu malah menundukan wajahnya ke lantai yang dingin. ada sedikit rasa sesal di hatinya begitu mendengar apa yang dilakukan kinanti ternyata ada hubungannya dengan aryo.

__ADS_1


" Aku memang bodoh ya laksmi, " cetus aryo tiba-tiba berkata seperti itu.


Lakmi mengangkat alis, heran.


" apa maksudmu mas? "


" andaikan saja aku bisa menjadi suami yang baik, yang mampu menafkahi kinanti, mungkin semua kejadian ini tidak akan terjadi, " cecar aryo pada dirinya. tangannya mengacak-acak rambutnya sendiri. menunjukan jika sekarang ini, aryo tengah frustasi.


" jangan berkata seperti itu mas, semua ini bukanlah salahmu, ini adalah pilihan kinanti sendiri untuk masuk ke lingkaran setan itu, " laksmi menenangkan aryo.


" Dan yang lebih penting lagi, sekarang kamu harus cepat bergerak mas, temukan pakujiwo sebelum semuanya terlambat, " kata laksmi namun sebelum wanita itu selesai dengan kalimatnya, terjadi sesuatu yang mengejutkan.


BRAKKK!!!


suara gebrakan itu terdengar dari arah luar rumah. Semua orang terkejut dan lebih terkejut lagi ketika mereka melihat diantara sayup-sayup cahaya senja yang masih tersisa di langit barat, siluet besar, hitam, tengah melotot ke arahnya. dengan sorot mata merah membara sosok itu seperti manusia setinggi 2 meter


Laksmi yang pertama kali menyadari itu tak ayak kaget setengah mati. Wajahnya menampakan raut tak percaya melihat kehadiran sosok itu.


" M-mustahil! Mustahil bangsa gaib bisa membobol pagar itu! Tak salah lagi, itu...itu...mahkluk kiriman arjo...Sengkuni! " Racau laksmi sambil menutup mulutnya. lewat mata aryo, ia melihat bahu perempuan cantik itu bergetar hebat. tanda jika laksmi sendiri sedang ketakutan.


" A-apa maksudmu laksmi! " ujar aryo meminta penjelasan.


Namun laksmi tak menjawab. Perempuan itu bangkit berdiri lalu beranjak pergi mendekati kamar yang dilihatnya tadi di kamar itulah terdapat mbah puloh–sosok dukun sakti sekaligus kenalannya yang telah membuat pagar pelindung gaib untuk menyamarkan kehadiran mereka dan rumah ini dari incaran bangsa lelembut suruhan arjo dan para pengikutnya. niat hati ingin melihat keadaan mbah puloh, namun laksmi lagi-lagi dibuat terkejut bahkan hingga jantungnya serasa hendak copot ketika melihat keadaan mbah puloh yang telqh menggenaskan.


Nenek tua itu ternyata telah tewas dengan kondisi kepala terpenggal.


Kematian mbah puloh sama saja memberikan ancaman buruk bagi laksmi dan aryo bahkan semua yang menghuni rumah ini. pagar gaib yang dijaga oleh si nenek sudah pasti akan melemah dan hilang, yang artinya rumah ini tak memiliki pelindung lagi.


Dengan tatapan nanar, laksmi berteriak pada aryo yang nampaknya masih belum mengerti dengan keadaan yang sebenarnya terjadi.


" mas aryo! Cepat kita pergi dari rumah! Cepat kita ambil pakujiwo di rumahmu. mereka tak akan berani dengan benda itu cepat! " teriak laksmi sambil perempuan itu berlari ke sudut ruangan lain.


Hawa mendadak dingin dan lembab. Aroma-aroma amis dan busuk menyeruak dari segala arah. ketika aryo hendak berlari, dirinya tiba-tiba terpaku erat di lantai saat matanya melihat ke arah luar yang nampak ' ramai '.


pandangan aryo seolah terbutakan oleh sosok-sosok itu. mereka terdiri dari berbagai wujud dan ukuran. ada yang kecil dan besar. semua bangsa demit itu seolah jelas hadir di depan matanya. menyuguhkan kengerian yang tak terkira dasyatnya.


Dan yang lebih menyeramkan dari semua itu adalah, keberadaan sosok kuntilanak yang lehernya terikat rantai besi.


semua sosok itu menggumamkan kata yang sama yakni.


Aryooo...

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2