
" mas apa sampeyan yakin mau kembali ke rumah itu? "
Aryo menoleh sekilas tatkala juno yang berdiri di sampingnya.
Sembari menghirup napas panjang, aryo mengangguk dengan wajah yakin.
" aku yakin jun. apa kamu lupa dengan apa yang dikatakan oleh pakde arjo tadi, " ucap aryo pada juno yang terlihat hanya diam mematung.
" t-tapi mas, bagaimana dengan..., " kalimat juno terputus ketika melihat aryo yang menatapnya tajam.
" maksudmu sosok itu " ujar aryo pada juno.
Juno mengangguk pelan dengan wajah pucat.
" tenang juno, apa kamu lupa dengan perkataan pakde arjo tadi jika sosok itu tak akan mampu mencelakai kita secara langsung, " kata aryo pada juno.
Juno terdiam mendengar penjelasan aryo. meskipun dirinya setuju dengan keputusan yang diambil oleh sahabatnya itu, namun sebenarnya hatinya sedikit enggan.
" percaya lah padaku juno, semua teror ini akan berakhir, " seloroh aryo sambil mengenakan helm yang dijinjingnya.
juno mengangguk lalu bergegas dirinya juga mengenakan helm. mereka berniat kembali ke dusun paduh ( dusun aryo ). setelah tadi berbincang-bincang dengan pakde arjo.
Di tengah suasana yang kian redup karena gulungan mendung di langit, mata aryo sekilas tak sengaja melihat sebuah sepeda motor dari kejauhan yang menuju ke arahnya.
Sepeda motor itu nampaknya membawa dua orang pria asing yang tak aryo kenali.
" siapa mereka? " bisik aryo penuh tanda tanya.
motor itu semakin mendekat lalu melintas begitu saja di hadapan aryo. terlihat kedua orang itu sesekali melirik aryo dan juno dengan pandangan curiga dan...tegang.
" siapa mereka jun? " tanya aryo pelan.
Juno menggeleng namun wajahnya terlihat berpikir.
__ADS_1
" entahlah mas, aku gak kenal dengan mereka, mungkin mereka warga dusun ini, " pungkas juno.
kedua orang itu memarkirkan motornya di halaman samping rumah pakde arjo. lalu mereka segera bergegas turun.
" joko, rahman..., "
" pakde arjo, " sapa salah satu dari mereka pada si pemilik rumah.
Aryo menoleh ketika suara pakde arjo terdengar dari arah teras. terlihat pria paruh baya itu tersenyum ke arah dua orang tadi, seolah memberi sambutan.
Entah apa yang mereka bincangkan, aryo tak mendengar begitu jelas karena jarak yang cukup jauh. namun aryo dapat melihat pandangan kedua orang itu beberapa kali melirik ke arahnya. lalu mereka kembali berbisik-bisik.
Aryo merasa jika mereka tengah membicarakan dirinya.
Selang sekian menit berlalu, kedua orang itu pergi berlalu dari hadapan pakde arjo. mereka berdua lalu mendekati motor dan pergi begitu saja dengan tergesa-gesa.
" mas, apa kita langsung pulang? " tanya juno yang membuyarkan lamunan aryo.
" kita langsung pergi jun. Ingat! Tujuan kita selanjutnya adalah ke rumahku. aku harus mencari benda itu. benda peninggalan istriku, " sahut aryo.
" baik mas kalo gitu, " kata juno menyetujui.
Ketika mereka hendak telah naik motor dan hendak pergi, suara pakde arjo terdengat memanggil mereka.
" aryo, juno, tunggu sebentar, " kata pakde arjo bergegas mendekati mereka.
" ada apa pakde? " tanya juno di jok belakang. Kali ini yang membawa motor adalah aryo.
Tak menjawab, pakde arjo merogoh sesuatu dari saku celananya. lalu menyerahkannya pada aryo.
" apa ini pakde? " tanya aryo seraya mengamati benda yang mirip bungkusan itu dengan heran.
" anggap saja ini adalah jimat perlindungan bagi kalian saat memasuki rumah kinanti. aku merasa jika kekuatan gelap itu semakin besar. tinggal beberapa anak-anak lagi yang belum menghilang. dan jika sampai semua anak di kampung ini menghilang, kalian sudah tau apa yang terjadi setelahnya, "
__ADS_1
" sebuah wabah akan datang melanda kampung ini. wabah yang mengawali kebangkitan sulastri. itukah maksudmu pakde, " jawab aryo ketika dirinya teringat obrolan di ruang tamu tadi.
Pakde arjo mengangguk. matanya memandang langit yang biru kehitaman dengan pandangan sulit diartikan.
" betul nak aryo, karena sulastri adalah manusia yang terikat dengan iblis kuno penunggu alas itu sendiri. sehingga kebangkitannya kembali ke dimensi manusia harus membutuhkan banyak tumbal, bukan lagi anak-anak kecil, tapi nyawa dari mereka yang tak berdosa, " terang pakde arjo.
" dan istrimu hanyalah sebuah salah satu dari korban perjanjian sulastri. temukan benda itu, maka sukma istrimu akan terbebas. carilah tempat yang selama ini dijaga ketat oleh istrimu. karena sepengatahuanku, para pengikut sekte sulastri, memiliki sebuah ruangan khusus untuk melakukan pemujaan itu, " ujar pakde arjo.
Ketika pakde arjo mengatakan itu, entah mengapa aryo teringat sesuatu. sebuah ruangan? apakah maksud pakde arjo ruangan misterius di rumahnya?
" apakah ruangan misterius itu yang dimaksud pakde? Apakah di ruangan itulah kinanti melakukan ritual sesat itu untuk mempelancar pekerjaannya sebagai biduan? " bisik aryo kian frustasi dengan praduga dan asumsinya sendiri. cerita pakde arjo ternyata membuka catatan baru tentang istrinya. tentang semua ritual yang selama ini dilakukan istrinya tanpa setau dirinya.
" baik nak aryo, saran pakde lebih baik kamu segera pergi ke rumah itu. Karena pakde mendapat laporan dari dua warga tadi jika satu anak kembali hilang, " kata pakde arjo.
Juno terkesiap mendengar penuturan itu.
" baik kalo seperti itu pakde, saya dan juno akan kembali datang ke rumah itu. apapun resikonya, keselamatan nyawa anak-anak juga para warga adalah prioritas utama, " cetus aryo tegas.
" juga arwah kinanti..., " lanjut aryo.
Pakde arjo mengangguk setuju. dari balik bibirnya, pria tua itu menyunggingkan senyum bangga.
" semoga perjalanan kalian lancar selalu. Ingat temukan rambut dan sisir itu. karena kedua benda itulah yang nantinya akan menjadi pintu gerbang dalam menembus dimensi gaib di alas peteng, " tutur pakde arjo.
" d-dimensi gaib pakde, " juno yang tak mengerti itu, bertanya dengan gugup.
" benar juno, sebenarnya anak-anak itu disembunyikan oleh para anggota sekte, bukan di alam manusia, namun alam gaib yang tak terjangkau oleh pandangan biasa, " tandas pakde arjo memberi keterangan.
" dan ingat aryo, menurut kabar yang disampaikan oleh warga tadi, ada beberapa orang mencurigakan yang kerap hilir mudik masuk ke alas peteng. Aku menduga mereka adalah anggota sekte sulastri yang bersiap melakukan ritual berdarah itu, " kata pakde arjo kepada aryo.
" baik pakde, ucapan panjenengan akan selalu saya ingat. baik jika begitu, saya mohon pamit, " ucap aryo. pria itu segera menghidupkan motornya lalu pergi setelah mengucapkan salam.
Pakde arjo mengangguk. sudut matanya yang telah renta memandang ke arah dua orang yang kini sudah menjauh. namun dalam suasana mendung yang semakin gelap, sudut bibir keringnya menyunggingkan sebuah senyum.
__ADS_1
" pergilah anak kliwon, " ucapnya dengan ekspresi misterius.
TO BE CONTINUE