Rintihan Dari Balik Kubur

Rintihan Dari Balik Kubur
bab 20 : Pertemuan yang tak terduga


__ADS_3

TITTTT!!!!


" awas! "


CITTT!!!


Suara gesekan antara roda motor dengan aspal terdengar di tengah jalanan hutan. decitan roda motor itu mengusik kesunyian yang ada di tengah-tengah hutan bambu yang mengurung.


" mas, sampeyan gak apa-apa? " dengan wajah pucat, juno bertanya pada aryo yang tegang dengan napas terengah-engah.


Hampir saja mereka mengalami kecelakaan di jalan. Jika saja tadi aryo tak sigap membelokan dan mengerem laju motor, mungkin sekarang ini mereka akan berbaring di ranjang rumah sakit.


" apa itu tadi mas? " tanya juno setelah menenangkan diri. matanya awas memandang ke sekitaran hutan yang gelap. mencari-cari sosok manusia tadi yang menyebrang tanpa permisi.


" kemana orang itu jun? " ucap aryo celingukan. setelah menenangkan deru napasnya, aryo mencoba mengamati keadaan sekitar. Ke pinggiran hutan yang gelap dan hening. perlahan semilir angin dingin menyapu wajah aryo. butiran debu beterbangan membuat pria itu harus menghalangi matanya.


Setelah mereka keluar dari dusun itu, mereka berniat kembali ke dusun paduh. namun beberapa menit mereka menembus jalan hutan yang hening, terjadi sesuatu yang mengejutkan.


Dalam suasana awan mendung hitam, kala motor mereka melindas batu jalanan, samar-samar dari kejauhan terlihat seseorang yang melintas secara tiba-tiba dari arah semak-semak di pinggir hutan. sontak hal itu membuat aryo terkejut dan refleks langsung banting stir untuk menghindar sosok misterius itu.


Motor sesaat mengalami sedikit oleng Namun untungnya mereka tak mengalami kecelakaan. motor berhasil aryo kendalikan.


Sekarang mereka berhenti tepat di tengah hutan yang para warga desa bayan namai sebagai alas peteng ( hutan gelap ). Kondisi hutan bambu itu memang sesuai dengan namanya. sejauh aryo memandang, ia hanya melihat hamparan kegelapan dalam hutan itu. di samping ia melihat pohon bambu hijau yang bergoyang di terpa angin. entah mengapa di tengah suasana sepi itu, aryo merasa ada sesuatu yang tengah memperhatikannya dari sela-sela pohon bambu.


" aneh sekali, " gumam aryo ketika ia menyadari ada sesuatu yang ganjil. entah hanya perasaannya saja yang salah atau apa, tapi aryo merasa jika keadaan di hutan ini seakan tak lazim. waktu seolah-olah berjalan lambat.


Juno yang mendengar itu lantas berbisik lirih.


" mas, aku kok mencium bau bunga kamboja ya, " ucap juno di samping aryo. pria. bisikan lirih itu terdengar dari pria keribo itu. terlihat juno memandang dengan cemas ke segala arah.


Aryo tersentak sekaligus heran. Bau bunga kamboja?


" bau bunga kamboja jun? " tanya aryo.


" iya mas, sampeyan gak nyium tah? " tanya juno.


Aryo mencoba mencium bau yang dikatakan juno. tak diperhatikannya keadaan mereka yang berhenti di sisi jalan. Juno dan aryo sama-sama dirundung perasaan gelisah. namun anehnya mereka tak ingin beranjak dari tempat itu. Seakan ada satu kekuatan besar yang menghalangi mereka agar tetap berada di tengah alas.


Pelan-pelan indera penciuman aryo mencium sesuatu yang wangi dan menyengat. Seperti bau bunga atau kembang yang kuat namun membuatnya merasa tak nyaman. Arahnya berasal dari balik semak-semak belukar yang merambat diantara dua batang bambu yang merunduk.


" aku mencium bau itu jun. Arahnya berasal dari sana, " tunjuk aryo pada semak-semak itu.


Juno mengikuti telunjuk aryo. sebelum dirinya terperanjat kaget. wajahnya kian mengkerut, rambut kribonya makin menyusut, serta bulir-bulir keringat semakin membanjiri wajah. Ia melihat diantara pohon bambu itu...


Mas aryooo...

__ADS_1


Aryo diam dengan mata kosong melihat ke arah rimbunan semak belukar. bahunya bergetar serta lengannya lemas seketika saat matanya melihat sosok yang sangat ia kenali dan rindukan, tengah berdiri disana.


" k-kinanti, " bisik aryo parau. Pria itu menggelengkan kepalanya dengan keras, berusaha menghilangkan halusinasi yang hadir di hadapannya ini. berkali-kali tangannya menampar pipinya sendiri, mencoba memastikan jika sosok yang dilihatnya ini merupakan mendiang dari istrinya.


Sosok perempuan bergaun kumal dengan wajah pucat seputih kapas–kinanti tersenyum ke arah aryo. namun dari wajahnya yang pucat, ada sirat kesedihan yang terpampang jelas.


mas aryooo...aku rindu sama kamu mas...


suara lirih perempuan itu mengalun pelan di tengah kegelapan hutan. suara burung gagak terdengar semarak membuat suasana makin kian mencekam.


Juno yang merupakan penakut akut, sudah tak mampu lagi menahan kesadaran dirinya. Pria kribo itu jatuh pingsan, tapi beruntungnya juno pingsan di bahu aryo.


" A-apa itu kamu dek? " tanpa menghiraukan juno yang pingsan di bahunya, aryo memberanikan diri bertanya pada sosok yang menyerupai istrinya itu.


Sosok kinanti mengangguk pelan. Mata sayunya melihat ke arah aryo dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Ini aku mas...kinanti istrimu...


" bohong! " Ujar aryo keras. wajahnya merah menunjukan amarah yang ditahannya sejak tadi, " kamu pasti setan yang menyamar menyerupai mendiang istriku dan diutus untuk menggangguku kan, " imbuhnya kembali.


Sosok kinanti menggeleng keras. dari balik wajah pucatnya, sosok itu menangis lirih.


Bukan mas! Percayalah padaku... Aku kinanti asli, meskipun dalan bentuk roh...aku datang kesini untuk menyelamatkanmu dari jerat sekte itu...


Tukas sosok kinanti masih dengan tangisan yang menyayat hati.


" lalu apa maksudmu datang untuk menyelamatkanku? Apa ini adalah salah satu cara agar aku terjerumus dalam tipu muslihatmu hai iblis! " cecar aryo kian beringas. Tak ada wajah ketakutan dalam pria itu. Aryo sudah mantap akan menanggung semua resiko buruk yang terjadi. Keselamatan warga dusun, anak-anak yang hilang, serta arwah kinanti, adalah tujuan awal dan akhirnya menjalani kengerian ini.


percayalah padaku mas...semua teror yang terjadi di kampung kita...itu semuanya bukan ulahku...itu semuanya ulah paduh...salah satu ingon-ingon milik sulastri...


sulastri! Lagi-lagi nama itu. Nama yang membawa terror gelap bagi aryo, sekaligus nama yang kerap membuatnya ketakutan.


melihat sosok itu seolah tulus berkata padanya, perlahan aryo luluh dan melunak. berbarengan dengan air mata yang menetes dari sudut matanya. Rindu yang sejak awal tersimpan dalam lubuk hatinya, kini pecah dan mengalir ke seluruh urat nadinya.


" dek! itu kamu kan? Kamu kinanti istriku kan? bukan setan jahanam, " tanya aryo bertubi-tubi dengan air mata yang makin banyak menetes membasahi pipinya. Aryo tak ubahnya saja seperti seorang anak yang bertemu dengan sosok ibunya setelah sekian lama berpisah.


Sosok kinanti mengangguk lemah. Tangisan sosok itu juga perlahan mereda. Mata sayunya melihat aryo dengan tatapan rindu. tangannya melambai ke arah aryo, seolah menyuruh pria itu untuk mendekat.


bagaikan terhipnotis, aryo perlahan menggeser tubuh juno dan meletakannya di jok motor. Pria bertubuh atletis itu melangkah hati-hati mendekati sosok kinanti yang masih berada diantara semak belukar. walaupun hatinya masih dilanda was-was yang sangat.


Kala telah dekat, kedua insan yang masih disatukan oleh cinta, saling berdiri berhadapan. Keduanya diam dengan wajah menahan luapan rasa rindu. namun apalah daya, takdir sang maha kuasa telah memisahkan suami istri itu oleh jurang kematian.


melihat sang suami telah berada di dekatnya, sosok kinanti kembali berujar.


Mas aryooo...jangan turuti perkataan orang itu mas...dia jahat...jangan ikuti perintahnya mas...

__ADS_1


Aryo memandang bingung ke arah kinanti. Apa maksudnya? Siapa orang yang dimaksud kinanti?


" apa maksudmu dek? Siapa orang itu? " tanya aryo heran.


raut kinanti berubah seketika. Dari ekspresi sedih menjadi ekspresi marah. Saat marah inilah wajah kinanti berubah menjadi menyeramkan. matanya hitam serta wajahnya menjadi rusak.


Aryo merinding melihat perubahan wujud roh kinanti. tapi dia juga penasaran dengan orang yang dimaksud dan kenapa kinanti sampai marah ketika mengucapkannya.


" siapa itu dek? Tolong jujur pada mas dengan apa yang kamu ketahui. ini semua untuk keselamatan semuanya. Kamu, anak-anak yang malang, serta dusun kita, " desak aryo setengah memaksa.


Tangis kinanti pecah seketika. bukan air mata bening pada umumnya, melainkan air mata darah hitam.


Apa mas tau dengan kronologi kematianku?


Tanya kinanti dengan suara lirih.


Aryo mengangguk pelan dengan wajah getir. dadanya mendadak sesak saat dirinya teringat kejadian itu. Kejadian yang mungkin paling tragis sekaligus menyedihkan dalam rajutan takdir yang dialaminya.


Aryo mematung dengan mulut membisu. bibirnya terasa kelu tak mampu merangkai kata-kata. Ia tau persis ke arah mana pembicaraan ini akan terjadi.


Kinanti menanyakan peristiwa kematian dirinya. dan secara tak langsung membuka kran ingatan aryo.


Dalam ingatannya, aryo persis mengetahui kematian dari kinanti. Kematian yang tak wajar. Kinanti ditemukan tewas bersimbah darah di dekat jalan menuju rumahnya. Wanita itu ditemukan sudah tergeletak kaku dengan perut tertusuk dan mengucurkan darah merah. ada dugaan yang merebak setelah kematian kinanti, jika istrinya itu dirampok lalu dibunuh dengan keji. hal ini dibuktikan dengan hilangnya beberapa barang milik istrinya.


Aryo dengan wajah gemetar serta napas terengah-engah, mengangguk pelan.


" mas tau dek. Bahkan mas sendiri sudah berusaha untuk mencari pelaku yang melakukan kebiadaban itu padamu. Mas berjanji dek akan membalaskan kematianmu itu! " geram aryo dengan api yang membara dari sorot matanya.


Bukannya senang, kinanti malah menangis kencang. Kali ini tangisannya diiringi oleh raungan.


Aku tidak dirampok mas...aku dibunuh dengan sengaja oleh seseorang...


Aryo terkesima mendengar itu.


" L-lalu siapa yang melakukan itu padamu dek? Jawab! " bentak aryo murka. dirinya hendak menghampiri lebih dekat sosok kinanti, namun anehnya seolah ada dinding pembatas yang memisahkan dirinya dengan kinanti.


" Siapa dek! Siapa orang itu! " bentak aryo memukul-mukul dinding tak kasat mata itu.


Kinanti menunduk lalu menjawab lirih.


Dia adalah...


Aryo tegang menunggu jawaban dari arwah istrinya.


Arjo...

__ADS_1


DEG!


TO BE CONTINUE


__ADS_2