Rintihan Dari Balik Kubur

Rintihan Dari Balik Kubur
bab 2 : dibalik temaram cahaya


__ADS_3

Ternyata sama seperti hari-hari kemarin, hujan lebat kembali mengguyur kawasan kampung ini. petir di kejauhan terlihat menyambar-nyambar langit malam yang sudah mulai merangkak naik. suasana terlihat gelap-gulita nan sepi tak ada yang menemani.


aryo melirik ke arah luar rumah dari balik kaca jendela. bahu pria itu terlihat bergetar pelan menahan hawa dingin yang menyelinap masuk ke ruangan kamarnya.


pria berstatus duda itu semakin mempererat selimut yang menyelimuti sekujur tubuhnya. saat dirasa tubuhnya telah nyaman, pria itu kembali diam, lebih tepatnya melamun di ruang kamar yang entah mengapa terasa sunyi ini. mungkin karena ia sendiri atau ada seseorang yang kini hilang entah kemana.


dalam lamunanya, aryo teringat kilas-kilas balik peristiwa yang terjadi beberapa jam yang lalu. saat-saat dimana ia bisa bercanda tawa dengan kinanti-mendiang istrinya.


aryo mendesah tertahan, terbayang dalam angan pikirannya senyum manis kinanti yang bagaikan cahaya mentari yang menerangi tiap ruang kosong dalam hati aryo, memberinya kehangatan saat dingin menyapa.


namun sayang kini mentari itu telah redup, yang tersisa darinya hanyalah kegelapan yang sunyi dan kehampaan tak berujung.


dalam bayang-bayang aryo, ingin rasanya ia gapai kembali wanitanya itu. ia rindu dengan kinanti, wanita yang telah menemaninya selama bertahun-tahun mengarungi bahtera rumah tangga. namun mengapa takdir begitu kejam kepada dirinya? mengapa takdir begitu cepat merenggut kinanti dari sisinya? membuatnya kesepian ditemani oleh sunyi mencekam disini.


aryo hanya menghembuskan napas lelah, tak ia sangka jika hari ini merupakan saat-saat terakhir mereka bersama di dunia. mungkin untuk sekarang ia harus belajar untuk menerima takdir ini pikir aryo dalam kecamuk batinnya.


saat aryo tengah menatap kosong langit-langit kamar yang agak gelap tak terjangkau cahaya, pria itu kembali merasa dingin, dingin yang hanya terasa di area kaki. aryo sungguh tak nyaman dengan dingin ini, bukan karena ia tak terbiasa menghadapi dingin, namun tak tau mengapa sekarang bulu kuduknya mendadak berdiri.


aryo merinding tanpa sebab. padahal ini bukan pertama kalinya ia sendirian di rumah dengan suasana sunyi. namun entah mengapa ia rasa ada sesuatu yang berbeda dengan malam ini. entahlah mungkin ini hanya perasaan aryo saja yang agak parnoan.


gemuruh di langit menyambangi hening mencekam di pelataran bumi. aryo masih terbaring melamun menatap platfom langit yang gelap. suara detik jarum jam terdengar menemani lamunan pria itu.


"Hiks...Hiks...Hiks..."


aryo mengerjapkan mata pelan, bola matanya bergulir liar menatap keadaan sekitarnya yang gelap tanpa penerangan malam. lebatnya hujan yang turun menimbulkan hasil yang tak diharapkan, mati lampu mendadak dan merata untuk seluruh desa. untung ia memiliki sebuah lampu petromaks yang selalu setia menemaninya. aryo tersenyum dari balik selimut. tapi kemudian mukanya menekuk.


aryo ingat, jika ia malah menaruh lampu itu di ruang tamu. jadi mau tidak mau ia harus mengambil lampu petromaksnya itu.


merasa tak nyaman, buru-buru pria itu bangkit dari tidurnya. mengusap peluh keringat yang membasahi dahinya, aryo kembali diam dalam keheningan. bukan merenung, tapi tengah menajamkan pendengaran saat dirasa suara aneh itu kembali muncul.


"hiks...hiks...hiks...tolong"


begitulah kira-kira yang aryo dengar. ""suara perempuan" bisik aryo penuh tanda tanya. batinnya bertanya-tanya mengenai suara itu.


suara itu terdengar dari arah luar rumah. suara tangisan lirih itu seolah timbul-tenggelam di tengah gemuruh hujan.


" suara apa itu? " bisik batin aryo pelan.


saat dirasa semuanya semakin aneh, pria itu segera beranjak dari ranjang bututnya. suara decit ranjang terdengar cukup nyaring memekakan telinga.

__ADS_1


aryo berjalan mengendap-endap mendekati pintu kamar. lesatan kilat di langit menciptakan cahaya terang yang cukup untuk menyibak kegelapan di bilik ruangan ini. dan sekarang ia tau dimana posisinya berada.


ia tengah berdiri di sebuah meja kaca, persis di sisi kanan pintu kamar. tiba-tiba ia teringat mengenai sebatang lilin yang tersimpan di laci meja tersebut. bergegas aryo pergi untuk mengambilnya.


TOK...TOK...TOK..


di tengah kesibukannya mencari batang lilin, aryo dengan jelas mendengar suara ketukan di luar rumah. Ia memicingkan mata saat tangannya dengan lincah mengobrak-abrik isi laci peninggalan istrinya itu. lama mencari dan suara ketukan pintu itu semakin kencang terdengar.


"TOK...TOK...TOK..."


aryo akhirnya dapat bernapas lega saat sebatang lilin berhasil ia dapatkan. secepat kilat ia merogoh kolor usangnya guna mengambil sebuah korek.


sekarang keadaan tak segelap tadi, walaupun kecil namun cahaya kuning yang keluar dari pucuk lilin itu mampu menerangi sekelilingnya.


"TOK...TOK...TOK...


Aryo yang hanya mengenakan selembar kaos dalam yang tipis tak urung mengomel pelan saat dirasa ketukan itu semakin keras terdengar.


"siapa yang malem-malem begini datang bertamu sih? ganggu orang saja! " umpat aryo dalam hati.


TOK...TOK...TOK...


sekedar gambaran, ruang tamu rumah ini terletak satu garis lurus dengan kamar aryo. jadi saat membuka pintu kamar, jarak untuk sampai ke sana hanya beberapa langkah.


Perjalanan menuju ruang tamu seperti memiliki kesan tersendiri bagi aryo yang tengah berjalan limbung dalam pencahayaan yang minim.


di luar rumah, hujan badai masih lebat. menyapu daerah dataran tinggi ini dengan terjangan angin yang ganas.


aryo berjalan hati-hati saat kakinya sudah menginjak lantai dingin ruang tamu. lilin kecil yang kini tinggal setengahnya itu masih meliukan api kuning yang cukup terang. tapi anehnya suara ketukan tadi tak terdengar lagi saat dirinya sudah sampai di ruang tamu. mungkinkah calon tamunya itu malah pergi? begitu pikir aryo.


masalah tamu ia kesampingkan terlebih dulu, sekarang ia harus mencari petromaks kesayangannya. bola mata aryo berpedar dalam gulita kelam, Menyibak selaput kegelapan dengan cahaya lilin yang hampir redup.


saat matanya tengah Asyik memicing mencari-cari lampu petromaks, betapa kagetnya ia saat melihat siluet seseorang yang tengah berdiri di luar rumahnya.


cahaya kilat dari langit turut memperjelas pantulan siluet itu.


aryo yang tadi Sibuk Mencari lampunya kini mendadak teralihkan dengan kehadiran siluet putih itu. ia melihat dari balik kaca jendela bermodel sandblast jika siluet aneh itu berukuran setinggi orang dewasa.


apakah ia yang tadi mengetuk ngetuk pintu? terka aryo di tengah kebingungan juga...Ketakutan yang ada.

__ADS_1


semenit dua menit siluet itu masih berdiri disana. diam tak bergerak dan seolah tengah memperhatikan ke dalam rumah.


aryo yang semakin penasaran pun dengan cepat mengambil petromaks yang ternyata berada di bawah kursi ruang tamu. saat aryo menyalakan lampu itu, cahaya putih kebiruan yang berasal dari petromaks itu langsung menerangi sekitarnya.


ketika dirasa pencahayaan telah cukup, pria berusia dua puluh delapan tahunan itu segera bergegas untuk membukakan pintu masuk rumahnya.


KRIEEET...


Hembusan angin datang bersamaan dengan pintu yang sedikit terbuka.


Aryo hanya terdiam saat matanya melirik dari balik celah pintu, melihat siapa yang tadi hendak bertandang ke rumahnya.


"Hoi...siapa di luar" teriak aryo di sela-sela derasnya hujan. gemuruh kilat menyahut teriakannya.


namun tak ada sahutan dari luar rumah. keadaan masih diliputi oleh hening yang tak wajar.


Merasa dipermainkan, aryo kembali menutup pintu dengan kesal. tapi dibalik tampang masamnya, setidaknya batinnya bisa sedikit tenang.


Namun saat pria itu berbalik badan, ia tercekat saat melihat ke dalam keremangan rumah. raut wajah heran bercampur takut segera memenuhi wajah pria itu.


meskipun pencahayaan kurang memadai, tapi aryo masih dapat melihat jelas sosok itu. bau busuk seperti bangkai langsung merebak tercium di ruangan ini.


ia hanya dapat menahan napas saat sosok itu terus memandanginya dari sudut gelap ruang tamu.


balutan gaun putih yang panjang disertai juntaian rambut yang menutupi sebagian wajahnya yang pucat. sosok itu terus memandangi aryo dari balik termaram cahaya yang remang.


" s-siapa itu? " Tanya Aryo dengan nada takut-takut. pria itu memberanikan diri untuk mendekati sosok itu. dengan pencahayaan cukup terang yang keluar dari petromaknya, ia perlahan berjalan mendekat.


.


sudah sampai setengah jalan ia melangkah, angin dingin merambat mengusap kulit. lewat ekor matanya, aryo melihat jika sosok itu semakin tenggelam tertelan oleh kegelapan malam.


sosok itu hilang! menyisakan aryo yang tengah termangu dengan wajah bertanya-tanya.


aryo hanya terpaku dalam pandangan kosong saat hidungnya tak sengaja mencium bau yang sangat familier baginya--


" kinanti," bisik aryo pelan.


mati lampu nampaknya masih lama membayangi desa ini. desa yang tengah diintai oleh gelap mencekam dari tiap sudut.

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2