Rintihan Dari Balik Kubur

Rintihan Dari Balik Kubur
bab 6 : Sebuah perbincangan antara dua sahabat


__ADS_3

...



visual rumah aryo dilihat dari depan...


Cuaca di langit kembali diselimuti mendung. hawa dingin kembali berhembus dari balik tirai atmosfer langit. laju udara bergerak menggoyangkan sekumpulan pohon mangga yang tertanam di halaman rumah sederhana. daun hijau berguguran satu-persatu.


" ini tehnya dinda, semoga kamu suka, " dengan suara lembut, aryo tersenyum seraya menyerahkan secangkir teh kepada seorang wanita berhijab putih bernama dinda. dinda tersenyum manis kepada pria di depannya ini.


" makasih ya mas, maaf loh aku jadi ngerepotin gini, " kata dinda malu-malu. teh hangat di depannya mengepulkan uap panas. sebuah minuman yang cocok dinikmati dalam suasana dingin.


Aryo duduk di kursi yang bersebrangan dengan dinda. mereka berdua tengah duduk-duduk santai di teras rumah. menikmati suasana desa meskipun dengan latar yang buram karena mendung.


Cukup lama mereka diam satu sama lain. sampai aryo berinisiatif untuk memulai obrolan.


" gimana dinda, ama kondisinya mpok ningsih? apa udah baikkan? " ujar aryo pada dinda yang tengah asyik menyeruput teh buatannya.


Dinda menghentikan aktifitas minumnya. Mata kecilnya melirik pada aryo. sebelum berkata.


" hmmm... sejauh yang telah aku periksa, kondisi dari mpok ningsih normal-normal saja mas. bahkan setelah aku cek kondisi tubuh, tekanan darah, dan pola makan dari mpok ningsih, semuanya baik-baik saja mas. gak ada yang aneh, " balas dinda panjang lebar. dahinya mengkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.


" tapi ada yang aneh dengan bagian leher dari mpok ningsih mas, " lanjut dinda.


Aryo mengenyit, " aneh gimana maksudmu din? " tanya aryo.


" dari beberapa bagian tubuh yang aku periksa, hanya bagian leher dan punggung saja yang memiliki luka seperti luka cakaran atau goresan, " kata dinda. cangkir teh ia letakan. matanya menerawang jauh ke atas, mengingat-ngingat.


Aryo yang orangnya awam dengan dunia permedisan, makin bertambah bingung.


" kok bisa sih din? luka goresan kaya cakaran kucing gituh? " celetuk aryo.


Dinda menggeleng, ia yakin jika luka itu bukan luka yang disebabkan oleh hewan.


" bukan mas, luka ini memanjang vertikal. ukurannya cukup besar untuk disebut sebuah luka yang disebabkan oleh hewan, " jelas dinda sekali lagi.


" bahkan hampir mirip sebuah sayatan dibanding dengan luka cakaran, "


" yang bener kamu din? "


" aku serius mas, "


Aryo kembali terdiam. pikirannya melayang bebas memikirkan hal ini. dan tanpa menyadari jika ada sepasang mata yang memperhatikannya dengan lekat. tanpa aryo sadari tentunya.


" huh, jadi pusing sendiri mikirin hal ginian. tapi mau gimana pun juga yang penting keadaan mpok ningsih baik-baik aja ya din. kasian loh mpok ningsih, anaknya–si maman malah ilang, " ujar aryo. bola matanya melihat perempuan di depannya tengah membetulkan letak hijab.


" eh i-iya mas, ngomong-ngomong gimana kabar terakhir tentang dek maman? apa sudah ketemu mas? " dengan nada agak terbata-bata, dinda bertanya pada aryo. perempuan yang berprofesi sebagai perawat itu sedikit salah tingkah tatkala mata aryo menghujam dirinya.


Aryo sedikit heran dengan tingkah sahabatnya itu. tapi ia tak mau memikirkan hal itu. mungkin dinda sedang datang bulan atau apalah itu pikir aryo.


" belum din. Polisi masih melakukan pencarian di sekitaran desa. semoga ketemu tuh anak, " balas aryo.

__ADS_1


Dinda mengangguk pelan. Keduanya kembali terdiam. sibuk dengan pikiran masing-masing.


" mas aryo, aku mau bertanya mas? " kata dinda kembali berbicara. hembusan angin datang menerpa wajah putih manis perempuan itu. mata bulatnya melihat aryo yang juga menatapnya.


" tanya apa din? " tukas aryo.


Dinda terdiam sesaat. hatinya sedikit berdebar saat aryo terus memandanginya.


" hmmm...anu mas, aku mau bertanya tentang perempuan yang tadi duduk di terasmu mas, siapa dia? Kok kayanya aku baru liat dia di kampung ini, " kata dinda mencoba mengendalikan degup hatinya.


" perempuan siapa din? " aryo mengerutkan keningnya. keheranan.


" itu loh mas, si mbak-mbak yang pakai baju kuning ketat. rambutnya panjang tergerai. dilihat dari pakaiannya, kayanya dia seorang penyanyi mas, " terang dinda mendeskripsikan ciri-ciri wanita yang tadi dilihatnya.


Aryo jelas sedikit kaget mendengar keterangan dinda. perempuan siapa? rasanya ia tak pernah mempunyai kenalan perempuan seperti yang diceritakan oleh dinda. kecuali...


" tak mungkin, kinanti sendiri udah meninggal. mungkin itu hanya penglihatan dinda saja yang salah, tak mungkin itu dia, " bisik aryo dalam hatinya.


" mas aryo...mas aryo... "


Aryo tersentak dari lamunannya. suara dinda terdengar memanggil-manggil namanya berulang kali.


" eh iya din, maaf aku malah ngelamun tadi, " kata aryo meminta maaf sambil tersenyum kikuk.


Dinda tersenyum maklum.


" hehehe, gak apa-apa mas. Jadi, siapa perempuan itu mas? Temen kamu ya, " selidik dinda lebih jauh. wajahnya terlihat menunggu meminta jawaban.


Dinda diam dengan pose berpikir.


" Tadi waktu aku lewat depan rumah kamu mas, pas aku mau ke rumahnya mpok ningsih, " jawab dinda.


Aryo mengangguk. meskipun di hatinya mendadak terselip perasaan was-was. namun pikirannya mencoba untuk tenang.


" tapi pas aku lihat mas, si mbaknya kaya diem aja gitu mas. dia kaya ngelamun, " tambah dinda.


" sekarang ke mana mbak-mbaknya itu din, " tanya aryo.


Dinda mengangkat bahu, tak tahu.


" aku juga gak tau mas. waktu aku dateng ke rumah kamu, si mbak-mbaknya udah gak ada. mungkin dia udah pergi, " kata dinda.


Aryo terdiam, begitu juga dengan dinda. sementara mendung sendiri sudah kian tebal menggelayut di atas langit. suasana kampung makin suram. kelihatannya hujan besar akan kembali turun.


" mas aryo, mas tinggal sendiri di rumah, " tanya dinda tiba-tiba.


Aryo menoleh lalu mengangguk.


" iya din, aku cuman tinggal sendiri di rumah ini sepeninggalan kinanti, " tandas aryo dengan nada murung.


" gak usah sedih lagi mas, kita doakan agar mbak kinanti mendapat tempat yang tenang di alam sana, " ucap dinda berusaha menghibur aryo yang nampak murung.

__ADS_1


Aryo mengangguk sambil tersenyum. setitik butiran bening keluar menetes dari sudut matanya. aryo masih merasa kehilangan sosok istri tercintanya itu.


" iya din makasih, " balasnya. buru-buru ia menyeka air matanya yang turun. aryo berusaha untuk kuat dan tegar menghadapi cobaan ini.


" mas aryo, kalo kamu merasa kesepian di rumah, kamu boleh kok main ke rumah pakde ama bukdeku, " dinda memberi saran pada aryo. perempuan itu tak tega melihat sahabat lamanya dalam keadaan merana.


" iya din, nanti insya allah aku akan mampir ke rumah pakdemu, " balas aryo.


Dinda tersenyum senang saat aryo menerima ajakannya. semilir hawa dingin terasa berhembus dari kelambu langit. bersamaan dengan suara desiran angin menerpa mereka.


" waduh mas, kayanya mau ujan gede lagi, aku pamit pulang dulu ya mas, takut ntar kehujanan di jalan, " kata dinda sambil bangkit berdiri. tak lupa dinda mengambil tas dan hpnya yang tergeletak di meja bundar milik aryo. perempuan itu bersiap hendak pergi saat melihat rintikan air hujan yang mulai turun.


" iya din kalo gitu, sampaikan salamku pada pakdemu ya, " tukas aryo pada dinda yang sudah bersiap hendak pergi.


" iya mas, nanti aku sampaikan sama beliau, " jawab dinda. setelah berpamitan pada aryo, dinda berjalan menuju motornya. karena memang jarak antara rumah pakdenya dengan rumah aryo cukup jauh dan juga harus menembus jalanan hutan.


ketika dinda sampai di motornya yang terparkir dekat gerbang tua rumah aryo, iseng-iseng ia melihat ke arah aryo. namun ada sesuatu yang aneh. dinda terdiam sesaat ketika pandangannya tanpa sengaja melihat ke arah jendela kaca yang ada di belakang aryo.


mata dinda seolah dipaksa untuk terus melihat ke arah pantulan siluet itu. Kondisi rumah yang memang remang-remang tanpa cahaya, kian memperjelas siluet putih itu. siluet seperti sosok perempuan yang tampak sedang berdiri dekat jendela kaca. apakah itu perempuan yang tadi dilihatnya beberapa waktu yang lalu? Tanya dinda pada dirinya sendiri.


Terlihat sosok itu seperti mengawasi dirinya dari balik kaca jendela. dinda sendiri mulai merasa tak nyaman dengan suasana yang mendadak berubah ini.


" dinda, " suara aryo terdengar menegur.


dinda menoleh dengan wajah terkejut. Ia melihat aryo yang menatapnya dengan heran.


" kenapa kamu malah ngelamun? hayu cepet pulang, nanti hujannya tambah deras, " seru aryo.


Dinda sedikit gelagapan saat suara aryo menyadarkannya.


" iya mas, maaf aku malah ngelamun, " jawab dinda cengengesan. saat matanya kembali melihat pantulan siluet itu lagi, ternyata sosok itu sudah menghilang dari pandangannya.


aryo sedikit heran melihat tingkah dinda, namun ia tak mau ambil pusing.


" ya usah kalo gitu, sana pulang, " ujar aryo seraya memamerkan deret giginya.


Dinda cemberut dengan pipi mengembung.


" huh tega bener deh mas aryo, " celetuk dinda dengan bibir dimanyun-manyunkan. diam-diam hatinya menghangat saat aryo memberi perhatian lebih kepadanya. dinda segera melajukan motornya keluar dari pekarangan rumah aryo.


Di tengah rasa senangnya, tersisip perasaan cemas. dirinya teringat kepada sosok yang ada dibalik jendela tadi. entah kenapa hatinya menjadi gelisah. Ia merasakan sebuah firasat buruk.


Meskipun samar, namun dinda seakan merasakan sebuah hawa jahat yang menguar pelan-pelan dari dinding rumah aryo.


" semoga firasatku ini salah, tuhan lindungi mas aryo, semoga dia baik-baik saja, " doanya dalam hati untuk laki-laki yang acap kali hadir dalam mimpinya.



Catatan : visual sosok yang dilihat dinda


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2