Rintihan Dari Balik Kubur

Rintihan Dari Balik Kubur
bab 16 : Kelam yang kembali datang


__ADS_3

BRAGGG!!!


Aryo sedikit terkaget-kaget saat mendengar suara pintu yang terbanting dengan keras. bersamaan dengam derap langkah seseorang disertai teriakan.


" buuu..., ibu..., " suara teriakan itu terdengar menggelegar di sepanjang rumah. dari suaranya, nampaknya itu suara laki-laki.


Derap langkah itu makin dekat dan dekat. lalu kemudian, aryo dapat melihat wajah si pemilik suara tadi.


" bu, gawat bu, " si pemilik suara yang ternyata seorang bapak-bapak paruh baya berpakaian batik, sedang terengah-engah dengan wajah pucat.


" pakde arjo, ada apa ini pak? " ucap juno yang mengenali sosok pria paruh baya itu.


" bapak? sampeyan ini kenapa? datang-datang langsung bikin kaget semua orang, " omel bukde maryam kepada pria yang dipanggilnya bapak itu.


Terlihat pria itu menghela napas guna menenangkan detak jantungnya yang berdebar sangat keras. namun tak lama kemudian, pria itu berujar dengan nada gelisah.


" bu, si damar bu, dia..., " suara si bapak itu jauh dari kesan tenang. namun tak lama pembawaan pria paruh baya itu menjadi sedikit melunak kala menyadari ada dua orang pria asing yang ada di rumahnya.


Wajah tuanya yang semula terlihat sangat panik kemudian berubah heran dan terkejut.


" Pak, ini ada nak aryo ama nak juno, temennya dinda, mereka datang kesini buat ngeliat kondisi dinda, " bukde maryam berujar pada suaminya yang tampaknya belum menyadari akan kehadiran dua orang itu.


" juno...kamu dan ini..., " suara pria itu sedikit tercekat saat melihat aryo.


" Kamu aryo kan? anaknya pak alm. Pak endang, " tebak pria itu.


" iya pak, saya aryo teman dinda dulu, pakde arjo, " jawab aryo pada pria yang dipanggilnya pakde arjo itu.


Ternyata si bapak itu adalah pakde arjo : paman dinda sekaligus si pemilik rumah.


" Gak pakde sangka kamu udah sebesar ini yo, " decak pakde arjo seraya tersenyum kecil.


" seperti yang bisa pakde liat, " balas aryo.


Namun perbincangan kedua orang berbeda usia itu, harus disela oleh bukde maryam.


" pak ada apa toh tadi katanya tadi mau ngomong sesuatu, " sela bukde maryam masih dengan wajah kesal.


Pakde arjo sedikit terlonjak kala suara dari bukde maryam kembali menyadarkannya perihal tadi. wajah tuanya yang tadi tenang, kembali bergurat cemas.


" L-lebih baik kita bicarakan hal ini di ruang tamu, " kata pakde arjo tergagap.


Bukde maryam mengerutkan kening, heran. memangnya hal apa yang hendak dibicarakan oleh suaminya ini?


" memangnya kenapa pak? ada apa? jangan buat ibu takut ah, " ujar bukde maryam yang kini menjadi gelisah.


" udah gak usah banyak bicara, lekas kamu, aryo, dan juno ke ruang tamu, ini sangat penting untuk aku bicarakan kepada kalian, " tegas pakde arjo dengan tatapan tajam.


Semua orang yang ada di kamar dinda terperanjat kaget mendengar pernyataan dari pakde arjo.

__ADS_1


" Lalu dinda ditinggal sendirian disini pak? " cetus bukde maryam.


Namun seketika dinda memekik.


" gak mau bukde, aku gak mau tinggal sendirian di kamar, aku mau ikut kalian, " kata dinda memohon-mohon.


Pakde arjo menghembus napas lelah. Ia kemudian berujar.


" yo wis, nak aryo tolong bantu dinda berdiri, lalu tuntun dengan hati-hati ke ruang tamu. cepat, aku tunggu kalian di ruang tamu, " kata pakde arjo seraya berlalu pergi diikuti oleh juno dan bukde maryam yang sebelumnya telah membantu dinda berdiri.


Di kamar itu, hanya tersisa dua orang yakni aryo dan dinda.


" dinda, apa kamu sudah siap? " tanya aryo pada perempuan yang terlihat masih lemah itu.


Dinda menoleh menatap aryo lalu mengangguk.


" aku takut mas, aku takut jika sosok itu kembali datang dan menggangguku, " keluh dinda kembali terisak.


Tangan aryo mengelus lembut pucuk rambut hitam dinda. pria itu berusaha memberikan kehangatan dan ketenangan pada hati perempuan itu.


" apapun sosok itu din, kamu harus ingat, aku akan selalu ada di samping kamu setiap saat, kapan pun juga, " bisik aryo lembut di samping telinga dinda.


Dinda tersenyum mendengar kalimat itu, butir-butir air mata kian deras keluar.


hati perempuan itu menghangat saat kalimat yang terlontar dari mulut pria yang sangat dicintainya itu perlahan dapat menenangkannya dari segala ketakutan dan keresahan yang selama ini merajam dirinya.


Kedua insan itu berjalan menuju ruang tamu.


" Si damar, si ketua RT, siang tadi ditemukan tewas tergantung di pohon depan rumahnya, " suara pakde arjo terdengar menggema dalam rumah bergaya klasik. panas matahari membara di luar, membuat suasana dalam rumah terasa pengap dan juga gerah.


APAAA!!!


Semua yang ada di ruang tamu itu, sontak menjerit dan berteriak tak percaya mendengar perkataan dari pakde arjo tadi. tatapan tak percaya dan juga hampa langsung berkerumun memandang ke arah pakde arjo.


" A-apa maksud bapak? Bapak lagi gak bohong kan? " tanya bukde maryam dengan nada bergetar ketakutan. wajahnya sudah pias dengan sorot mata yang kosong.


" bapak bicara sesuai kenyataan bu! lagi pula buat apa bapak berbohong! lihat saja sana, ke rumahnya si damar, mayat itu masih menggantung. para warga yang pengecut itu tak ada yang berani menyentuh mayatnya si damar, " tandas keras pakde arjo dengan kerlingan emosi di sorot matanya. bibirnya rapat dan gerahamnya bergemelatuk menahan luapan amarah dalam dadanya.


Tak ada yang menyahut ucapan pakde arjo. semuanya terdiam, bahkan dengan aryo dan juno. kedua pria itu memilih diam, namun dengan pikiran yang dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan.


" jika cerita dari pakde benar, kira-kira faktor apa yang mendorong pak dhamar melakukan tindakan senekat ini, " juno yang pertama kali bertanya pada pakde arjo. muka tirusnya sedikit menciut ketika tatapan tajam dari pakde arjo menghujam dirinya.


" Sejauh ini, para warga hanya dapat menyimpulkan jika kematiannya si damar karena dilandasi oleh rasa frustasi akibat hilangnya si ratih, anaknya, " tukas pakde arjo pelan. mata tuanya menatap lurus ke sebuah figura besar yang menghiasi ruang tamu.


" Namun aku ragu jika hal itulah yang mendorong damar menjerat lehernya sendiri menggunakan tali, " kata pakde arjo lirih, " karena ada sebagian warga yang mengatakan, jika kematian damar tidak lain dan tidak bukan hanya untuk menyelamatkan nyawa anaknya, ratih, " imbuhnya kembali.


" apa maksud pakde? " kini gantian aryo yang bertanya dengan wajah serius.


Pakde arjo tak lekas menjawab. pria berkopiah hitam itu terdiam beberapa saat. namun tak lama, pakde arjo merogoh saku bajunya. Ia mengeluarkan secarik kertas putih, sebuah surat.

__ADS_1


" apa itu pak? " tanya bukde maryam penasaran melihat surat itu.


Pakde arjo melirik istrinya yang kebingungan, sebelum berkata.


" Aku temukan ini di bawah pohon tempat damar tergantung, setelah aku dekati dan ambil, ternyata ini sebuah pesan dari almarhum, " tandas pakde arjo pelan. matanya melihat isi surat itu.


Bukde maryam tersentak kaget. Ia berkata dengan nada kesal, " jika itu sebuah surat dari mendiang, kenapa bapak tidak berikan surat itu kepada istrinya! barangkali disana tertulis wasiat atau sebuah pesan dari pak damar, " kata bukde maryam.


" memang bu, ini adalah sebuah pesan. tapi bukan pesan untuk istrinya si damar, " ujar pakde arjo semakin membuat mereka yang ada disana kebingungan.


" jika bukan pesan untuk istrinya pak damar, lalu untuk siapa pak, saudaranya? " tanya bukde maryam penasaran.


" untuk kita semua, warga kampung bayan, " lanjut pakde arjo kembali.


Terlihat sorot terkejut dari aryo dan yang lainnya.


" Maksud pakde, surat itu ditujukan untuk untuk seluruh warga tanpa terkecuali, " tebak aryo.


Pakde arjo mengangguk lantas berujar, " benar aryo, aku rasa damar hendak memperingati kita akan bahaya besar yang akan mengancam, sebuah marabahaya yang aku sendiri tak bisa bayangkan, " kata pakde arjo yang semakin membuat suasana rumah menjadi tegang.


" M-marabahaya s-seperti apa pakde? " juno yang dari awal hanya diam menyimak, pada akhirnya ikut dalam perbincangan itu.


" Biar aku bacakan isi dari surat peninggalan si dhamar, dengarkan, " kata pakde arjo sembari membuka surat lusuh itu.


Semua yang ada di ruangan itu terdiam dalam hening. hanya terdengar bunyi detik jarum jam di dinding dan suara dengkuran halus dari dinda yang tengah beristirahat dalam pelukan bukde maryam.


pakde arjo mulai membacakan isi surat itu.


...1960, adalah masa dimana semua itu dimulai. kematian seorang gadis menjadi awal petaka bagi kampung ini. dan sekarang peristiwa itu akan terulang kembali. kegelapan yang telah lama terkubur di alas peteng akan bangkit lalu menebar busuk untuk semua orang....


...Kelam akan kembali datang...


...Sulastri akan kembali bangkit, dan hanya darah anak kliwon lah yang mampu menghancurkannya....


Tancapkan besi tua pakujiwo pada lehernya.


Tertanda : damar


Usai pakde arjo membacakan isi surat itu, semua yang ada di ruangan itu diam tercenung. tak ada yang berkomentar mengenai cuplikan surat tadi. semuanya diam dengan pikiran yang tenggelam dengan isi surat tadi.


" bu..., " tak lama pakde arjo berujar pelan.


Bukde maryam dengan muka masam, menoleh ke arah suaminya.


" kamu masih ingat dengan cerita orang tua kita dulu, tentang sebuah cerita kelam pengantar tidur, " kata pakde arjo membelokan arah pembicaraan.


" cerita apa pak? aku udah lupa, " balas bukde maryam setelah dirinya mengingat-ngingat.


Dengan sekali hembusan napas, pakde arjo menjawab.

__ADS_1


" kutukan sulastri, "


TO BE CONTINUE


__ADS_2