
Lembayung pagi di cakrawala timur terlihat samar-samar mengintip dari balik gunung. cahaya kuningnya menyinari area persawahan hijau yang ramai oleh riuh-rendah cicit burung dari berbagai penjuru.
KRIET
Aryo mendorong pelan pintu rumahnya. sepoi angin dari kejauhan menerpa wajahnya, juga membuat tengkuk pria itu agak meremang. aryo sedikit kedinginan saat ia menjejakan kakinya di lantai ubin batu yang masih basah oleh sisa hujan semalam.
" eh pak karno, mau kemana kok kaya buru-buru gitu, " sapa aryo ramah pada seorang bapak-bapak yang tengah berlari di depan halaman rumahnya. Ia juga sedikit heran saat melihat wajah bapak yang bernama karno itu seperti menunjukan ekspresi panik.
Pak karno menoleh saat ada yang menyapanya. butir keringatnya turun ke tanah jalanan yang sedikit becek. Napas pak karno terengah-engah menahan lelah.
" eh mas aryo baru bangun mas, " kata pak karno seraya mengusap peluh di dahinya. kopiah hitamnya ia kibas-kibaskan ke wajahnya yang merah.
" iya pak, ini baru aja bangun, " tandas aryo kemudian, " ngomong-ngomong ini kenapa ya? kok saya liat bapak kaya buru-buru gitu. mau kemana emang? " aryo bertanya kembali.
" saya mau ke rumahnya kang jali mas, " jawab pak karno tergesa-gesa.
" pagi-pagi begini? emang ada apa pak, " kata aryo sedikit keheranan.
Pak karno tak lantas menjawab, pria itu terdiam beberapa saat. aryo sampai heran saat melihat pak karno yang seperti makin gelisah. namun beberapa saat kemudian, pak karno berkata sesuatu.
" hmmm...anu mas...saya dapat kabar cukup buruk tentang kang jali..., " kata pak karno.
" kabar apaan emang pak? "
" anaknya kang jali, si maman, katanya semalem dia ilang dan sekarang para warga lagi sibuk nyari tuh anak, " jawab kembali pak karno yang sontak membuat aryo kaget setengah mati.
" astagfirlullah, yang bener pak! " kata aryo memastikan.
" bener mas, coba aja datang ke rumahnya kang jali. disana banyak warga yang lagi ngumpul, "
" ya udah nanti saya pergi kesana, sekarang mau siap-siap dulu, " tandas aryo.
" ya udah ya mas, saya pergi dulu, " kata pak karno sembari berlalu pergi. Langkah pria itu semakin dipercepat, jauh makin menjauh lalu hilang di belokan.
Aryo melihat pak karno yang hilang dari pandangannya dengan napas mengembus berat. sial baru malam tadi ia mengalami kejadian aneh, dan sekarang di pagi buta ini, ia kembali dihadapkan oleh berita yang kurang mengenakan. aryo merutuk dalam hatinya.
" lebih baik aku bergegas mandi, " bisik aryo seraya melangkah masuk kembali ke rumahnya. gugur daun di halaman diterbangkan oleh angin. sehelai bunga kenanga kuning jatuh di teras rumah aryo. cukup aneh mengingat si pemilik rumah tak pernah sekali pun menanam pohon bunga itu.
***
Derap kakinya menginjak tanah berbatu bercampur lumpur hitam. matanya jauh melihat ke arah kerumunan warga yang nampak memadati sebuah pekarangan rumah.
Aryo perlahan melangkah mendekati kerumunan warga yang terdengar riuh. kakinya melangkah dengan hati-hati melewati jalan becek ini.
Tak butuh waktu lama bagi pria itu untuk sampai ke para warga yang tengah berbincang satu sama lain. beberapa warga menoleh saat melihat kedatangannya.
" assalamualaikum bapak-bapak, " sapa aryo tersenyum.
" waalaikumsallam mas aryo, gimana kabarnya mas, " salah satu warga yang bernama juno, menimpali.
" baik kang, ini ada sebenarnya kang, saya denger dari pak karno katanya maman anaknya kang jali, hilang semalem, " kata aryo langsung menanyakan inti permasalahan itu pada mereka yang ada disana.
Juno dan yang lainnya tidak langsung menjawab pertanyaan aryo. mereka malah saling lirik satu sama lain.
Merasa dirinya yang harus menjelaskan, juno berkata pada aryo.
__ADS_1
" Saya juga kurang tau mas, tapi menurut keterangan beberapa orang yang bertanya langsung ama kang jali, hilangnya maman terjadi malem tadi, " jawab juno dengan tampang berfikir.
Aryo mengkerutkan keningnya. rasanya ada sesuatu yang agak janggal disini.
" lho bukannya kemarin malam ujan lagi deras-derasnya ya, kok bisa sih anak sekecil itu ilang? " kata aryo mengungkapkan keheranannya.
Juno yang mendengar ucapan aryo mengangguk setuju. mustahil memang untuk anak sekecil maman bisa hilang tanpa kabar. apalagi dengan kondisi hujan yang lebat.
" nah itulah yang membuat ruwet masalah ini mas. kami sudah semenjak tadi membantu warga yang lain menyisiri area disekitar sini, namun hasilnya nihil mas, si maman tetep gak ketemu, " kata juno panjang lebar. beberapa warga di sampingnya mengangguk setuju.
Aryo diam tercenung. pikirannya berkelana memikirkan hal ini. dirinya menebak-nebak kemana perginya anak dari sahabatnya itu.
" hmmm...gimana ama jali sendiri jun? " teringat dengan sahabatnya itu, aryo bertanya pada juno dengan mimik muka serius.
juno menjawab, " kang jali lagi pergi melapor ke kantor polisi ama pak kades mas, tapi istrinya, mpok ningsih dia terus-terusan nangis jerit-jerit gitu mas, kasihan dia, " cerocos juno panjang lebar.
Aryo mengangguk paham dengan ucapan juno. wanita mana yang tidak sedih melihat buah hati kesayangannya hilang tak berjejak. untuk itulah ia datang kemari sekedar untuk menyampaikan bela sungkawa juga membantu pencarian maman.
" Ya udah kalo gitu jun, saya mau liat dulu keadaan mpok ningsih. barangkali ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk memperingan musibah yang keluarga jali alami, " ucap aryo seraya berjalan melangkah menuju rumah jali.
" Tunggu mas aryo! " belum jauh aryo melangkah, mendadak suara juno memanggilnya dari arah belakang.
Aryo menoleh sekilas juno yang berlari mendekatinya. Kelihatannya pria hendak menyampaikan sesuatu.
" Ada apa lagi jun? " tanya aryo penasaran.
Juno nampak kikuk saat mata aryo melihatnya dengan wajah penuh tanda tanya. haruskah ia memberitahu hal ini.
" eh anu mas aryo saya mau bicara sesuatu..., " kata juno sedikit terbata.
" sebenarnya saya agak kurang enak ama mas aryo sendiri, takutnya nyinggung, " kata juno.
Aryo mengernyit. memangnya pertanyaan apa yang akan diajukan oleh juno yang membuatnya tersinggung. aryo makin penasaran dengan perkataan dari pria cungkring di depannya ini.
" pertanyaan saya ini berhubungan dengan sikapnya mpok ningsih mas, " cetus juno. Matanya sesekali melirik ke arah rumah jali. Kemudian beralih menatap aryo yang terlihat kebingungan.
" maksudmu? " tanya aryo.
Juno melanjutkan kalimatnya.
" tadi waktu saya ama temen-temen liat kondisinya mpok ningsih, beliau masih nangis-nangis sambil nyebut nama anaknya–" kata juno menghentikan kalimatnya.
" terus? "
" setelah itu, entah kenapa mpok ningsih tiba-tiba nyebut..., " ucapan juno terputus sesaat.
" nyebut apa? " kata aryo dengan nada mendesak.
" nama istri sampean mas, mbak kinanti, " lanjut juno dibawah tatapan terkejut aryo.
"apa–
AKHHHH!!!
Mereka serempak menoleh saat suara teriakan itu memecah kesunyian.
__ADS_1
" ada apa itu, " seru seorang warga yang agak terkejut ketika mendengar suara jeritan itu.
" dari asal suaranya, kayanya dari rumahnya mpok ningsih pak, " sahut yang lain.
" duh aya-aya wae ( ada-ada saja ) " warga yang lain ikut bergumam.
Aryo yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya, lagi-lagi harus terkejut saat mendengar teriakan itu lagi.
AKHHHH!!!
" jun, lebih baik kita segera ke rumahnya mpok ningsih, takutnya kenapa-napa, " Kata aryo sambil bergegas ke rumahnya mpok ningsih diikuti oleh warga yang lain.
saat mereka sampai di teras rumah mpok ningsih, ternyata sudah banyak warga yang berkerumun. Kebanyakan didominasi oleh ibu-ibu dengan wajah ketakutan. mereka semuanya berada di luar rumah, tak ada yang berani masuk.
Aryo yang pertama sampai, lekas bertanya.
" ibu semuanya, ini ada apa? Kok pada berkumpul gini sih? " tanya aryo pada ibu-ibu yang masih ketakutan.
" I‐itu mas aryo, mpok ningsih, dia tiba-tiba jerit-jerit gitu sambil guling-guling gak jelas, " sahut salah satu ibu terbata-bata.
Aryo terperangah. tak ingin menunggu terlalu lama dengan rasa penasaran yang besar, ia menerobos barisan ibu-ibu itu untuk melihat keadaan mpok ningsih.
Di dalam rumah, aryo begitu terkejut ketika melihat mpok ningsih yang tengah berteriak-teriak sembari berguling-guling di lantai. wanita gempal itu menjerit-jerit dengan suara tertahan. wajahnya mendongkak ke atas dengan mata yang melotot. mpok ningsih terus menjerit dan meracau tak jelas. Kedua tangannya memegang erat lehernya dengan kuat.
" toloongkhhh..., " jeritnya.
" ya allah mpok ningsih! " aryo berlari mendekati mpok ningsih. pria itu mencoba menghentikan mpok ningsih yang kian menjadi-jadi. Kali ini perempuan itu beralih dengan mencakar-cakar wajahnya sendiri.
" mpok! Berhenti mpok! pak bu tolongin! " teriak aryo seraya memegangi mpok ningsih dengan kuat.
" t-toloongkhh... " jerit mpok ningsih semakin tidak terkendali. beberapa ibu-ibu memberanikan diri untuk membantu. Kini mereka bersusah payah mengendalikan tubuh perempuan bongsor itu.
" astagfirlullah ningsih! elu kenape? " seru seorang pria yang terkejut dari ambang pintu. aryo melirik arah suara itu dan melihat jika suami ningsih–jali, dalam keadaan panik mendekati istrinya itu.
Setelah di dekat istrinya, jali membantu memegangi ningsih yang masih berontak.
" ning! sadar ning! lu kenape bisa begini, " kata jali dengan wajah cemas bercampur panik.
" tenang jal, sampeyan harus tenang, " ucap aryo mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Jali sedikit terkejut saat menyadari kehadiran aryo.
" aryo, elu ada disini. sejak kapan? Terus ini, ada apa ama istri gue yo? " tanya jali membabi-buta. wajahnya sudah frustasi dengan semua ini.
Aryo mencoba menjelaskan pada jali dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Jali hanya mengangguk lesu. pikirannya yang sudah dipenuhi oleh berbagai masalah mencoba memahami kejadian ini. kedua tangannya terlihat merengkuh ningsih yang masih menjerit-jerit. perempuan itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan seperti orang yang ketakutan. Kemudian sebelah tangannya menunjuk ke sudut ruangan. telunjuknya bergetar sambil mengucapkan kalimat yang hanya bisa di dengar oleh aryo dan jali.
" Dia masih ada disini, kinanti masih ada disini, " bisik mpok ningsih pelan.
DEG!
Bukan hanya jali yang terkejut dengan perkataan dari istrinya itu, aryo juga terkejut manakala nama istrinya disebut.
kinanti masih disini, apa maksudnya?
__ADS_1
TO BE CONTINUE