
Motor itu melaju dengan kencang menembus pekatnya kabut tipis. mesinnya meletus-letus, menderu membelah keheningan jalan berbatu.
Aryo berusaha menjaga keseimbangan motor bobrok ini agar tak terhempas kembali.
" Apa dia masih mengejar, " tanya aryo seraya matanya melirik sekilas spion kecil di sampingnya. wajahnya terasa beku karena angin yang terus menyapu. sekali lagi aryo menoleh ke belakang dan disana matanya melihat jika sosok itu terus mengejarnya.
ARKHHHHH....
Dukuh–siluman pocong itu masih mengejar aryo dengan tatapan dan raungan mengerikan. dencingan rantai besi yang dibawa sosok itu terdengar keras hingga aryo sendiri tak ayal merinding hebat.
Knapot motor kian mengepulkan asap putih. aryo kian lelah dengan semua ini. kengerian yang tak berujung, persis dengan area hutan ini.
Tapi tunggu! bukannya jalan keluar dari alas peteng tidak terlalu jauh. tapi sudah berapa jam ia melaju, namun mengapa ia tak kunjung menemukan jalan keluar.
Apa ia tersesat?
" Sialan! " maki aryo kesal dengan semua keanehan ini. jantungnya masih terus berpacu melawan ketakutan yang ada. dukuh masih mengejar, sementara juno sendiri masih tetap tak sadarkan diri.
Dukuh menyabetkan gulungan rantainya untuk menjangkau motor aryo yang melaju kencang. namun untungnya, rantai besi berujung runcing itu hanya bisa menggapai angin. dukuh makin murka, gigi taringnya keluar menyembul. siap melahap aryo bulat-bulat.
Saat semuanya semakin gelap, samar-samar aryo mendengar suara seseorang yang memanggilnya pelan.
Nak aryo...bangun...
Suara itu berbisik entah dari mana datangnya. seolah suara itu sendiri berbisik pelan tepat di telinga aryo.
Aryo sempat terheyak beberapa saat mendengar bisikan itu. matanya menerawang liar menatap sekitar, ke arah barisan bambu yang berdiri tegap.
__ADS_1
Nak aryo...bangun...gerbang cahaya akan terbuka, bersabarlah...
" gerbang...? " gumam aryo pelan. keringat sebesar biji jagung turun melewati pipi. siluman pocong itu kini telah raib entah kemana. namun meskipun dukuh telah pergi, hati aryo masih diliputi cemas.
bisa jadi pocong itu akan kembali menerornya, bahkan berhasil merenggut nyawanya. pocong siluman yang aryo rasa sengaja dikirimkan oleh seseorang kepadanya dengan tujuan mencelakainya.
Apakah orang tersebut adalah arjo. seseorang yang telah ia anggap pamannya sendiri. tak disangka orang itu adalah sumber dari masalah yang tengah ia hadapi. ketua dari sekte sesat yang selama ini menculik anak-anak desa.
" bangsat! Dimana gerbang keluar dari alas peteng! " rutuk aryo kembali. matanya awas mengamati setiap sudut hutan. berusaha mengenali kembali hutan yang menjadi mimpi buruknya selama ini.
GROOAKHHH...
Tak disangka ternyata mimpi buruk itu kembali datang dari samping hutan. berlari mengejar aryo dengan cara merangkak. mata merahnya bersinar samar-samar dari balik kabut hitam tebal. suara rantai yang terseret serta geraman kencang dari sosok dukuh yang sekoyong-koyong kembali muncul, membuat dada aryo seakan hendak pecah saking kagetnya.
Laju motor aryo tambahkan. Roda-roda motor berputar lebih kencang bagaikan gasing yang dimainkan serentak. Samar namun jelas terlihat, di kejauhan sebuah cahaya putih terlihat di depan mata aryo. sebuah cahaya misterius.
dukuh lan paduh iku pasangane sang prabu, gagah lan gagah lenggah ing sadhuwure alas, demi jiwa sing lugu, lungaa!...
Cahaya putih yang kian bersinar terang membutakan pandangan. aryo menutup mata hingga motornya pun diselimuti oleh cahaya terang itu. Ia masuk ke cahaya itu, sementara dukuh menjerit keras seolah kesakitan diterpa cahaya aneh yang makin bersinar terang. namun sebelum dirinya habis terkikis, rantai runcing yang berada di belakang punggungnya melesat menjangkau bagian belakang motor aryo. Tanpa aryo sadari tentunya.
Dan detik selanjutnya, aryo sendiri tak tau dengan apa yang terjadi kepadanya, karena pandangannya mendadak gelap.
Aryo merasa dirinya berputar-putar di suatu pusaran buram, sebelum ia sepenuhnya tak sadarkan diri.
****
" nak aryo bangun nak... "
__ADS_1
Aryo perlahan membuka mata ketika suara serak khas orang tua itu membangunkannya dari mimpi panjang.
Perlahan kelopak matanya terbuka dan seraut wajah penuh keriput menyambutnya dengan senyum lega.
" akhirnya nak aryo bangun juga..., "
" dimana aku, " gumam aryo dengan mata masih sedikit terpejam sambil berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk.
" nak aryo gak usah banyak bergerak dulu, " si pemilik suara ternyata seorang nenek-nenek berusia senja. Gigi ginsulnya terlihat samar ketika si nenek tersenyum ke arahnya.
Aryo menyadari jika dirinya tengah berada di sebuah kamar. tapi kamar siapa dan dan dimana ini? Pikir aryo. Entah mengapa semuanya terasa membingungkan. Kemana hutan itu dan semua kengerian yang ada di dalamnya? Kenapa dirinya tiba-tiba berada di suatu kamar yang terasa asing baginya.
" mbok, apa mas aryo sudah sadar..., " suara lain menarik perhatian aryo. sebuah suara lembut dan merdu. Suara seorang perempuan.
Perlahan suara langkah kaki mendekat lalu derit pintu terbuka menampakan sosok lain selain sosok tua si nenek.
Aryo terbelalak kaget dan tak percaya begitu ia melihat seorang perempuan cantik berambut panjang tengah memandanginya dari balik ambang pintu.
Ia kenal betul siapa perempuan itu.
Tidak salah lagi
" laksmi..., " ucap aryo pelan memandangi perempuan itu. matanya terpaku pada perempuan itu.
Lagi-lagi dia memakai baju terusan berwarna kuning. seolah warna kuning adalah warna kegemarannya.
Si perempuan yang bernama laksmi itu tersenyum kecil.
__ADS_1
" mas aryo, selamat datang di rumahku, "
TO BE CONTINUE