Rintik Dan Garis Takdir

Rintik Dan Garis Takdir
Rintik Dan Garis Takdir - 10. Mencari Bukti


__ADS_3

...Hallo guys?...


...Happy reading. Semoga suka....


...*...


...*...


...*...


...Rintik Dan Garis Takdir - Mencari Bukti...


Kini Rintik sudah berada di rooftops SMAPAN, dirinya sangat tak menyangka berita ini akan cepat menyebar dari yang dia kira.


"Rin?" panggil Embun menghampiri Rintik yang berdiri di pembatas rooftops.


"Kenapa semuanya jadi gini?" tanya Rintik tak mengerti.


"Niat aku kan cuma mau kasih cupcake itu buat Langit," ucap Rintik.


"Kita tau Rin, tapi mau gimana lagi? Semuanya udah terjadi. Gak guna juga disesali," ucap Embun.


"Yang bisa kita lakuin sekarang cuma berdoa Rin. Minta sama Allah buat kasih jalan atas semua masalah ini," ucap Mentari.


"Kamu tau kenapa Allah kasih cobaan kaya gini ke kamu?" tanya Mentari.


"Karena Allah tau aku bisa lewatin ini semua, kaya waktu pertama kali dulu," ucap Rintik.


"Iya. Dulu Allah tau kamu mampu melewati semua itu makanya sekarang kamu di kasih ujian yang lebih sulit lagi. Supaya kamu semakin kuat dan gak mudah menyerah!" ucap Mentari.


"Makasih ya Tar, Mbun, karena kalian aku kuat hadapin ini semua," ucap Rintik.


"Walaupun tanpa kita kamu harus tetep kuat Rin!" ucap Mentari.


"Siap Bos," ucap Rintik selepasnya mereka tertawa.


Hembusan angin menerpa wajah cantik mereka, angin yang sejuk ini membawa ketenangan untuk mereka terutama Rintik.


"Apapun nanti yang mereka omongin jangan di peduliin ya Rin?" ucap Mentari.


"Oke Tar," jawab Rintik.


"Awas aja kalau mereka omongin lo lagi! Gue bantai satu-satu mereka!" ucap Embun.


"Jangan gitu Mbun. Biarin mereka mau gosipin aku. Kan nanti aku dapet pahala Mbun. Lumayan buat amal kehidupan," ucap Rintik.


"Orang-orang mah pada gak suka digosipin lah ini malah suka-suka aja digosipin," ucap Embun.


"Kan dapet pahala Mbun. Jadinya gak rugi. Lagian kalau digosipin aku jadi terkenal juga!" ucap Rintik.


"Terserah lo Rin," ucap Embun menyerah.


"Aku masih heran deh, Luna itu beneran sakit atau cuma pura-pura aja sih?" tanya Mentari binggung.


"Tadi kan dia di infus tuh, jadi beneran sakit dong," ucap Rintik.


"Tapi kalau sakit harusnya pucat dong bibirnya. Lah ini enggak tuh. Malahan kelihatannya kek orang sehat banget!" ucap Mentari.


"Iya juga ya? Kalau dia mual-mual sampai pingsan harusnya sih pucat banget dan mau ngomong pun gak ada tenaga," ucap Rintik baru menyadari keanehan itu.


"AHA!!" ucap Embun mengagetkan Rintik Dan Mentari yang sedang berpikir.


"Gimana kalau pulang sekolah nanti kita ke rumah sakit lagi?" tanya Embun.


"Mau ngapain Mbun?" tanya Rintik.

__ADS_1


"Cari bukti!" jawab Embun.


"Boleh juga tuh!" ucap Mentari setuju.


"Lo gimana Rin?" tanya Embun.


"Emm...oke deh aku ikut kalian aja!" ucap Rintik setuju juga.


"Oke. Kalau gitu kita ke ruang cctv dulu sekarang!" ucap Embun.


"Mau ngapain?" tanya Mentari dan Rintik binggung.


"Lihat penampakan tadi pagi di kelas si Langit-langit neraka!" ucap Embun lalu melenggang pergi.


"Hah? Penampakan?" ucap Mentari dan Rintik berbarengan dan saling pandang.


"Penampakan apa Tar?" tanya Rintik.


"Gak tau Rin. Mending kita ikutin Embun aja!" ucap Mentari.


Baru saja turun dari anak tangga sudah banyak sekali siswa-siswi yang melirik sinis Rintik dan sahabat-sahabatnya.


Namun, seperti yang mereka bilang tadi mereka terus berjalan dan mengabaikan tatapan-tatapan sinis nan jutek itu.


Abaikan Rin! Abaikan! batin Rintik.


Mereka sudah berada di depan ruang cctv namun tak ada satupun dari mereka yang ingin masuk terlebih dahulu untuk meminta izin.


"Ayo Mbun, kamu duluan!" ucap Rintik.


"Eee...mending Tari aja deh yang duluan," ucap Embun lalu berpindah ke belakang Mentari.


"Mending kamu duluan aja deh Rin! Kamu kan bestie nya Pak Roberto pasti di izinin," ucap Mentari.


"Eh, ternyata kalian. Ada apa kemari?" tanya Pak Roberto.


"Emm...begini Pak, kita mau minta izinin buat lihat cctv boleh gak Pak?" tanya Rintik.


"Boleh sekali. Mari masuk," ucap Pak Roberto.


"Makasih Pak." Mereka pun memasuki ruang cctv.


"Pasti kalian mau melihat kejadian tadi pagi bukan?" tebak Pak Roberto.


"Kok Bapak tau sih? Jangan-jangan Bapak cenayang ya?" tanya Rintik.


"Hahaha, kamu ini ada-ada saja Rin. Mana mungkin saya cenayang. Kalau saya cenayang sudah pasti saya tau kalau kalian yang ada didepan pintu tadi," ucap Pak Roberto.


"Iya juga ya? Kalau Bapak cenayang pasti udah tau yang sebenarnya terjadi dong," ucap Rintik.


"Nah, itu kamu tau Rin."


"Ini cctv yang mengarah ke kelas Langit," ucap Pak Roberto memutar cctv di depan kelas Langit.


Terlihat Rintik masuk dengan wajah berseri-seri dan tak lama keluar lagi. Namun, hal selanjutnya yang mereka lihat membuat mereka syok.


Yang mereka lihat bukan lah Luna seperti yang mereka curigai melainkan sosok berjubah hitam yang memasuki ruang kelas Langit.


"Loh, kok bukan Luna?" tanya Embun binggung.


"Iya ya Mbun! Aku pikir Luna yang sengaja taruh sesuatu di cupcake Rintik terus fitnah Rintik deh!" ucap Mentari tak kalah binggung.


Pak Roberto dan Rintik masih mencerna dan mengamati rekaman cctv itu.


"Kayaknya Bapak pernah lihat sosok ini deh!" ucap Pak Roberto.

__ADS_1


"Dimana Pak?" tanya mereka.


"Di pemakamannya Lana waktu itu," ucap Pak Roberto.


"Rintik juga pernah lihat sosok itu Pak. Kalau gak salah waktu pemakaiannya Lana juga," ucap Rintik.


"Apa jangan-jangan dia ada hubungannya sama Lana?" tanya Embun.


"Kita gak bisa menyimpulkan sekarang. Kita harus selidiki ini lagi!" ucap Pak Roberto.


"Harus itu Pak! Saya gak rela lihat Rintik di gosipin terus-terusan!" ucap Embun.


"Saya juga gak rela Mbun! Lihat bestie saya sedih gitu!" ucap Pak Roberto membuat gelak tawa.


"Makasih ya Pak udah izinin kita lihat rekaman itu dan copy rekaman itu," ucap Rintik.


"Sama-sama, selagi saya bisa bantu kalian pasti saya akan bantu," ucap Pak Roberto.


"So sweet banget deh si Bapak!" ucap Rintik salting.


"Kalian ini sudah Bapak anggap sebagai bestie sekaligus anak saya. Jadi jangan sungkan-sungkan," ucap Pak Roberto.


"Berarti kalau kita minta duit boleh dong Pak?" tanya Embun.


"Nanti. Saya belum gajian!" ucap Pak Roberto.


"Berarti kalau udah gajian boleh dong bagi duitnya Pak," goda Rintik.


"Boleh. Tapi ada syaratnya!" ucap Pak Roberto.


"Apa syaratnya Pak?" tanya mereka semangat jika berurusan dengan duit.


"Syaratnya... penilaian tengah semester dua, kalian harus mendapatkan satu nilai seratus. Di mapel apapun itu," ucap Pak Roberto.


"Nilai seratus di satu mapel aja nih Pak?" tanya Embun.


"Iya."


"Itu mah so easy Pak!" ucap Embun sombong.


"Alah lagak kamu Mbun, easy-easy! Kerjain soal tambah-tambah aja masih salah kamu!" ucap Mentari jujur.


Waktu itu Embun pernah disuruh mengerjakan soal matematika di depan karena saking groginya sampai-sampai salah menambah hasilnya, alhasil Embun di tertawakan satu kelas.


"Gak usah di ungkit-ungkit lagi deh Tar! Yang kali ini gue yakin dapet nilai seratus!" ucap Embun sangat yakin.


"Aku juga! Pasti nilai aku kali ini buat kalian terkaget-kaget!" ucap Rintik.


"Oh, ya? Palingan kita kaget lo bakal turun lagi nilainya!" ucap Embun.


"Ih, Embun jangan gitu napa! Baru juga mau bangkit eh udah di suruh mati aja!" ucap Rintik.


"Sudah-sudah yang terpenting kalian belajar yang rajin! Jangan keseringan bolos! Apalagi tidur di kelas!" nasehat Pak Roberto.


"Siap Pak!" ucap mereka kompak.


...To be continued....


...Terima kasih sudah membaca....


...Siapa sosok berjubah hitam yang dilihat mereka itu? Dan siapa itu Lana?...


...Jangan lupa untuk like, komen, share, favorit, and vote ya?!...


...See you di next chapter....

__ADS_1


__ADS_2